
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 192...
Merasakan diri mereka dipecundangi lawan, Kapak maut dan rekan-rekannya berang. Serempak mereka berdiri hendak menghampiri Tongkat Maut yang mereka lihat tersenyum kemenangan. Mereka mengira semua kejadian dilakukan orang tua itu.
“Apa yang ingin kalian lakukan. Apakah kalian hendak mengacau di tempatku ini. Apa kalian tidak memberi muka kepadaku sehingga hendak membuat ribut di sini.”
Langkah Kapak Maut dan kawan-kawannya menjadi terhenti ketika terdengar suara bentakan seorang lelaki. Kini di dekat meja kasir telah berdiri seorang lelaki separuh baya berpakaian parlente khas seorang saudagar. Rumah makan ini memang pemilik seorang kaya yang sekaligus tokoh persilatan terkemuka di negeri barat. Orang mengenal mereka dengan sebutan Saudagar Sakti dari Barat.
Tak ingin memperpanjang masalah Kapak maut dan teman-temannya kembali ke meja mereka masing-masing. Walaupun begitu nampak raut wajah marah dan menyimpan dendam mereka tunjukkan.
Saudagar Sakti dari Barat melangkah menghampiri Nalini. “Maafkan apabila pelayanan kami kurang memuaskan nisanak. Dan maafkan apabila kenyamanan nisanak menikmati istirahat terganggu.” Ucapnya sambil menjura kepada Nalini.
Nalini pun membalas ucapan Saudagar Sakti dari Barat dengan senyuman sambil menjura. Kemudian gadis itu kembali menikmati hidangan yang sudah dipesannya tadi. Seolah tak pernah terjadi apa-apa ia menikmati santapan dengan lahap. Sedangkan di lain sebelahnya Tongkat Geledek menatap dengan penuh selidik.
Setelah selesai mengisi perut dan membayar pesanannya, Nalini pun meninggalkan rumah makan. Gadis itu kembali menaiki kuda yang di belinya tak jauh dari perkampungan dekat lembah Neraka. Tak begitu jauh ia menggebah kudanya, tiba-tiba saja sekelompok orang menghadang perjalanan gadis itu. Nalinipun menghentikan laju kudanya.
“Hahaha benar dugaanku ternyata kau melewati jalan ini. Gara-gara urusanmu aku harus mendapat malu di tangan Tongkat Geledek. Kau harus menebusnya dengan tubuhmu itu hahaha.” Ucap si penghadang yang tak lain adalah Kapak Maut dan kawanannya.
Nalini hanya diam tidak menanggapi. Ia pun turun dari kudanya. Sesaat matanya memancarkan api merah kemudian kembali seperti semula. Sekiranya Kapak Maut dan teman-temannya tau siapa yang sedang di hadapi tak mungkin mereka berani menghadang Nalini.
“Tangkap gadis itu.” Perintah Kapak Maut. Dua dari empat orang yang berada di belakang Kapak Maut melompat menerjang ke arah Nalini.
Wusshh..
“Para lelaki banci. Beraninya mengeroyok seorang perempuan.”
__ADS_1
Belum sampai dua orang itu ketempat Nalini, sebuah benda menghalangi mereka. Mau tidak mau kedua orang itu melemparkan tubuh kesamping menghindari serangan. Di depan Nalini kini berdiri seorang perempuan tua memegang tongkat berkepala ular.
“Rupanya nenek peot yang mengaku dirinya sebagai dewi ular lancang ikut campur urusan Kapak Maut.”
“Kau kira aku takut dengan kapak tumpul dan karatanmu itu. Seribu manusia macammu pun tak akan aku takut.”
“Hmmmm.. sebenarnya aku tak punya urusan denganmu, apa kau tak memandang persahabatan guru kita hingga berani mencampuri urusanku.”
“Cuiihh.. persahabatan apa? Gurumu seorang pembokong yang menyebabkan guruku celaka. Dia calon muridku, aku tak akan membiarkan siapapun berani mengusiknya.”
Kapak Maut sudah mulai hilang kesabarannya. Kini lelaki brewokan itu yang langsung turun tangan. Sepasang kapak sudah berada di tangannya. Tanpa peringatan terlebih dahulu iapun menyerang Dewi Ular dengan gencar.
Sebuah sabetan melalui tangan kanan Kapak Maut dilayangkan ke arah perut Dewi Ular. Wanita tua itu menangkis serangan itu dengan tongkatnya. Bentrokan dua senjata itu membuat keduanya sama-sama terdorong dua langkah kebelakang. Ini menandakan tenaga sakti yang dimiliki keduanya berimbang.
Kapak mauty kembali menyerang Dewi Ular. Kini lelaki brewok itu menyerangnya dengan dua sabetan sepasang kapak. Gerakan indah yang dipamerkan Dewi Ular saat menghindari sepasang kapak. Wanita tua itu menarik badannya ke belakang membentuk posisi kayang yang sangat rendah. Sesudah itu iapun balas menyerang dengan tendangan dua kaki sekaligus dari dorongan sepasang tangannya yang berada di bawah.
Kapak Maut menyilangkan tangannya di depan dada menerima serangan kaki Dewi Ular. Dua buah kaki wanita tua itu tepat menghantam kedua tangan Kapak Maut yang menjadi tameng. Lelaki brewokan itupun terdorong beberapa langkah.
Kapak Maut mulai mengerahkan tenaga saktinya. Lelaki brewokan itu mulai menggunakan ilmu andalannya. Kedua buah kapak di satukan ujung hulunya. Kini kapak itu menyatu dengan dua mata kapak berada di atas dan di bawah. Kapak maut mulai mengeluarkan ajian kapak pembelah karang andalannya.
Dewi Ular tak mau kalah. Tongkatnya di silang di depan dadanya. Mulutnya mulai komat kamit merapalkan mantra. Seketika asap hitam keluar dari tongkat yang di pegangnya. Tiba-tiba saja tongkat itu berubah warna menjadi hitam seluruhnya. Dewi Ular menyiapkan ajian Ratu Ular berbisanya.
Hiyaaaa..
Blaaammm..
Keduanya memekik bersamaan. Kemudian mereka sama-sama menerjang ke arah depan. Kapak maut menghantamkan ajian Tongkat Pembelah karangnya yang langsung disambut ajian Ratu Ular Berbisa yang dialirkan perempuan tua itu pada tongkatnya. Kedua senjatapun beradu.
__ADS_1
Hantaman tenaga sakti keduanya menimbulkan ledakan yang sangat keras. Tanah di sekitarnya berguncang. Keduanya pun sama-sama terlempar tiga tombak ke belakang. Beruntung keduanya masih bisa menjaga keseimbangan hingga tidak sampai jatuh ke tanah.
Kapak Maut dan Dewi Ular sama-sama memegang dada masing-masing yang terasa sesak. Sedikit banyaknya mereka sama-sama mengalami luka dalam, walau tidak berat. Dari hasil bentrokan tadi sekali lagi mereka sama-sama membuktikan bahwa mereka memiliki kemampuan yang seimbang.
“Hahaha.. monyet brewokan dan nenek peot bangkotan sedang berebut barang. Yang diperebutkan sudah berlalu, seandainya bentrok sampai celaka, betapa ruginya ternyata buruan telah kabur. Hahaha..”
Tiba-tiba saja Tongkat Geledek muncul di tempat itu. Benar saja yang dikatakannya Nalini sudah tidak berada di tempat itu. Gadis itu telah lenyap bersama kudanya. Entah kapan perginya tak satupun yang menyadari.
“Baji.. mengapa kau tak halangi kepergian gadis itu? Apakah kau dan temanmu tidak sanggup menangkap seorang gadissaja.” Bentak Kapak Maut.
“Ahh.. aku tak memperhatikan gadis itu Sudrika. Pertarunganmu dengan Dewi Ular membuat perhatianku hanya pada kalian. Tidak satupun dari kami yang menyadari kepergian gadis itu.” Jawab Baji salah seorang yang menjadi teman Kapak Maut.
“Sudrika, sebaiknya kita tunda dulu pertarungan kita. Mari temukan dulu harta taruhan kita baru bertarung lagi memperebutkannya.” Usul Dewi Ular.
“Baiklah, sementara pertarungan kita hentikan.” Sahut Kapak Maut kepada Dewi Ular. “Tua bangka, ke arah mana gadis itu pergi.” Tanya Kapak Maut kepada Tongkat Geledek.
“Susul saja kesana, paling sebelum sepeminuman teh dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh kalian sudah berhasil menyusulnya.” Jawab Tongkat Geledek.
“Benarkah jawabanmu itu orang tua? Awas saja kalau kau bohong. Akan kupisahkan kepala dari badanmu itu.” Ancam Kapak Maut.
“Kau bisa pegang kata-kataku.”
Kapak maut dan teman-temannya pun melesat dengan ilmu meringankan tubuhnya ke arah yang di tunjuk Tongkat Geledek. Sesaat kemudian Dewi ular pun menyusul. Mereka sama-sama memburu Nalini bagaikan memburu harta karun.
“Sengaja aku tak membohongi kalian. Hendak kulihat nasib apa yang akan menimpa kalian berani mengganggu gadis itu.” Gumam Tongkat Geledek sambil tersenyum penuh kepuasan.
**Bersambung...
__ADS_1
Ditunggu like dan komennya**..