Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.211. Kemunculan Suku Api


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 211...


“Aku tak punya kepentingan mengatakan nama dan asal-usulku padamu orang tua. Bila kau masih penasaran denganku kita lanjutkan pertarungan ini. Kalau tidak, aku akan pergi dari sini melanjutkan perjalananku.” Sahut Nalini menjawab pertanyaan orang tua itu.


“Kau telah berhutang satu nyawa padaku, tentunya kau harus mempertanggungjawabkannya.” Sahut  kakek tua berpakaian serba putih itu.


“Sudah kuduga kalian memang ingin mencari gara-gara denganku. Tak usah basa-basi lagi orang tua, keluarkan saja semua kemampuanmu.” Tegas Nalini.


Kakek berbaju putih mengerahkan tenaga saktinya. Tiba-tiba saja hawa di tempat itu berubah menjadi dingin. Sekilas tampak di dalam bola mata orang tua itu semacam benda kecil berupa kristal.


Keduanya saling menyerang, dua pasang telapak tangan saling berbenturan di udara. Nalini dan lelaki tua itu nampak melayangang di udara, telapak tangan mereka menyatu saling tindih.


Tubuh Nalini mulai memancarkan hawa api berwarna merah. Sedangkan lawannya, mulai dikelilingi serangkum angin yang bercampur dengan benda  mirip butiran kristal yang jumlahnya cukup banyak. Dua tenaga beradu di udara dan saling tindih untuk menentukan tenaga siapa yang lebih unggul.


Lama-kelamaan api merah yang menyelimuti tubuh Nalini semakin melebar dan membuat suhu udara di tempat itu semakin panas.


“Siapa sebenarnya gadis ini? Apakah benar gadis ini memang titisan makhluk keramat roh burung api.” Bisik lelaki tua itu dalam hatinya.


Blaammm..


Ledakan kuat kembali terjadi. kali ini hanya lelaki tua berpakaian serba putih itu yang terlempar sejauh enam tombak lebih. Sementara Nalini sedikit pun tak goyah dari tempatnya. walaupun tak mengalami luka dalam, namun lelaki tua berpakaian serba putih itu merasakan sesak pada dada nya.


Lelaki terlalu pakaian serba putih itu kembali mengerahkan tenaga saktinya hingga ke puncak. Kali ini orang itu tidak main-main dalam menghadapi lawannya. Pusaran angin yang bercampur dengan butiran kristal memancar dari tubuh lelaki tua berpakaian putih.


Hiyaaat..

__ADS_1


Lelaki tua itu melesat dengan sepasang telapak tangannya menyerang Nalini. Sementara gadis itu semakin kuat mengerahkan tenaga saktinya. Kini hawa panas yang memancar di tubuhnya membuat pohon-pohon di sekitarnya terbakar. Sesaat saja nampak titik api mulai bermunculan.


Blammmm..


Sekali lagi ledakan dahsyat terjadi. Kali ini keduanya sama-sama terlempar beberapa tombak ke belakang. Bedanya, lelaki tua itu menyemburkan darah segar dari mulutnya pertanda ia telah mengalami luka dalam. Sedangkan Nalini terlempar tanpa mengalami luka sedikitpun.


Melihat lelaki tua berpakaian serba putih itu mengalami celaka, semua orang yang berada di sana merasakan kekhawatiran.


“Formasi penakluk!” teriak seseorang dikerumunan orang-orang yang sedang berlutut.


Seketika orang-orang yang sedang berlutut bangkit, kemudian berpencar membentuk sebuah Formasi mengelilingi Nalini. Tali tali besar dibentangkan mencoba mengurung gadis itu. Mereka mulai bergerak mengetatkan jeratan pada Nalini. Kini gadis itu terkurung pada tali yang mengikatnya.


Nalini meningkatkan pengerahan tenaga saktinya. Api merah semakin tebar memancar dari tubuhnya. Sementara hawa panas semakin terasa, membuat semua orang yang berada di sana merasakannya. Namun anehnya kekuatan api itu tak mampu memutuskan tali yang membelit gadis itu.


“Tali apa ini? Mengapa tenaga api yang kumiliki tidak mampu membakar atau memutuskan tali ini.” Tanya dalam hatinya.


Nalini terus meningkatkan tenaganya, namun bukannya tali terlepas atau semakin longgar, melainkan mengikat menjadi lebih ketat. Ia mulai merasakan sakit pada tubuh yang terkena belitan tali. Amarahnya mulai meledak, sinar api yang tadinya berwarna merah, kini mulai berubah berwarna kehitaman, termasuk pancaran api dari sinar matanya.


“Lepaskan tali!” teriak kakek tua berpakaian serba putih itu.


Namun terlambat, hanya beberapa orang saja sempat melepaskan tali. Sisanya, sepuluh orang lebih tersambar api hitam. Tak ayal lagi mereka yang terkena Sambaran api hitam itu dan terbakar. Mereka mencoba memadamkan apinya dengan cara bergulingan di tanah, namun sia-sia. Tak berapa lama kemudian orang-orang itu tewas hangus terbakar.


“Ternyata memang benar gadis itu merupakan titisan mahluk keramat roh burung api. Sebaiknya aku segera menyuruh gadis itu pergi sebelum keberadaannya di ketahui kakang Yudiba.” Gumam kakek tua berbaju putih.


“Cah ayu, sebaiknya kau cepat pergi dari sini sebelum kakakku mengetahui keberadaanmu. Aku tidak ingin kau jatuh ke tangan kakakku yang memang berambisi menemukan keberadaanmu. Lekaslah pergi dari sini.” Ucap kakek tua itu lantang.


Nalini yang kesadarannya sudah mulai dikuasai oleh roh keramat burung api, tidak memperdulikan apa perkataan orang tua itu. Dia terus meningkatkan tenaga saktinya hingga keadaan di sekitarnya menjadi sangat panas. Api hitam mulai menyambar kemana-mana.

__ADS_1


“Apa yang sebenarnya terjadi? mengapa gadis itu seolah tidak memperdulikan semua perkataanku?” Gumam kakek tua berpakaian serba putih.


Nalini semakin tidak terkendali, tenaga sakti inti hitamnya mulai memuncak. Gadis itu mulai mengamuk menyerang ke sana kemari. Api hitam mulai membakar segala apa yang ada di sana. Bahkan sebongkah batu besarpun terbakar.


“Bahaya sekali.. mengapa gadis ini menjadi sangat kejam?”


Lelaki tua berbaju putih menjadi panik dengan apa yang terjadi di depan matanya. Ia pun mengerahkan anak buahnya untuk menghindar.


Boooonnnngggg..


Boonnnngggg...


Tiba-tiba terdengar suara keras sebuah gong di bunyikan.


“Gawat! Ternyata ternyata kakang Yudiba telah mengetahui keberadaan gadis itu.” Ucap lelaki tua berpakaian putih.


Tak lama kemudian serombongan orang berpakaian serba merah datang. mereka dipimpin oleh seorang lelaki tua berpakaian serba merah dengan rambut dan alis berwarna kuning. Tepat berada di depan Nalini dengan jarak sekitar dua puluh tombak  rombongan itu berhenti. Kemudian secara serempak mereka berlutut di hadapan Nalini.


“Irama Pemanggil Dewi!” seru lelaki tua berambut kuning yang dipanggil Empu Yudiba itu.


Empat orang lelaki berpakaian serba merah yang berada di depan barisan serempak memukul gendang membentuk sebuah irama. Anehnya mendengar itu Nalini berhenti mengamuk. Gadis itu diam melihat ke arah orang-orang yang memainkan gendang. Terlihat Nalini sangat tertarik mendengar tabuhan gendang empat orang lelaki di hadapannya.


Perlahan-lahan api hitam yang memancar dari tubuh Nalini berubah menjadi merah kembali. Nampak dari bibir gadis itu tersungging senyum yang menawan. Tak lama kemudian seluruh pancaran api pun lenyap. Nampak Nalini begitu menikmati tabuhan gendang orang-orang yang baru datang itu.


“Suku Api menghadap Dewi” ucap semua serentak setelah tabuhan gendang berhenti.


Nalini tersenyum mendengar penghormatan yang dilakukan oleh orang-orang berbaju merah. Gadis itu memberi isyarat untuk orang-orang itu bangkit dengan tangannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2