Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
88. Pendekar Pedang Kilat


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.


Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) akan berusaha selalu memberi warna pada hidup kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 88


Pembantaian Di Balai Desa


"Eh, kok tiba-tiba hawanya dingin, padahal masih terang" ucap Nalini polos.


Mendengar ucapan gadis itu, Bayu pun sadar telah kelepasan tanpa sengaja mengerahkan tenaganya. Lalu pemuda itupun menarik tenaganya kembali. Seketika hawa dingin lenyap di tempat itu.


"Lalu setelah itu bagaimana ki?" tanya Bayu mengalihkan pembicaraan.


"Nama gadis itu Parvati. Putri berbakat dari seorang pendekar sakti. Dalam perjalanannya Parvati jatuh cinta kepada ayahmu" tutur Ki Farja sambil memandang Nalini. "Ayahmu yang haus akan ilmu pedang saat itu memanfaatkan perasaan Parvati untuk menggali ilmu-ilmu rahasia dari Pendekar Pedang Kilat." Tambahnya lagi.

__ADS_1


Raut wajah Nalini agak sedikit berubah mendengar kelakuan ayahnya dari cerita ki Farja. Seandainya yang berbicara bukan gurunya, tentu dia tidak akan mempercayainya. Gadis itu tertunduk, ada perasaan malu pada Bayu karena mengetahui kelakuan ayahnya.


"Semakin hari hubungan ayahmu semakin dekat dengan Parvati. Secara diam-diam Parvati mengajarkan ayahmu teknik-teknik Ilmu Pedang Kilat. Hingga suatu hari Pendekar Pedang Kilat berniat menjodohkan Parvati dengan anak sahabatnya yang lain. Parvati tau betul watak ayahnya yang keras apabila keinginannya itu ditolak apalagi karena adanya laki-laki lain, bisa-bisa laki-laki itu dibunuhnya."


"Akhirnya Parvita meminta pendapat ayahmu untuk menghadapi masalah ini. Karena memang pada dasarnya ayahmu tidak mencintai Parvati, maka iapun mengusulkan wanita itu menerima saja. Lalu secara diam-diam masih berhubungan gelap, dan ayahmu berpura-pura tetap mencintai Parvati. Padahal yang menjadi tujuan ayahmu bukanlah wanita itu, melainkan ilmu silat ayahnya."


"Hari demi hari, hingga lewat tahun, hubungan gelap ayahmu dan Parvati tetap berjalan walaupun Parvati telah menikah dan memiliki seorang anak. Kemampuan ayahmu pun semakin meningkat. Hingga ayahmu merasa sudah menguasai teknik pedang kilat, iapun mulai menghindari Parvati."


"Suatu ketika ayahmu memutuskan untuk menikah dengan pujaan hatinya, Nawarti ibumu. Dan berita ini pun didengar oleh Parvati. Wanita itu kemudian menemui ayahmu meminta penjelasan. Ayahmu dengan jujur mengatakan bahwa tujuannya mendekati Parvati adalah untuk mencuri Ilmu."


"Dengan perasaan hancur Parvati menantang ayahmu untuk bertarung. Ayahmu yang memang haus akan pertarungan menerima begitu saja tantangan Parvati. Dalam pertarungan itu Parvita kalah, namun dengan sengaja wanita itu menusukkan pedang ayahmu ke lehernya sendiri dan tewas."


Ki Farja menghentikan sejenak ceritanya. Ditatapnya iba muridnya yang kini mulai meneteskan airmata mendengar ceritanya. Sebenarnya lelaki itu tidak sampai hati menceritakan ini, namun keadaan memaksanya.


"Karena memandang persahabatan dengan guru, Pendekar Pedang Emas tidak jadi membunuh ayahmu. Hanya saja dia memutuskan beberapa urat syaraf ayahmu, yang membuatnya tak bisa lagi menggunakan ilmu kesaktian atau mempelajarinya. Itulah sebabnya kenapa Ayahmu tidak bisa bersilat sampai sekarang. Semenjak saat itu kabar tentang Pendekar Pedang Kilat dan suami Parvati lenyap bak ditelan bumi."


"Lalu apa kaitannya kejadian hari ini guru? apakah Pendekar Pedang Kilat melakukan pemabalasan guru." Tanya Nalini dengan suara serak.


"Bukan Pendekar Pedang Kilat, tapi cucu Pendekar Sakti Itu. Atau tepatnya anak dari Parvati. Begitulah pengakuan anak itu sewaktu menyerang kami." jawab Ki Farja.


"Lalu di mana ayahku sekarang guru?"


"Saat terjadi perkelahian antara aku dibantu beberapa orang keamanan desa melawan pemuda itu, ayahmu melarikan diri. Kemungkinan dia meminta pertolongan paman guru kami untuk menghadapi pemuda itu. Karena sebelumnya Pemuda itu berkata akan datang sepekan lagi ke sini untuk meminta pertanggung jawaban ayahmu. Dengan kata lain ayahmu diberikan kesempatan hidup selama satu minggu lagi."

__ADS_1


Sejenak Nalini terdiam. Ia tak tau lagi harus berkata apa. Di kelopak matanya masih penuh dengan air mata yang mengembang. Ingin rasanya dia mencari ayahnya dan mencaci makinya kenapa berbuat demikian.


Tiba-tiba saja Bayu melihat sekelebatan bayangan melewati depan balai desa. Lalu Pemuda itu meminta izin untuk keluar sebentar untuk keperkuan pribadi. Setelah mendapat izin dari Ki Farja, Bayu melangkah menuju keluar balai desa. Saat sudah berada di luar, pemuda itu langsung melesat kearah pergi bayangan yang dilihatnya tadi.


Tak butuh waktu lama mengejar, di depannya dia sudah melihat orang menggunakan pakaian berwarna biru tua sedang berlari sangat cepat menggunakan Ilmu meringankan tubuhnya. Dengan sekali lompatan Bayu sudah berhasil mendahului orang tersebut. Orang itupun behenti berlari saat menyadari dengan mudah pelariannya berhasil di susul Bayu.


"Hmmm... tak kusangka ternyata orang sakti yang memyembunyikan diri di desa Bojana madih begitu muda" ucap orang baju biru tersebut.


Kaget juga Bayu saat tahu ternyata orang yang di kejarnya tadi adalah kakeknya Randu yang ia lihat berada di pondokan tengah hutan saat pemuda itu mengikuti cucunya tadi. Namun yang lebih mengejutkan Bayu lagi adalah kemampuan kakek buta itu mengetahui dirinya masih muda.


"Aku tahu kau sengaja memancing aku ke sini, apa sebenarnya yang kau inginkan orang tua?" tanya Bayu penuh selidik.


"Hahaha... tajam juga ternyata pengamatanmu anak muda. Aku hanya ingin memperingatkanmu untuk tidak ikut campur urusan cucuku Desa Bojana. Kalau tidak, jangan salahkan orang tua ini apabila menurunkan tangan kejam padamu" Ancam kakek buta itu.


"Hmmm.. kau kira aku takut. Apapun yang berhubungan dengan Desa Bojana akan menjadi urusanku. Katakan pada cucumu untuk tidak lagi mengganggu desa Bojana termasuk orang-orang di dalamnya. Kalau dia masih keras kepala, jangan salahkan aku, bila nantinya kepulangannya hanya berupa jasad tak bernyawa."- Ancam Bayu membalas gertakan kakek buta itu.


"Hahaha baru kali ini Si Pedang Kilat diancam oleh seorang pemuda" Balas Kakek buta yang ternyata Pendekar Pedang Kilat itu. "Aku tidak main-main anak muda, kalau kau tetap bersikeras kau akan bernasib seperti pohon-pohon ini" Ancam Pendekar Pedang Kilat lagi.


Tiba-tiba saja beberapa batang pohon besar tak jauh mereka terpotong menkadi beberapa bagian. Pohon-pohon itupun tumbang. Tak tau kapan orang tua itu melakukannya, melihat dia mencabut pedang saja tidak ada, apalagi bergerak memotong batang pohon yang terpenggal tadi. Seandainya ada orang lain yang melihat tentu mereka akan terkagum-kagum.


Namun berbeda dengan Bayu. Matanya yang tajam karena menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta itu dapat melihat setiap pergerakan yang dilakukan Pendekar Pedang Kilat. Jangankan takut, malah pancaran matanya memperlihatkan sikap menantang. Seandainya Pendekar Pedang Kilat melihat pada mata Bayu memancar kilatan-kilatan halus yang menandakan pemuda itu memiliki kekuatan yang mengerikan.


"Tak usah kau menunjukan kemampuanmu itu untuk mengancamku. Katakan pada cucumu, kalau tak ingin mati muda, jangan coba-coba mengganggu orang-orang Desa Bojana." Ancam Bayu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja pemuda itu lenyap dari hadapan Pendekar Pedang Kilat. Bukan hanya tanpa suara, bahkan sedikitpun tak ada perubahan atau hembusan angin yang terjadi saat Bayu meninggalkan tempat itu. Namun Indra perabanya dapat merasakan kepergian Bayu dari tempat itu.


__ADS_2