
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 186...
“Bedebah kau bocah! Berisi juga kau rupanya. Kali ini kau akan merasakan akibat keusilanmu mencampuri urusan orang lain.”
Lelaki berbaju hijau merangkapkan kedua tangannya di depan dada. Perlahan dari tangannya memancar sinar biru. Lalu kedua telapak tangan itu di bentangkan kesamping. Kemudian dengan sekali hentakan lelaki berbaju biru membenturkan kedua telapak tangannya dengan keras.
Wuussshh..
Segulung cahaya biru melesat ke arah Bayu. Nampak Cahaya itu mengandung kekuatan yang tak bisa di anggap remeh. Hal ini dapat dilihat gelombang tenaga yang dipancarkan gumpalan cahaya biru menciptakan hembusan angin yang sangat kuat. Tapi bukan Rajawali Merah namanya kalau hal seperti itu membuatnya gugup.
“Ehmmm..”
Blammm..
Hanya dengan sebuah deheman Bayu menghalau serangan lawan. Cahaya biru meledak, dan gelombang pantulan ledakan menyerang kearah lelaki baju biru. Sekalilagi orang itu harus merasakan yang namanya terlempar karena hantaman tenaga saktinya yang membalik.
“Hueekk..”
Lelaki berbaju biru menyemburkan darah segar. Ia tak kuasa lagi bangkit setelah dadanya terhantam pantulan tenaga saktinya sendiri. Orang itu telah mengalami luka dalam.
Melihat lawannya sudah tak berdaya lagi, Bayu mulai mendekati kearah laki-laki itu. Baru dua langkah ia berjalan tiba-tiba melesat dua bayangan biru ke arah lelaki yang menjadi lawan Bayu. Dua bayangan itu kemudian masing-masing melepaskan pukulan dahsyat ke arah Bayu. Kemudian merekapun pergi meninggalkan tempat itu membawa lelaki berbaju biru yang terluka tadi.
Blasshh..
Bayu menangkap kedua serangan lawan dengan satu tangannya. Bagaikan menangkap dua buah benda yang melayang, begitu mudah pemuda itu menggenggam kekuatan dua serangan lalu membuyarkannya.
“Apa yang terjadi, kak Bayu?” tanya Intan yang datang menyusul ke tempat itu karena Bayu cukup lama tidak kembali.
__ADS_1
“Gadis ini akan diperkosa orang, untung aku belum terlambat, sehingga ia masih selamat” sahut Bayu sambil menunjuk gadis yang terduduk bersandar di sebatang pohon yang tak jauh dari mereka berada.
“Kakak apakah kau tidak apa-apa?” Tanya Intan seraya menghampiri gadis yang berusia sekitar dua puluh tahunan itu.
“Tidak apa-apa dew.. eh..” gadis itu tidak meneruskan kalimatnya. Sesaat tadi dia ingin menyebut Intan Dewi. Semua karena kecantikan yang terpancar dari gadis itu. Kecantikan yang tak biasa. Di tambah lagi ketampanan Bayu dan kesaktian yang ditunjukannya tadi, semakin menguatkan dugaannya bahwa yang menyelamatkannya ini dalah dewa dan dewi.
“Kakak siapa namamu? Dan taukah kau siapa yang mau berniat jahat kepadamu tadi? Tanya Intan lagi.
“Nama saya Seruni, Dewi.” Jawab gadis itu. “Mereka adalah tiga Iblis Pemetik Bunga yang berada di negeri barat. Sudah sebulan ini desa kami diganggu iblis laknat itu. Tak terhitung berapa gadis sudah yang menjadi korbannya.” Tutur gadis itu.
“Di mana rumahmu kak? Biar kami antar.” Tanya Intan.
“Di desa perbatasan dewi. Ahh.. saya masih takut kembali kalau-kalau mereka datang kembali.” Rengek gadis itu. Terlihat dia memang benar-benar takut untuk kembali.
“Tenang saja kak, kami akan menemani, dan akan kami tunggu sampai orang-orang itu datang kembali.”
Mendengar ucapan Intan gadis itu sedikit lega. Ia pun bangkit dari duduknya kemudian melangkah menuju rumahnya diikuti Intan dan Bayu di belakang. Gadis itu berjalan ke arah perbatasan antara Negeri selatan dan Negeri Barat.
“Siapakah sebenarnya pemuda itu? Di negeri barat tak pernah aku mendengar ada seorang pemuda begitu sakti yang dengan mudahnya mengembalikan pukulan orang dengan deheman seperti itu. Padahal di dunia persilatan Negeri Barat ini siapayang tak kenal dengan pukulan belut biru yang sangat beracun.” Ucap Iblis Pemetik Bunga tertua.
“Sepertinya mereka memang bukan dari negeri barat ini kakang. Aku lihat dari penampilan mereka bukan ciri khas orang-orang di negeri barat.” Sahut Iblis Pemetik Bunga yang nomor dua.
“Namun bukan seperti ciri khas kebanyakan orang selatan juga.” Sahut yang tertua lagi.
Keduanya terdiam. Suasana sempat hening beberapa saat. Sampai akhirnya sang adik termuda bangun dari pingsannya.
“Beruntung kau masih bisa selamat oleh racun belut biru. Sudah sering kali kukatakan perdalam tenaga saktimu, kau hanya memperdalam ilmu sihir yang tak berguna itu.” Gerutu sang kakak tertua.
“Siapa bocah sialan itu? aku harus membalas kelancangannya mengganggu kesenanganku. Kalian harus membantuku kakang.” Geram Iblis Pemetik Bunga termuda.
__ADS_1
Sementara itu seruni yang diantar Bayu dan Intan sudah tiba di rumahnya. Ketiganya disambut dengan suka cita oleh orang tua seruni. Ternyata gadis cantik itu merupakan putri seorang kepala desa. Desa yang letaknya di negeri Barat yang berbatasan langsung dengan negeri Selatan. Desa itu bernama desa Ampar Batuan.
“Terimakasih telah menyelamatkan anak kami nona pendekar. Kami sangat beruntung anak kami tidak tersentuh oleh iblis-iblis biadab itu. Sudah puluhan gadis yang menjadi korban mereka, dan jarang ada yang kembali dalam keadaan hidup, apalagi sampai tidak tersentuh.” Ucap kepala desa yang bernama Jati Suro itu.
“Panggil saya Intan dan dia Bayu saja ki.” Ucap Intan sambil menunjuk ke arah Bayu yang berdiri di pinggir sungai menikmati pemandangan di sana.
Memang rumah kepala desa ki Jati Suro tepat berada di pinggiran sungai. Hanya berjarak enam tombak dari rumahnya, terdapat sungai kecil yang airnya sangat jernih. Belum lagi bebatuan dan pepohonan yang berada dipinggiran sungai membuat suasana menjadi begitu sejuk.
“Ah sebenarnya aku merasa tak pantas memanggil nama kalian langsung. Kalian bagaikan dewa dewi di langit.” Puji ki Jati Suro tulus. “Tapi karena kalian memaksa, izinkan kupanggil kalian nak Bayu dan nak Intan.” Ucapnya lagi.
Intan mengangguk sambil tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat indah, sampai-sampai ki Jati Suro tak bisa menyembunyikan keterpesonaanya. Di tambah lagi paras gadis itu yang memang sangat cantik bagaikan seorang dewi khayangan.
“Ki, apakah kau tahu kapan biasanya ketiga Iblis Pemetik Bunga itu melakukan aksinya?” tanya Bayu sambil berjalan memasuki pelataran rumah ki Jati Suro.
“Biasanya tiga hari sekali nak Bayu. Mereka melakukannya saat malam hari. Seharusnya tiga malam yang akan datang mereka melakukan aksinya lagi. Tapi dengan kegagalannya menjadikan anakku sebagai korban, entah apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.”
“Kalau kau tak keberatan, bolehkah kami menginap satu hari ini di rumahmu ki?” tanya Bayu.
Mendengar pertanyaan Bayu kepada ki Jati Suro Intanpun tersenyum. Sebenarnya ia pun punya niatan seperti itu, menginap di tempat ki Jati Suro. Tapi tujuannya bukan untuk beristirahat ataupun pelesir. Melainkan untuk menanti kehadiran Tiga Iblis Pemetik Bunga lalu menghabisi mereka.
“Ahhh.. tentu sangat boleh. Bahkan aku yang ingin memintanya tadi. Hanya saja aku merasa tidak tau diri, sudah di tolong, masih meminta sesuatu.” Sahut ki Jati Suro dengan girang.
Bersambung..
sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
__ADS_1
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.