Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.195. Bersitegang


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 195...


 


Crinng.. cringg..


Tiba-tiba semua pedang di tangan pasukan musuh kerajaan terlepas dari tangan mereka. Pedang-pedang itu melayang di atas udara. Dengan kejadian itu tak satupun dari para prajurit kerajaan yang tewas di tangan lawan.


Semua orang keherangan dengan apa yang terjadi saat ini. Bukan hanya pedang musuh prajurit kerajaan yang melayang, namun pedang-pedang para prajurit kerajaan yang tadi mereka lepaskan juga terangkat ke atas. hampir semua orang yang ada di sana wajahnya menjadi pucat dan ketakutan.


“Bukanlah sifat ksatria membunuh tawanan yang tak berdaya. Pergilah kalian kedua belah pihak ke tempat masing-masing. Hari ini tiada yang kalah  tiada yang menang. Akulah pemenangnya karena mampu merebut semua senjata milik kalian. Cepat pergi dari sini, kalau tidak pedang-pedang ini akan kusarangkan ketubuh kalian.”


Terdengar suara tegas dan mengancam. Suara itu tak lain adalah suara Bayu. Entah sejak kapan Bayu bergerak, tau-tau saja Bayu sudah berada di atas kedua pihak yang berperang. Bayu berada di atas melayang di udara dengan jarak dua puluh tombak lebih.


Mendengar ancaman itu, seketika para prajurit dan pasukan yang menjadi lawannya kocar-kacir melarikan diri. Bahkan beberapa diantara mereka tidak sadar lari ke arah musuh. Dalam beberapa saat saja  tempat itu sudah menjadi kosong.


Setelah agak jauh lari dari tempat peperangan tadi, para prajurit kerajaanpun berhenti. Mereka memutuskan beristirahat sejenak di tempat yang banyak ditumbuhi pepohonan itu. Kejadian tadi bisa dikatakan membawa keberuntungan buat mereka. Saat-saat terakhir menjelang kematian, seseorang dengan kekuatannya menggagalkan rencana pembantaian tersebut.


“Entah kenapa aku seperti mengenal suara orang tadi.” Ucap salah seorang perwira yang menjadi pimpinan pasukan tadi.


Pada pepeperangan kecil tadi, pasukan kerajaan dipimpin oleh dua orang perwira. Sebenarnya mereka memang pernah bertemu dengan Bayu saat menyerang Lembah Neraka. Keduanya merupakan perwira yang ditugaskan menyerang melalui atas bukit yang mengelilingi lembah Neraka.

__ADS_1


“Yaa.. Aku baru ingat, itu suara mirip dengan suaranya pemimpin Istana Lembah Neraka.” Ucap Perwira yang satunya.


“Ahh.. benar sekali. Suara itu mirip dengan suara pemimpin Istana Lembah Neraka, Rajawali Merah. Beruntung waktu itu kita ditugaskan di atas bukit hingga berurusan dengannya. Tak banyak korban dari pasukan kita, karena kebaikannya melepaskan kita. Tidak seperti yang dialami pasukan yang menyerang di pintu lembah.” Sahut perwira satunya.


Sementara itu Bayu dan dua orang lainnya kembali melanjutkan perjalannya menuju Bukit Benteng Dewa. Menjelang malam kembali mereka singgah di sebuah rumah makan sekaligus penginapan. Seperti kali ini empat hari menjelang pemilihan ketua dunia persilatan. Menyisakan satu hari perjalanan berkuda mereka sudah sampai di desa yang berdekatan dengan Bukit Benteng Dewa.


“Besok pagi-pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan lagi. Kalau tidak ada halangan menjelang sore kita sudah berada di desa bawah bukit benteng dewa.” Ucap Bayu saat duduk di meja makan sambil menikmati hidangan yang telah mereka pesan.


Intan dan Bargawa mengangguk-anggukan kepalanya sambil menikmati hidangan. Masih berjarak satu hari perjalanan dari bukit benteng dewa, sudah terasa riuh pikuk orang-orang dunia persilatan menuju tempat itu. Di tempat mereka saat itu saja tidak ada meja makan yang kosong. Rata-rata yang berada di sana orang-orang  membawa senjata yang menandakan mereka berasal dari dunia persilatan.


“Tuanku, usulmu untuk kita melakukan penyamaran tepat sekali. Kalau tidak, keberadaanmu dan nona Intan akan sangat memancing perhatian orang-orang dunia persilatan. Sepertinya tidak hanya mereka yang beraliran putih tertarik mengikuti ataupun menghadiri acara pemilihan ketua dunia persilatan. Tapi juga mereka yang berasal dari aliran hitam, seperti tiga orang di sana.” Ucap bargawa sambil memberi isyarat dengan pulutnya.


“Kalau aku tak salah tebak mereka merupakan tokoh aliran hitam yang lama menyembunyikan diri dari keramaian, tiga manusia sesat dari selatan. Banyak yang mengira mereka telah mangkat karena lama tak muncul. Semenjak kekalahan mereka sepuluh tahun yang lalu dengan Pendekar Halilintar, mereka enggan berurusan lagi dengan dunia persilatan.” Tutur Raja Kelabang lagi.


“Heiii tiga manusia sesat, keluarlah! Kita selesaikan hutang darah diantara kita.”


Seorang lelaki tua berpakaian abu-abu nampak berteriak dari luar rumah makan. Di kanan kirinya terdapat dua pemuda berusia kurang lebih dua puluh lima tahunan menggunakan kecoklatan. Ketiganya membawa pedang di punggung masing-masing.


Tak ada jawaban dari Tiga orang Sesat dari Selatan itu. Mereka masih menukmati makanan dan miinuman dengan lahapnya. Sedikitpun ketiga orang itu tak menanggapi teriakan orang yang memanggilnya dari luar.


“Rupanya semenjak dipecundangi Pendekar Halilintar tiga tua bangkotan selatan ini menjadi tuli.” Ejek orang tua yang berada di luar.


Braaakkkk..

__ADS_1


Satu dari tiga manusia sesat dari selatan menggebrak meja karena marah. Orang termuda dari tiga bersaudara itu berdiri dan melihat kearah luar.


“Hei kau Taji Ireng Jangan kau kira aku takut denganmu hingga tak melayani ocehanmu itu. Jangankan untuk membalas dendam menyentuh bajuku saja kau tak akan sanggup.” Geram orang termuda dari Tiga Manusia Sesat dari Selatan.


“Jangan banyak mulut. Keluar kalian kalau memang punya nyali.” Bentak Taji Ireng.


Wussshh..


Salah satu dari tiga manusia aneh yang berang melempar kendi arak di hadapannya. Lemparan yang dimuati pengerahan tenaga sakti. Bukan dari orang sembarangan, tapi oleh salah seorang gembong aliran hitam yang sangat di takuti pada masa sepuluh tahun yang lalu.


Taji Ireng menangkap kendi yang di lemparkan pihak lawan. Betapa kagetnya orang tua itu saat dirinya harus terdorong dua langkah kebelakang. Tenaga yang tertinggal di kendi begitu terasa sampai-sampai tangannya berasa kesemutan.


“Hmm.. ternyata setelah sekian lama aku berlatih untuk membalas dendam, tetap saja kemampuanku masih jauh di bawahnya.” Gumam Taji Ireng dalam hatinya.


“Pergilah! Kami masih tidak memiliki kegembiraan untuk bertarung denganmu. Carilah Kami dua tahun lagi di gunung kaki iblis. Jangankan sejurus dua jurus, sampai mati akan kulayani kemauanmu itu.”


“Baiklah dua tahun lagi jangan kalian lari dari kami.” Ucap Taji Ireng.


Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Jati Ireng dengan dua orang muridnya pergi meninggalkan tempat itu. Tempat itupun kembali tenang setelah kepergian mereka. Suasana yang tadinya sempat mencekam menjadi cair kembali. Semua orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing.


Tak sampai sepeminuman teh suasana menjadi cair , ketegangan kembali melanda tempat itu. Hal ini terjadi lantaran datangnya Pendekar Halilintar, Cempaka dan Canik Kemuning. Sejenak Jaka melihat kearah orang-orang yang ada di sana. Pandangannya langsung tertuju  pada tiga orang Manusia Sesat dari Selatan. Walaupun ia mengenali mereka, namun Jaka tetap bersikap biasa.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2