
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 219...
Pendekar Halilintar mengalirkan tenaga sakti inti petir nya kedalam pedang. Sampai hampir sepeminuman teh tidak ada reaksi apapun. Pendekar Halilintar pun turun kembali ke tanah. Dengan perasaan kecewa ia sarungkan kembali pedang geledek.
“Sepertinya memang tak berfungsi lagi. Kekuatan di dalam pedang benar-benar telah menghilang.” Ucap Jaka dengan nada kecewa.
Kemudian Pendekar Halilintar membuka kembali peti tempat menyimpan pedang sebelumnya. Baru saja ia hendak memasukkan kembali pedang geledek ke dalam peti, Cempaka mencegahnya.
“Jangan kau masukkan dulu Kakang pedang itu ke dalam peti. Bawa saja dulu siapa tahu nanti memang berguna.” ucap Cempaka kepada Jaka.
Jaka pun urung memasukkan kembali pedang geledek ke dalam peti. Kemudian dia memasukkan peti kosong itu kembali ke dalam makam yang dibongkarnya. Setelah semuanya selesai Jaka dan Cempaka meninggalkan tempat itu.
“Kakang kita singgah dulu ke rumah makan itu.” Pinta Cempaka kepada suaminya.
Keduanya pun singgah rumah makan yang ditunjuk Cempaka. Sesampainya di depan rumah makan datang pelayan menyambut mereka.
“Silakan den! Masih banyak meja yang kosong.” Ucap si Mamang Pelayan.
Jaka dan Cempaka memilih salah satu meja di pojokan sebelah kanan.
“Pesan apa den?”
“Dua porsi makanan yang paling enak mang. Tambahkan dua potong ayam lagi dipisah.” Sahut Jaka.
Saat sedang asyik menunggu pesanan datang, tiba-tiba saja keduanya dikejutkan oleh meluncurnya sebuah benda ke arah Jaka. Ia pun menangkap benda itu. Ternyata itu sebuah anak panah yang terdapat sebuah surat menyertainya. Bayu pun membuka surat itu.
__ADS_1
Besok pagi aku tunggu di pinggir sungai sebelah kanan desa ini. Kalau kau memang bukan orang pengecut berlindung di balik nama ketua dunia persilatan itu, datang lah jangan terlambat.
Sebuah surat yang tidak jelas maksudnya tertulis pada sebuah kertas yang tergulung pada batang anak panah. Jaka pun menunjukkan isi surat itu kepada istrinya. Cempaka membaca dengan seksama isi surat, beberapa kali istri Pendekar Halilintar itu mengerutkan keningnya.
“Siapa kira-kira yang mengirimnya kakang?” Tanya Cempaka.
“Aku pun tidak bisa menebak siapa orang yang mengirimkan surat ini. Bahkan maksud si penulis mengajak bertemu untuk keperluan apa masih sangat membingungkan.”
Sesaat kemudian pelayan pun datang membawa nampan berisi makanan yang mereka pesan. Kemudian pelayan itu pun menyusun piring-piring makanan di atas meja. “Silakan den!” ucap pelayan.
“Kalau begitu kita menginap saja di penginapan ini satu malam.” usul Cempak.
Akhirnya keduanya memutuskan untuk menginap di penginapan sekaligus rumah makan itu. Keesokan harinya Pendekar Halilintar bersama istrinya pergi ke tempat yang ditulis dalam surat. Ternyata benar di sebelah kanan desa dengan jarak beberapa mil terdapat sebuah sungai.
Di tepian sungai yang mirip sebuah pantai itu berdiri dua orang lelaki tua menghadap ke arah sungai. Mereka adalah Malaikat Pedang dari Negeri Timur dan si Mata Malaikat Bukit Seribu Ular.
“Siapa bilang kami mengundangmu? Kami sedang menantangmu kisanak!” jawab Malaikat Pedang Dari Negeri Timur sambil membalikkan badannya.
Jaka mengerutkan keningnya. Ia sama sekali tidak mengenal lelaki tua yang berada di hadapannya ini. Apalagi setelah melihat lelaki tua yang satunya. Seorang lelaki tua yang buta dengan bola mata berwarna putih semua.
“Siapa kalian? Aku tidak mengenal kalian sedikitpun. Apa masalah kalian denganku hingga kalian menantangku?” tanya Jaka.
“Kau terlalu sombong untuk menjadi ketua dunia persilatan di negeri Selatan ini. Apalagi sikapmu yang tidak mau bergabung dengan para pendekar yang berjuang untuk menggulingkan kerajaan membela kepentingan rakyat.” Ketus Malaikat Pedang Dari Timur.
“Selamanya pendekar dunia persilatan Negeri Selatan tidak pernah ikut campur dalam urusan kerajaan. Dapat disimpulkan kalian adalah orang-orang nya Raden Raga Lawing dan Malaikat putih.” Dengus Jaka sedikit tidak senang dengan kedua orang tersebut.
“Sekiranya benar kami adalah utusan Raden Raga Lawing dan Malaikat putih apa yang engkau lakukan.”
__ADS_1
“Bila kalian hendak memaksa kami bergabung dalam pasukan pemberontakan Raden raga lawing tentu aku menentangnya. Namun aku sendiri tidak akan melarang apabila ada dari pendekar yang berasal dari negeri Selatan ingin bergabung dengan pasukan kalian.” Tegas Jaka.
“Hmmmm.. itulah kesombonganmu. Hendak kau tahu apakah kemampuanmu setinggi ucapanmu itu.” Ucap malaikat pedang dari negeri timur.
Blammm..
Tanpa diduga sama sekali malaikat pedang dari timur melayangkan pukulan bertenaga sakti ke arah Jaka. Bukan Pendekar Halilintar namanya kalau dari awal dia tidak siaga. Seketika tenaga inti petir melindungi tubuhnya. Kedua pendekar yang bentrok itu sama-sama terdorong sejauh dua tombak.
Terkejut juga malaikat pedang dari negeri timur melihat kesiap siagaan Pendekar Halilintar. Seandainya orang lain yang mendapatkan serangan seperti itu mungkin sudah mendapatkan celaka. Penasaran serangan pertamanya gagal, malaikat pedang dari negeri timur meningkatkan serangannya. Lelaki tua itu mulai mengerahkan tenaganya sampai ke tingkat tertinggi. Iya pun sudah mencabut pedang yang menjadi senjata andalannya.
Pendekar Halilintar sendiri masih belum mengerahkan tenaga saktinya di tingkat tertinggi. Semua dapat dilihat dari pancaran halilintar dari tubuhnya berwarna putih kebiruan. Semenjak mendapat bantuan dari rajawali merah tenaga sakti Jaka telah mencapai puncaknya hingga berwarna putih keperakan.
Sreett.. sreeett..
Kali ini malaikat pedang dari negeri timur menyerang Jaka dengan jurus-jurus pedang yang mematikan. Beruntung Pendekar halilintar memiliki ilmu meringankan tubuh yang tinggi. Sehingga ia pun dapat mengimbangi serangan-serangan pedang dari lawan yang sangat cepat itu. Serangan-serangan pedang lawan hanya mengenai tempat kosong.
“Hmmm.. kau memang hebat Pendekar halilintar. Aku tahu kau hanya menghindar tanpa melakukan serangan balasan. Tapi sikapmu itu menunjukkan kesombonganmu dan terlalu meremehkanku. Sekarang kau akan melihat siapa Malaikat pedang dari timur sebenarnya.”
Malaikat pedang dari timur mundur beberapa langkah titik kemudian orang tua itu merangkapkan kedua telapak tangannya di depan dada mengapit pedangnya. Cahaya kemerahan mulai nampak menyelimuti tubuh orang tua itu.
“Pedang Siluman Darah! Apa-apaan kau Wira Mukti. Bukankah kita telah sepakat hanya menguji kekuatan pendekar halilintar ini. Mengapa kamu menggunakan jurus pamungkas itu.” Seru Si Mata Malaikat dari Bukit Seribu Ular.
“Dia telah meremehkan aku Sarkalaji. Kalau aku tidak sedikit memberikan orang ini sedikit ajaran, tentu ia akan menganggap ilmu kesaktian kita orang-orang Timur tidak ada apa-apanya dengan orang-orang Selatan.” Sahut Malaikat Pedang Dari Timur.
Malaikat pedang dari timur mengangkat pedangnya ke atas. Tiba-tiba saja pedang itu mengeluarkan sinar berwarna merah darah. Pancaran gelombang Tenaga dari pedang itu pun dapat dirasakan semua orang yang berada di sana. Bahkan terlihat riak gelombang air sungai yang tak jauh dari tempat malaikat pedang negeri timur berdiri.
Jaka sendiri telah mengerahkan tenaga sakti lebih tinggi dari tingkat sebelumnya. Kini dari tubuhnya memancarkan halilintar berwarna kemerahan. Ini merupakan tenaga sakti tingkat kedua dari tiga tingkatan tenaga inti batu petir.
__ADS_1
Bersambung...