
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 261 ...
“Maludra, menyingkirlah dari tempat ini dan tarik pasukanmu untuk menjauh. Aku akan menggunakan racun kelelawar hitam untuk menghabisi musuh,” ucap raja iblis kelelawar.
Mendengar ucapan dari Raja Iblis Kelelawar, panglima Maludrapun bergerak mundur sambil mengarahkan para pasukannya untuk mundur. Secara serentak pasukan yang kini hanya tersisa sekitar empat puluhan itupun mundur. Beberapa kali pasukan kota Sedaha berusaha mencegahnya dengan anak panah, selalu di tangkis oleh kekuatan sakti berbentuk halilintar hitam yang keluar dari telapak tangan Raja Iblis Kelelawar.
Raja Iblis kelelawar yang melayang di udara dalam jarak kurang lebih sepuluh tombak, mulai mengeluarkan asap hitam dari tubuhnya. Semakin lama asap hitam yang keluar dari tubuh raja iblis kau semakin banyak. Asap ini menyebar dan tertiup angin menuju kota Sedaha. Tak lama kemudian mulai terdengar teriakan-teriakan kematian dari dalam kota. Pasukan pemanah yang berasal dari dalam kota sendiri tidak berdaya menghadapi kekuatan asap beracun yang disebar oleh raja iblis kelelawar.
Untung saja asap itu tidak bertahan lama, kalau tidak niscaya akan terjadi pembantaian manusia besar-besaran di dalam kota sedaha yang melibatkan warga biasa yang tak tau apa-apa. Asap beracun itu hanya menjalar sejauh seratus tombak dari Raja Iblis dan hanya beberapa saat lamanya kemudian pudar. Beberapa orang prajurit yang sempat melarikan diri menjauh dengan jarak seratus tombak lebih pun selamat.
Hanya beberapa orang perwira yang memakai peralatan anti asap dan pasukan dedemit mayat hidup saja yang masih bertahan di benteng kota sedaha. Makhluk itu memang tidak mempan terhadap racun karena mereka bukan manusia lagi. Sekitar lima orang dedemit mayat hidup menuruni benteng kota sedaha kemudian melompat menyerang Raja Iblis Kelelawar yang berada di atas.
Walaupun raja iblis Kelelawar memiliki kesaktian bisa melayang di udara namun apa yang dimilikinya tidak seperti kekuatan yang dimiliki oleh Bayu atau raja barat. Raja iblis kelelawar saat berada di udara hanya bisa diam di tempat ia melayang saat melakukan serangan. Tentu saja ini sangat membatasi geraknya saat melayani serangan-serangan musuh.
Karena gencarnya Serangan yang dilakukan oleh lima orang dedemit mayat hidup, raja iblis kelelawar turun dari udara. Kemudian tangan kanan Raja barat yang bernama Braja Pasupata itupun melayani serangan dedemit itu di atas tanah. Berbeda dengan keadaan sebelumnya saat di udara, pada saat dia berada di atas tanah hanya dalam beberapa jurus saja kelima orang dedemit mayat hidup itu pun roboh tak bangkit lagi.
Panglima pasukan pertahanan kota yang melihat lima orang dedemit mayat hidup anak buahnya kalah, ia pun kembali memerintahkan sepuluh orang dari dedemit mayat hidup lain untuk turun menghadapi raja iblis kelelawar. Serentak sepuluh orang demit mayat hidup melompat keluar benteng. Mereka langsung menyerang raja iblis kelelawar dengan gencar.
__ADS_1
Tapi sekali lagi Panglima pertahanan kota Sedaha harus menelan kekecewaan yang besar. sepuluh orang demit mayat hidup itu tidak berguna sama sekali menghadapi raja iblis kelelawar. Hanya dalam beberapa jurus saja ke sepuluh dedemit mayat hidup itu kembali menjadi mayat tak bergerak.
“Perwira, katakan pada pemimpin kota sebaiknya meninggalkan tempat ini. Musuh terlalu tangguh untuk kita hadapi. Seharusnya kita memiliki seorang pendekar tangguh untuk menghadapi orang yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi seperti lawan kita saat ini,” ucap Panglima Pertahanan kepada salah seorang perwira bawahannya.
Kali ini panglima itu sudah mulai pesimis untuk bisa tetap bertahan menjaga kota Sedaha. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk mengungsi meninggalkan kota itu. Beberapa orang penduduk mengikuti mereka untuk meninggalkan kota sedangkan sebagian besar lainnya memilih tetap bertahan karena tidak ingin kehilangan harta benda mereka.
Menjelang sore akhirnya kota sudah jatuh ke tangan kerajaan Barat. Hal ini tentu karena jasanya Raja Iblis kelelawar membantu melakukan perlawanan terhadap para penjaga benteng kota. Kemudian panglima Maludra dengan sisa-sisa pasukannya beserta raja iblis dan anak buahnya perlahan-lahan memasuki gerbang kota Sedaha. Akhirnya kota ini dapat dikuasai sepenuhnya oleh kerajaan Barat.
Setelah kemenangan itu diraih oleh pasukan kerajaan Barat beberapa panglima perang dan juga periode dari kerajaan termasuk Raja barat sendiri datang ke kota itu. Sengaja langsung memberikan arahan kepada anak buahnya termasuk mengkritisi penyerangan panglima Maludra yang hampir-hampir gagal.
“Serangan yang kau lakukan kali ini hampir mengalami kegagalan total Maludra,” ucap Raja Barat sedikit gusar. “Kau sudah kehilangan lebih dari separu pasukanmu Maludra. Tidak layak Kau disebut sebagai seorang Panglima dengan keadaan seperti ini. Untuk itu hari ini jabatan sebagai panglima aku cabut, jabatan Panglima pasukan penyerangan aku serahkan kepada Braja pashupata. Kau akan kujadikan pembantu dari panglima sayap kiri,” ucap Raja Barat lagi dengan sangat emosi.
Panglima Maludra diturunkan jabatannya menjadi pembantu Panglima sayap kiri. Itu artinya sekarang Panglima Maludra berada di bawah pimpinan panglima sayap kiri Daru Parima yang melakukan penyisiran di sebelah kiri kerajaan selatan. Walaupun sulit untuk menerimanya, namun mau tidak mau Panglima Maludra pasrah akan nasibnya.
“Selanjutnya pasukan utama yang melakukan penyerangan di titik-titik utama kerajaan Selatan berada di bawah pimpinan Braja pashupata. Siapapun yang tidak mentaati perintahnya sama saja dengan tidak mentaati perintahku maka ia wajib dipenggal,” tegas Raja Barat.
Setelah selesai memberikan arahan dan melakukan pergantian jabatan panglima perang, raja kerajaan barat meninggalkan tempat itu, diikuti dua orang pembantu utamanya.
Sementara itu perjalanan Dewi api dan bawahannya sudah mendekati lembah neraka. Mereka langsung memilih tempat singgah di dekat Istana lembah Neraka. Di desa terdekat rombongan dewi api memilih penginapan sambil memantau keadaan. Merekapun sudah berganti penampilan menjadi orang-orang dunia persilatan khas negeri selatan.
__ADS_1
“Yang Mulia Dewi, telik sandi kita datang membawa berita ingin menghadap,” ucap Eka Wira kepada Dewi Api.
Saat itu memang Empu Yudiba, Eka Wira, dan beberapa orang suku api sedang berkumpul di kamar Dewi Api yang sengaja dipilihkan paling besar di penginapan itu. Di kamar itulah menjadi tempat apabila Dewi api meminta mereka berkumpul membicarakan sesuatu. Seperti kali ini Dewi tapi menyuruh mereka berkumpul untuk membicarakan rencana yang akan dilakukan untuk menyantroni Istana Lembah Neraka.
“Suruh dia masuk untuk menghadap!” sahut Dewi Api memberikan perintah.
Tak lama kemudian seorang lelaki berpakaian serba hitam yang di bagian dadanya tergambar sebuah istana di kelilingi api masuk ke dalam kamar menghadap Dewi Api. Di lihat dari penampilannya orang ini merupakan anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka tingkat pertama. Setelah berhadapan dengan Dewi Api orang itupun berlutut.
“Maja Sena wakil ketua aliran suku api menghadap dewi,” ucap lelaki yang berusia sekitar empat puluh tahunan itu.
“Bangunlah!” sahut Dewi Api yang berada dalam tubuh Nalini itu.
Kemudian lelaki yang bernama Maja Sena itupun bangkit. Orang ini memang wakil ketua aliran suku api. Sebenarnya ia memiliki tingkat kemampuan yang tinggi, bahkan berada di atas Eka Wira yang menjadi ketua aliran. Oleh Empu Yudiba ia ditugaskan menyusup kedalam Istana Lembah Neraka untuk menyelidiki keadaan.
Mengapa bisa orang yang berkemampuan paling tinggi di suku api ini hanya menjadi wakil ketua dalam aliran suku api? Hal ini di karenakan ia bukan merupakan seorang keturunan yang dianggap bangsawan. Bagi suku api yang bukan keturunan bangsawan hanya bisa menjadi wakil dalam aliran suku api.
Dalam suku api kedudukan tertinggi ada pada jabatan pelindung. Ia dianggap sebagai wakil dewi api yang mereka sembah. Saat ini kedudukan pelindung dipegang oleh empu Yudiba. Selanjutnya di urutan kedua adalah seorang ketua, lalu sang wakil hingga seterusnya.
Bersambung
__ADS_1