Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.197. Pertandingan Babak Pertama


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 197...


“Peraturan macam apa itu.. lebih baik mati dari pada mencium kaki orang.” Ucap salah satu hadirin yang berada di sana.


Seketika riuh ramai pembicaraan bernada protes akan peraturan yang disampaikan Braja Pasupata. Rata-rata dari mereka menganggap peraturan itu sama saja memberlakukan pertarungan sampai mati. Ditambah peraturan tentang petarung pertama yang harus bertarung terus menerus untuk mempertahankan kemenangannya. Hanya rombongan Bayu saja terlihat tidak bereaksi apa-apa.


“Tenang!” Bentak Braja Pasupata. Serentak semua terdiam. “Peraturan ini dibuat agar kita bisa menemukan pemimpin terbaik dan terhebat untuk dunia persilatan Negeri Selatan ini. Dia yang memiliki kekuatan yang hebat tentu mempunyai daya tahan yang tangguh.”


Dengan lantang Braja Pasupata menerangkan maksud dari peraturan yang dibuatnya. Sebagian besar orang yang ada di sana terpengaruh oleh kata-katanya. Mereka menganggap apa yang diucapkan oleh Braja Pasupata sangat beralasan.


“Setelah kalian menikmati hidangan yang kami sediakan,  kita akan memulai pertandingan ini. Siapa saja boleh maju duluan. Apabia saat ada satu orang maju dalam waktu sepeminuman  terh tidak ada yang menantangnya, maka pemenangnya adalah dia.”


Braja Pasupata bertepuk tangan beberapa kali. Tak lama kemudian beberapa anak buahnya datang membawa hidangan dan membagikan kepada hadirin-hadirin yang berada di tempat itu. Terutama kepada rombongan yang berada di tenda-tenda spesial.


Booongg.. booonggg.. bonggg..


Sebuah genta raksasa dibunyikan tiga kali, menandakan pertandingan pemilihan ketua dunia persilatan akan segera di gelar. Semua mata tertuju pada  lapangan berbentuk panggung yang dibuat sedemikian rupa.


“Pemilihan Ketua Dunia Persilatan dimulai..” Teriak pemandu pertandingan.


Sejenak suasana sepi melanda tempat itu. Sampai beberapa saat lamanya tak seorangpun melompat kepanggung. Hingga seorang lelaki separu baya berpakaian serba putih melesat ke tengah panggung.


“Pendekar Macan Putih!” seru beberapa orang bersamaan.

__ADS_1


“Aku menantang siapa saja yang ingin menjadi ketua dunia persilatan!” seru Pendekar Macan Putih tegas.


“Aku..”


Terdengar suara jawaban menggelegar, di susul melesatnya sebuah bayangan cokelat kuning keatas panggung. Ternyata orang itu memakai pakaian loreng belang harimau. Di dunia persilatan dia dikenal memiliki saudara kembar dengan penampilan nyaris mirip. Orang-orang menyebut mereka maung kembar Bukit Garu. Dan yang berada di atas ini merupakan yang termuda di antara keduanya.


“Hmmm.. kau orang tua masih saja bernafsu untuk menjadi pemimpin dunia persilatan. Lebih baik kau dan saudara kembarmu itu mengasingkan diri menikmati hidup sambil menunggu Malaikat Maut menjemput.” Ketus Pendekar Macan Putih.


“Apa kau kira usiamu  itu jauh lebih muda daripada aku? Rupanya ada juga kakek bangkotan mengaku remaja.” Balas Maung Kembar Bukit Garu.


Mendengar keduanya adu mulut dan saling mengejek tidak sedikit dari penonton yang tertawa. Bahkan sampai ada yang menyeletuk bahwa di atas panggung sedang bertengkar kucing garong. Tentu saja itu membuat riuh suasana yang dipenuhi tawa para hadirin.


“Silakan di mulai!” ucap pemandu pertandingan di pojokan lapangan.


Keduanya langsung menerjang saling serang. Sekilas jurus-jurus yang mereka peragakan agak mirip, sama-sama mengandalkan jurus cakar kuku harimau. Berlalu dua puluh jurus nampak keduanya masih seimbang. Tak ada yang mampu mengungguli lawan masing-masing.


“Racun Kelabang Hitam! Bagaimana mungkin dia memiliki ilmu tersebut.” Seru Bargawa si Raja Kelabang terkejut.


“Apakah kau mengenal pukulan itu kek?” tanya Bayu setelah mendengar seruan kaget Bargawa.


“Tentu saja tuanku. Itu ilmu yang digunakannya adalah Ilmu Kelabang Hitam milik hamba. Walau yang digunakannya itu masih ilmu tingkat satu, namun dengan tenaga dalam sekelas ketua perguruan seperti Pendekar Macan Putih, tentu akan berbeda tingkat keganasannya.” Jawab Bargawa.


Pandangan mereka kembali tertuju ke arah panggung. Nampak Pendekar Macan Putih menerjang Maung Kembar Bukit Garu termuda. Berkali-kali orang tua berpakaian loreng harimau itu harus bergulingan menghindari Cakar lawan. Orang tua itu begitu terkejut terjadi perubahan drastis pada kemampuan lawan.


“Mengapa guru bisa memiliki Ilmu Beracun Seperti itu?  Kemana saja selama ini guru, mengapa baru saja muncul?” Tanya salah seorang murid perguruan macan putih yang berada di kerumunan penonton bertanya kepada saudara seperguruannya.

__ADS_1


“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Paman guru sedang berada di samping Pertapa Sakti Tanpa Nama. Coba kau lihat, nampak dari wajahnya beliau pun tak kalah terkejut.” Jawab murid perguruan macan putih yang lain.


“Benar sekali kakang..”


Sretttt..


Cakar pendekar macan putih berhasil mengenai pundak maung kembar bukit garu. Seketika orang tua itu terhuyung-huyung kebelakang. Ia berusaha mengerahkan tenaganya untuk mengusir racun di bahunya. Namun beberapa kali ia mencoba mengerahkan tenaga, selalu saja tenaga dalamnya buyar.


“Hahaha.. menyerahlah orang tua. Cium kakiku maka kau kuampuni dan ku berikan penawar racun yang bersarang ditubuhmu itu.” Ejek Pendekar Macan Putih


“Cuihhh.. lebih baik aku mati ketimbang harus mencium kaki bau busukmu itu.”


Sementara itu di Tenda tempat Raga lawing dan Malaikat Putih berada nampak Maung Kembar Bukit Garu yang satunya sangat khawatir dengan saudaranya yang berada di panggung. Beberapa kali ia hendak melompat kelapangan namun dicegah Malaikat Putih. Memandang ke senioran dan sedikit banyaknya takut akan tokoh sakti itu, iapun tak berani bertindak.


“Tuanku, kalau terus dibiarkan Sarkawaja akan tewas di tangan orang itu. Dia begitu liciknya menggunakan ajian beracun mengalahkan adikku.” Ucap Maung Kembar Bukit Garu yang kakak, menyebut nama adiknya.


“Tenanglah Sarkawasa! Tak mungkin kita ikut campur ke tengah lapangan dengan kondisi seperti sekarang. Dalam pertarungan tidak ada istilah licik, ataupun curang. Semua hal dapat dilakukan selama itu bukanlah tindakan ikut campurnya orang di luar gelanggang. Kalau dia ingin selamat suruh saja ia menyerah dan mencium kaki lawannya itu.” Sahut Malaikat Putih.


Sarkawasa si Maung Kembar Bukit Garu yang kakak pun terdiam. Iapun pasrah dengan keadaan adiknya. Semua orang gagah dalam dunia persilatan pasti berprinsip tidak akan mau menyerah terhadap lawan, apalagi sampai harus mencium kaki lawannya.


Sarkawaja si Maung Kembar Bukit Garu nampak semakin payah. Entah apa yang di masukkannya ke dalam mulut, tiba-tiba saja tubuhnya mengepulkan asap putih tebal. Semakin lama asap putih semakin menutupi seluruh tubuh orang tua itu. Tak lama kemudian asap pun sirna. Kini di hadapan Pendekar Macan Putih berdiri sesosok mahluk setengah badannya di bawah berbentuk manusia, setengahnya lagi berbentuk harimau.


“Hmmm.. rupanya adik Sarkawaja lebih memilih menyatu dengan siluman harimau ketimbang mati konyol atau menyerah mencium kaki lawan.” Gumam Darmasaka.


Bersambung..

__ADS_1


Jangan lupa like dan berikan komentar untuk mendukung novel ini


 


__ADS_2