Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.125. Surat Undangan Dari Benteng Dewa.


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 125...


“Mana Intan dan Raja Pulau Es? Kita harus mengucapkan terima kasih kepada mereka.” Tanya Bayu kepada Nalini.


“Raja Pulau Es masih di gua Pusaka. Sedangkan Intan sudah tiada Kak Bayu.” Jawab Nalini lirih. Mata gadis itu kembali berair.


“Tiada? maksudnya apa?” Tanya Bayu yang tak mengerti ucapan Nalini.


“Intan telah pergi. Ia telah berkorban nyawa untuk kita.” Jawab Nalini lagi sambil sesegukkan.


Kemudian secara singkat Nalini menceritakan apa yang terjadi kepada Bayu. Gadis itu menjelaskan bahwa sesungguhnya Mestika Raja Ular Api sudah di telan gadis itu saat ia akan berlatih ilmu kesaktian. Mestika itu merupakan benda pusaka milik kakeknya Intan. Dan satu-satunya obat untuk racun bulu landak salju yang lebih tiga hari mengeram ditubuh seseorang hanya Mestika itu yang mampu mengobatinya.


Apabila Mestika itu telah ditelan oleh orang lain, maka satu-satunya cara adalah dengan menggantikan jantung orang keracunan dengan jantung orang yang menelan Mestika itu. Dan Intan pun rela melakukan itu semua demi kesembuhannya dan demi Bayu agar bisa menyumbangkan tenaganya untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana.


Mendengar penjelasan Nalini itu Bayu tersentak kaget. sampai-sampai ia kembali terduduk di tempat itu. Ia sama sekali tak menyangka akan ada keadaan seperti ini. Di satu sisi ia sangat senang akan kesembuhan Nalini, tapi di sisi lain ia pun tidak ingin ada yang menjadi tumbal.


“Ah.. mengapa seperti ini. Mari kita ke goa pusaka menemui Raja dan melihat keadaan Intan, siapa tau ada yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkannya.” Ucap Bayu dengan suara bergetar.


Bayu dan Nalini melesat ke arah goa pusaka. Sesampainya di depan mulut goa, Bayu berteriak kecil memanggil Raja Pulau Es dan meminta izin untuk masuk. Lama tak ada jawaban, hingga akhirnya  terlihat Raja Pulau Es kekuar dari goa pusaka.


“Masuklah tuan Pendekar.” Ucap Raja Pulau Es mempersilakan Bayu dan Nalini untuk masuk.


Bayu dan Nalini melangkah kedalam goa mengikuti Raja Pulau Es. Orang tua itu menggiring keduanya kesebuah tempat. Tempat itu tepat berada di tengah-tengah goa pusaka. Sebuah ruangan khusus yang hanya orang-orang tertentu saja boleh memasukinya.

__ADS_1


“Ini Bilik Pusaka tempat meletakkan pusaka pulau es. Dengan Pusaka itu pulau ini bisa terjaga dari segala macam bencana, terlebih badai besar di laut lepas.” Ungkap Raja Pulau Es.


Tepat berada di tengah-tengah ruangan itu terdapat batu kristal berbentuk persegi panjang. Diatasnya nampak sesosok tubuh terbaring. Berjarak dua tombak diatasnya nampak melayang sebuah batu giok berbentuk kristal sebesar telur ayam. Batu itu memancarkan cahaya putih kebiruan.


“Intan..” Desis Bayu saat mengenali sosok tubuh yang terbaring di atas batu kristal itu tak lain adalah Intan. Saat Bayu akan melangkah berniat menghampiri tubuh Intan, Raja Pulau Es mencegahnya.


“Jangan di sentuh tuan Pendekar! Biarkan batu kristal menjaga tubuh itu agar tetap awet selamanya. Hanya itu peninggalan satu-satunya dari adik bungsuku yang tersisa. Batu kristal itu hanya mau menerima satu tubuh, apabila ia mendapatkan ada tubuh lain mendekat, maka batu itu tidak akan mengeluarkan hawa dinginnya lagi. Tubuh Intan akan cepat membusuk.” Ucap Raja Pulau Es.


Bayupun urung melangkahkan kakinya. Dari kejauhan dilihatnya tubuh Intan mulai diliputi butiran Es. Sebenarnya kakinya terasa lemas, namun dia tetap berusaha bertahan agar tak jatuh. Entah mengapa ia merasakan sesuatu yang hampa. Hal yang ia tak dapat mengerti.


Tak ada lagi kata-kata yang mampu pemuda itu ucapkan. Ia pun berpamitan pada Raja Pulau Es. Pemuda itu berencana hari ini juga akan meninggalkan pulau es kembali ke dataran seberang bersama orang-orang Istana Lembah Neraka yang masih berada di pulau Es.


Tak lama kemudian ketiganya meninggalkan goa pusaka. Setelah berjalan selama kurang dari sepeminuman teh, ketiganya tiba di Istana Pulau Es. Nampak orang-orang Istana Lembah Neraka sedang menunggu. Sesampainya di tempat itu, seorang anggota membungkuk sambil menyerahkan sebuah surat kepada Bayu.


“Mohon izin ketua, menyampaikan surat undangan dari Benteng Dewa.”


Kepada ketua Istana Lembah Neraka


Bulan ketujuh hari ke lima belas akan dilakukan pemilihan ketua dunia persilatan. Harap datang dan mengikuti pertandingan merebutkan posisi ketua dunia persilatan. Bagi perkumpulan yang tidak datang atau mengirim perwakilannya, maka ia sama dengan menyatakan setuju dan takluk pada ketua terpilih. Bagi mereka yang membangkang, berarti menantang seluruh pendekar dunia persilatan daerah selatan


Tertanda


Ketua Perkumpulan Benteng Dewa.


Setelah membaca isi surat itu, Bayu menyerahkan kembali surat kepada anggota yang membawanya tadi. Dengan kening yang berkerut pemuda itu mengalihkan pandangannya kepada Pranggala.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu paman? Sebenarnya aku sangat tidak tertarik dengan urusan itu. Setelah ini aku hanya ingin mencari cara mengembalikan ingatanku. Tidak ingin ikut campur dengan urusan dunia persilatan.” Ucap Bayu hambar.


“Secara pribadi aku sendiri juga tidak tertarik dengan urusan ini ketua.” Sahut Pranggala. “Namun yang ditakutkan posisi ketua dunia persilatan jatuh  pada pemimpin iblis-iblis itu. Akan bagaimana nasib dunia persilatan apa bila mereka yang menjadi pemimpinnya. Masih ada waktu kurang dari tiga bulan untuk kita berpikir.” Sambungnya lagi.


“Hmm.. baiknya kau saja yang atur paman. Aku menurut saja.” Ucap Bayu dengan perasaan apa boleh buat.


Setelah berunding, akhirnya Bayu, Nalini, Bargawa dan orang-orang Istana Lembah Neraka sepakat untuk hari itu juga meninggalkan pulau es. Sesudah berpamitan dengan Raja Pulau Es dan Ratunya, Bayu dan yang lainnya meninggalkan pulau itu dan kembali ke dataran seberang. Mereka pulang menggunakan kapal besar yang di bawa oleh orang-orang Istana Lembah Neraka.


“Ketua.. apakah kau akan langsung kembali ke Istana Lembah Neraka?” tanya Pranggala.


Saat ini Bayu, Nalini, Pranggala dan Bargawa sedang berdiri menikmati pemandangan laut di dek kapal. Nampak raut wajah Bayu masih terlihat menampakan raut kesedihan. Pranggala sendiri masih belum hilang rasa kagetnya mendengar keputusan yang diambil oleh Intan. Walau menyayangkan keputusan itu, namun ia salut dengan pemikiran gadis itu yang masih mementingkan kepentingan dunia persilatan dibandingkan dirinya pribadi.


“Bagaimana Nalini?” bukannya menjawab pertanyaan Pranggala, Bayu malah bertanya kepada Nalini.


“Aku ingin melihat-lihat pemandangan di lembah Neraka tempat kelahiranmu. Tapi bolehkah sebelumnya aku singgah dulu menemui ayah di Utara agar dia tidak khawatir?” sahut Nalini.


“Biar aku yang menemanimu pulang Nalini.” Ucap Bayu. “Paman, sesampainya di daratan nanti, kau bersama anggota yang lain kembali lah duluan ke lembah Neraka. Aku akan menyusul setelah menemani Nalini pulang  menemui ayahnya.” Ucap Bayu lagi kepada Pranggala.


"Baiklah ketua." jawab Pranggala seraya membungkuk.


"Kau sendiri bagaimana kek? apakah pulang ke tempatmu, atau pergi bersama kami ke Istana Lembah Neraka?" tanya Bayu kepada Bargawa.


"Wahhh.. aku yang sudah tua ini ingin sesekali pesiar. Biarkan aku ikut kalian ke lembah Neraka sambil melihat-lihat keadaan di sana." sahut Bargawa. "Tapi jangan paksa aku jadi anggota Istana Lembah Neraka. Aku hanya tunduk padamu, tapi tidak kepada yang lain." tambahnya lagi.


Bayupun tersenyum. Ia mengerti apa yang ada dalam pikiran Raja Iblis Kelabang itu. Iapun tak memaksa kakek itu bergabung dengan Istana Lembah Neraka.

__ADS_1


 **Bersambung...


**Jangan lupa like dan kasih komentar, serta vote bila menyukai novel ini. biar novel ini mendapat apresiasi dari pihak Noveltoon. Namun bila tidak suka silakan lewat saja**


__ADS_2