
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 161...
Nalini terdiam mendengar ucapan Bayu. Gadis itu tak bisa lagi berkata-kata dengan ucapan tegas si pemuda. Ia pun menyandarkan badannya di batang pohon yang bersebelahan dengan Bayu.
“Kita akan membantu mereka Nalini. Dengan cara kita, tanpa harus memberitahu mereka.” Ucap Bayu masih dalam keadaan memejamkan mata.
Mendengar ucapan Bayu Nalinipun tersenyum girang. Ia memejamkan mata untuk beristirahat. Tidak ada perasan sesenang ini ia rasakan ketika Bayu memiliki niat untuk membantu orang lain. Walau pemuda itu tidak ingin orang lain mengetahuinya.
Keesokan harinya Jari Malaikat, Nyai Penjaga Bunga serta ke empat muridnya berjalan menuju sebuah penginapan yang berada di dekat perbatasan desa Taruma Saka. Di penginapan sekaligus rumah makan itu mereka melakukan pertemuan dengan beberapa orang tokoh persilatan. Ternyata di sana menjadi tempat pertemuan rahasia yang sudah di rencanakan jauh hari oleh seseorang.
“Nyai, sebenarnya siapa yang mengundang kita ke sini?” tanya Jari Malaikat.
“Lihat saja nanti, aku sendiri belum jelas siapa yang mengundang kita. Yang pasti salah satu tokoh besar dunia persilatan salah satu dari mereka.” Jawab Nyai Penjaga Bunga.
Tak berapa lama kemudian datang serombongan kecil orang memasuki rumah makan. Mereka berjumlah sekitar delapan orang. Diantara mereka terdapat Raga Lawing dan Maung Kembar Hutan Garu. Satu orang di antara mereka mengenakan pakaian serba putih dengan caping yang dihiasi kain berwarna putih pula. Nampak orang itu yang memimpin
“Selamat pagi kawan-kawan dari dunia persilatan.” Sapa Orang bercaping sambil menjura ke semua arah di tempat itu.
Segera orang-orang yang berada di sana berdiri membalas penghormatan orang bercaping. Sepertinya mereka yang ada di sana benar-benar terdiri dari orang-orang dunia persilatan. Bahkan dilihat dari mereka yang datang semua berasal dari orang-orang aliran putih.
“Sebelumnya aku ingin menyampaikan permohonan maafku membuat kalian menunggu.” Ucap orang bercaping seraya melepas caping penutup wajahnya.
“Malaikat Putih!!” Seru semua orang ketika melihat wajah orang bercaping.
__ADS_1
Setelah orang itu membuka capingnya Nampak seorang tua dengan wajah pucat hingga terlihat sangat putih. Rambut, alis dan janggutnyapun berwarna putih. Bahkan kedua bola matanya pun berwarna putih semua.
Dia orang tua berusia sekitar sembilan puluh tahunan yang bernama Paradhuta. Di dunia persilatan ia dikenal sebagai Malaikat Putih. Hal ini bukan hanya di karenakan sepak terjangnya yang lurus pembela kebenaran, tapi dari sejak muda rambut, alis, dan bola matanya sudah berwarna putih. Konon semua berhubungan dengan ilmu yang dipelajarinya, Ilmu Naga Putih.
Pada usia mudanya banyak tokoh-tokoh aliran hitam yang dihabisinya. Hingga di zaman itu banyak orang-orang beraliran hitam menyembunyikan diri. Namun pada saat orang itu berusia tiga puluh tahun ia menghilang tanpa jejak. Semenjak itu juga tokoh-tokoh aliran hitam bermunculan.
“Maaf mengejutkan kalian semua. Mungkin semua yang ada di sini bertanya kemana selama ini aku menghilang. Secara singkat aku katakan bahwa di usia tiga puluh tahun itu aku telah mengabdi kepada kerajaan Selatan. Sejak itu pula aku memutuskan untuk tidak lagi terlibat dalam urusan dunia persilatan.” Tutur malaikat Putih.
Tiba-tiba terdengar ribut riuh di tempat itu. Hampir semua orang yang ada di sana bereaksi atas penuturan Malaikat Putih. Ada yang menanggapinya baik, ada pula yang menanggapinya dengan sinis. Namun semua akhirnya diam kembali menunggu apa yang akan disampaikan pihak pengundang.
“Baiklah, langsung pada pokok pembicaraan. Sebelumnya ku terangkan pada kalian bahwa saat ini keadaan kerajaan tidak dalam keadaan baik-baik saja. Raja sekarang yang bertahta merupakan orang yang kejam, dan berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat. Sehingga menimbulkan gejolak di kerajaan dan mengundang pemberontakan di tubuh rakyat.
Di sampingku ini adalah Raden Raga Lawing, putra salah seorang panglima yang berperan penting di Kerajaan Selatan. Beberapa tahun yang lalu ayahnya sang panglima dihukum gantung karena memprotes kebijakan yang merugikan rakyat. Kerajaan memberikan hukuman mati kepada seluruh anggota keluaga sang panglima. Melihat itu aku tak bisa tinggal diam sehingga membawanya melarikan diri dari kerajaan.
Dalam pelarian kami bertemu banyak para pemberontak yang tidak puas akan pemerintahan raja yang sekarang. Lalu beberapa bulan yang lalu aku berhasil mengumpulkan semua kepala pemberontak dan menyatukan mereka dalam satu kepemimpinan. Semua bersepakat mengangkat Raden Raga Lawing ini sebagai pimpinan sekaligus raja yang diangkat saat pemberontakan nanti mendapatkan kemenangan.
Sesaat Malaikat Putih diam. Ia mencoba melihat tanggapanhadirin di situ. Dilihatnya mereka belum ada yang bereaksi. Ia pun melanjutkan penuturannya.
“Saat ini Raja Selatan dibantu beberapa tokoh persilatan aliran hitam melakukan pembunuhan dan penculikan para tokoh aliran putih. Hal ini bertujuan untuk mencegah para tokoh persilatan Bersatu di banteng dewa di bawah ketua dunia persilatan terpilih. Sang raja takut persatuan itu dimanfaatkan untuk melakukan kudeta.”
“Apakah ini ada hubungannya dengan menghilangnya beberapa orang ketua perguruan dilat aliran putih, dan tewasnya beberapa orang tokoh aliran putih.” Tanya Dewi Sesat Lembah Beracun.
“Entahlah, bisa jadi ada hubungannya. Apakah sudah ada kejadian seperti itu.” Tanya Malaikat Putih.
“Benar tetua. Bahkan di perguruan Jari Sakti ada yang menyamar menjadi Jari Malaikat ketua perguruan tersebut, hingga ketua yang asli tersingkir.” Timpal Nyai Penjaga Bunga.
__ADS_1
“Benar-benar sudah dijalankan rupanya rencana Raja Lalim itu.” Desah Malaikat Putih. “Pada intinya apabila kalian bersedia membantu pergerakan kami menggulingkan kekuasaan Raja yang dzolim ini, tentu perjuangan membela rakyat ini akan sangat mudah.” Ucap Malaikat Putih.
Semua orang terdiam. Mereka orang-orang persilatan sebenarnya tidak mau ikut campur dalam urusan pemerintahan. Namun ucapan Malaikat Putih tentang adanya pergerakan Raja Selatan yang hendak menghabisi tokoh-tokoh sakti aliran putih sudah dirasa sangat kelewatan. Tentu mereka tidak akan tinggal diam. Hanya saja itu semua belum bisa dibuktikan.
“Baiklah, ada baiknya kalian pikirkan tawaran kami. Apabila kalian berkenan temui kami di Hutan Jati Alam untuk bergabung dan menyiapkan strategi.”
Setelah mengakhiri ucapannya, Malaikat Putih dan yang lainnya pun meninggalkan tempat itu. Sementara yang lain melanjutkan makannya. Jari Malaikat dan Nyai penjaga Bunga beserta murid-muridnya memesan makanan yang belum sempat ia pesan keburu Malaikat Putih dan yang lainnya datang.
“Kenapa tadi kau tidak meminta bantuan Malaikat Putih ki?” tanya Nyai Penjaga Bunga kepada Jari Malaikat.
“Wah aku enggan berurusan dengan orang-orang yang terlibat dalam pemerintahan apalagi urusan pemberontakan. Takutnya ada timbal balik yang harus aku bayar apabila mendapatkan bantuan mereka.” ucap Jari Malaikat.
“Ya apa boleh buat, sebaiknya kita meminta bantuan teman-teman yang ada di sini mudah-mudahan mereka berkenan.” Ucap Nyai Penjaga Bunga.
Bersambung..
Salam Dunia Persilatan
Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :
1. memencet tombol like
2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.
Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.
__ADS_1
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.