
Ternyata kejadian itu tak sampai di situ saja. Beberapa hari berikutnya satu demi satu pejabat kota di temukan tewas dalam keadaan tubuh membiru. Lalu merasa pengacau kali ini bukan orang sembarangan, maka sang pimpinan kota berinisiatif meminta bantuan orang-orang persilatan. Kebetulan hari ini mereka bertiga memasuki kota itu, maka penjaga itupun berinisiatif mengundang atas nama sang pimpinan.
Sesampainya di depan pintu gerbang sebuah rumah mewah yang mungkin terbesar di kota itu mereka berhenti. Dua orang penjaga pintu gerbang mendatangi mereka. Kemudian si prajurit yang membawa mereka tadi pun memberikan penjelasan akan maksud dari kedatangan mereka. Kemudian orang itu meminta Jaka dan yang lainnya menunggu sebentar untuk di laporkan kepada pemimpin kota.
Tak lama menunggu, penjaga tadi pun keluar lagi. Kemudian dia mempersilahkan rombongan Jaka untuk masuk. Di balik pintu gerbang ternyata terdapat rumah besar dengan taman yang sangat luas. Ada beberapa bebatuan berbentuk kursi di pinggiran kolam yang ada di sana. Benar-benar pemandangan yang indah untuk sebuah tumah kediaman.
Di pelataran rumah yang sangat luas itu, nampak seorang lelaki paruh baya sedang duduk memandang ke arah Jaka dan yang lainnya. Dari raut wajahnya nampak laki-laki itu sedang dalam keadaan resah dan sedih. Sesekali dia berdiri, lalu berduduk lagi, seolah tak sabar akan kedatangan mereka. Setibanya Jaka dan yang lainnya di depan rumah itu, si lelaki paruh baya yang tadi duduk langsung berdiri dan menyambut mereka.
"Mari-mari tuan pendekar, silakan duduk..." kata lelaki tua itu tak sabaran.
Sesaat kemudian Jaka, Cempaka dan Intan, duduk di meja yang telah di sediakan. Di depan mereka duduk lelaki paruh baya itu. Di samping kanan dan kiri lelaki itu ada dua orang pengawal yang menemani.
"Maafkan tuan pendekar bila sikapku tak sabaran. Sungguh aku sangat mengkhawatirkan keadaan anakku di dalam yang sudah hampir seluruh tubuhnya membiru." rengek Lelaki itu.
"Maaf sebelumnya, apakah kami sedang berhadapan dengan pemimpin kota ini" sela Jaka yang dari tadi agak kebingungan dengan sikap orang.
"Ah.. maaf kan aku yang belum memperkenalkan diri. Namaku Jaga Reksa, orang yang ditunjuk baginda Raja untuk memimpin di kota ini." Ucap Pemimpin kota memperkenalkan diri sambil berdiri dan menjura kepada Jaka dan yang lainnya.
Jaka dan yang lainnya membalas penghormatan itu dengan menjura masih dalam keadaan duduk. Bagi orang-orang persilatan ***** bengek tata aturan kerajaan tidak mereka hiraukan. Namun pemimpin kota itu sangat paham, dan sedikitpun tidak mempermasalahkannya.
"Pemimpin kota, apakah sebenarnya yang terjadi?" tanya Jaka.
Lalu secara singkat pemimpin kota itu menceritskan kejadian yang dialami kota itu. Mulai dari penyerangan putri semata wayangnya, sampai pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh orang tak di kenal itu kepada pejabat-pejabat bawahannya.
__ADS_1
"Maaf sebelumnya tuan, apakah tuan melihat bagaimana wajah pelaku, atau ada prajurit yang melihatnya?" tanya Jaka lagi.
"Tak ada satupun yang pernah melihatnya, karena selain ia menutup wajahnya dengan caping yang tertutup kain hitam, gerakan orang itu juga sangat cepat" jawab pemimpin kota.
"Tuan, apa boleh kami melihat keadaan anak tuan?" potong Cempaka.
Jaka pun baru terpikirkan tentang anak pemimpin kota itu. Mungkin saja ada petunjuk yang didapat. Sedangkan Intan hanya ikut-ikut saja, selain belum berpengalaman, ia sendiri masih belum menangkap apa permasalahan yang sedang terjadi.
"Oh iya mari!" ajak Pemimpin kota.
Lelaki paruh baya itu mengajak Jaka dan yang lainnya kedalam rumah. Kemudian ia pun mengajak mereka ke kamar putrinya yang terbaring sakit.
Nampak seorang gadis berusia sekitar dua puluh tahunan lebih sedang terbujur kaku dengan bibir menghitam. Di sampingnya ada seorang wanita tua yang terus memegangi tangan gadis itu sambil sesegukkan. Di belakang wanita itu dua orang pembantu wanita berusia muda sedang duduk bersimpuh di lantai.
"Silakan Tuan Pendekar" sahut Pemimpin kota yang masih saja kelihatan sungkan.
Jakapun mendekati gadis itu. Melihat Jaka ingin memeriksa, wanita yang duduk di dekat gadis itu pun menyingkir memberi keleluasaan kepada Jaka. Wanita itu adalah ibu dari gadis itu, istri dari sang pemimpin kota.
Sedikitpun tak lepas pandangan pemimpin kota kearah Jaka yang sedang memeriksa anaknya. Beberapa kali Pendekar Halilintar mengerutkan keningnya saat memeriksa nadi gadis itu. Setelah memberikan totokan ke beberapa tempat di lengan kanan si gadis, nampak di lengan itu kini bintik bintik kehitaman. Jaka pun menghembuskan nafas panjang.
"Bagai mana tuan pendekar?" tanya pemimpin kota.
"Anak tuan bukan keracunan biasa" jawab Jaka singkat.
__ADS_1
"Maksud tuan pendekar" tanya pemimpin kota yang belum jelas akan keterangan Jaka.
"Anak tuan bukan diracun, melainkan terkena pukulan beracun. Tepatnya anak tuan terkena Pukulan Kelabang Hitam." ungkap Jaka. "Sebenarnya cukup mengherankan ada kejadian seperti ini. Sejauh pengetahuan saya Ilmu Kelabang Hitam adalah milik dedengkot aliran hitam yang berada di wilayah utara."
"Wilayah Utara..?" seru Intan dan Cempaka bersamaan.
Tentu saja semua orang kaget, karena jarak antara kerajaan Utara dan Selatan sangatlah jauh. perjalanan yang harus di tempuh sejauh satu bulan perjalanan menggunakan kuda. Selain itu harus melewati beberapa negara lain. Sedangkan akses langsung dari utara ke selatan hanya dapat di gunakan menggunakan kapal layar saja.
"Yang aku juga tidak mengerti, walaupun di golongkan sebagai orang dari aliran hitam, namun sepak terjangnya agak sedikit unik. Dia orang yang paling anti mengganggu orang lain. Tapi apa bila dia yang diusik duluan, maka jangan harap orang yang mengusiknya bisa hidup, bahkan sampai ke hewan piaraanya pun tak akan dibiarkan hidup. Ada urusan apa dia di sini?" tanya Jaka. Sebenarnya pertanyaan itu ditujukannya untuk dirinya sendiri.
"Lalu apakah anakku dapat tertolong?" potong Pemimpin kota. Lelaki itu pada dasarnya tidak mengerti akan pembicaraan Jaka, hingga ia langsung menanyakan pokok pembicaraan.
"Pukulan Kelabang Hitam merupakan ilmu ganas yang langka. Mendiang guru pernah menjelaskan bahwa hanya dua orang yang bisa mengeluarkan racun ini."
"Siapa mereka?" tanya peminpin kota yang tak sabaran lagi.
"Raja Iblis Kelabang dan orang yang memiliki ilmu tujuh gerbang alam semesta" jawab Jaka.
"Kak Bayu..." desis Intan.
Memang dalam perjalanan beberapa hari ini apabila sedang beristirahat Intan sering menanyakan perihal tentang Bayu kepada Cempaka. Karena terus di desak dan atas saran suaminya akhirnya Istri Pendekar Halilintar itupun menceritakan tentang Istana Lembah Neraka dan pertempuran di Bukit Kosong. Namun tetap saja putri mendiang Pendekar Seruling Sakti itu berniat menemui Bayu, walaupun telah dikatakan berita menghilangnya ketua Istana Lembah Neraka tersebut. Hidup atau matinya tak ada yang mengetahuinya.
Lalu dengan merengek-rengek Intan meminta mereka berdua suami istri untuk menemani ke Istana Lembah Neraka. Awalnya mereka menolak, namun melihat kesedihan Intan akhirnya Pendekar Halilintar menyetujui permintaan tersebut. Lalu mereka pun memutuskan untuk menyinggahi dahulu Istana Lembah Neraka.
__ADS_1