Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Tewasnya Amok Seta


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...


...Episode 288...


Dua ekor kuda melaju dengan cepat bertolak dari Lembah Neraka menuju Benteng Dewa. Setelah menempuh waktu seharian semalaman kedua penunggang kuda itu sampai di tempat tujuan, perguruan tangan dewa. Mereka adalah Bayu si Rajawali merah dan juga Arya murid utama perguruan tangan dewa. Mereka kembali  ke perguruan tangan dewa dengan tujuan untuk mencari sisa-sisa petunjuk mengenai roh burung api keramat.


Sesampainya di Benteng Dewa para murid perguruan Tangan Dewa memberi hormat kepada keduanya. Keduanya pun membalas penghormatan seadanya sambil tetap berjalan menuju ke arah ruang pusaka. Mereka tidak mengambil waktu untuk beristirahat, karena berencana akan langsung bergabung dengan pasukan Raden Raga Lawing yang juga bertolak ke kota Raja. Sementara Pranggala bersama Intan dan Nalini diikuti puluhan anggota istana Lembah Neraka sudah bersiap menyambut pasukan Raden Raga Lawing untuk bergabung.


“Ketua, nampaknya apa yang kita cari tidak ada. Catatan kecil itu satu-satunya petunjuk mengenai  burung api keramat. Sepertinya hanya kekuatan ketua yang  mampu melawan sepasang burung api keramat itu. Terlebih lagi apa bila sampai tenaga mereka kembali sepenuhnya,” ucap  Arya.


“Aku sendiri ragu apakah bisa menghadapi mereka apabila kekuatan mereka telah kembali sepenuhnya. Pada  dasarnya ilmu penyakit dalam alam semesta yang aku miliki saat ini hanya mencapai tingkat ke lima. Rasa-rasanya  untuk bisa mengalahkan mereka setidaknya aku harus mencapai ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke enam,” sahut Bayu.


Arya terdiam mendengar ucapan dari Bayu itu. Ia memang mengetahui bahwa Bayu belum menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta  sepenuhnya. Bangkitnya sepasang burung api keramat bisa jadi  merupakan ancaman kehancuran bagi dunia persilatan, bahkan jagat raya ini. Saat ini ia merasa harapan menjaga ketentraman dunia persilatan dan jagat raya hanya pada Bayu dapat disandarkan.


“Sebaiknya kita cepat ke Kotaraja untuk bergabung dengan pasukan Raden Raga Lawing,” Ucap Bayu mengalihkan pembicaraan.


Arya menganggukkan kepalanya. Ia tahu sang ketua tidak ingin membahas hal tersebut. Setelah  mengganjal perut mereka dengan sedikit makanan, Bayu dan Arya kembali meninggalkan benteng Dewa menuju kota Raja. Mereka memperkirakan dengan melakukan perjalanan menaiki kuda dan tidak perlu terburu-buru akan sampai tepat waktu di kota raja.


Setelah setengah harian mereka melakukan perjalanan berkuda, langkah mereka kembali terhenti di sebuah hutan. Terdengar suara sebuah pertarungan tak jauh dari tempat mereka berhenti. Dari suaranya, yang bertarung bukanlah orang sembarangan.

__ADS_1


Sekitar lima puluh tombak dari tempat berhentinya Bayu dan Arya nampak Siluman ular dan beberapa orang berpakaian serba hitam sedang bertarung melawan rombongan Pertapa Sakti Tanpa Nama. Dilihat dari jalannya pertarungan, pihak pertapa sakti tanpa nama berada pada posisi di bawah angin. Bahkan kini hanya pertapa sakti tanpa nama, jari malaikat, dan iblis muka hitam yang tinggal berjuang untuk bertahan hidup.


Sebenarnya apakah yang terjadi? Mengapa pihak Pertapa Sakti Tanpa Nama bersama orang-orangnya sampai bentrok dengan Raja Siluman Ular dan orang-orang berpakaian serba hitam.


Siluman Raja Ular yang waktu itu dipecundangi oleh Bayu saat melakukan penyerangan ke benteng Dewa kabur dan tidak lagi kembali ke istana raja selatan. Ia memutuskan untuk tidak lagi berpihak pada Pangeran Mandaka. Sebaliknya, Raja Siluman Ular menemui Raja Barat untuk menawarkan tenaga dan bekerjasama dengannya. Dengan pertimbangan memerlukan tambahan orang-orang persilatan yang memiliki kesaktian tinggi.


Setelah diterima bergabung dengan Raja Barat, Raja Siluman ular diberi tugas untuk mengejar rombongan Pertapa Sakti Tanpa Nama dan menghabisinya. Raja Siluman Ular pun mencari keberadaan mereka hingga akhirnya bertemu  saat sedang berkumpul di sebuah hutan tak bernama untuk merencanakan langkah selanjutnya menyelamatkan ketua-ketua perguruan yang terkena pengaruh orang-orang kerajaan Barat. Tak tahunya malah mereka yang di dahului orang.


“Jari Malaikat, cepat kau tinggalkan tempat ini! Paling tidak ada satu orang diantara kita yang selamat agar nantinya bisa memberitahukan kejadian ini pada Pendekar Halilintar,” seru Pertapa Sakti tanpa nama.


“Sebaiknya tetua saja yang meninggalkan tempat ini. Nyawa tetua lebih berharga daripada nyawaku ini. Jari Malaikat mati, akan banyak yang melebihi jari malaikat muncul, namun pertapa sakti tanpa nama tak kan ada penggantinya,”  jawab Jari Malaikat.


Raja Siluman Ular kembali memerintahkan beberapa orang berpakaian serba hitam menyerang tiga orang yang tersisa. Walau dari segi tenaga orang-orang berpakaian serba hitam kalah, namun mereka pasukan-pasukan pancasona yang tidak bisa mati. Beberapa kali lawan roboh bahkan sampai putus kepalanya, namun selalu saja dapat bangkit dan kembali seperti semula.


Sementara Pertapa Sakti tanpa nama dan dua orang lainnya memiliki tenaga yang terbatas. Setelah sekian lama bertarung, mereka nampak mulai kepayahan. Terutama Amok Seta si Iblis Muka hitam. Nampak begitu banyak darah mengalir dari luka ditubuhnya.


Craaakkk..


Pedang Salah seorang penyerang menembus tepat di jantung Amok Seta. Sahabat Pertapa Sakti Tanpa nama itupun langsung oleng tersuruk kebelakang. Mulutnya menyemburkan darah segar. Setelah beberapa saat kelojotan, Amok Seta menghembuskan nafas terakhirnya.

__ADS_1


“Amok Seta!” Jerit Pertapa Sakti Tanpa Nama. Orang tua itu berusaha untuk menolong sahabatnya, namun serangan lawan semakin bertambah hebat dan bertambah jumlahnya.


Perasaan sesak mulai melanda Pertapa Sakti Tanpa Nama. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat detik-detik sahabatnya meninggalkan dunia ini. Yang membuatnya merasa sangat sedih, ia tidak sempat menolong sahabatnya itu. Dengan amarah yang meluap-luap Pertapa Sakti Tanpa Nama menyerang lawannya membabi buta, walau ia berhasil melukai lawan, tetap saja ilmu Panca Sona milik musuh membuat mereka kembali dalam keadaan semula.


Tak berbeda dengan keadaan Pertapa Sakti Tanpa Nama, Jari Malaikat pun kewalahan melawan musuhnya. Berapa kali ia terseok-seok terkena sambaran pedang lawan, sementara serangannya sendiri selalu kandas dengan bangkitnya kembali musuh. Ditambah lagi darah semakin banyak berceceran keluar dari bagian tubuhnya yg terluka.


Craaaakkk..


“Ukhhh..”


Satu tusukan bersarang di bahu kanan Pertapa Sakti  Tanpa Nama, orang tua itupun menjerit kesakitan. Untung saja pedang itu tidak menembus bagian penting dari tubuh orang tua tersebut. Walaupun harus tersungkur jatuh dan sulit bangkit lagi, tapi luka yang diterima Pertapa Sakti Tanpa Nama tidak sampai membuatnya kehilangan nyawa.


Kini hanya Jari Malaikat yang bertahan melawan orang-orang berpakaian serba hitam. Itupun perlawanannya hanya bisa menghindar, kadang melompat kadang bergulingan. Sepertinya tak berapa lama lagi, Jari Malaikat akan roboh.


Benar saja, tiga jurus berikutnya, Jari Malaikat membuang badannya menghindari serangan pedang lawan. Namun sebuah tendangan mendarat di lambungnya. Jari Malaikat pun terlempar beberapa tombak. Belum sempat ia bangkit, tiga orang berpakaian serba hitam menyerang.


Blammmm..


Tepat pada saat ketiga orang berpakaian serba hitam akan menusukkan pedang kepada jari Malaikat, serangkum tenaga sakti menyerang ketiganya. Tiga orang berpakaian serba hitam terlempar belasan tombak. Bagian dada ketiganya berlubang dan nampak ada warna kehitaman karena gosong. Namun hanya sesaat mereka bangkit lagi, tubuh mereka pun kembali seperti semula.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2