
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 166...
Tak kalah semangat dengan suaminya, Cempaka pun kembali mengerahkan tenaga saktinya. Sinar keperakan bercampur butiran embun kembali memancar dari tubuh Istri Pendekar Halilintar itu. Tak lama kemudian ke tiganya melesat ke arah utara sesuai dengan arahan Malaikat Putih.
Dua buah sinar merah dan satu sinar keperakan melesat cepat ke arah utara. Sesampainya di sebuah bangunan berbentuk candi yang di pintu gerbangnya terdapat patung ular berkepala manusia Bayu dan dua orang lainnya berhenti.
“Kalau petunjuk dari Malaikat Putih tidak salah, inilah kediaman Dedemit Sukma Ular. Puri Raja Siluman Ular” ucap Bayu.
“Sepertinya memang benar ini kediamannya. Tapi entah kenapa tidak ada penjagaan sama sekali di sini.” Sahut Cempaka.
“Memang mencurigakan. Sebaiknya kita berhati-hati saja.” Ucap Jaka.
Ketiganya masuk ke puri raja siluman ular dengan sangat berhati-hati. Halaman puri sangat luas ada sekitar dua ratus tombak lebarnya. Puri itu sendiri dari bawah terlihat bertingkat. Anak tangga dari bawah ke lantai pertama bangunan sebanyak sepuluh buah. Kemudian terlihat pintu pintu masuk yang dari depan berjumlah tiga buah.
Mereka bertiga menaiki anak tangga dengan hati-hati. Baru kali ini hati mereka berdebar. Bukan karena takut, namun lebih kepada misteri apa yang mereka akan hadapi nantinya. Kalau masalah nyali, jangan ragukan keberanian tiga orang sakti ini.
“Kakang, ada tiga pintu di sana? Bagaimana ini? Apakah harus berpencar, atau memilih salah satu dan memasukinya bersama-sama.” Tanya Cempaka.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Jaka seraya mengalihkan pandangannya kepada Bayu.
“Sebaiknya kita paksa mereka saja yang keluar.” Ucap Bayu. “Mundur kak.” Perintahnya lagi.
Jaka dan Cempaka mundur beberapa langkah. Mereka tahu pemuda ini pasti akan melakukan sesuatu yang luar biasa. Keduanya saling pandang dan tersenyum.
Bayu terlihat menghentikan pengerahan tenaga saktinya. Dilihat dari pandangan mata tak ada lagi tenaga sakti yang menyelimuti tubuh pemuda itu. Padahal ia sedang mengerahkan tingkat ke lima Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.
Bayu menarik nafas panjang. “Haaaaaaaaaaaaaaaa...” Kemudian pemuda sakti bergelar Rajawali Merah itu mulai berteriak panjang. Dahsyatnya teriakan itu bukan hanya membuat tanah di tempat itu bergetar. Bahkan beberapa bangunan di tempat itu retak hingga sampai roboh.
Teriakan Bayu semakin kencang. Bahkan teriakan itu kini mengandung tenaga angin yang memporak-porandakan tempat itu. Puri itu sudah hancur seperempatnya.
__ADS_1
“Cukup Rajawali Merah! Apakah kau ingin hancurkan tempatku ini.”
Terdengar bentakan nyaring dari dalam puri. Bersamaan dengan itu puluhan mahluk berbagai macam bentuk keluar dari sana. Rata-rata dari mereka berbentuk setengah ular setengah manusia. Terakhir, keluar seekor ular raksasa dengan badan bagian pinggang ke atas berbentuk manusia.
Bayu menghentikan teriakannya. Hampir saja tempat itu hancur luluh lantak jika saja pemuda itu tidak menghentikan teriakannya. Tentu saja sepasang suami istri di belakang Bayu itu menjadi sangat terpukau dengan kesaktian si Rajawali Merah.
“Hmmmm.. Rupanya ini wujud aslimu Dedemit Sukma Ular.” Ucap Bayu.
“Kuakui kau benar-benar tangguh anak muda. Di alammu kau berhasil melukaiku. Tapi tidak di alamku. Di sini akan menjadi tempat terakhirmu menghirup nafas kehidupan.” Ucap Dedemit Sukma Ular. “Anak-anak.. serang mereka!” Teriaknya lagi menyuruh anak buahnya menyerang.
Puluhan penghuni puri Raja Siluman Ular itu serentak menyerang ke arah Bayu, Jaka, dan Cempaka. Penyerang mereka kali ini bukan siluman-siluman biasa seperti yang awal mereka temui tadi yang mengeroyok Pendekar Halilintar. Kekuatan para penyerang kali ini jauh lebih kuat dan lebih ganas.
Bayu, Jaka dan Cempaka berpisah menjadi tiga tempat. Masing-masing mereka melawan sekitar dua puluhan anak buah Dedemit Sukma Ular. Kali ini tak ada yang kesulitan mengatasi mahluk-mahluk siluman tersebut.
Cempaka dengan tenaga saktinya yang sekarang, setiap sambaran selendang yang mengenai lawan, akan membuatnya membeku seketika. Kemudian sambaran selendang satunya akan membuat musuh yang membeku hancur berantakan. Bukan hanya musuh yang ngeri melihat kelihaian tenaga sakti itu, ia sendiri takjub dengan tenaga sakti yang ia gunakan.
Sementara itu jaka pun tak mau kalah. Ia mengamuk dengan sedemikian rupa. Setiap sambaran halilintar merah miliknya langsung membuat musuh menjadi abu.
Tak berselang lama setelah Bayu menghabisi pengeroyoknya, Jaka dan Cempaka pun berhasil menghabisi seluruh anak buah Dedemit Sukma Ular. Hal ini membuat bangsa lelembut itu menjadi berang. Ia pun membaca mantra, sehingga tiba-tiba saja di sampingnya muncul dua ekor ular bertubuh manusia. Satu perempuan, satu lelaki.
“Ada apa kakang memanggil kami?” tanya Siluman ular yang lelaki.
“Liat keadaan sekelilingmu.”
Adik lelaki seperguruan Dedemit Sukma Ular itupun mengedarkan pandangannya kesekeliling tempat itu. Betapa terkejutnya dia melihat puri yang porak poranda ditambah mayat-mayat siluman ular yang bergelimpangan.
“Siapa yang melakukan ini kakang?”
“Lihatlah ketiga orang yang berada di depan kalian. Mereka itulah pelakunya.” Jawab Dedemit Sukma Ular.
“Hmmm.. aku sudah memperingatkanmu kakang untuk tidak ikut campur lagi denganurusan manusia. Tapi kau tak pernah mendengarkan ucapanku, hingga seperti ini jadinya.” Gerutu siluman ular betina.
__ADS_1
“Tidak mungkin aku menolak titah yang mulia Raja Selatan Laksmi. Kau kan tahu sendir, dengan bantuan pedang pusaka miliknya kita bisa hidup seperti ini. Sekarang ia meminta bantuan kita, tak mungkin kita bisa menolaknya.”
“Terserah kau lah kakang. Hanya saja kelak bila kita tewas pasti akan membuat murka guru kita Raja Siluman Ular. Aku hanya tidak ingin beliau mengotori tangan sucinya karena hendak membalaskan dendam kita.” Sahut Laksmi si Ular Betina kesal.
“Benar kakang Branadatu, sebenarnya bukan kami enggan membantumu, hanya saja resiko yang kita hadapi tidaklah kecil dan akan beresiko kehancuran bangsa kita.” Ucap siluman ular kedua yang bernama Raksutama.
“Hmmm.. apapun resikonya aku yang bertanggung jawab. Sekarang kita habisi ke tiga orang ini.”
Mendengar ucapan kakak tertua mereka, Laksmi dan Raksutama melesat menyerang lawan mereka masing-masing. Laksmi menghadapi cempaka, sedangkan Raksutama menghadapi Jaka. Dedemit Sukma Ular sendiri telah bersiap menghadapi Bayu.
Tiga orang manusia sedang berhadapan dengan tiga orang manusia ular. Pertarungan unik dan langka itupun dimulai. Laksmi menyerang cempaka dengan kibasan ekornya. Cempaka yang sudah dapat kehebatan lawannya, tidak berani gegabah menyanbut langsung kibasan ekor itu.
Melihat lawannya melompat menghindari kibasan ekornya, Laksmi langsung menyambar tubuh lawab yang masih berada di udara. Kedua Telapak tangan si putri ular mengarah ke tubuh Cempaka. Yakin dengan kekuatannya sendiri Cempaka
Blessshhh..
Kedua pasang telapak tangan beradu. Tak ada ledakan terjadi, namun tiba-tiba saja Laksmi menggigil hebat. Tepalak tangannya menempel pada telapak tangan Cempaka, sementara hawa sakti tenaga dingin merayap melalui telapak tangannya.
Sedikit demi sedikit tenaga dingin yang merayap berubah menjadi es. Semua terlihat dari telapak tangan Laksmi yang mulai diselimuti es. Sedikit demi sedikit seluruh tubuhnya menjadi es. Sampai akhirnya ular betina itu tewas dengan kondisi tubuh membeku.
Bersambung..
Salam Dunia Persilatan
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
__ADS_1