Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
61. Tak Ada Petunjuk


__ADS_3

"Bayu? Dari mana kamu tahu nak?" tanya ki Jatar yang tak mengerti.


"Ini!" Jawab Nalini sambil menunjukkan sebuah kalung bertuliskan Bayu pada buah kalung tersebut seraya melepaskan pelukannya kepada sang ayah. " Ini aku dapatkan tercecer sewaktu ayah membawanya ke sini dari pantai dulu.


Pemuda yang menurut Nalini bernama Bayu itu hanya mendengarkan percakapan ayah dan anak itu. Sesekali pandangan matanya melirik ke arah Nalini seolah ingin memastikan benar tidaknya perkataan gadis cantik itu.


"Anak muda benarkah namamu Bayu? apakah kalung ini milikmu?" tanya ki Jatar sambil menyerahkan sebuah kalung kepada si pemuda.


Si pemuda mengambil kalung itu. Dengan serius diamatinya semua sisi dari kalung itu. Kemudian ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak tau ki, aku tak dapat mengingat apa-apa." jawab si pemuda.


Sebenarnya pemuda itu memeang Bayu Aruna atau Si Rajawali Merah ketua Istana Lembah Neraka. Pada pertarungan di Bukit kosong melawan Empu Adhiyak Sona, racun di kepalanya menyerang. Hingga saat itu merupakan detik-detik terakhir kehidupannya. Namun Empu Adhiyak Sona yang memiliki pemikiran dan harapan tersendiri kepada Bayu, ia membantu pemuda itu untuk menghilangkan racunnya.


Untuk dapat menghilangkan racun yang ada di kepala Bayu, satu-satunya cara adalah menggantikan tenaga sakti di tubuhnya dengan tenaga murni miliknya sendiri sekaligus membuka gerbang ke enam Ilmu Tujuh Gerbang Alam semesta di tubuh pemuda tersebut. Hal itupun Empu Adhiyak Sona lakukan tanpa peduli harus mengorbankan diri sendiri. Bayu pun berhasil di sembuhkan, namun dikarenakan pengusiran paksa racun dikepalanya ternyata berakibat ia harus kehilangan ingatannya.


Saat terbuka gerbang keenam Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta, Bayu belum mampu mengendalikan ke dahsyatan tenaga sakti tersebut. Apalagi saat itu kesadaraannya berangsur-angsur menghilang. Sehingga saat tenaga sakti itu mencapai puncaknya iapun terlempar hebat sehingga jatuh kelaut di sebelah selatan bukit kosong dan hanyut terbawa arus sehingga sampai di tepian pesisir pantai Bojana. Untung saja saat itu Tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta membentuk perisai di tubuhnya, sehingga ia terhindar dari gangguan bianatang laut maupun benturan karang. Bahkan tenaga sakti itu membuat tubuhnya mengapung di air.


"Ya Sudahlah, mungkin nanti kau akan bisa mengingatnya. Bisa jadi semua dikarenakan benturan terjadi di kepalamu saat kau hanyut di lautan." ucap ki Jatar. "Baiknya kau kami panggil dengan nama Bayu saja, karena kemungkinan besar memang itu namamu." tambahnya lagi.


"Baik ki, terima kasih". sahut Bayu.


Lalu ki Jatar pun bercerita panjang lebar saat dia menemukan Bayu di tepi pantai desa Bojana. Ia pun menceritakan bagaimana Bayu tidak sadarkan diri hampir satu bulan lamanya. Sampai-sampai kepala desa itu harus memanggil puluhan tabib untuk menyadarkannya, tapi tak satupun berhasil. h

__ADS_1


Hingga akhirnya Tabib Merah datang dan mampu membangunkan pemuda itu.


"Maafkan aku ki sudah merepotkan kalian sekeluarga" ucap Bayu yang merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa nak Bayu. Sebagai sesama manusia kita memang harus saling tolong menolong. Selanjutnya hendak kemana dan apa yang akan kau lakukan?"


"Entahlah ki, mungkin aku akan berkelana, sambil mencari tau tentang diriku ini" sahut Bayu yang memang bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Berkelana di dunia luas ini memang bagus, apalagi untuk mencari pengalaman. Tapi kau harus punya bekal cukup juga nak Bayu, terutama bekal ilmu bela diri. Sebaiknya sementara kau tinggal di sini saja dulu. Sekalian bantu-bantu aku di sini." saran ki Jatar.


"Terima kasih ki, untuk sementara aku tinggal di sini, sambil mengingat-ingat siapa aku dan apa yang terjadi denganku sehingga bisa sampai di sini" sahut Bayu.


Ki Jatar pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala mendengar ucapan Bayu. Sesaat ia sempat melirik anaknya Nalini yang juga tersenyum gembira mendengar ucapan Bayu. Orang tua itu dapat mengerti apa yang saat ini di alami anak gadisnya.


"Kenapa nak Bayu?" sahut ki Jatar sedikit mengerutkan keningnya.


"Maaf sebelumnya ki, Saat aku di ketemukan, apakah tidak ada petunjuk lain tentang diriku, bagaimana pakaianku, atau mungkin bekal yang ku bawa?"


"Tidak ada nak Bayu, selain kalung yang di temukan Nalini itu, tidak ada petunjuk apapun tentang dirimu. Saat kau kami temukan pun hanya menggunakan celana merah tanpa menggunakan baju ataupun pakaian lain." Jawab Ki Jatar.


"Terima kasih ki."


"Baiklah nak Bayu, aku ada keperluan sedikit, kalau kau perlu apa-apa panggil saja bi Darmi. Atau kau bisa bertanya pada Nalini anak ku ini"

__ADS_1


"Baik ki, sekali lagi terima kasih banyak" sahut Bayu.


Ki Jatar pun meninggalkan kamar Bayu diikuti yang lainnya. Kini di kamar hanya pemuda itu seorang diri. Pandangannya pun menerawang kelangit-langit mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi. Namun sekeras apapun ia berusaha, tak satupun petunjuk yang ia dapatkan.


tok.. tok.. tok..


Seseorang mengetuk pintu kamar Bayu. Pemuda itupun langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.


"Masuk saja tidak di kunci" serunya.


Pintu kamar di buka. Ternyata yang datang bi Darmi membawakan makanan dan sejumlah pakaian. Lalu orang tua itupun berucap...


"Mandi dulu den, air sudah di siapkan, baru nanti aden makan. Ini ada baju baru di belikan tuan, semua berwarna merah, katanya mungkin itu kesukaan aden. Kamar mandinya di sebelah kanan kamar ini terus sedikit lalu belok kiri den."


"Terima kasih bi Darmi" sahut Bayu.


Kemudian pemuda itupun keluar kamar setelah sebelumnya mengambil satu setelan baju ganti. Sepeninggal pemuda itu Bi Darmi merapikan tempat tidur dan kamar Bayu. Setelah dirasa cukup, bi Darmi pun meninggalkan kamar.


Sekitar sepeminuman teh, Bayu pun selesai membersihkan diri. Semua terasa segar setelah mandi. Perlahan Bayu menyusuri bangunan tempat tinggal kepala desa itu. Kemudian ia oun sudah berada di pintu keluar rumah.


Pemuda itu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Saat berada di pintu yang terbuka itu, ia dapat melihat sekeliling bagian luar bangunan. Tepat di depan pintu rumah, terdapat halaman yang cukup luas. Di halaman itu seorang gadis cantik sedang berlatih ilmu pedang di dampingi ki Farja. Gadis itu adalah Nalini.


Sadar sedang diperhatikan Bayu. Nalini berlatih menjadi lebih semangat lagi. Gerakan-gerakan indah ia peragakan atas petunjuk sang guru sekaligus kepala keamanan desanya. Walau sekarang tinggal di desa, dulunya ki Farja juga merupakan orang-orang persilatan yang suka berkelana. Setelah bertemu dengan ki Jatar sahabatnya yang menjadi kepala desa, lelaki itupun memutuskan menetap di desa Bojana atas ajakan si kepala desa.

__ADS_1


Bayu terus memperhatikan gerakan demi gerakan yang di peragakan oleh Nalini. Berkali-kali pemuda itu mengerutkan keningnya. Entah kenapa dengan mudah dia dapat melihat semua gerakan yang di peragakan putri kepala desa itu. Yang membuat keningnya berkerut, menurutnya gerakan-gerakan yang diperagakan gadis itu banyak kekurangan dan mudah dipatahkan. Tapi ia sendiri tak mengerti mengapa bisa berpikir demikian. Bahkan Pemuda itu dengan mudah bisa hafal semua gerakan yang diperagakan Nalini tadi.


__ADS_2