
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 109...
"Ilmu apa itu?" gumam Iblis Merah. "Iblis Api, berhati-hatilah! nampaknya itu bukan Ilmu sembarangan." Seru Iblis Merah lagi mengigatkan rekannya.
Melihat perubahan pada diri lawan, apalagi pancaran kekuatan yang terlihat begitu menakutkan, gentar juga hati Raja Iblis Api melihatnya. Ia pun tak ingin mengambil resiko. Dikerahkannya tenaga saktinya sampai ke tingkat paling tinggi.
Asap mengepul di seluruh tubuh Raja Iblis Api. Hawa panas menyebar ditempat itu. Kedua belah pihak yang menonton menjadi tegang akan apa yang terjadi.
"Hiyaaattt..."
Pekik Malaikat bertangan Sakti saat melayangkan serangannya ke arah Raja Iblis Api. Raja Iblis Api sendiri telah bersiap menyambut serangan lawannya.
"Desssshhh..."
Tidak terjadi ledakan ataupun bunyi benturan tenaga saat kedua telapak tangan itu beradu. Bahkan yang terjadi di luar dugaan. Kedua telapak tangan Raja Iblis Api menempel pada telapak tangan lawannya. Sementara Tenaga saktinya amblas bagai tersedot kedalam tubuh Malaikat Bertangan Sakti. Perlahan cahaya putih kekuningan di sekitar tubuh Malaikat Bertangan Sakti melebar menyebar ketubuh lawan.
"Suamiku..." pekik Ratu Iblis Api khawatir keadaan suaminya. Ia melesat menerjang kearah dua orang yang beradu tenaga.
"Jangan dekati" seru Jari pedang.
Namun semua terlambat. Ratu Iblis Api sudah berada di belakang suaminya. Lalu iapun mengerahkan tenaga saktinya, kemudian menyalurkannya ke punggung sang suami untuk memberi bantuan tenaga.
Namun semua sia-sia. Bukannya membantu memperkuat tenaga suaminya, malah tenaganya sendiri yang amblas dan tersedot deras ke arah lawan. Kini Cahaya kekuningan yang menyebar juga meliputi Ratu Iblis Api. Semakin lama cahaya itu semakin terang menyilaukan.
"Aaaaaaa..." teriak Raja Iblis Api dan Istrinya.
Beberapa saat teriakan suami istri itu menggema. Cahaya kekuningan itu semakin menyebar. Lalu bagaikan ledakan cahaya, sesaat tempat itu begitu menyilaukan, tak lama kemudian semua kembali seperti sedia kala.
Setelah cahaya itu lenyap, nampak tiga orang tergeletak di tanah. Tiga orang itu tak lain Malaikat Bertangan Sakti, Raja Iblis Api dan Istrinya. Murid-murid Perguruan Tangan Dewa segera menghampiri guru mereka. Ternyata tiga orang itu telah tewas dengan mata terbelalak namun hanya putihnya saja yang terlihat.
"Guruuu!" jerit Arya dan teman-temannya yang segera menggerumbungi gurunya.
__ADS_1
"Cepat pergi dari sana, bawa jasad gurumu pula sebelum mereka berubah pikiran"
Terdengar suara bisikan di telinga Arya. Ia tau orang ini melakukannya dari jarak jauh dengan ilmu mengirim suara. Ia pun bergegas mengingatkan teman-temannya untuk segera pergi dari tempat itu.
Arya menggendong jasad Malaikat Bertangan Sakti. Sedangkan murid yang lain mengawal mengelilingi pemuda itu. Mereka sudah bertekat apabila ada serangan, akan melindungi Arya agar bisa meninggalkan tempat itu. Benar saja baru beberapa langkah mereka beranjak, terdengar bentakan dari Jari Pedang.
"Mau lari kemana kalian. Jangan di kira kalian akan mudah pergi dari sini, setelah dua orang utama kami tewas" bentak Jari Pedang.
Srettt.. sreeett
Dua larik sinar keperakan meluncur dari jari Pendekar Jari Pedang. Kedua sinar itu langsung menembus jantung dua orang murid Malaikat Bertangan Sakti. Seketika keduanya tewas dan roboh.
"Ayo cepat, teriak Arya" sebenarnya ia sangat sedih kematian saudara-saudaranya. Tapi membawa jasad gurunya dianggapnya lebih utama ketimbang menurutkan emosi. Ketiga murid tangan Dewa yang tersisa itu kembali berlari.
"Hmmm.. masih saja keras kepala" geram si Jari Pedang.
sreettt.. sreet...
Kembali Jari pedang melayangkan serangannya ke arah murid-murid perguruan Tangan Dewa itu. Nampak wajah mereka berubah pucat, tau musuh kembali melayangkan serangannya. Namun belum sinar itu menyentuh mereka, tiba-tiba...
terjadi ledakan hebatdi di tengah tengah serangan. Bahkan Jari Pedang harus terpukul mundur beberapa langkah. Ini tentu saja membuat teekejut semua yang ada di situ. Termasuk Dewa Iblis Kegelapan.
Selarik sinar berwarna merah menangkis serangan Jari Pedang. Disusul berkelebatnya sebuah bayangan Jingga menghampiri ketiga murid mendiang Malaikat Bertangan Sakti.
"Tak baik seorang senior dunia persilatan menindas kaum muda. Dan tak elok rasanya apa yang sudah di sepakati dikhianati." Ucap Orang yang memakai pakaian dan jubah berwarna keemasan.
"Tahan!" seru Dewa Iblis Kegelapan, saat melihat Jari Pedang ingin melesat.
Sungguh penasaran yang dirasakan Jari Pedang. Wakil ketua Partai Iblis Berkabut itu sudah siap menerjang lawan. Namun sang Ketua menghalangi.
"Selamat Bertemu Ketua Partai Iblis Berkabut Aku yang rendah ini Wakil ketua Istana Lembah Neraka. Memandang keadaan kita yang tidak bermusuhan, dan kesamaan aliran, sudilah kiranya melepaskan mereka." ucap orng berpakaian jingga yang ternyata Pranggala itu. Ia sengaja mengatakan hal demikian supaya Dewa Iblis Kegelapan tidak merasa kalau keberadaanya hendak menghalangi mereka.
Dewa Iblis Kegelapan mengibaskan lengan Bajunya kedepan, lalu melangkah ke dalam benteng diikuti seluruh anak buahnya yang sudah terkumpul. Sedangkan Arya dan saudara seperguruannya bergegas menuruni bukit setelah mengucapkan terima kasih kepada Pranggala. Sedangkan Wakil ketua Istana Lembah Neraka itu sendiri melesat meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
...***...
Setelah mendapatkan penjelasan dari Raja Iblis Kelabang atau Bargawa, Bayu memutuskan untuk pergi membawa Nalini ke pulau Es. Dikarenakan ada ucapan Bargawa yang memperingatkan agar Nalini tidak dibawa dengan Ilmu Meringankan Tubuh. Karena apabila itu di lakukan akan mengakibatkan pembuluh darah Nalini membeku dan akhirnya pecah.
Mengingat hal itu maka di putuskan berangkat menggunakan kereta. Bayu yang menjaga Nalini di dalam kereta, sedang kereta dikendarai oleh Bargawa. Ia meminta kepada Bayu untuk diizinkan ikut menemani ke pulau es. Sedangkan yang lain hanya menunggu perkembangan.
"Ki, aku pamit dulu" Ucap Bayu setelah memasukkan Nalini ke dalam Kereta.
"Hati-hati nak Bayu. Masalah Nalini kami hanya bisa mengandalkanmu" sahut Ki Jatar dengan suara bergetar.
Setelah berpamitan juga dengan yang lain, termasuk Randu yang kini tinggal dengan ki Jatar, Bayu pun berangkat bersama kereta kuda yang dikendalikan Raja Iblis Kala Jengking.
Hampir seharian semalaman mereka berkereta tanpa henti, akhirnya Bayu meminta Bargawa untuk mencari rumah makan dan penginapan terdekat. Nampak Nalini sudah siuman, gadis itu masih terlihat sangat lemah.
Di dalam kereta, saat Nalini sudah siuman, Bayu menceritakan semua yang terjadi. Termasuk masalah Randu. Sampai masalah Nalini yang terkena Racun Bulu Landak Salju.
Bayu mencoba merangkul Nalini masuk ke dalam penginapan. Rupanya walau terkena racun, tubuh gadis itu tidak menjadi lemah. Hanya wajah dan bibirnya saja yang terlihat pucat. Ia pun meminta Bayu untuk tidak repot-repot menggandengnya.
"Ada yang bisa saya bantu den?" tanya seorang pelayan menghampiri mereka.
"Siapkan dua kamar untuk kami bermalam. Sebelumnya kami makan dulu di luar, tolong paman siapkan makanan yang enak untuk kami bertiga" pinta Bayu.
"Baik Den..." sahut pelayan itu dengan tersenyum ramah.
Kemudian ketiganya memilih meja di pojokan sebelah kanan. Tak menunggu berapa lama, hidangan yang mereka pesan pun datang. Lalu ketiganya menyantap hidangan yang sudah di sediakan. Nampak langit mulai memancarkan sinar kejinggaan. Tanda malam tak lama lagi menjelang.
"Kakek Bargawa, apakah kira-kira Raja Pulau Es masih ada di pulaunya. Menurut berita yang kita dengar pagi tadi di perjalangan pagi tadi, pulau Es sempat dikuasai penjahat. Mungkinkahnia masih hidup." Tanya Bayu.
"Tidak dapat dipastikan tuanku. Tak ada salahnya kits mencoba, karena itulah satu-satunya harapan kita." jawab Bargawa.
Tak lama kemudian dua orang perempuan masuk ke rumah makan itu. Satu orang berumur dua puluh lima lebih, satunya lagi masih berusia sekitar lima belas tahunan. Mereka memilih meja yang cukup jauh membelakangi meja Bayu dan lainnya. Yang muda menggunakan pakaian merah bercampur jingga. Yang satunya lagi berwarna agak kebiruan.
Seorang Pelayang datang menghampiri mereka berdua. "Intan, kau pesan apa?" tanya perempuan yang lebih tua.
__ADS_1
Bersambung....