
"Lalu apa yang kau inginkan dari kami Ki?" tanya Ki Farja lagi, walau sebenarnya ia sudah tau apa yang diinginkan lelaki itu.
"Kami ingin kalian membantu kami menghabisi gerombolan penjahat itu. Sebagai imbalan akan kami siapkan seribu keping emas bila kalian berhasil. Bila tidak, seratus keping emas akan kami kirim kepada keluarga kalian." jawab Ki Rambang
"Sebenarnya atas nama kebenaran, tanpa imbalan emas itupun kami akan tetap berusaha. Hanya saja yang ingin kupastikan apa peran kalian dalam upaya pembasmian gerombolan itu." Ucap Ki Farja.
"Tentu Ki, kami akan menyiapkan sepuluh orang pemuda terbaik untuk menyertai kalian." balas Ki Rambang.
"Baik lah Ki, izinkan kami istirahat sebentar, nanti sore kita akan menyerang markas gerombolan pengacau itu." pinta Ki Farja.
Akhirnya semua sepakat untuk melakukan penyerangan pada sore hari. Saat itu memang sudah menjelang siang. Bahkan sengatan matahari sudah terasa terik. Di saat yang lain ingin mempersiapkan diri, hanya Bayu yg meminta izin untuk jalan-jalan.
"Guru, apa sebaiknya aku temani kak Bayu jalan-jalan di desa ini?" tanya Nalini kepada Ki Farja.
"Tidak usah anakku, biarkan dia menenangkan pikirannya. Mungkin dia agak takut akan penyerbuan sore nanti. Kalau memang dia takut, biarkan dia tidak ikut." cegah Ki Farja.
Dengan perasaan berat dan apa boleh buat, Nalini pun mengikuti perintah gurunya. Kemudian sambil beristirahat guru dan murid itu membicarakan rencana untuk penyerangan sore nanti. Di sana jua telah bergabung Ki Rambang dan Ki Rundu kepala keamanan desa itu.
Sebenarnya apakah yang di lakukan oleh Bayu? Benarkah dia sedang pergi jalan-jalan? Ternyata Bayu memang sedang mengitari tempat itu. Namun yang ia cari adalah tempat kosong yang sepi untuk berlatih. Ia ingin mencoba cara-cara yang diajarkan oleh Ki Farja dalam mengerahkan tenaga dalam.
Setelah berkeliling hampir sepenanakan nasi lamanya, akhirnya Bayu menemukan tempat sebuah hutan kecil di dekat desa itu. Di tempat yang lumayan lapang iapun duduk bersila. Beberapa gerakan coba diperagakannya.
Tangan Bayu mulai dirangkapkan di depan dada. Kemudian pemuda itu menarik nafas dalam-dalam kemudian menahannya di bawah perut. Lalu mengikuti petunjuk yang di ajarkan oleh Ki Farja, sambil menghembuskan nafas dengan keras, dengan sekali hentakan ia pun memekik sambil merentangkan kedua tangannya ke samping.
tar.. tar... tarrr...
__ADS_1
Memang sebuah ledakan kecil terjadi. Namun kekuatan hentakan tenaga itu hanya membuat pohon di samping Bayu bergoyang dan beberapa dedaunan gugur. Ia pun mengerutkan keningnya karena apa yang diharapkannya tidak terjadi.
Dengan rasa penasaran dicobanya lagi melakukan gerakan-gerakan yang sama seperti tadi. Lagi-lagi hasilnya tak jauh berbeda. Hanya membuat beberapa daun berguguran, dan pohon sedikit bergoyang. Bayu pun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
Tanpa disadari Bayu, ada sepasang mata yang memperhatikannya dari tadi. Orang itu berada di atas dahan pohon besar yang tak jauh dari tempatnya berada. Sambil bersandar di batang pohon besar itu, sesekali ia meneguk minuman yang berada dalam buluh bambu di genggamannya.
Merasa gagal dalam usahanya yang pertama, iapun mencoba cara kedua yang diajarkan oleh Ki Farja. Tangannya mengepal, kemudian nafasnya ditarik dalam-dalam hingga di tahan di bawah perut. lalu Sambil menghembuskan nafas pemuda itu menghantam pohon kecil di dekatnya.
"Braaakk...."
"Aww..." keluh Bayu sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Hueekk.... bwahahaha..."
bukkkk...
"Bocah edan.. edaaan.. edaann, Bwahahaha..." Seorang kakek tua berpakaian lusuh yang sedang mengamati Bayu tertawa terpingkal-pingkal. Saking gelinya orang tua itu sampai-sampai menyemburkan tuak yang ada di mulutnya dan jatuh dari atas pohon.
"Hei orang tua, siapa kau? siapa yang kau tertawakan? apa kau sedang mengintip aku?" tanya Bayu yang kesal.
"Eh buju busyeett galak benar ini bocah edan bwahahaha... banyak benae pertanyaan mu itu, harus kujawab apa bwahahaha.." sahut si orang tua. "Eh anak muda, kau tadi sedang belajar apa?" tanya si orang tua itu tiba-tiba berubah serius.
"Ditanya malah balik menanya" ketua Bayu yang sedikit kesal. "Aku latihan menari orang tua" sahut Bayu lagi yang semakin kesal.
"Bwahahaha... anak laki kok latihan menari Bwahaha..." jengek kakek itu. "Sini duduk bersamaku sambil minum." ajak si kakek kepada Bayu.
__ADS_1
Bayu pun menghampiri si kakek. Kemudian ia menghempaskan dirinya duduk di samping orang tua itu. Lalu kakek itu pun menyerahkan bambu yang menjadi tempat minumannya. Pemuda itupun menyambutnya, kemudian menuangkan isi di dalamnya kemulut.
"Hueekkkk... uhuk huk..."
"Bwahahaha... bocah Edan, minum tuak saja muntah." tawa orang tua itu geli melihat Bayu yang memuntahkan minumannya.
Bayu memang belum pernah sekalipun minum tuak. Pemuda itu bahkan tak pernah meminum minuman keras jenis apapun. Makanya sewaktu dia meminum tuak yang di berikan si kakek, pemuda itu langsung memuntahkannya karena merasakan hal asing bagi lidahnya. Sampai-sampai matanya memerah karena mengeluarkan air mata.
"Orang-orang utara memanggilku Dewa Tuak Gila. Begitu juga orang-orang persilatan. Namamu siapa bocah edan? tanya orang tua itu setelah mengenalkan namanya.
"Mungkin Bayu" jawab pemuda itu ragu.
"Mungkin? Bwahaha, rupanya bukan aku yang tua ini saja yang gila, ternyata kau juga bocah gila. bwahaha... Dengan nama sendiri ragu."
"Benar orang tua, aku memang tak bisa mengingatnya." kata Bayu. Lalu secara singkat ia menceritakan keadaan dirinya yang terdampar di pesisir pantai dan di temukan kepala desa Bojana. Ia sendiri tak mengerti tiba-tiba begitu saja menceritakan keadaanya pada orang tua itu. Naluri Bayu mengatakan orang tua ini merupakan orang baik.
"Lalu mengapa kau begitu bernafsu untuk latihan ilmu kesaktian tadi" tanya orang tua itu lagi.
"Untuk membantu teman-temanku melawan musuh, orang tua" jawab Bayu. Kemudian secara singkat iapun menceritakan perihal undangan kepala desa Karang Wangi dan tujuannya meminta bantuan membasmi kawanan penjahat yang menamakan dirinya Partai Seribu Racun.
"Hmmm... Tahukah kau anak muda, kedatangan ku pun sebenarnya untuk membasmi gerombolan penjahat itu. Beberapa waktu yang lalu ku coba menyantroni markas persembunyian gerombolan tersebut. Awalnya aku berhasil memporak porandakan kawanan penjahat itu. Bahkan membuat pimpinan mereka yang bergelar siluman racun." tutur Dewa Tuak Gila.
"Lalu kek?" tanya Bayu yang sudah merubah panggilannya dengan sebutan kakek kepada Dewa Tuak Gila.
"Saat kemenangan ku sudah di depan mata, tiba-tiba datang guru siluman racun. Tak di sangka ternyata dia murid tunggal si Datuk Seribu Wisa tokoh kalangan hitam yang terkenal itu. setelah bertarung dalam lima puluh jurus, akupun dibuatnya roboh." sejenak Dewa Tuak Gila terdiam.
__ADS_1
"Beruntung saat itu aku membawa bola asap pembingung Sukma, saat mereka lengah ku ledakkan bola asap itu dan kabur." tutur orang tua itu melanjutkan ceritanya.