
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 151...
Tak berapa lama kemudian, lelaki tadi keluar dari dalam bangunan.
“silakan masuk tuan! Di dalam majikan telah menunggu.” Ucap lelaki tadi yang kini lebih sopan dan memanggik Amok Seta dengan sebutan tuan.
Amok Seta memasuki bangunan di antar lelaki tadi. Keduanya berjalan menuju ruangan tengah. Di sana telah menunggu seorang kakek berpenampilan parlente penuh dengan perhiasan emas di leher dan jari jarinya. Lelaki itu duduk di sebuah kursi mewah di ruangan tengah tempat ia biasa menerima tamu.
“Apa Khabar Paman Amok Seta, rupanya masih saja kau bergelut dalam dunia persilatan yang hanya membikin susah itu.” Ucap lelaki itu sambal menunjuk sebuah kursi kosong di depannya isyarat menyuruh Iblis Muka Hitam duduk di situ.
“Rupanya hidupmu sudah dipenuhi dengan kemewahan Sora Dadap. Pantas saja kau tidak muncul lagi di dunia persilatan.” Sahut Amok Seta sambal duduk di kursi yang di sediakan.
“Hahaha.. hidup itu harus kita nikmati paman. Dunia persilatan tidak memberikanku apa-apa. Mau hitam mau putih aliran yang kita anut, tak satupun memberikan kesenangan hidup. Yang ada kesusahan saja yang di dapat. Oh iya, ada apa paman datang ke sini?”
Amok Seta diam sesaat. Ia sudah dapat menduga apa yang akan menjadi jawaban murid dari mendiang sahabatnya ini. Rasa-rasanya tak ada gunanya menyampaikan maksud hatinya. Amok Seta memutuskan tidak jadi menyampaikan ajakannya.
“Ahh.. tidak ada apa-apa. Kebetulan saja aku lewat sini, jadi sekalian mampir menengok murid mendiang sahabaku.” Ucap amok Seta beralasan.
“Hahaha.. aku kira ada apa. Kau bisa melihat sendiri paman, keadaanku lebih baik dari pada dahulu.” Sahut Sora Dadap. “Oh iya paman, ada apa dengan tanganmu? Tanya nya lagi.
Secara singkat Amok Seta menceritakan apa yang dialaminya saat bertarung melawan Jari Pedang. Sora Dadap beberapa kali mengerutkan keningnya mendengar cerita Amok Seta. Sampai cerita Amok Seta selesai, ia pun menghela nafas.
“Tidak di sangka ada kejadian seperti itu di dunia persilatan. Padahal Jari Pedang di kenal sebagai tokoh sakti beraliran lurus.” Ucap Sora Dadap. “Lalu setelah ini hendak kemana engkau paman?” tanyanya lagi.
Amok Seta akhirnya menceritakan perihal tujuannya datang menemui Sora Dadap. Sebelumnya ia bercerita tentang keadaanya yang kini tidak lagi menempuh jalan sesat. Bahkan dia sudah bergabung dengan pendekar-pendekar aliran putih. Hingga akhirnya muncullah kelompok Dewa Iblis Kegelapan yang ingin menguasai dunia persilatan. Lalu dia bersama-sama orang-orang aliran putih mengumpulkan kekuatan untuk menggagalkan rencana itu.
__ADS_1
“Bwahahahha..” tawa Sora Dadap seketika pecah.
“Kenapa kau ketawa Sora Dadap?” tanya Amok Seta tak mengerti.
“Mendengar kau bercerita tentang Pendekar Jari Pedang yang telah berbelok arah menjadi orang jahat saja merupakannsebuah berita yang sangat mengherankan bagiku. Tapi ternyata ada beritabyang lebih mengherankan dari itu. Kau yang berbelok menjadi pendekar pembela kebenaran hahaha.. kalau bukan kau sendiri yang bicara tentu aku tak akan percaya paman hahaha.”
Jawaban dari Sora Dadap sungguh membuat Amok Seta jadinsalah tingkah. Ia tak tersinggung sama sekali atas ucapan murid sahabatnya itu. Hanya saja hal itu membuatnya sedikit jengah. Mengingat betapa dulu ia merupakan gembong penjahat pembuat onar yangbsangat ditakuti.
“Ya begitulah keadaannya Sora Dadap. Melihatmu sekarang aku sudah dapat menduga apa yang akan kau katakan atas ajakanku.” Ucap Sora Dadap.
“Hmmm.. Aku sudah tidak ingin berurusan dengan orang-orang dunia persilatan paman. Terlebih kau tahu sendiri seandainya aku masih ada di dunia itu, akan kemanakah jalan yang ku tempuh. Aku beri nasehat padamu paman, lebih baik kau ambil jalan sepertiku ini. Tinggalkan urusan dunia persilatan.”
Sesaat keduanya terdiam. Amok Seta sebenarnya pernah berpikir untuk hidup tenang dipinggiran, menikmati hidup jauh dari keramaian. Namun semenjak ia bergaul dengan orang-orang beraliran putih, rasa-rasanya kini ia kecanduan untuk berbuat baik. Bahkan tangannya merasa gatal kalau melihat kejahatan di depan matanya, tapi ia diam tak berbuat apapun.
“Sora Dadap, mungkin kau sudah punya keputusan untuk menikmati hidupmu dengan kesenangan. Mungkin akupun punya jalanku sendiri, rasanya masa tuaku ini hendak kuhabiskan untuk menebus dosa-dosa ku yang lalu agar aku bisa mati dengan tenang.” Ucap Amok Seta.
“Baiklah paman apapun keputusanmu aku mendukung sepenuhnya. Apabila kau pun kelak ingin menghabiskan masa tuamu di sini, rumah ini selalu terbuka kapan saja engkau mau. Tinggal kau satu-satunya kerabat yang kupunya.” Ucap Sora Dadap.
Awalnya Amok Seta hendak langsung pergi meninggalkan kediaman Sora Dadap. Namun setelah di bujuk untuk menginap barang satu dua malam di rumahnya, akhirnya Amok Seta meluluskan kemauan murid sahabat karibnya itu. Amok Seta menginap di kediaman Sora Dadap selama dua malam.
Di tempat lain Bayu dan Nalini yang sedang melakukan perjalanan ke Pantai Selatan untuk menyeberang ke pulau Es mendapat sedikit gangguan. Saat kereta kuda yang mereka tumpangi melewati hutan Kayu Bulan tiba-tiba saja lima orang berpakaian serba hitam menghadang perjalanan mereka. Kelimanya menutupi wajah mereka dengan topeng berbentuk salah satu tokoh pewayangan.
“Ada apa paman?” tanya Bayu dari dalam kereta yang terkejut tiba-tiba saja kereta yang mereka naiki berhenti secara mendadak.
“Ini den, ada lima orang bertopeng menghadang kita di depan” jawab kusir kereta.
“Serahkan harta dan barang berharga kalian kalau hendak lewat hutan ini dalam keadaan masih bernafas.” Bentak salah seorang dari penghadang.
__ADS_1
Mendengar bentakan orang di luar, Bayu mengeluarkan sebagian kepalanya melihat ke arah datangnya bentakan. Kemudian pemuda itu kembali masuk kedalam kereta.
“Nalini kau jangan keluar! Tetap di sini saja, biar aku membereskan para pengacau itu.” Pesan Bayu kepada Nalini.
Kemudian Bayu keluar dari kereta, lalu melompat ke hadapan lima orang yang menghadang keretanya. Dilihatnya semua penghadang menggunakan pakaian dan topeng yang sama. Senjata mereka pun sama, sebilah pedang yang menggantung di punggung.
“Enyahlah kalian, jangan ganggu perjalanan kami, kalau kalian tak ingin menyesal selama lamanya.” Ancam Bayu.
Bukannya pergi dari tempat itu, para penghadang tetap diam di tempatnya. Kemudian seorang yang berada paling depan memberi Isyarat dengan tangannya untuk maju menyerang Bayu. Serentak empat orang maju sambil mencabut pedang di punggungnya masing-masing. Lalu merekapun melompat menerjang ke arah Bayu.
Empat bilah pedang langsung mengurung Bayu. Gerakan yang sangat teratur dan rapi keempat orang itu mainkan untuk menggempur Bayu. Pemuda itu sempat kaget melihat permainan lawan. Ia tak mengira tenaga dan jurus pedang yang dimainkan ke empat orang itu begitu dahsyat. Jurus-jurus pedang yang mereka mainkan merupakan jurus yang tak kalah hebatnya di bandingkan kepunyaan pendekar pedang kilat.
“Hmmm.. tak kusangka ada anak buah perampok memiliki permainan pedang sedahsyat ini. Aku yakin Pendekar Pedang Kilat saja belum tentu bisa bertahan sampai seratus jurus menghadapi mereka.” Gumam Bayu.
Bayu melompat ke belakang menghindari kepungan lawan. Pemuda itu langsung mengerahkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat pertamanya. Ribuan butiran embun muncul dari tubuh pemuda itu. Makin lama embun yang keluar makin banyak mengitari tubuh Bayu.
Keempat orang penyerangnya langsung menyerang Bayu dengan gempuran yang lebih dahsyat dari sebelumnya tadi. Dengan lincah Bayu melayani permainan pedang pengeroyoknya hanya menggunakan tangan kosong. Berlalu beberapa jurus, nampak pemuda itu mulai menguasai pertarungan.
Bersambung...
Mohon kesediaan pembaca sekalian yang menyukai karya ini untuk meluangkan waktu untuk memberikan like dan komentar. Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.
Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.
__ADS_1