
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 157...
“Anak-anak sebaik kita pergi dari sini.” Ajak Bidadari Sesat Lembah Beracun kepada dua orang murid perguruan macan putih.
Ketiga orang itupun meninggalkan tempat. Setan Rawa Bangkai dan Serigala Bangkok Bukit Duri hanya diam membiarkan kepergian ketiga lawannya. Mereka benar-benar terkejut dengan kejadian tadi.
“Siapa pemuda tadi? Sedikitpun aku tidak melihat dia melakukan gerakan. Tapi apa yang di lakukannya seumur hidup belum pernah aku melihat kecuali hari ini di sini.” Ucap Setan Rawa Bangkai masih syok dengan kejadian tadi.
“Entahlah akupun baru kali ini melihat kedua anak muda itu.” Jawab Serigala Bangkok.
Keduanya kembali terdiam. Mereka sama-sama memandang tubuh Cebol Gunung Patakan. Dalam hati masing-masing mengasihani nasib menggenaskan si Cebol Gunung Patakan.
Sementara itu Bidadari Sesat Lembah Beracun dan dua orang murid keponakannya beristirahat di bawah pohon besar cukup jauh dari tempat pertarungan tadi.
“Beruntunglah pertarungan ku terhenti oleh perbuatan mengerikan pemuda misterius tadi. Sebenarnya keadaanku sudah berada di bawah angin. Setan Rawa Bangkai itu memang benar-benar kuat.” Ucap Bidadari Sesat Lembah Beracun.
“Bibi guru.. apakah bibi tau siapa gerangan pemuda itu?” tanya Ramaji?
“Entah lah.” Jawab Bidadari Sesat Lembah Beracun. “Tapi kalau aku tak salah terka dari ciri-ciri pemuda itu adalah Rajawali Merah, ketua Perkumpulan Istana Lembah Neraka.”
“Apa Ketua Istana Lembah Neraka?” seru Ramaji dan Sudika terkejut.
“Bukankah Rajawali Merah sudah tewas sewaktu bertarung melawan Empu Adhiyak Sona di Bukit Kosong dulu. Waktu kejadian itu guru sendiri ada di sana dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Beliau juga yang menceritakan kepada kami.” Ungkap Ramaji.
“Kenyataanya tidak seperti itu. Rajawali Merah tidak tewas.” Bantah Bidadari Sesat Lembah Beracun.
“Kalau begitu dunia persilatan benar-benar dalam bencana. Baru-baru ini aku juga mendengar Bahwa telah muncul orang yang menamakan dirinya Dewa Penguasa Kegelapan dan telah menguasai Benteng Dewa. Dan kurang lebih dua purnama mendatang akan dilaksanakan pertandingan memperebutkan jabatan Ketua Dunia Persilatan.” Ucap Ramaji.
“Aku juga mendengarnya.” Jawab Bidadari Sesat Lembah Beracun. “Tapi kita kesampingkan dulu masalah itu. Kita selesaikan dulu masalah yang dihadapi guru kalian.”
__ADS_1
“Guru kami? Ada apa dengan guru kami bibi?” Tanya Ramaji lagi, tidak mengerti.
“Aku dan guru kalian itu adalah adik dan kakak seperguruan yang paling dekat diantara kami tiga orang seperguruan. Diantara kami berdua memiliki sandi-sandi khusus yang hanya kami berdua mengetahui artinya. Ini sering kali kami gunakan apabila mendapat tugas rahasia dari guru.” Terang Bidadari Sesat Lembah Beracun. “Dua hari yang lalu aku mendapati sebuah pesan berupa sandi yang hanya kami berdua mengerti.”
“Apa isi pesannya bibi?” tanya Sudika langsung mendahului saat Ramaji akan bersuara.
“Tolong, aku di tangkap.”
“Ahh.. apa benar itu isi pesannya bi? Dan apa kau yakin itu benar-benar pesan dari guru?” tanya Ramaji.
“Tidak salah lagi. Aku yakin sekali itu dari guru kalian. Tapi ada hal yang lebih menjadi tanda tanya besar bagiku.”
“Apa itu bi?” tanya Ramaji lagi.
“Kemarin aku bertemu gurumu di sebuah kedai. Tapi ia sama sekali tidak mengenaliku. Aku yang mendapatkan pesan sebelumnya dari gurumu agak curiga kalau-kalau ia sedang diawasi, lalu akupun membuat pesan rahasia.”
“Lalu apa yang terjadi bi?”
“Gurumu tidak menanggapi pesan itu. Malah aku beranggapan dia tidak mengetahui apa yang kubuat merupakan pesan rahasia yang biasa kami gunakan.”
”Tepat sekali. Kecurigaanku semakin terbukti saat aku mengikutinya ternyata gurumu melakukan pembunuhan terhadap ketua perguruan Bangau Putih yang seharusnya ilmu gurumu berada di bawah orang itu.”
“Ahhh.. apa benar itu bi?” tanya Ramaji. Ia sangat terkejut dengan kata-kata yang diucapkan bibi gurunya.
“Yaa.. bukan Cuma satu orang tokoh persilatan yang ia bunuh, ada beberapa orang lagi yang kutahu. Dan sempat ku dengar ia berbicara sendiri, korban selanjutnya adalah ketua perguruan Jari Sakti.” Ungkap Bidadari Sesat Lembah Beracun.
“Ahhh.. berbahaya sekali. Siapa sebenarnya orang itu, dan apa maksudnya menyamar sebagai guru.” Tanya Ramaji.
“Sebenarnya ada satu orang yang pantas dicurigai. Hanya saja aku sangsi apakah orang ini masih hidup atau sudah mati. Dan pula aku tidak memiliki alasan menuduh dia kecuali karena kemampuannya meniru wajah dan tubuh orang lain.”
“Siapa dia?” tanya Ramaji dan Sudika lagi-lagi berbarengan.
__ADS_1
“Iblis Seribu Wajah.” Jawab Bidadari Sesat Lembah Beracun.
“Ohh.. aku memang pernah mendengar nama ini dari guru. Konon orang ini memiliki ilmu aneh yang mampu menyerupai siapa saja. Bukan hanya itu, dia pun memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Kalau aku tidak salah orang ini berada satu angkatan dengan kakek guru.” Tutur Ramaji.
“Benar sekali apa yang kau ucapkan tadi. Karena itulah aku sempat bertanya-tanya apakah mungkin dia yang sudah melakukan penyamaran.”
Sejenak ketiganya terdiam. Apa yang mereka hadapi kali ini memang masih belum jelas keadaanya. Ramaji dan Sudika sendiri masih sangat bingung dengan keadaan gurunya. Mereka berdua datang ke acara Pendekar Jari Malaikat mewakili guru mereka karena sudah hampir sepekan guru mereka tak ada di padepokan dan tak ada kabar beritanya.
“Kalau begitu secepatnya kita kasih tau pihak perguruan Jari Sakti agar mereka waspada dan bersiap akan segala kemungkinan.” Usul Sudika.
Setelah berdiskusi menimbang baik buruknya, ketiganya pun sepakat untuk pergi ke perguruan Jari Sakti. Tak perlu waktu yang lama, mereka bertiga telah sampai di kediaman Jari Malaikat. Sesampainya di sana mereka di sambut tuan rumah dengan ramah.
Di ruangan tengah tempat biasanya menerima tamu-tamu penting perguruan, Bidadari Sesat Lembah Beracun, dan kedua murid keponakannya menceritakan segala hal yang mereka ketahui terkait Pendekar Macan Putih dan dugaan adanya orang yang menyamar. Tak lupa pula mereka cerita rencana orang yang di duga Pendekar Macan Putih palsu yang ingin membunuh Jari Malaikat.
Setelah mendapatkan informasi dari tiga orang tamunya, Jari Malaikat memutuskan untuk tidak meributkan masalah ini sambil mengatur stategi untuk menangkap orang yang menyamar sebagai Pendekar Macan Putih.
Malamnya dari sebuah penginapan yang agak jauh dari padepokan Jari Sakti, nampak sebuah bayangan keluar dari jendela salah satu kamar tamu yang menginap. Kemudian Bayangan itu melesat cepat menggunakan ilmu meringankan tubuh menuju perguruan Jari Sakti. Tanpa di sadarinya dia lewat di hadapan pemuda sakti yang memutuskan untuk bermalam di tempat terbuka untuk menikmati keindahan alam di malam hari.
“Hmm.. siapa malam-malam begini berlari mengendap-endap seperti itu. Hendak kemana orang itu?” ucap Bayu.
“Apakah sebaiknya kita ikuti saja kak?” usul Nalini.
Bayu tidak menjawab usul Nalini. Seolah tidak perduli, pemuda itu sedang asik membolak balikkan daging rusa panggangnya yang sore tadi ia dapatkan dari berburu.
Bersambung...
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
__ADS_1
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.