
Semakin lama hawa dingin semakin kuat. Kali ini tenaga inti api milik pranggala tak mampu melawan. Butiran-butiran salju pun semakin banyak. Tidak hanya di sekitar Raja Pulau Es, bahkan sampai ke tempat Pranggala. Sampai-sampai membuatnya kesulitan mengerahkan tenaga saktinya.
Haaaaaaa
Raja Pulau Es mengeluarkan teriakan keras sambil mendorong kedua tangannya ke arah Pranggala. Serangkum angin dingin bercampur butiran es melesat pengawal Rajawali Merah itu tak mau pasrah, dengan segenap semangatnya dikumpulkan seluruh kekuatan dan dikerahkannya Tenaga Inti Api sampai ketinggat tiga.
Ini pertama kalinya ia menggunakan tenaga inti api pada tingkat tertinggi dari yang sudah ia pelajari. Tingkat ke tiga dari empat tingkat ilmu khas Istana Lembah Neraka.
hyeaahhh
Didorong tenaga saktinya ke arah lawan. Tepat berada diantara keduanya tenaga sakti itu bertemu. Dan kemudian yang terjadi...
Bummm
Ledakan dahsyat terjadi begitu keras. Sampai sampai tanah di sana bergetar bagai di landa gempa. Suara ledakan itu bahkan sampai ketelinga Bayu yang masih berada di rumah makan tadi.
Pranggala terlempar belasan tombak. Untung saja dia tidak jatuh. Pengawal pribadi Rajawali Merah itu masih bisa berputaran di udara menyeimbangkan diri. Saat turun ke tanah, tetap saja ia limbung. Dari sela bibirnya mengalir darah segar.
Raja Pulau Es yang melihat lawannya masih belum roboh pun berang. Dengan amarah dikerahkannya tenaga saktinya sampai kepuncak. Pukulan Dewa Salju pun dipersiapkan.
Hiyaahhh...
Sekali lagi Pukulan Dewa salju diarahkan ke Pranggala. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, pengawal Rajawali itu mencoba mempertahankan dirinya.
Blammm...
Raja Pulau es terdorong tiga langkah kebelakang. Di depan Pranggala sudah berdiri Rajawali Merah dengan telapak tangan kanan mengarah ke Raja Pulau Es. Pandangannya menatap tajam ke depan.
"Terima kasih ketua" ucap Pranggala seraya berlutut sebagai tanda terima kasihnya.
"Hahaha rupanya Ketua Istana Lembah Neraka sendiri yang menyelamatkan anak buahnya." Seru Raja Pulau Es seraya merangkapkan kedua tangannya seperti orang memberi salam.
"Hmmm..." Bayu hanya menggumam menanggapi kata-kata Raja Pulau Es. Matanya mulai memancarkan kilatan halus.
"Baiklah, memandang wajah ketua Istana Lembah Neraka, kita sudahi saja permainan ini. Semoga kelak Pulau Es dan Lembah Neraka bisa bersahabat. Kami pamit dulu."
Raja Pulau Es dan dua orang bawahannya melesat meninggalkan tempat itu. Kemudian Bayu menghampiri Pranggala. Dengan melakukan beberapa kali totokan lalu dia mengalirkan Tenaga sakti. ke tubuh pengawalnya itu.
__ADS_1
"Kau tidak apa apa paman? tanya Bayu sesudah memberikan pengobatan kepada Pranggala.
"Sekali lagi terima kasih ketua, budi baik ketua tak akan aku lupakan hingga keturunanku nanti."
"Bangunlah Paman, seandainya kau sudah menguasai tingkat terakhir ilmu Tenaga inti Api, tentu kau tidak akan kalah dari Raja Pulau Es itu."
Sesudah berbicara sebentar, merekapun kembali ke rumah makan untuk mengambil kudanya. Sesudah itu merekapun melanjutkan perjalanan.
Sementara itu Raja Pulau Es dan dua beruang bersaudara yang sebelumnya pergi menggunakan ilmu meringankan tubuh berhenti di sebuah hutan yang tak jauh dari tempat pertarungan tadi. Kedua Bawahannya terkejut saja sang Raja mendadak Berhenti melakukan perjalanan.
Huek...
Tiba-tiba Raja Pulau Es memuntahkan darah segar. Iapun limbung terduduk sambil memegangi dadanya. Wajahnya terlihat pucat.
"Yang Mulia..." seru kedua Beruang bersaudara khawatir melihat keadaan Rajanya.
"Sudah tidak apa-apa, hanya luka dalam, istirahat beberapa hari juga sembuh." terang Raja Pulau Es setelah meminum sebuah pil yang ia ambil dari sakunya.
"Apa sebenarnya yang terjadi baginda?" tanya Setan Beruang Putih.
Sesaat suasana menjadi hening. Tak lama kemudian Raja Pulau Es melanjutkan penuturannya.
"Entah ilmu apa yang dia gunakan, dengan mudah ia mengembalikan Ilmu Pukulan Dewa Salju tingkat terakhir. Bahkan membuat buyar tenagaku dan terluka dalam.
"Sebegitu hebatkah baginda ketua Istana Lembah Neraka itu."
"Ya, bukan hanya mendengar cerita orang, tapi aku sendiri yang mengalaminya. Seandainya saat itu kalian yang berada di posisiku, aku jamin saat ini kalian hanya tinggal nyawa.
Bergidik juga Setan Beruang Putih dan Setan Beruang Hitam mendengarnya. Melawan pengawalnya saja mereka mengalami kekalahan. Apalagi bila harus melawan sang ketua.
"Lalu apa selanjutnya yang kita lakukan yang mulia? hamba dengar akan terjadi pertarungan antara pihak Istana Lembah Neraka dengan pihak Benteng Dewa. Apakah perlu kita kesana baginda?"
"Sebaiknya kita tidak usah mencampuri urusan dunia persilatan daratan. Sebaiknya kita berkonsentrasi mencari pencuri pusaka Pulau Es. Tanpa Pusaka itu, pulau es kita akan mencair, tentu akan banyak menimbulkan korban di kalangan rakyat kita"
"Kemana kita mencari Baginda, tak ada petunjuk yang kita dapat. Kecuali ada yang pernah melihat orang asing berkunjung kepulau kita. yaitu tiga Buto bersaudara."
"hmmm... walau hanya itu petunjuk yang kita punya, kita akan menyelidikinya. Tapi sementara kita mencari penginapan dulu untuk beristirahat sambil memulihkan luka dalamku."
__ADS_1
...***...
"Keparat, siapa yang berani mengusik dan mempecundangi Naga Penjaga Istana Lembah Neraka?" Bentak Raja Iblis Bukit Tengkorak mendengar laporan Datuk Sesat Seribu Wisa.
"Orang itu cepat sekali tuanku, sehingga tak sempat melihat bagaimana bentuk mukanya" Jawab Datuk Sesat Seribu Wisa.
"Belum lagi kita berhadapan dengan pihak Benteng Dewa, sudah dipecundangi orang lain. Seandainya ketua berada di sini tentu tak akan terjadi hal demikian" gerutu Raja Iblis Bukit Tengkorak.
"Izin melapor kepada pelindung."
Seorang anggota tingkat empat datang menghadap kepada Raja Iblis Bukit Tengkorak.
"Melaporkan Pelindung, berita yang kita dapat tuan Iblis Kecapi telah tewas."
"Apa! Iblis Kecapi tewas? Siapa yang membunuh?"
"Benar Pelindung, informasi yang di dapat seperti itu, namun tidak satupun ada keterangan kapan terjadi dan siapa yang melakukan. Hanya di temukan tubuh tuan Iblis Kecapi yang tepotong dua bagian. Pada sisi yang terpotong terdapat warna menghitam gosong."
"Naga Api..., itu pasti terbelah dengab Pedang Naga Geni. Mungkinkah Pendekar Seruling Sakti yang melakukannya?"
"Mohon maaf tuan pelindung. Dari informasi yang diterima tak jauh dari tempat jasad tuan Iblis kecapi ditemukan, terdapat sebuah kuburan baru yang bertuliskan Di sini beristirahat Pendekar Seruling Sakti."
"hmmm... Pedang Naga Geni hanya dimiliki oleh Pendekar Seruling Sakti. Bagaimana tentang ketua, apakah ada informasi?"
Belum sempat yang ditanya menjawab datang lagi seorang anggota tingkat empat menghadap.
"Izin melaporkan tuan pelindung."
"Ada apa?" sahut Raja Iblis Bukit Tengkorak.
"Hamba ingin melapor bahwa jejak ketua sudah ditemukan."
"Benarkah? di mana sekarang ketua berada?" Tanya Raja Iblis Bukit tengkorak dengan semangat. Kabar yang didapat kali ini merupakan kabar yang sangat ditunggu tunggunya.
"Izin pelindung, Ketua sedang menuju ke arah bukit kosong bersama seorang anggota lain mengawal."
"Anggota? siapa dia?" gumam Raja Iblis Bukit Tengkorak
__ADS_1