
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 228...
“Kau terlalu gegabah Gardana untuk melibatkan Rajawali Merah dalam urusan mu. Ketamakan dalam harta peninggalan raja terdahulu itu membuatmu enggan melibatkan kami dalam urusan kedua bocah itu. Apa susahnya bagi kami masuk ke api untuk mengalahkan orang dalam perkumpulan Elang Sakti. Tapi karena kau khawatir harta benda dari kedua bocah itu jatuh ke tangan kami maka kau memilih untuk melibatkan Rajawali Merah.” Ucap empu Yudiba gusar.
Gardana dan kedua dan istrinya hanya diam tidak berani menanggapi ucapan empu Yudiba. Lelaki itu sadar kalau salah dalam melakukan tindakan. Kini harta yang dia inginkan tak dapat malah tawanan yang seharusnya dia dapatkan dua orang satu nya lepas.
“Coba lihat keadaanmu sekarang, bukannya harta yang kau dapat malah luka dalam yang cukup parah kau derita. Seandainya kami tidak ingin mengobati mu, tentu sudah tewas kau sekarang.”
Empu Yudiba terlihat masih sangat gusar kepada Gardana dan istrinya. Ia tak henti-hentinya memaki dan memarahi sepasang suami istri tersebut. Yang paling membuatnya kesal adalah kehilangan satu dari tawanan yang merupakan calon tumbal yang ingin Ia berikan kepada Dewi api.
“Sudahlah empu Yudiba! Yang terjadi sudah tidak bisa lagi kita perbaiki. Sekarang yang kita pikirkan bagaimana caranya mengambil kembali Gadis itu dari tangan Rajawali merah. Berita dari telik sandi orang-orang kita yang masih berada di sana, Gadis itu kini dibawa oleh Rajawali merah beserta temannya.” Ucap pemuda berbaju jingga yang tak lain adalah ketua aliran kepercayaan penyembah Dewi api.
“Itulah yang dari tadi aku pikirkan ketua. Sangat tidak mungkin untuk kita menghadapi Rajawali merah. Sekalipun Dewi Api yang menghadapinya apabila keadaannya Masih seperti sekarang dia tidak akan menang. Kalau tidak kita rebut maka persembahan kita kurang seorang. Aku takut Dewi Api tidak akan mau menunjukkan wujud aslinya.” Ucap empu Yudiba.
“Akan kita pikirkan caranya nanti, bila tidak memungkinkan juga biarlah kita coba berikan persemabahan satu orang saja.” Ucap ketua aliran.
“Aku tidak butuh persembahan manusia. Kau kira aku ini jenis siluman yang pemakan manusia. Yang aku butuhkan adalah tubuh manusia yang memiliki darah biru darah kerajaan. Agar kekuatanku bisa maksimal digunakan pada tubuhnya.”
Tiba-tiba ketua aliran dan empu Yudiba dikejutkan dengan kedatangan perempuan bercaping dengan pakaian serba hitam yang mereka panggil dengan sebutan Dewi Api. Nampak perempuan itu sedikit gusar dengan pembicaraan mereka berdua. Seketika keduanya langsung berlutut meminta maaf.
“Maafkan kami Dewi tidak mengetahui kehadiran Dewi yang Mulia.”
“Bangunlah! Sebenarnya tubuh gadis ini sudah sangat cocok untukku. Dasar-dasar ilmu bela diri yang ia miliki melebihi kelebihan dari jasad keturunan darah biru. Hanya saja kekuatan batinnya agak sulit aku kendalikan sehingga seringkali dia mampu mengambil alih kembali raganya.” Ucap Dewi Api.
“Lalu apa yang harus kita lakukan, yang mulia Dewi?” tanya ketua aliran.
__ADS_1
Untuk sementara kita lihat perkembangan dulu. Apa bila kembali tubuh ini dikuasai oleh jiwa gadis pemiliknya, maka kembali mainkan irama pemanggil Dewi agar aku bisa kembali menguasainya. Apabila dalam waktu sepuluh hari aku mampu mengambil alih, dengan sendirinya jiwa asli gadis ini akan lenyap, maka akulah yang akan menjadi pemilik satu-satunya.
Blaaarrr...
“Aaaaa...”
Tanpa di duga semua orang, tiba-tiba saja Dewi Api melontarkan serangan kepada Gardana dan istrinya. Seketika sepasang suami istri itu dibakar oleh kekuatan api hitam. Teriakan meenyayat hati terdengar dari keduanya.
Sementara itu Bayu, Intan, dan juga gadis yang bernama Yassika itu sudah tiba di depan pintu masuk ke lembah neraka. Kehadiran Bayu dan yang lainnya di tempat itu disambut hormat oleh para penjaga. Dengan berjalan kaki dari pintu masuk ketiganya menuju Istana Lembah Neraka.
“Bayu!”
Tiba-tiba terdengar sebuah panggilan kepada baju. Setelah pemuda itu menoleh ke kanan arah pemanggilannya ternyata yang memanggil adalah Jaka si Pendekar halilintar. Bayu pun menghampiri Jaka.
“Apa kabarmu kak Jaka.” tanya Bayu seraya menghampiri kaka angkatnya itu.
Bayu hanya tersenyum mendengar ucapan pendekar halilintar . Kini ke empatnya pun menuju istana Lembah neraka. Sesampainya di sana Bayu disambut oleh penghormatan dari beberapa anggota yang kebetulan berpapasan dengannya. Tak lama kemudian muncul Pranggala memberikan penghormatan.
“Hormat kepada ketua.” Ucapnya sambil berlutut dengan satu kaki.
“Bangunlah paman. Bagaimana keadaan perkumpulan apakah ada masalah?” tanya Bayu sambil memegang pundak Pranggala untuk membangunkannya.
“Perkumpulan aman terkendali ketua. Dan semua perintah ketua untuk memperketat penjagaan dan juga menambah rintangan alam di lembah neraka sudah dilakukan semua. Kini tak ada satupun mampu menembus tempat ini tanpa izin. Kecuali orang yang berkemampuan seperti ketua.” Jawab Pranggala.
“Baguslah paman, kelak bila kau menggantikan aku, semua sudah dapat kau kendalikan.”
“Ma.. maksud ketua?” tanya Pranggala gugup?.
“Tidak apa-apa paman, lupakanlah. Aku ingin bertemu dengan tamu-tamu kita dulu. Sesudah lulusan ini selesai Aku ingin melihat kemajuan paman dalam penguasaan ilmu tenaga sakti inti api.” Ucap Bayu.
__ADS_1
Semua orang terdiam tidak ada yang berani berbicara. Namun di dalam hati mereka masing-masing penuh dengan pertanyaan akan ucapan Bayu tadi. mereka kenal betul dengan pemuda itu. Siapapun tidak bisa mendesaknya untuk berbicara apabila dia tidak menginginkannya.
Kemudian iapun diantar menemui malaikat pedang dari timur dan juga si Mata Malaikat bukit Seribu ular yang sedang beristirahat di kamarnya. Di kamar nampak malaikat pedang dari timur hanya bisa berbaring di atas kasur. Tubuhnya terlihat menggigil dengan wajah meringis kesakitan.
“Apa yang terjadi dengannya?” tanya Bayu.
“Dia sedang mengalami jalan api ketua, akibat dua tenaga yang mengeram dalam tubuhnya.” Ucap Pranggala menjelaskan.”
“Akan kucoba mengobatinya.”
Kemudian Bayu mengerahkan tenaganya. Kali ini pemuda itu menggunakan ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat kelima. Kelebihan tingkat ini mampu menguasai dan mengendalikan tenaga orang lain.
Bayu meletakkan kedua telapak tangannya ke punggung Malaikat pedang dari Timur. Kemudian ia memisahkan tenaga sakti di tubuh orang tu itu yang sedang saling tindih. Lalu Bayu menarik tangan kanannya dari punggung Malaikat Pedang Dari Timur. Bersamaan dengan itu tenaga sakti halilintar perak ikut keluar dari tubuh orang tua itu.
Setelah itu Bayu melancarkan peredaran darah dan dan Aliran tenaga yang dimiliki oleh malaikat pedang dari timur. Tak sampai sepeminuman teh akhirnya pemuda itu pun berhasil mengobati orang tua tersebut. Ia pun melepaskan kembali pengerahan tenaga saktinya.
Keadaan Malaikat Pedang dari Timur nampak berangsur-angsur menjadi pulih. Tubuhnya tak lagi gemetaran. Perlahan ia membuka matanya yang sejak beberapahari yang lalu hanya terpejam.
“Bagaimana keadaanmu Wira Mukti?” tanya si Mata Malaikat dari Bukit Seribu Ular.
“Sudah banyak baikkan. Di mana kita?” tanya Malaikat Pedang dari Timur lemah.
“Kita berada di Lembah Neraka, di kediaman Rajawali Merah. Dia lah yang mengobatimu yang terkena jalan api itu.”
Malaikat Pedang dari Timur menghela nafas panjang. “Tak kusangka di Selatan ini banyak pesilat-pesilat tangguh yang usianya masih sangat muda.” Ucapnya ketika matanya bertatapan dengan Bayu si Rajawali Merah.
“Aku ucapkan terima kasih atas budi baikmu Rajawali Merah. Selamanya Malaikat Pedang dari Timur akan mengingatnya.” Ucapnya kepada Bayu.
Bersambung..
__ADS_1