Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.183. Bantuan Yang Mengejutkan


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 183...


Kak Bayu, maafkan kalau kepergianku tidak berpamitan. Aku ingin menenangkan diri, pergi mencari cara untuk mengendalikan kekuatan yang ada padaku. Kelak kita akan bertemu lagi.


Nalini


“Ahh.. kenapa kau bertindak begitu gegabah. Sebenarnya obatmu ada pada kak Bayu. Tenaga Sakti yang ada pada dirinya lah yang bisa membersihkan jiwa hitam pada burung api.” Gerutu Intan. “Apa yang harus kukatakan  bila nanti kak Bayu menanyakan keberadaanmu.”


Setelah membaca isi surat yang ditinggalkan Nalini, Intan  pun menyimpannya. Gadis itu kemudian meninggalkan kamar. Seperti biasa setelah mandi dan sarapan Intan berjalan-jalan di sekitaran Lembah Neraka.


Sementara itu Iblis Merah yang berada tak jauh dari kawasan Hutan Pengecoh Arwah terus memantau pergerakan pasukan-pasukan kerajaan yang menuju tempat pertemuan para pendekar itu. Ia bersama empat orang anggota pilihan awalnya mereka ke sana hendak mengacaukan pertemuan para pendekar. Namun melihat kedatangan para prajurit, Iblis Merah memiliki gagasan lain.


“Tuanku dengan jumlah sebanyak itu, sepertinya akan sulit bagi para pendekar aliran putih itu untuk menyelamatkan diri.” Ucap salah satu anak buah yang di bawa Iblis Merah.


“Kau benar Kala Ireng.” Sahut Iblis Merah Singkat.


“Berarti kita tak perlu lagi pergi kedalam untuk mengacaukan pertemuan mereka tuan. Cukup meminjam tenaga para prajurit kerajaan itu untuk memusnahkan para pendekar?” tanya Kala Ireng.


“Tidak seperti itu kala Ireng. Musuh utama majikan kita malah kerajaan selatan. Tujuan Tuan Dewa Iblis Kegelapan menjadi ketua dunia persilatan untuk menggerakan para pendekar melawan Raja Kerajaan Selatan. Dengan keadaan seperti ini menjadi kesempatan kita untuk mengambil hati mereka atau membuat mereka berhutang budi.”


“Maaf tuan saya kurang mengerti. Bagaimana maksud tuan?” tanya Kala Ireng lagi.


“Kita akan selamatkan mereka dari kepungan para prajurit. Dengan begitu para pendekar aliran putih akan merasa berhutang budi. Tentu selanjutnya akan mudah bagi kita meminta bantuan tenaga mereka.”


Mendengar ucapan Iblis Merah, Kala Ireng  dan keempatnya mengangguk-anggukkan kepala mereka, tanda menyetujui dengan pendapat Iblis Merah.


“Segera kirim surat ke Benteng Dewa, terangkan bagaimana keadaan di sini. Lalu minta juga ketua mengirimkan bala bantuan untuk kita.”


“Bila kau mengizinkan biar aku langsung yang pergi ke benteng dewa untuk melaporkan kepada ketua.” Ucap Musang Hitam anak buah lainnya dari empat bawahan pilihan yang ia bawa.


“Baiklah kalau begitu. Secepatnya kau kembali ke sini lagi.”

__ADS_1


Musang Hitam langsung melesat meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa saat saja setelah ia berlalu bayangannya pun tak lagi kelihatan. Menandakan betapa cepatnya geraka orang itu.


Sementara itu hampir seluruh pasukan kerajaan Selatan yang menyerang telah berkumpul di depan pintu masuk  Hutan Pengecoh Arwah. Pasukan kerajaan yang menyerang terdiri dari tiga macam pasukan. Pasukan panah, pasukan pedang, dan pasukan tombak. Masing-masing pasukan dipimpin lima orang perwira kerajaan.


Booouunggg..


Bunyi terompet raksasa diperdengarkan satu kali. Pertanda seluruh pasukan di perintahkan bersiaga. Serentak seluruh pasukan menyiapkan senjatanya. Pasukan panah telang mengangkat busurnya dan memasang anak panah. Sementara pasukan pedang dan tombak telang menghunuskan senjata mereka masing-masing.


“Dengarkan semua orang yang berada dalam hutan. Tempat ini telah dikepung. Menyerahlah dan letakkan senjata kalian dan keluar satu persatu. Kalau  tidak kalian akan kami hujani dengan anak panah.” Teriak sang panglima yang memimpin para pasukan itu.


Di dalam hutan, walau samar-samar terdengar, suara sang panglima cukup bisa di dengar semua pendekar yang berkumpul.


“Bagaimana ini tetua? Apa yang akan kita lakukan. Apa tidak sebaiknya kita menyerahkan diri saja.” Tanya pendekar Kapak Baja.


“Jangan berpikiran yang tidak-tidak! Apa kalian dengan menyerahkan diri pada kerajaan kalian akan dilepas begitu saja. Tidak kah kalian lupa bagaimana nasib pendekar-pendekar yang di tangkap kerajaan? Sampai sekarang mereka tak satupun ada kabarnya.” Sahut Pertapa Sakti Tanpa Nama sedikit emosi.


Baru saja Pertapa Sakti Tanpa Nama menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba ribuan anak panah melesat keatas lalu turun mengarah ke kumpulan para pendekar.


Beberapa orang pendekar terkena langsung anak panah. Dua orang diantaranya langsung tewas karena panah mengenai jantung mereka. Sedangkan yang lainnya masih harus berjuang menangkis anak panah yang turun bagaikan hujan.


“Sekali lagi kami peringatkan kalian. Menyerahlah dan letakkan senjata. Kalau tidak akan kami hujani kalian dengan panah api.”


Kali ini ancaman sang panglima membuahkan hasil. Sekitar delapan orang pendekar keluar dengan  senjata dikumpulkan jadi satu lalu di serahkan kepada para prajurit. Mereka pun menyerahkan diri.


“Aaaaaa..”


Terdengar teriakan menyayat hati dan sahut bersahutan. Ternyata bukan mendapatkan pengampunan, para pendekar yang menyerah langsung dihabisi oleh para perwira kerajaan. Seketika delapan orang itu tewas dengan keadaan penasaran.


“Ahhh sudah kukatakan pihak kerajaan ini tidak bisa dipercaya, tetap saja mereka keluar untuk menyerahkan diri. Akhirnya mereka menyerahkan nyawa untuk dihabisi.” Keluh Pertapa Sakti Tanpa Nama menyayangkan perbuatan delapan orang tadi yang menyebabkan mereka sendiri tewas.


Wuuuuusshhhh..


Kembali ribuan anak panah melesat dari arah luar hutan. Kali ini panah yang dilepaskan jauh lebih berbahaya. Panah yang ujungnya terdapat nyala api disusul panah beracun di belakagnya.

__ADS_1


“Aaaa...”


Teriakan demi teriakan terdengar. Sekitar sepuluh orang dari para pendekar tak mampu menghindari hujan anak panah yang datang. Mereka yang terkena serangan anak panah rata-rata murid-murid kelas bawah yang dibawa oleh guru mereka ketempat itu.


“Seraanggg!”


Tiba-tiba terdengar teriakan dari arah belakang pasukan kerajaan. Terlihat ada sekitar lima puluhan pasukan berkuda dengan menggunakan pakaian serba hitam menyerang. Serempak semua orang di atas kuda melompat kearah pasukan kerajaan. Mereka mulai masuk kekerumunan pasukan dan menyerang membabi buta.


Sesaat kemudian nampak asap hitam mulai menyelimuti tempat itu. Asap hitam nampak berada di sekitaran kerumunan pasukan kerajaan. Tercium bau amis di sekitar tempat itu. Selanjutnya satu demi satu pasukan kerajaan roboh dengan kondisi badan menghitam terkena racun.


Sekitar sepeminuman teh lamanya, sekitar seperempat pasukan kerajaan yang tewas. Mereka bingung melakukan perlawanan dengan kondisi pandangan mata terhalang oleh kabut hitam. beberapa diantara mereka melakukan serangan sembarang untuk menghindari lawan. Tidak sedikit senjata mereka malah mengenai kawan sendiri.


Di dalam hutan para pendekar kebingungan karena serangan terhenti. Malah terdengar teriakan-teriakan kematian dari arah prajuri kerajaan itu. Belum lagi terdengar suara bentrokan senjata, sehingga mereka berkesimpulan ada yang melakukan  pertempuran di luar.


“Siapakah yang sedang bertempur dengan para prajurit itu di luar.” Tanya Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Entahlah eyang, biar aku melihatnya ke sana.” Jawab Jaka.


Pendekar Halilintar melesat keluar hutan. Betapa terkejutnya suami Cempaka itu mendapati keadaan diluar penuh dengan kabut hitam. Satu demi satu prajurit kerajaan berjatuhan. Sesaat jaka melihat para penyerang itu berpakaian hitam, dan kedua pergelangan tangan mereka berwarna hitam.


“Ilmu Kelabang Beracun” gumam Jaka.


Bersambung..


Author minta maaf, update kali ini agak terlambat karena ada beberapa urusan yang harus diselesaikan


sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :


1. memencet tombol like


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.

__ADS_1


__ADS_2