
"Bagaimana keadaanmu paman?" tanya Bayu kepada Ki Braja alias Pendekar Seruling Sakti.
"Cukup baik nak Bayu, terimakasih. Telah dua kali kau menyelamatkan kami," Ucapnya haru dengan air mata yang mengembang di kedua mata lelaki itu. "Bila kau tak keberatan, bolehkah aku mengajukan sebuah permohonan kepadamu nak Bayu?" tanya nya lagi.
Bayu bingung harus menjawab apa, selain keadaannya sebagai ketua Istana Lembah Neraka yang membuatnya tak leluasa dalam bertindak, pemuda itu sendiri belum tau apa yang menjadi keinginan Pendekar Seruling Sakti.
Melihat kebingungan si pemuda, Ki Braja berusaha bangkit dari posisinya dipangkuan Intan. Lelaki itupun berlutut di hadapan Bayu.
"Ayah!"
"Paman!"
Seru Intan dan Cempaka secara bersamaan melihat perbuatan Pendekar Seruling Sakti. Keduanya berusaha memapah lelaki itu untuk bangkit. Namun Pendekar Seruling Sakti memberi Isyarat untuk tidak mencegahnya. Keduanya pun menepi ke sisi lelaki itu.
Bayu yang diperlakukan demikian jadi salah tingkah. Sesaat dia kebingungan hendak berbuat apa. Kemudian pemuda itupun meminta Pendekar Seruling Sakti untuk bangun.
"Bangunlah Paman! aku akan berusaha memenuhi permintaanmu."
Wajah Ki Braja langsung berubah cerah mendengar ucapan Bayu. Lelaki itupun duduk bersila didampingi anak semata wayangnya.
"Nak Bayu, aku tau tubuhku ini tak bisa lagi bertahan lebih lama. Seluruh organ dalam ku rusak. Hanya bantuan tenaga sakti mu itu saja membuatku masih bisa bertahan sampai sekarang. Tapi tak mungkin aku terus bertahan dengan cara seperti ini. Tak mungkin kau bisa setiap waktu memberikan tenaga sakti untuk melindungi organ tubuhku yang rusak, lagi pula, cara seperti ini terasa sangat menyiksa, nyeri dari dalam tidak mungkin mampu selalu ku tahan," terang Pendekar Seruling Sakti seraya berhenti sejenak melihat reaksi Bayu. Yang ditatap hanya diam dengan raut wajah mengiba.
__ADS_1
"Tak usah kau pikirkan kondisiku nak Bayu. Hanya saja aku tidak tau kapan maut merenggut ku," ucapan ki Braja terhenti karena tangisan Intan yang langsung memeluk dirinya. Lelaki itupun mengusap rambut anaknya dengan lembut. "Aku hanya meminta tolong mengantarkan anakku ini kepada kakeknya di gunung Batu Geni, mintalah ia mengajarkan anakku ini ilmu bela diri dan kesaktian" lanjut Ki Braja.
"Ayah... aku tak mau pergi, aku ingin bersama ayah
saja." Isak Intan sambil memeluk erat ayahnya.
"Kau harus kuat Intan, sepeninggal Ayah nanti berlatihlah sungguh-sungguh dengan kakek mu. Jadilah pendekar wanita yang tangguh seperti sepupumu Cempaka ini." pesan Ki Braja yang nafas dan suaranya putus-putus. "Nak Bayu, jagalah Intan!" seraya tangan orang tua itu memegang tangan Bayu dan Intan kemudian kedua tangan itu disatukannya. Tak lama kemudian Pendekar Seruling Sakti pun menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ayaaah!" Jerit Intan menangisi kematian Pendekar Seruling Emas.
Cempaka memeluk erat sepupunya berusaha menghibur. Sedangkan Bayu hanya terdiam bingung harus berbuat apa.
Kemudian Cempaka berpamitan dengan Bayu dan Intan, Istri Pendekar Halilintar itu melanjutkan perjalanannya menuju kediaman Dewa Obat. Masih terasa suasana sedih di hatinya. Biar bagaimanapun Pendekar Seruling Emas adalah Pamannya sendiri atau tepatnya adik dari mendiang ayahnya. Sambil menunggang kudanya perempuan itu larut dalam lamunannya.
"Cempaka!"
Tiba-tiba kuda yang ditungganginya mengangkat kedua kaki depannya dan berhenti mendadak mendengar suara orang yang memanggil cempaka. Hampir saja Dewi Selendang Ungu itu terjengkang dari kudanya, kalau saja dia tidak langsung melompat dan bersalto di udara. Tak jauh di depannya ada Jaka yang sedang menuntun kuda memandang kearahnya.
"huhh... Hampir saja aku terjatuh. Kenapa kau tiba-tiba saja muncul dan mengagetkan ku Kakang?" keluh Cempaka dengan bibir cemberut.
"Kau sendiri yang berkuda seperti orang linglung, tidak jelas." Sahut jaka sambil cengar-cengir.
__ADS_1
"Maafkan aku kakang, aku sedang berduka, Paman Braja baru saja meninggal" Ucap Dewi Selendang Ungu dengan nada sedih.
Jaka pun memeluk istrinya seraya menghibur wanita yang paling dicintainya itu. Sambil berteduh di bawah pohon yang rindang Cempaka menceritakan segala kejadian yang di alaminya kepada Jaka. Pendekar Halilintar pun mengerutkan keningnya antara percaya dan tidak akan cerita istrinya mengenai kehebatan Bayu. Dia tidak habis pikir ada seorang pemuda yang begitu hebat seperti yang di katakan istrinya.
"Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang kakang?" tanya Cempaka kepada suaminya.
Setelah Istrinya bercerita tadi, Jaka pun menerangkan tentang apa yang juga di alaminya. Setelah berpisah dengan Cempaka, Pendekar Halilintar dan Surya Pati mengejar ketiga Buto bersaudara. Namun mereka kehilangan jejak, lalu memutuskan kembali ke tempat semula. Ketika tak mendapati Cempaka di tempat itu keduanya pun berkesimpulan perempuan itu sudah lebih dulu ke tempat tinggal Dewa Obat. Setelah sampai di sana Jaka tidak menemukan Cempaka ataupun Dewa Obat di tempat tinggalnya. Hanya muridnya yang lain mengatakan bahwa Dewa Obat sedang ada urusan tiga hari lagi baru kembali. Setelah meninggalkan pesan kepada Surya Pati, Jaka pun meninggalkan tempat itu mencari Cempaka, lalu keduanya bertemu di tempat ini.
...***...
"Hahaha... seorang aliran hitam sok suci membela perempuan. Apapun yang kau lakukan tetap saja kau dicap penjahat haha." Lima orang berbaju putih, dengan ikat kepala berwarna hijau berlambangkan bunga teratai warna putih sedang mengepung dua orang yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.
Sebelumnya seorang lelaki anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka tingkat Empat sedang berjalan menyusuri sebuah hutan di dekat desa Lumbung Wangi. Sayup-sayup di dengarnya teriakan seorang perempuan minta tolong. Dengan cepat lelaki itu berlari ke arah datangnya suara. Setibanya di tempat itu, dilihatnya seorang lelaki berpakaian serba putih dengan ikat kepala berwarna hijau menindih perempuan yang sedang meronta-ronta. Tanpa memberikan peringatan anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka itu langsung menendang dan menebas leher orang berbaju putih.
"Bedebah, siapa yang berani membunuh anggota perguruan teratai putih." teriak seseorang yang ternyata berada tak jauh dari tempat itu. Rupanya ada temannya yang lain yang sedang menunggu giliran berada di sana. Menyadari akan hal itu, anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka langsung membangunkan si perempuan yang hendak di perkosa tadi, lalu mengajaknya melarikan diri.
Setelah cukup jauh berlari dari tempat semula, alangkah terkejutnya mereka berdua saat di depan mereka telah berdiri lima orang laki-laki berpakaian serba putih dengan ikat kepala berwarna hijau bergambar teratai putih. Kelima orang itu langsung menyerang, dan anggota Istana Lembah Neraka itupun mencoba melawan sambil melindungi perempuan yang tadi diselamatkannya.
Dikarenakan jumlah yang tak imbang serta ia harus juga melindungi si perempuan, maka berkali kali anggota Istana Lembah Neraka itu jatuh bangun melawan keroyokan musuh. Setelah melihat lawan ternyata anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka makin menjadi-jadilah lima orang itu menyerang. Tidak sekali dua sumpah serapah yang dilontarkan ke lima orang itu.
"Dasar manusia munafik, percuma kalian bernaung di di bawah perguruan aliran putih, jika kelakuan kalian lebih rendah daripada binatang. Biarpun kami dianggap perkumpulan aliran hitam, pantang bagi kami menyakiti seorang perempuan." balas Anggota Istana Lembah Neraka itu garang.
__ADS_1