
... ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 165...
Bayu dan Cempaka terus berjalan lurus menuju sebuah cahaya yang terlihat di depan mereka. Tak lama kemudian mereka sudah berada di depan gerbang alam lelembut. Tanpa ragu sedikitpun keduanya langsung melangkah kedalam.
Berada di dalam nampak keadaannya tak jauh berbeda dengan keadaan dunia biasa. Yang sangat membedakan adalah sinar matahari di sana. Tidak bersinar terang seperti dunia nyata, agak redup bagaikan matahari pagi yang tertutup kabut.
Tiba-tiba tanpa dikerahkan oleh Bayu, tenaga Sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta gerbang ke tiganya memancar sendiri. Tenaga sakti berbentuk aliran listrik itu menyelimuti tubuh Bayu sampai satu depa lebarnya. Bayu sendiri tak mengerti apa penyebabnya.
“Apa yang terjadi Bayu?” Tanya Cempaka
“Aku juga tak mengerti, entah kenapa tiba-tiba tenaga sakti gerbang ke tiga memancar.”
Keduanya terus berjalan ke depan menyusuri jalan yang diterangkan Malaikat Putih. Tak seberapa jauh mereka berjalan terdengar bentakan dan suara gempuran tenaga orang bertarung. Dari kejauhan nampak sinar kilat beberapa kali memancar.
“Kakang Jaka.” Seru Cempaka. Istri pendekar Halilintar itu langsung melesat kearah datangnya suara pertarungan. Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya, sebentar saja Cempaka sampai di sana.
Memang benar yang saat itu bertarung adalah pendekar Halilintar. Ia sedang menghadapi sekitar sepuluh mahluk manusia berkepala ular. Beberapa kali pendekar halilintar menyerang mereka dengan kekuatan petir, setelah roboh hidup kembali.
Nampak Pendekar Halilintar mulai kelelahan. Serangannya kini mulai melemah. Halilintar yang keluar dari sepasang telapak tangannya sudah mulai mengecil. Bahkan jangkauannya mulai pendek.
Saat keadaan yang sangat genting, sepasang tangan manusia ular yang memili kuku yang runcing hendak mengenai punggung Pendekar Halilintar, selendang Cempaka menangkisnya. Ternyata kehadiran Cempaka tidak membuat mahluk-mahluk itu gentar, malah mereka semakin ganas. Kesepuluh mahluk itu langsung mengeroyok maju berbarengan.
Blaarrr...
Sebuah kekuatan berbentuk petir yang dahsyat menyambar ke sepuluh mahluk manusia berkepala ular itu. Seketika mereka terlempar sampai puluhan tombak. Yang lebih dahsyatnya semua mahluk itu terbakar dimakan api. Tak selang berapa lama semuanya tinggal menjadi debu.
Setelah itu Bayu melompat ke samping Jaka. Rupanya petir dahsyat tadi berasal dari serangan pemuda itu. Tenaga sakti gerbang ke tiga itu masih menyelimuti tubuhnya.
__ADS_1
“Pendekar Rajawali Merah” seru Jaka sambil memberi hormat dengan menjura.
“Panggil aku Bayu saja Pendekar Halilintar.” Yang merasa kurang enak dipanggil Jaka seperti itu.
“Kalau begitu kau pun panggil aku Jaka saja. Dipanggil pendekar oleh pemuda yang kesaktiannya jauh melebihi ku, rasa-rasanya membuatku jadi seperti orang tak tau diri saja.” Sahut Jaka.
“Kau pantas dipanggil pendekar bukan karena kesaktianmu saja, tapi jalan yang kau pilih dan pengabdianmu dengan dunia persilatan ini membela yang lemah dan menegakkan keadilan sudah menjadi alasan yang sangat kuat.” Sahut Bayu seraya tersenyum ramah.
“Sudah-sudah kau terlalu memujiku. Jangan sampai aku melambung dan jatuh lalu binasa karena kesombonganku. Kalau kau tidak keberatan bersahabat denganku, cukup panggil aku dengan sebutan Jaka. Tapi kalau kau rasa aku tak pantas mendapat kan kehormatan itu, sesukamu lah memanggilku apa.”
Mendengar jawaban Jaka itu Bayu tersenyum geli. Iyapun melangkah perlahan kedepan. “Baiklah Kak Jaka.” Ucap pemuda itu.
Mendengar ucapan itu bukan hanya Jaka yang senang. Cempaka pun tersenyum menandakan ia sangat gembira atas sikap Bayu itu. Ia tahu pada dasarnya pemuda di depannya ini baik. Hanya saja kadang sifat kejamnya membuat nama pemuda itu lebih ditakuti ketimbang disukai.
“Sebenarnya bukan kesaktianmu di bawah kesaktian mereka. Tapi ilmu yang kau miliki tidak bisa berfungsi maksimal kak Jaka. Ini alam lelembut, dunia siluman. Hanya Ilmu yang memiliki unsur ghaib atau unsur kebatinyan yang berfungsi maksimal. Itu yang di katakan Malaikat Putih.”
“Malaikat Putih? Di mana kalian bertemu pendekar legenda itu.” Tanya Jaka terkejut.
“Oh.. pantas saja, aku sempat mengira kalian terseret juga ke alam ini.”
“Sebaiknya kita segera mencari sarang Dedemit Sukma Ular. Lalu kita selamatkan para pendekar yang lain. Tapi sebelumnya bila kalian tidak keberatan, aku akan mengalirkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ke tubuh kalian. Sehingga tenaga gabungan itu bisa membuat kalian menghajar dedemit-dedemit di alam ini.” Ucap Bayu. Semua pengetahuan itu memang diterangkan oleh Malaikat Putih kepada Bayu, sebelum memasuki alam ini.
“Tentu kami tidak keberatan. Sebuah kehormatan dapat merasakan ilmu legenda yang dianggap tersakti di jagad raya ini.” Ucap Cempaka girang. Sedangkan Jaka hanya tersenyum namun tak ada sedikitpun tersirat penolakan.
“Yang pertama kak Cempaka dulu. Silakan kerahkan tenaga saktimu kak pada tingkat tertinggi.” Ucap Bayu.
Cempaka menuruti permintaan pemuda itu. Iapun duduk bersila lalu mengerahkan tenaga saktinya. Nampak selapis tenaga berwarna putih keperakan memancar dari tubuh istri Jaka itu. Cempaka telah mengeluarkan tenaga sakti inti es milik keluarganya.
Kemudian Bayupun mengerahkan tenaga saktinya. Kini tenaga ditubuhnya berganti dengan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta gerbang Pertama. Serangkum hawa dingin mulai menjalari tempat itu. Sementara dari tubuh Bayu mulai menyebar butiran embun yang mengawang kian melebar di sekelilingnya.
__ADS_1
Bayu mengarahkan telapak tangan kanannya kepunggung Cempaka, tanpa menyentuh istri Jaka itu. Kemudian ia mengalirkan tenaga saktinya kepada cempaka. Perlahan cahaya keperakan di tubuh cempaka kian melebar. Bahkan kini disertai dengan butiran embun yang mengambang di sekitar tubuh wanita itu.
Jaka berdecak kagum melihat kejadian di depan matanya. Baru kali ini ia melihat tenaga sakti milik istrinya menjadi begitu dahsyat. Namun yang membuatnya lebih kagum adalah cara Bayu mengalirkan tenaga saktinya. Pemuda itu masih menjaga tata kesopanan sehingga tak menyentuh langsung punggung istrinya.
“Sekarang giliranmu kak Jaka.” Ucap Bayu.
Jaka duduk bersila. Kemudian ia mengerahkan tenaga saktinya sampai kepuncak. Berderapan cahaya kilat putih kebiruan mengitari tubuhnya. Walau tak sedahsyat yang dimiliki Bayu, namun tetap saja tenaga itu merupakan tenaga sakti ahli silat nomor satu di dunia persilatan.
Melihat Pendekar Halilintar sudah siap, Bayupun mengerahkan tenaga sakti gerbang ke tiganya. Sinar mirip aliran listrik kembali menyelimuti pemuda itu. Kian lama kian melebar. Bayu terus mengerahkan tenaganya sampai kepuncak. Hingga aliran Listrik yang tadinya berwarna putih kebiruan berubah menjadi warna merah.
Kemudian Bayu menempelkan tangan kanannya ke punggung Jaka. Iapun mengalirkan tenaga saktinya ketubuh Jaka. Perlahan mengalir sinar listrik kemerahan ke tubuh Jaka. Tubuh pendekar halilintar pun sempat bergetar menerima aliran tenaga sakti itu.
Kini kilat yang menyambar-nyambar di tubuh pendekar halilintar yang tadinya berwarna biru, berubah menjadi merah. Ia dapat merasakan pancaran tenaga sakti yang luar biasa mengalir ditubuhnya.
“Walaupun tenaga ini dahsyat, namun hanya bisa digunakan di alam ini dalam waktu yang lama. Sedangkan di alam manusia, hanya berbatas selama sepeminuman teh.” Terang Bayu.
“Ini sudah cukup dik Bayu, mari kita serang sarang dedemit itu” Ucap Jaka penuh semangat.
Bersambung..
Salam Dunia Persilatan
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
__ADS_1