Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
43. Tewasnya Malaikat Petir


__ADS_3

Tanpa sempat menyambut tubuh gurunya yang terlempar diakibatkan pukulan Raja Iblis Bukit Tengkorak, di depan matanya sendiri Jaka Melihat tubuh malaikat Petir yang jatuh menabrak sebatang pohon. Pendekar halilintar memangku tubuh Gurunya yang terluka. Nampak kecemasan dari raut wajahya.


Tak lama kemudian beberapa orang dari kelompok pengobatan datang bersama cempaka. Langsung saja orang-orang yang telah dilatih Dewa Obat itu menjalankan tugasnya.


“Cari mati…” ejek Raja Iblis Bukit tengkorak dengan senyum liciknya melirik ke arah Malaikat Petir.


“Baiklah aku setujui tantangan kalian dari Benteng Dewa. Hanya saja pertandingan itu bukan satu lawan satu, namun berkelompok.” Tegas Bayu


“Kelompok pertama terdiri dari dua orang, dari Istana Lembah Neraka diwakili Dua Iblis Pelebur Sukma.” Kedua Iblis Pelebur Sukma itupun membungkuk mendengar perintah Bayu.


“Kelompok kedua terdiri melawan tiga orang penjaga naga kami, Pendekar Tongkat Emas, Datuk Seribu Wisa, dan Dewi Pedang Khayangan.


Seketika pecah riuh penonton menggema ditempat itu. Nama Pendekar Tongkat Emas dan Dewi Pedang Kayangan yang merupakan tokoh-tokoh sakti aliran putih tidak mereka sangka telah bergabung dengan Istana Lembah Neraka.


“Guru” desis Cempaka melihat gurunya yang beberapa tahun belakangan ini menghilang ternyata ternyata telah bergabung dengan Istana Lembah Neraka. Semula ia tidak mengenali gurunya itu dikarenakan Dewi Pedang Khayangan menggunakan kain menutupi wajahnya. Sehingga hanya mata nya saja yang terlihat.


“Kelompok ke tiga dari Istana Lembah Neraka diwakili tiga Dewa dunia Persilatan”


Mendengar ucapan Bayu, hampir semua dari pihak Benteng Dewa dan penonton di sana bereaksi. Nama ini tentu akan membuat gentar siapapun yang mendengarnya.


“Ke empat, satu orang dari kalian akan melawan Raja Iblis Bukit Tengkorak” kali ini Bayu menyebut nama Pelindung Istana Lembah Neraka itu dengan nada sedikit bergetar, dan pandangannya tertuju pada Pendekar Halilintar.


“Kelima, aku sendiri. Dari pihak kalian aku persilahkan mengutus perwakilannya sebanyak apapun, bahkan aku perbolehkan menunjuk yang sudah bertarung.” Ucap Bayu dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


Mungkin bagi sebagian pihak perkataan itu merupakan sebuah kesombongan. Tapi tidak bagi anggota Istana Lembah Neraka dan Sebagian orang-orang Benteng Dewa. Ucapan yang terkesan penuh kesombongan itu mereka anggap wajar saja.


“Setuju tidak setuju itu yang sudah kuputuskan. Apabila kalian tidak setuju itu artinya kita akan berperang selayaknya orang berperang.” Tegas bayu lagi.


“Baiklah kami menyetujuinya. Namun sebelumnya kami akan berunding untuk menentukan siapa saja yang menjadi wakil kami dalam pertandingan nanti” Jawab Malaikat Bertangan Sakti.


“Guruuuu!!!


Tiba-tiba terdengar teriakan Jaka memanggil gurunya. Sontak semua pandangan mengarah ke sana. Beberapa orang dari pihak Benteng Dewa langsung meluruk menuju tempat Pendekar Halilintar. Di sana Terlihat Jaka sedang terisak memeluk gurunya. Tak jauh di sampingnya Cempaka dan Dewa Obat menyabarkannya.


“Maafkan aku ki, racunnya terlanjur menyebar ke jantung. Tak dapat aku menyelamatkannya” Ucap Dewa Obat kepada Malaikat Bertangan Sakti yang baru tiba di tempat itu.


“Sungguh kerugian dan kehilangan yang amat besar dipihak kita.” keluh Malaikat Bertangan Sakti. Ketua Perguruan Tangan Dewa itu tak kuasa membendung airmatanya. Walaupun tak mengungkapkan kesedihannya, tewasnya Malaikat Petir sahabatnya itu mau tak mau membuat nya benar-benar sedih.


“Keparat kau Iblis!” bentak Jaka. “Kubunuh kau” pekik Jaka lagi seraya melompat ke arah Raja Iblis bukit Tengkorak.


Sambil melesat dari tempatnya Pendekar Halilintar langsung mengerahkan tenaga saktinya ke tingkat tertinggi yang ia miliki. Seketika dari seluruh tubuhnya memancar aliran listrik. Tangan kanan suami Dewi Selendang Ungu pun mengepal. Tinju Halilintar Membelah Angkasa pun siap disarangkan ke tubuh lawan. Namun dalam jarak satu tombak sebelum pukulannya mengenai lawan, tiba-tiba tubuh pendekar halilintar terhenti di udara.


Berada tak jauh dari tempat Raja Iblis Bukit Tengkorak Bayu menggunakan kesaktiannya menghentikan serangan Jaka. Hanya dengan mengarahkan telapak tangan kirinya Rajawali Merah mementahkan serangan Pendekar Halilintar, lalu melemparkannya kembali ke tempat semula tanpa menyentuhnya sedikitpun.


“Belum saatnya kalian bertarung.” Dengus Bayu Dingin.


“Sabar nak, kelak kita akan balaskan dendammu. Menyelamatkan Dunia Persilatan harus lebih dulu kita utamakan." Hibur Malaikat Bertangan Sakti. Walau sebenarnya di dadanyapun terasa sesak.

__ADS_1


Setelah berunding beberapa saat lamanya, akhirnya pihak Benteng Dewa pun selesai melakukan perundingan. Telah diputuskan bahwa yang akan bertarung pertama kali menghadapi dua Iblis Pelebur Sukma adalah Pendekar Kipas Maut dan Ketua Perguruan Macan Putih.


Dua Iblis Pelebur Sukma dan dua orang lawannya telah bersiap di arena pertandingan. Tepat di tengah-tengah bukit kosong itulah yang di jadikan arena pertarungan.


"Baiklah, sebelum kita mulai pertandingan ini kita sepakati dulu peraturannya. Siapa yang menyerah ataupun terluka dialah yang kalah." seru Malaikat Bertangan Sakti.


"Hahaha sepertinya Benteng Dewa hanya nama kosong belaka." ejek Raja Iblis Bukit Tengkorak. "Di dalam dunia persilatan bunuh membunuh adalah hal biasa saja. Apalagi untuk menentukan siapa yang terkuat." tambahnya lagi.


Hampir saja beberapa orang dari Benteng Dewa hilang kesabarannya. Kata-kata yang keluar dari mulut Raja Iblis Bukit Tengkorak begitu sangat menyakitkan bagi harga diri mereka. Padahal bagi mereka, mati dalam membela yang benar merupakan hal mulia.


"mulai... mulai... mulai..." Entah siapa yang memulai duluan, tiba-tiba dari arah kerumunan orang-orang yang menyaksikan terdengar teriakan bersahut-sahutan yang meminta pertandingan segera dimulai.


"Hahaha... sebuah pertandingan perlu sorang wasit. Bagaimana kalo aku saja yang menjadi wasitnya"


Tiba-tiba dari bawah bukit terdengar suara seorang lelaki. Semua mata serentak memandang ke bawah bukit. Terlihat tiga orang menggunakan ilmu meringankan tubuhnya menaiki bukit kosong.


Tiga sosok tubuh berkelebat melewati kerumunan orang-orang. Tepat berada di antara dua Iblis Pelebur Sukma dan wakil dari Benteng Dewa berdiri Seorang lelaki tua mengenakan pakaian putih yang terbuat dari Sutera. Di lehernya melilit mantel putih terbuat dari kulit beruang berwarna putih. Di samping kanan dan kirinya berdiri dua orang yg menggunakan pakaian hitam dan putih.


"Raja Pulau Es! sebuah kehormatan bagi kami kau bersedia datang dan menjadi saksi pertandingan ini." Ucap Malaikat Bertangan Sakti seraya menjura memberikan hormat.


"Hahaha, sebuah kesempatan langka bagiku menyaksikan pertandingan orang-orang sakti di daratan ini." balas Raja Pulau Es.


"Bagus, dengan adanya Raja Pulau Es dan orang-orang yang ada di sini, tidak ada satu orang pun yang bisa mungkir dari perjanjian. Siapapun yang kalah akan menjadi budak pihak yang menang hahaha." sambut Raja Iblis Bukit Tengkorak.

__ADS_1


"Benarkah begitu perjanjiannya, Malaikat Bertangan Sakti?" tanya Raja Pulau Es yang sedikit kaget mendengar ucapan Raja Iblis Bukit Tengkorak.


__ADS_2