Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
21. Buto Ireng


__ADS_3

Setelah beberapa hari menginap di kediaman Petapa Sakti Tanpa Nama Jaka beserta istrinya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan. Walaupun belum mendapatkan kepastian mau tidaknya orang tua itu datang membantu, sedikit banyaknya perjalanan mereka ketempat itu tidaklah sia-sia.


Sepasang suami istri itupun melanjutkan perjalanannya ke tempat berikutnya. Kali ini mereka menuju ke kediaman seorang tokoh sakti yang sangat disegani oleh kalangan aliran hitam maupun putih, Dewa Obat.


Sementara itu di tempat yang berbeda, Bayu atau si Rajawali Merah berbaring di bawah sebuah pohon rindang. Matanya tertutup, nafasnya teratur sangat halus hampir seperti tidak bernafas, itulah pertanda kesaktian orang itu ada pada tingkat yang sangat tinggi. Sudah dua hari semenjak kepergiannya dari kediaman Pendekar Seruling Sakti pikirannya jadi tak bisa tenang. Ada perasaan hampa dan seperti ada sesuatu yang mengganjal yang ia sendiri tak mengerti apa penyebabnya. Masih diingatnya wajah cantik putri pendekar seruling sakti kala itu, saat gadis cantik itu berterima kasih atas pertolongannya. Namun di sisi lain ada perasaan menyesal saat ingat betapa ia sempat membuat ketakutan Ayah dan anak itu ketika kekuatannya memancar tak terkendali dan memporak porandakan kediaman Pendekar Seruling Sakti.


Tiba-tiba lamunan Bayu terhenti. Telinganya mendengar ada dua orang yang sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menuju arah dia beristirahat. Memang kurang lebih berjarak setengah mil dari tempatnya sekarang, sedang saling kejar mengejar dua orang yang menggunakan ilmu meringankan tubuh. Sesekali orang yang mengejar melemparkan senjata rahasianya untuk menyerang orang di depannya, namun selalu saja lawannya itu mampu menghindar.


Tepat tak jauh dari Bayu beristirahat, mereka berdua berhenti saling kejar mengejar.


"Sebaiknya kau menyerah Buto Ireng! kemanapun kau lari pasti akan ku kejar. Kecuali kau kembalikan mustika sambung nyawa itu. Kau telah mencuri pusaka milik Dewa Obat." seru orang yang berbaju putih mengingatkan orang yang dikejarnya.


"Haha kau bodoh Surya Pati, sengaja ku giring kau ke sini agar aku bisa menghabisi mu tanpa bantuan Gurumu Dewa Obat." Sahut Buto Ireng dengan nada kemenangan


Bayu yang berada di situ mendengarkan dengan seksama peecakapan kedua orang yang sedang berselisih. Namun entah kenapa tak sedikitpun hatinya tertarik untuk mencampuri urusan keduanya. Seolah tak terjadi apa-apa Rajawali Merah tetap berbaring dan memejamkan matanya.


Surya Pati langsung menyerang Buto Ireng menggunakan pedangnya. Tak tanggung-tanggung lelaki itu langsung menyerang pada bagian-bagian mematikan lawan. Tidak seperti sebelumnya Buto Ireng yang tadi lari dari kejaran Surya Pati, kini lelaki berbadan besar dengan kulit sangat hitam itu menghadang serangan musuh. Kali ini serangan pedang lawan ditangkisnya hanya menggunakan tangan kosong


Trang...

__ADS_1


Betapa terkejutnya Surya Pati ketika pedangnya mengenai lengan bukanya lawan terluka, malah tangannya kesemutan. Saat pedangnya menyentuh lawan tadi terasa seperti menebas sebuah baja yang sangat keras. Surya Pati pun mencoba lagi menebas leher musuh dengan pedangnya.


Hehehe...


tawa mengejek diperdengarkan oleh Buto Ireng. Lagi-lagi leher musuh tidak mengalami luka sedikitpun. Ternyata setiap serangan pedang Surya Pati yang mengenai lawan, tak sedikitpun berhasil menggores kulit musuh, apalagi melukainya. Hanya pakaian lawannya saja yang robek apabila kebetulan serangan itu mengenai bagian tubuh yang ditutupi pakaian.


Kali ini Surya Pati tak lagi setengah-setengah, iapun mulai mengeluarkan ilmu kesaktiannya. Jurus Pedang pemecah nadi yang menjadi andalan murid Dewa Obat itupun digunakan. Buto Ijo yang melihat musuh sudah mulai menggunakan jurus andalannya itupun mulai serius. Ia tau Jurus ini memang tidak akan melukai fisik luar lawan, tapi apabila titik nadi yang menjadi tujuan didapatkan, maka seluruh nadi lawan akan pecah, dan tewas seketika.


Buto Ijo mengeluarkan sebuah gada senjata yang menjadi andalannya. Selain sangat besar, kecuali pada gagang yang menjadi pegangan tangan, seluruh bagian gada itu terdapat duri-duri yang tajam. Siapapun yang terhantam gada itu pasti akan remuk tulang-tulangnya.


Sekilas pada pedang Surya Pati memancar cahaya putih yang sangat tipis. Itu pertanda Tenaga dalamnya sudah teralirkan pada jurus Pedang Pemecah Nadi. Lelaki itupun melompat ke udara kemudian meluruk ke bawah menyerang bagian ubun-ubun Buto Ireng. Tentu saja laki-laki bertubuh besar itu tak membiarkan kepalanya menjadi sasaran empuk lawan. Buto Ireng melompat cepat kesamping, sehingga ujung pedang Surya Pati hanya mengenai tanah bekas Buto Ireng berpijak.


Debu debu berterbangan akibat pertarungan Buto Ireng dan Surya Pati. Tak sedikit yang terbawa angin dan mengarah ke tempat Bayu beristirahat. Seandainya mereka berdua melihat sebuah pemandangan luar biasa, tentu mereka akan berpikir seribu kali untuk ribut di tempat itu. Beberapa ranting atau debu yang terbang ke arah Bayu, tidak dapat menyentuh tubuh pemuda itu.


Pada Jarak sejengkal semua benda yang mengarah kepadanya terhenti, terhalang sebuah tembok yang tak terlihat melindunginya.


"Hmmm... menganggu saja." Gumam Bayu sedikit kesal dengan keributan yang terjadi di dekatnya. Bayu pun bangun, kemudian menyandarkan dirinya ke pohon di sampingnya


Buto Ireng dan Surya Pati sangat terkejut mendengar suara Bayu, walaupun hanya gumaman pelan, tapi terdengar sangat jelas. Dilihatnya seorang pemuda berbaju merah sedang bersandar pada sebuah pohon.

__ADS_1


Buto Ireng dan Surya Pati saling pandang mencari jawaban. Sejenak mereka melupakan permusuhan tadi.


"Hai bocah, sejak kapan kau ada di situ" bentak Buto Ireng.


Tanpa menghiraukan bentakan orang, Bayu kembali memejamkan matanya, seolah terasa berat benar mata itu untuk dibuka.


Merasa tak dihiraukan, Buto Ireng menjadi berang. Dengan kuat dilemparkan gada di tangannya ke arah Bayu. Pemuda itu seolah tak tau ada benda yang melesat ke arahnya, hingga tak sedikitpun membuka matanya apalagi bergeming dari tempat itu. Surya Pati yang melihat kejadian itu tak sempat lagi mencegah, hanya memejamkan mata khawatir dengan nasib pemuda di depannya.


Prakk...


Belum sempat Gada itu mengenai Bayu, tiba-tiba dari arah samping kanan sebuah selendang berwarna ungu menangkis laju Gada yang menyerang pemuda itu. Perlahan Bayu membuka matanya, kini didepannya berdiri dua orang berpakaian biru dan ungu membelakanginya. Dari pakaian mereka dapat di tebak keduanya terdiri dari laki-laki dan perempuan.


"Kau tidak apa apa dik" Tanya Perempuan mengenakan pakaian ungu yang tak lain Cempaka itu kepada Bayu. Memang tidak salah, kedua orang yang baru datang itu. adalah sepasang pendekar suami istri, Jaka Andara dan Cempaka. Saat keduanya sedang menjalankan kudanya menuju kediaman Dewa Obat, sayup-sayup mereka mendengar suara pertempuran. Mereka pun bergegas menuju ke arah datangnya suara.


Setelah tiba agak jauh dari tempat pertarungan , keduanya turun dari kudanya, lalu mengamati jalannya pertarungan. Karena tidak tau apa yang melatar belakangi terjadinya pertarungan, mereka hanya menonton pertarungan. Meskipun Jaka mengenali Surya Pati sebagai murid Dewa obat, Suami Cempaka itu tetap enggan bertindak tanpa tau apa penyebab pertarungan itu. Sampai pada saat Bayu membuka mulutnya karena merasa terganggu, baru Jaka dan Cempaka sadar ada orang lain di tempat itu.


Semula Jaka mengira Bayu merupakan orang kosen yang tiba-tiba datang tanpa ada yang mengetahuinya. Lalu setelah melihat keadaan Bayu, juga sikapnya yang kemalas-malasan Jaka pun menduga pemuda itu hanya pemuda biasa yang mungkin saja sudah lama berada di tempat itu.


Memang, apabila Bayu tak menunjukan kesaktiannya, siapa saja akan mengira Pemuda itu hanyalah Pemuda biasa, bahkan terkesan orang yang tak pernah belajar bela diri. Itulah kelebihan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta, semakin kuat dan tinggi penguasaan orang itu, semakin terlihat ia seperti orang yang belum pernah belajar ilmu kesaktian atau ilmu bela diri.

__ADS_1


__ADS_2