
Di zaman itu daratan bumi terbagi dalam empat bagian, daratan utara, timur, barat dan selatan. Masing-masing di pimpin oleh seorang raja. Sudah ratusan tahun lamanya Empat Kerajaan tak pernah berperang. Apabila ada permasalahan pasti selalu diselesaikan dengan cara kekeluargaan.
Di sebelah utara bumi daratan, pantai pesisirnya terkenal akan keindahannya. Banyak orang-orang datang untuk sekedar menikmati keindahan alam atau bahkan menetap di daerah itu. Raja yang penjadi penguasa di sana terkenal akan keadilan dan kemurahannya. Sehingga menambah rasa aman bagi siapapun yang ada di sana.
Salah satu pesisir yang sering di datangi oleh para pelancong adalah Pantai Bojana. Kenapa pantai ini di namakan pantai Bojana, karena letaknya berada di desa yang bernama Bojana. Bojana sendiri artinya pesta jamuan. Memang di desa ini sering diadakan pesta dan jamuan-jamuan untuk pejabat negara yang datang.
Di rumah kepala Desa Bojana, beberapa hari ini sering di datangi tabib dan ahli pengobatan. Semua memang di karenakan undangan dari kepala desa itu sendiri. Sudah banyak tabib yang datang, tapi tak satupun yang mampu membantunya.
"Sudah satu purnama lebih anak muda ini tidak sadarkan diri. Entah apa yang telah terjadi padanya. Namun yang anehnya, tanpa makan dan minum tubuhnya tak sedikitpun mengalami penyusutan." keluh kepala Desa Bojana.
Di kasur kamar tamu rumah kepala desa nampak seorang pemuda terbaring tak sadarkan diri. Di sisi kasur duduk dua orang lelaki paruh baya sambil sesekali memegang dahi si pemuda. Lelaki yang berpakaian coklat bernama Ki Jatar yang merupakan kepala desa Bojana. Lelaki yang satunya lagi bernama Ki Farja. Kepala keamanan desa Bojana.
"Bagaimana menurutmu Farja, apakah yang harus kita perbuat pada pemuda ini. Semenjak kita temukan hanyut di pesisir pantai, sampai sekarang tak sekalipun dia sadar. Sekilas seperti orang sedang tertidur. Tapi bagaimana mungkin tidur selama ini" ucap Ki Jatar
"Aku juga tak habis pikir ki. seandainya tak memikirkan rasa kemanusiaan kita kubur saja dia hidup-hidup."
Ki Jatar hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan ucapan pembantunya. Sebenarnya iapun pernah kepikiran untuk membuang saja pemuda ini kembali kelaut. Tapi Lelaki itu mengurungkan niatnya karena rasa kasihan. Apalagi melihat anak gadisnya yang telaten merawat anak muda itu, rasanya tak ingin membuat semuanya jadi sia-sia.
"Tuan, ada seorang ahli pengobatan yang ingin bertemu."
Seorang lelaki datang tergopoh-gopoh menghampiri kepala desa. Ia memberitahukan bahwa ada seseorang yang datang meminta bertemu dengannya. Ki Jatarpun bergegas keluar kamar untuk menemui orang yang datang.
"Selamat datang ki Ragas. Sudah lama aku menunggumu. Rasanya sudah tidak ada lagi tabib di negeri ini mampu menolong kami." tegur ki Jatar kepada seorang lelaki tua berpakaian serba merah.
__ADS_1
"Ada masalah apa Jatar sampai-sampai kau harus memanggil si Tabib Merah ini" tanya Ki Ragas atau Tabib Merah ini dengan pongah.
"Mari ki, kubawa kau ke kamar tamu."
Bukannya menjawab pertanyaan Tabib Merah, ki Jatar malah mengajak Tabib Merah ketempat tadi. Sesampainya di kamar tamu tempat si pemuda terbaring, bukan hanya ki Farja ada di sana. Seorang anak gadis sedang memberikan minum pada pemuda yang tak sadarkan diri.
"Ini ki masalah kami." Kata Ki Jatar sambil tangannya menunjuk ke arah pemuda yang sedang terbaring itu. "Sudah satu purnama ia seperti itu, terbaring tanpa sadarkan diri. Kami menemukannya terdampar di pesiair. Mungkin hanyut terbawa arus."
Mendengar keterangan ki Jatar, tergerak jua hati Tabib Merah untuk segera memeriksa pemuda yang di maksud. Setelah meminta izin kepada ki Jatar dan anak gadisnya yang ada di situ, Tabib Merahpun mulai memeriksa si pemuda. Mula-mula ia memeriksa nadi si pemuda, lalu dia berpindah ketitik saraf tertentu yang ada di tubuh pemuda itu.
"Bagaimana ki?" tanya ki Jatar pada Tabib Merah. Ia menjadi penasaran melihat lelaki ahli pengobatan itu berkali-kali mengerutkan keningnya.
"Siapa yang selama ini mengurusnya ki?" ucap Tabib Merah bertanya balik.
Bukannya menjawab pertanyaan ki Jatar Tabib Merah malah kembali memeriksa tubuh si pemuda. Beberapa kali dia menekan bagian-bagian tertentu yang menjadi titik olah tenaga ahli silat biasanya. Tabib Merah kembali mengerutkan keningnya. Kali ini bahkan sampai membuatnya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kenapa ki?" desak Ki Jatar tampak sangat penasaran.
"Bukankah tadi kau bilang sudah satu purnama ia tak sadarkan diri. Dari kitab pengetahuan yang pernah aku baca, orang yang mungkin mengalami kejadian ini hanya mereka yang sedang atau telah mempelajari ilmu tingkat tinggi."
"Lalu apa yang kau bingungkan ki. Mungkin saja memang benar demikian. Masalahnya pemuda ini mampu tidak makan selama itu tanpa mengalami penyusutan badan."
"Bukan seperti itu ki. Seandainya anak ini memang seorang yang mempelajari ilmu tingkat tinggi, seharusnya saat ku periksa di titik pengumpul tenaga tadi, akan ada reaksi di sana. Minimal akan terasa aliran tenaga yang mengalir. Tapi semua itu tidak ada sama sekali."
__ADS_1
"Hmmm... apalagi aku ki, yang tak mengerti sama sekali. Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Waktu merawat dan menjaga anak ini apakah pernah dia bergerak atau bahkan berbicara?" tanya Tabib Merah lagi.
Ayah dan anak serempak menggelengkan kepala mereka.
"Memang betul-betul aneh. Baiklah, kalian dudukkan pemuda itu aku akan membangunkannya dengan memberikan kejutan di tubuhnya melalui aliran tenaga sakti." perintah Tabib Merah kepada ki Jatar.
Si pemuda pun di dudukkan di pembaringan. Kemudian Tabib Merah berpindah posisi kebelakang pemuda itu. Kedua Tanggannya di tempelkan di punggung si pemuda. Kemudian ia pun mengalirkan tenaga saktinya.
Beberapa saat saja ia mengalirkan tenaga ke tubuh pemuda itu, Tabib Merah langsung menghentikan dan menarik tangannya. Terlihat keringat sebesar biji jagung mengalir di leher dan pipinya. Dari wajahnya terlihat raut keterkejutan.
"Kenapa Ki?" tanya Ki Jatar.
"Aneh sekali, sungguh sangat mengherankan." Jawab si Tabib Merah. "Baru kali ini aku mengalirkan tenaga tapi tak merasakan apa-apa. Seolah-olah aku mengalirkan tenaga pada mayat saja. Bagaikan menyiram air di samudera, tak ada pengaruh apapun." tambahnya lagi.
"Tidak mungkin dia sudah mati ki. Nafasnya masih ada, detak jantungnya masih ada bahkan bila aku kasih minum air itu tetap masuk ketenggorokannya" bantah anak gadis Ki Jatar.
"Nalini, jangan memotong pembicaraan orang tua" bentak Ki Jatar yang tak senang anaknya turut berbicara mengenai pemuda itu.
Nalini buru buru menutup mulutnya. Gadis cantik itu langsung tertunduk dengan wajah memerah. Antara perasaan malu atau kesal yang ia rasakan.
“hahaha... Tidak usah terlalu keras Jatar terhadap putrimu. Seperti kau tak pernah muda saja” ledek Tabib Merah.
__ADS_1