
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 170...
Pedang Penguasa Naga meluncur balik ke arah Raja Selatan. Kemudian ia pin menangkap kembali senjata andalannya itu. Beruntung kekuatan serangan dari pedang tati sudah buyar saat bentrok dengan perisai berbentuk es berwarna kehijauan. Tapi tetap saja ia harus berputaran di udara lalu terdorong beberapa langkah kebelakang saat menangkap pedang itu.
“Bidadari Giok Es!” seru Raja Selatan dalam keterkejutannya.
“Intan!” teriak Nalini haru.
Memang benar, yang menghadang kekuatan pedang penguasa naga tadi adalah Intan. Gadis cantik putri pendekar seruling sakti yang kini menjadi titisan Bidadari Giok Es. Mata gadis itu memancarkan sinar hijau yang lembut. Sehingga seolah-olah bola matanya berwarna hijau.
“Tak ada yang boleh menyakitinya.” Ucap Intan atau Bidadari Giok Es dingin.
Tanpa Banyak Bicara Bidadari Giok Es langsung menyerang Raja Selatan dengan hebatnya. Dengan mengibaskan lengan kanan bajunya Intan mengirimkan serangan ke arah Raja Selatan. Sinar kehijauan bersama butiran es melesat.
Dessshh..
Raja Selatan berusaha menangkis serangan Bidadari Giok Es dengan Pedang Pusakanya. Tenaga sakti Intan membentur badan pedang Penguasa Naga yang digunakan untuk menangkis. Dorongan kuat tenaga inti es milik Bidadari Giok Es sangat dahsyat. Raja Selatan terdorong mundur beberapa langkah.
“Hmmm.. rupa-rupanya satu dari dua mahluk keramat penjaga dunia ini sudah muncul. Bahkan mahluk yang bernama Bidadari Giok Es telah menyatu dengan gadis ini.” Ucap Raja Selatan.
Dua mahluk keramat penjaga dunia yang di maksud oleh Raja Selatan ini yang pertama adalah bidadari Giok Es, ke dua Burung Api, yang dianggap dewa bagi para suku api. Sebenarnya keduanya bukanlah mahluk sepertihalnya manusia atau hewan. Ia hanyalah sebuah kekuatan yang hidup yang diciptakan yang Maha Kuasa untuk menjaga dunia.
“Untuk apa kau ikut campur dengan urusanku Bidadari Giok Es. Bukankah kau Dewi Pelindung Suku salju, dan bukan merupakan bagian kerajaan Selatan. Tidak ada hak kau ikul campur urusanku.” Tanya Raja Selatan. Ada sedikit kegentaran dalam hatinya.
“Banyak alasan untuk aku mencampuri hal ini. Terutama bila ada hubungannya dengan dia.” Jawab Intan singkat. “Pergilah dari sini, atau kubuat Kerajaan Selatan membuat acara pemakaman buat rajanya.”
“Jangan kau pikir aku takut dengan bocah sepertimu.” Sahut Raja selatan geram.
Raja Selatan melesat menyerang Intan. Orang tua separuh Baya itu telah menggunakan kekuatan nya pada tingkat tertinggi. Pancaran sinar pelangi semakin menebal. Cahaya keemasan pedang pun semakin menyilaukan. Namun semua itu tak berpengaruh banyak di hadapan bidadari Giok Es.
Raja Selatan menebaskan pedangnya ke samping bagian pinggang Bidadari Giok Es. Kemudian gadis itu mengibaskan tangannya kesamping terciptalah sebuah perisai terbuat dari es berwarna kehijauan. Dan lagi-lagi Raja selatan harus terlempar karena membentur perisai yang dibuat dari tenaga sakti Giok Es.
Kali ini intan yang melesat menyerang raja selatan. Tubuhnya yang diliputi cahaya kehijauan itu masih mengundang salju turun di tempat itu. Sebuah tendangan keras ia layangkan ke lambung Raja Selatan. Sang Raja menangkisnya menggunakan pedang penguasa naga. Walau itu berhasil mencegahnya dari terluka parah, namun tetap saja ia harus terlempar karena kerasnya tendangan intan.
Intan diam sejenak, kemudian ia membentangkan kedua tangannya ke samping atas. Tiba-tiba salju yang sudah berada di tanah kembali terangkat dan mengambang di udara, sedangkan salju yang turunpun tertahanmengambang sejajar tangan Intan.
__ADS_1
Haaaa...
Bidadari Giok Es memekik seraya mendorong kedua tangannya ke arah Raja Selatan. Bagaikan sebuah badai salju, gulungan salju bercampur cahaya kehijauan menyerang lawan. Raja Selatan sendiri terlihat ia pucat melihat serangan intan.
“Mengapa di saat seperti ini kekuatan pedang penguasa naga belum pulih, sehingga tidak bisa memanggil Naga Emas untuk bertarung.” Gumam Raja selatan, sementara serangan Intan semakin dekat.
“Perisai Penguasa Naga”
Tiba-tiba terdengar suara dua orang berbarengan berseru memanggil perisai penguasa Naga. Bersamaan dengan itu bayangan Hitam dan ungu melesat ke samping kanan dan kiri raja selatan. Kemudian keduanya merentangkan tangan mereka kedepan. Sinar Hitam, Ungu, dan Emas memancar membentuk sebuah perisai menghadang tenaga serangan Bidadari Giok Es.
“Blammmm..”
Tiga orang lawan Intan terlempar sampai lima tombak. Walaupun Intan sendiri masih kokoh di posisinya, tetap saja merasakan tangannya agak kesemutan karena benturan tadi. Ketiga lawan kembali bangkit dan saling pandang. Sementara Intan sudah tidak lagi mengerahkan tenaga saktinya melihat lawan yang sudah tak berdaya. Hujan saljupun berhenti.
“Naga hitam, naga ungu untunglah kalian lekas datang. Kalau tidak bisa-bisa aku berakhir di sini.” Ucap Raja Selatan.
“Yang Mulia sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Gadis itu bukan tandingan kita. Tanpa kekuatan Naga Emas tak mungkin kita bisa menang.”
Raja Selatan pun mengangguk. Ketiganya kemudian meninggalkan tempat itu tanpa kata-kata. Intan sendiri tak mencegah kepergian mereka.
“Kak Nalini..”
Intan menghampiri Nalini yang terlihat lemas di tempatnya. Kemudian merekapun berpelukan dan keduanya menangis haru. Entah apa yang ada di dalam hati mereka mereka masing-masing sehingga tangisan itu tak bisa di cegah. Hanya mereka saja yang tau, atau mungkin hanya perempuan saja yang mampu memahaminya.
“Intan..”
Terdengar suara memanggil di belakang Intan. Gadis itupun berbalik. Ternyata yang memanggil itu adalah Cempaka.
“Kak Cempaka.” Sahut Intan seraya memeluk sepupunya itu.
“Tak di sangka beberapa pekan saja tidak bertemu kau sudah berubah sejauh ini. Bukan saja semakin cantik bahkan kesaktianmu saat inipun mungkin tidak di bawah Bayu.” Puji Cempaka penuh kekaguman.
“Ah.. kak Cempaka terlalu memuji. Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta belum mempunyai tandingan. Apalagi yang memilikinya sudah mampu mencapai tingkat ketujuh, mungkin kesaktiannya bagaikan dewa saja. Tingkat keenam saja belum ada satupun yang mampu menandingi, karena kekuatannya bak Bayangan Dewa.” Elak Intan.
“Apa benar begitu?” tanya Cempaka Ragu. Ia telah melihat sendiri bagaimana kehebatan Intan tadi. Kalau Ilmu Bayu masih berada jauh di atasnya tak dapat ia membayangkan sejauh mana kesaktian pemuda itu.
“Nanti aku ceritakan kak apa sebenarnya yang ku alami. Biar aku melakukan pengobatan dulu terhadap kak Nalini. Sepertinya waktunya tak Banyak lagi. Mungkin karena terlalu sering menggunakan jurus yang menghabiskan tenaganya, sehingga membuat kerja racun menjadi lebih cepat.”
__ADS_1
“Eh, aku tak mau kalau harus menggunakan jantungmu untuk sembuh.” Tolak Nalini.
Intan tersenyum. Sedangkan Cempaka bengong tak mengerti pembicaraan keduanya.
“Kak Cempaka, suruh kakang Jaka dan para pendekar lain untuk menghirup wangi di botol ini. Dalam waktu singkat tenaga mereka akan pulih kembali.” Ucap Intan seraya menyerahkan sebuah botol kecil kepada Cempaka.
“Kak Nalini, ini jantung ular api, atau tepatnya mestika burung api ada padaku, bukan di jantungku. Percayalah aku tak akan mati, dan kau tak harus berpura-pura sehat lagi seperti kemarin” goda Intan seraya mengajak Nalini menepi.
“Telanlah ini untuk memulihkan tenagamu. Kemudian bersemadilah mengerahkan seluruh tenaga sakti ke tingkat paling tinggi.” Ucap Intan seraya menyerahkan tiga biji pil kepada Nalini.
Nalini menelan pil yang di berikan Intan. Kemudian ia duduk bersila dan bersemadi. Perlahan ia mengerahkan tenaga saktinya. Nampak debu berterbangan di sekitar Nalini, pertanda gadis itu sudah mengerahkan tenaganya sampai kepuncak.
Intanpun mendekat. Ia mengambil mestika jantung api berbentuk batu yang besarnya sebesar telur itu. Intan menggenggam kuat batu itu sehingga pecah. Nampak dari pecahan itu sebuah benda berwarna kemerahan bulat sebesar ujung kelingking. Kemudian Intan meletakkan benda itu di dahi Nalini.
Seketika Benda kecil itu melesak setengahnya ke dalam dahi Nalini. Kini di antara kedua kening gadis itu nampak benda seperti kepunyaan Intan, hanya bedanya berwarna merah dan bentuknya bulat. Tak lama kemudian benda itu memancarkan Cahaya merah dan menyebar keseluruh tubuh Nalini. Dapat Gadis itu rasakan sesuatu yang dingin menancap di jantungnya itu telah musnah.
Kini tubuh Nalini memancarkan cahaya merah api. Semakin lama semakin kuat cahaya merah yang di pancarkan. Intan mengambil Pedang Naga Geni dan mengeluarkan dari sarungnya. Kemudian gadis itu melempar pedang yang menyala api itu ke arah Nalini. Secara ajaib pedang itu masuk ke dahi Nalini tepat dimana mestika batu api berada.
Kini Tubuh Nalini memancarkan cahaya api. Sesaat cahaya api itu membentuk seekor burung, kemudian kembali berubah kembali menjadi hawa api yang memancar di tubuh Nalini. Tiba-tiba tubuh Nalini terangkat ke atas lalu berubah posisi berdiri mengambang. Kemudian gadis itupun membuka matanya menatap ke arah Intan dengan penuh haru dan rasa terima kasih.
Intan kembali mengerahkan tenaga saktinya. Tubuhnya kembali memancarkan cahaya Hijau. Seketika Salju turun kembali di tempat itu, dan hawa dingin bercampur hawa panas melanda tempat itu.
“Kak Nalini, saatnya kita membantu Kak Bayu di alam lelembut menghadapi Raja Siluman Ular.” ucap Intan penuh semangat.
Nalini mengangguk. Keduanya berubah menjadi cahaya berwarna merah api dan hijau. Tak lama kemudian cahaya itu lenyap tanpa bekas.
“Dua mahluk keramat telah muncul, petaka empat kerajaan dunia dan dunia persilatan tak dapat lagi di cegah. Sepertinya ramalan Empu Adhiyaksona akan segera dimulai.” Ucap Malaikat Putih yang tiba-tiba muncul di tempat itu.
Bersambung..
sebagai bentuk dukungan dan apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
__ADS_1