
Menjelang malam akhirnya sampai juga rombongan Ki Farja di hutan yang sekarang di namai Hutan Seribu Racun. Di sebuah jalan kecil yang menjadi pintu masuk hutan itu terdapat sebuah tulisan "Markas Partai Seribu Racun" . Ada juga papan peringatan yang bertuliskan "SAYANG NYAWA LEBIH BAIK KEMBALI"
Tempat persembunyian Partai Seribu Racun memang berada di tengah-tengah hutan itu. Tidak salah tulisan papan peringatan itu, karena seluruh jalan masuk telah di sebar racun ganas yang sangat mematikan. Hanya orang-orang Partai Seribu Racun yang leluasa keluar masuk hutan itu di karenakan sudah memakan penawar racun yang tersebar.
"Bagaimana Ki? apakah kita tetap masuk? jalan menuju kedalam penuh dengan racun yang mematikan" tanya salah seorang pemuda dari desa Karang Wangi kepada Ki Farja.
"Telan ini" ucap Ki Farja seraya memberikan semacam pil kepada para pemuda utusan desa Karang Wangi. "Dalam waktu seperempat malam kalian akan kebal terhadap berbagai macam racun. Ingat hanya dalam waktu seperempat malam, artinya waktu kita terbatas untuk bisa mengalahkan musuh. Bila dalam waktu seperempat malam belum ada hasil, sebisa mungkin keluar dari sini.
"Baik Ki" jawab mereka serempak.
Setelah semuanya menelan pil yang diberikan Ki Farja, mereka pun mulai memasuki hutan seribu racun. Baru beberapa langkah memasuki hutan, jalan mereka sudah di hadang seekor ular besar. Ular itu berwarna keemasan. beberapa kali ular tersebut menyemburkan asap berwarna keemasan.
"Hati-hati, jangan sampai kulit kalian terkena asapnya. Kita lewat saja, jangan dibunuh."
"Kenapa Ki? apa tidak berbahaya kalau dibiarkan?" tanya salah satu pemuda.
"Ular itu jenis ular yang pasif. Dia tak akan menyerang kalau kita tak mengganggunya, hanya asap itu yang berbahaya. Tapi kalau kita bunuh, darahnya akan menyerang kita." jelas Ki Farja.
Satu-persatu mereka melewati ular emas raksasa itu. Yang pertama-tama lewat adalah Nalini, kemudian Ki Farja, dilanjutkan pemuda-pemuda dari desa Karang Wangi itu. Hingga pada giliran dua orang terakhir, ular itu bergerak dan mengagetkan pemuda yang akan lewat itu.
Srapp...
Pemuda yang kaget itu langsung menebaskan pedang di tangannya ke tubuh ular. Seketika darah yang muncrat dari ular tersebut mengenai dua orang pemuda yang tersisa. Namun hal menyeramkan terjadi, darah itu langsung berubah menjadi ratusan belatung dan melesak masuk kedalam tubuh mereka.
"Aaaaaa..."
Kedua pemuda itu langsung roboh dan berguling-guling kesakitan. Semakin banyak darah yang berubah menjadi belatung dan menghinggapi tubuh kedua pemuda itu.
__ADS_1
"Awas... jangan dekati mereka." seru Ki Farja.
Para pemuda lain yang hendak menolong teman-temannya membatalkan niat mereka. Seruan ki Farja mencegah mereka. Untung saja mereka tidak sampai menyentuh dua orang temannya yang dihinggapi belatung itu. Kalau tidak tentu mereka akan bernasib sama dengan mereka.
Terjakan-teriakan berasal dari dua orang pemuda yang terkena darah itu saling bersahutan. Belatung-belatung di tubuh pemuda itu mulai menggeroti daging orang yang dihinggapinya.
"Cepat tinggalkan tempat ini, lebih berbahaya kalau kita tetap di sini" perintah ki Farja.
Semua orang utusan Desa Karang Wangi setengah berlari meninggalkan tempat itu sambil setengah berlari. Sekitar setengah peminuman teh lama mereka bejalan, di depan mereka terdapat danau kecil yang airnya berwarna merah.
"Danau Peremuk Tulang" Desis ki Farja. "Rupanya mereka berhasil membuat danau beracun buatan ini." bisik nya dalam hati.
"Bagaimana ki, kita melewati Danau ini? apakah kita seberangi saja langsung." tanya salah seorang pemuda.
"Tak mungkin kita menyebranginya langsung. sampai Bila kalian tersentuh airnya yang berwarna merah itu maka tulang-tulangmu akan remuk, dan daging-daging di tubuhmu itu akan meleleh." Ucap ki Farja menjelaskan.
"Bagaimana caranya ki?" tanya si pemuda lagi.
"kita sebar potongan-potongan kayu di danau, lalu jadikan potongan kayu itu menjadi tempat pijakan menggunakan ilmu meringankan tubuh." Sahut ki Farja.
"Apakah kayu itu tidak meleleh juga ki?"
"Tidak, racun di air itu hanya bereaksi terhadap daging dan tulang, tidak terhadap kayu" ucap ki Farja "Baiklah semuanya potong beberapa batang pohon, kita bikin perahu untuk menyebranginya." tambahnya lagi.
Selah cukup banyak potongan kayu yang diperoleh, mereka pun menebar potongan-potongan kayu ke air danau yang jaraknya ke seberang kurang lebih sepuluh tombak itu. Setelah cukup banyak dan rapat kayu yang disebarkan, merekapun bersiap-siap untuk menyeberang.
"Nalini kau duluan" perintah ki Farja.
__ADS_1
Dengan menggunakan ilmu meringankan tubuh, Nalini menyeberang berpijak pada potongan-potongan batang kayu yang mengapung. Tanpa mengalami kesulitan gadis itu sampai ke seberang. Lalu di susul ki Farja menyeberang dengan cara yang sama.
Melihat dua orang itu dapat sampai ke seberang tanpa halangan, delapan pemuda dari desa Karang Wangi itupun bersemangat dan timbul percaya dirinya. Kemudian dua orang menyeberang secara berbarengan dan sampai dengan selamat. Lalu dua orang berikutnya menyusul sampai tersisa dua orang lagi yang belum menyeberang.
Dua orang yang tersisa bersiap-siap menyusul yang lain. Mereka pun mulai berlari di atas potongan batang pohon yang di sebar. Belum sampai mencapai tengah danau, tiba-tiba saja serangan datang.
Wusssshh... wusshh....
Berpuluh-puluh anak panah meluncur dan mengenai kedua orang yang akan menyeberang. Sontak keduanya langsung tercebur ke dalam danau. Lalu hal mengerikan pun terjadi.
Aaaaaa...
Jeritan kesakitan keluar dari mulut dua orang pemuda yang tercebur ke danau. Sebenarnya danau itu tak seberapa dalam, hanya sebatas bahu orang dewasa saja. Namun racun yang ada di dalamnya itulah yang sangat mematikan.
Beberapa kali pemuda yang tercebur di danau muncul dan mencoba menggapai-gapai apa yang bisa diraihnya. Nampak kulit daging pemuda itu mulai meleleh. Bahkan sebahian tulang kepalanya mulai terlihat. Tak lama kemudian tak ada lagi teriakan terdengar.
"Biadab..." geram Nalini.
Tiba-tiba saja ki Farja melesat kearah kiri danau yang terdapat semak-semak tinggi di sana. Kemudian Lelaki itu melancarkan serangan jarak jauh ke arah semak-semak itu.
Blammm...
Ledakan kecil terjadi. Nampak dua orang berpakaian serba hitam terjungkal. Melihat ada orang yang terpental dari balik semak-semak, langsung saja pemuda-pemuda yang selamat meluruk ke sana. Kemudian dengan tebasan membabi buta mereka melampiaskan sakit hati dan dendam atas kematian empat orang temannya.
"Sudah-sudah... mereka telah tewas." Seru ki Farja.
Para pemuda itupun menghentikan serangan mereka. Nampak dua orang musuh tewas dengan kondisi menggenaskan. Wajah dan tubuh mereka tercabik-cabik pedang.
__ADS_1
"Ayo kita lanjutkan perjalanan." Ajak ki Farja yang mulai terlihat kurang semangat.