
Salam Dunia Persilatan...
Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.
Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.
Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.
Salam Dunia Persilatan
--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------
Episode 90
Pukulan Angin Puyuh
“Hahaha… kukira siapa yang datang mengganggu. Ternyata seorang bidadari cantik. Sini manis serahkan pedang itu, kau tidak cocok menggunakan benda berbahaya itu. Lebih cocok kau jadi pendampingku” Ucap Randu kepada Intan.
“Cuiihh… tak akan aku sudi dengan manusia jahat sepertimu. Lekas enyah dari sini sebelum kesabaranku habis.” Bentak Intan.
Tak lama kemudian Cempaka datang menghampiri Intan. Dilihatnya gadis itu hampir tidak sabaran. Hawa panas dari Pedang Naga Geni mulai menyebar di tempat itu.
“Biar aku habisi manusia keji satu ini kak Cempaka” ucap Intan.
“Hati-hati”sahut Cempaka.
Tanpa banyak bicara Intan langsung menyerang Randu dengan pedangnya. Pemuda itu langsung menyambut serangan Intan dengan jurus pedang kilat yang ia miliki. Awalnya pemuda itu yang terdesak, karena setiap pedang intan bertemu dengan pedangnya, selalu ia yang mengalami kerugian. Dalam segi tenaga dalam ternyata Randu berada setingkat di bawah Intan.
Lewat beberapa jurus Randu pun menyadari keadaan. Pemuda itu tak lagi berani membenturkan pedangnya dengan pedang Intan. Kini gerakannya berubah, lebih banyak menghindari bentrokan senjata sambil kemudian balas menyerang. Berlalu beberapa jurus kemudian keadaan berbalik. Kini Intan yang terdesak. Beberpa kali iya harus melompat jauh menghindari serangan Randu.
Nama pedang kilat memang bukan isapan jempol belaka. Kini Intan hanya bisa menghindari lawan dan menjaga jarak cukup jauh dari Randu. Kecepatan Gerak pedang milik Randu memang sulit diikuti dengan pandangan mata biasa.
__ADS_1
Nafas Intan terlihat mulai tersengal. Pakaiannya pun mulai tak karuan. Keringat sebesar jagung beberapa kali menetes dari dahinya.
Cempaka yang melihat itu mulai khawatir. Nampak beberapa kali istri Pendekar halilintar itu mengepalkan tangannya. Saat dia hendak melompat membantu Intan, Jaka mencegatnya. Suaminya itu meyakinkan bahwa sepupunya itu akan bisa menghadapinya.
Intan melakukan lompatan Panjang beberapa kali kebelakang. Sejenak ia menghirup nafas Panjang. Gadis itu sedang mempersiapkan ilmu andalannya.
“Hahaha… apa kau sudah menyerah gadis can…” belum sempat Randu menyelesaikan kata-katanya, terpaksa ia harus melompat menghindari pukulan jarak jauh yang tiba-tiba dilontarkan Intan.
Intan sudah siap kembali bertarung. Nampak dari seluruh tubuhnya biasan cahaya kekuningan berpendar. Pancaran cahaya api pada Pedang Naga Geni pun nampak semakin tebal. Hawa panas semakin terasa menyebar di tempat itu.
Hiyaaa…
Intan memekik keras sambil menebaskan pedangnya ke arah kepala Randu. Pemuda itu membungkukkan badannya menghindari kemudian balas melakukan tebasan pada kaki lawannya. Anehnya biasanya kalau sebelumnya gadis itu menghindari ancaman pedang lawan, kali ini ia tidak melakukannya. Sesaat sebelum pedang mengenai kakinya, Intan menotolkan kakinya lalu melesat keatas, kemudian dengan Gerakan indah badannya berbalik menjadikan kepalanya ke bawah dan meluruk turun dengan pedang terhunus.
Crappp…
Aghhh..
Intanpun melompat keatas. Tanpa ampun gadis itu siap menebas kepala Randu. Namun disaat pedang gadis itu hampir mengenai randu, tiba-tiba saja sebuah bayangan melesat kearah Randu, lalu menangkis pedang Intan dengan pedang di tangannya.
Trangg…
Intan terlempar sampai tiga tombak jauhnya. Kemudian gadis itu turun setelah berputaran beberpa kali di udara untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tangannya sedikit kesemutan akibat benturan tadi.
Kini di depannya ada seorang lelaki tua buta sedang memeriksa luka di bahu kanan Randu. Intan hanya diam tidak bereaksi. Ia sendiri bingung hendak melakukan apa, karena tidak mengenal siapa lelaki buta yang tak lain Pendekar Pedang Kilat itu. Terlihat orang tua itu sedang mengerahkan tenaga mengobati luka cucunya.
Sedikit demi sedikit warna kehitaman di bahu Randu berubah menjadi kemerahan. Pendekar Pedang Kilat terus mengerahkan tenaganya hingga warna hitam itu sepenuhnya menghilang. Kemudian orang tua buta itu berpaling ke arah Intan.
"Sungguh keji kau menyerang cucuku menggunakan racun api itu" bentak Pendekar Pedang Kilat marah kepada Intan.
Pendekar pedang kilat melakukan gerakan memutar pada pergelangan tangannya. Bersamaan dengan itu hawa saktinya dia kerahkan dan dipisatkan pada tangan kanannya. Serangkum angin tiba-tiba menyebar disekitaran tempat itu.
__ADS_1
"Pukulan angin puyuh" desis Pendekar Halilintar yang menyaksikan perbuatan Pendekar Pedang Kilat.
"Hiyaaaa..."
Pendekar Pedang Kilat memekik keras lalu melompat menyerang ke arah Intan. Telapak tangan kanannya siap menghantam gadis itu.
Blammmm...
Ledakan keras terjadi. Suaranya sangat nyaring memekakan telinga. Gelombang angin yang ditimbulkan sungguh dahsyat. Bahkan sampai menerpa orang-orang yang berada di dalam rumah makan.
Tepat saat pukulan Pendekar Pedang Kilat itu akan menghantam tubuh Intan, Jaka melesat menangkis serangan orang tua buta itu. Jaka terdorong hingga tiga langkah ke belakang. Sedangkan Pendekar Pedang Kilat hanya terdorong sebanyak satu langkah. Namun tetap saja itu sangat mengejutkan hatinua.
"Kau tidak apa-apa kakang?" tanya Cempaka yang dengan cepat menghampiri melihat suaminya terdorong pukulan lawan.
Jaka hanya menjawab dengan gelengan kepala. Matanya menatap tajam ke arah Pendekar Pedang Kilat. Ada perasaan kaget saat mengetahui tenaganya masih di bawah lawan. Ia bersiap kalau-kalau pendekar tua itu akan melakukan serangan susulan. Cukup lama kedua belah pihak diam tanpa satu orangpun melakukan tindakan.
Di pihak Pendekar Pedang Kilatpun tak kalah kagetnya. Ia tak menyangka pukulan yang di kerahkannya hampir sepenuh tenaga itu mampu di tahan orang. Telinganya bergerak-gerak mencari keberadaan lawan. Dapat di rasakannya di pihak lawan ada tiga orang yang memiliki kesaktian yang tak bisa dipandang rendah.
Melihat keadaanya seorang diri yang tak menguntungkan, Pendekar Pedang Kilat menghampiri Randu yang masih kepayahan. Lalu orang tua itu memapah cucunya perlahan meninggalkan tempat itu. Semua orang hanya menatap kepergian kakek dan cucunya itu tanpa satu orangpun yang berniat mencegatnya. Tak berapa lama keduanya hilang di pangdangan setelah berbelok di persimpangan.
"Terima kasih atas pertolongan Nona dan tuan Pendekar yang telah menyelamatkan nyawa saya." ucap perwira kerajaan memecah kesunyian.
Intan dan Jaka pun merangkapkan kedua tangannya membalas penghormatan sang perwira. Kemudian merekapun kembali ketempatnya masing-masing. Tak lama kemudian prajurit-prajurit kerajaan yang lain datang mengangkut mayat-mayat prajurit yang menjadi korban cucu Pendekar Pedang Kilat tadi.
"Sungguh tak ku sangka di negeri utara ini masih terdapat jago-jago tangguh yang memiliki ilmu kesaktian yang tinggi. Sampai saat ini masih kurasakan sesak di dadaku akibat bentrokan tenaga tadi." ungkap Jaka.
"Apakah tidak berbahaya keadaanmu kakang?" tanya Cempaka yang khawatir keadaan suaminya.
"Tidak membahayakan istriku, hanya saja aku perlu beristirahat sebentar akan pulih seperti semula" sahut Jaka berusaha menghilangkan ke khawatiran istrinya.
"Terima kasih kak Jaka telah membantuku. Kalau saja aku yang menerima pukulan itu mungkin sudah tewas, atau paling tidak terluka dalam." desah Intan agak merasa bersalah.
__ADS_1