
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 134...
“Rajawali Merah, kita berpisah di sini. Aku akan melanjutkan perjalanan menuju Hutan Pengecoh Arwah ke kediaman Pertapa Sakti Tanpa Nama. Aku harap kau dan Istana Lembah Neraka kali ini mau membantu mencegah bencana terjadi dalam dunia persilatan.” Ucap Jaka kepada Bayu.
Setelah melewati malam bertiga di Gedung bekas kediaman Raja Ular Hitam, Bayu, Jaka dan Nalini beranjak meninggalkan tempat itu. Saat bermalam di Gedung Bayu dan Jaka saling bertukar cerita tentang kehidupan pribadi mereka. Terutama Bayu yang menceritakan keadaanya belum bisa mengingat sedikitpun tentang masalalunya.
Diam-diam Pendekar Halilintar bersyukur dengan keadaan Bayu yang lupa akan keadaan masa lalunya. Dengan begitu sifat jahat pada diri si pemuda tidak lagi menjadi ancaman. Hanya saja yang ia simpulkan, kekuatan pemuda itu pun belum kembali sepenuhnya. Padahal besar harapan Pendekar Halilintar Bayu turut serta dalam menghadapi kejahatan yang saat ini mengancam.
Bayu hanya tersenyum mendengar ucapan Jaka. Setelah sama-sama saling memberi hormat mereka pun berpisah. Bayu dan Nalini melanjutkan perjalanan mereka menuju Lembah Neraka sedangkan Jaka menuju Hutan Pengecoh Arwah.
Selama tiga hari perjalanan menuju Lembah Neraka tak sedikitpun Bayu dan Nalini mengalami gangguan. Menjelang sore mereka telah tiba di desa yang berdekatan dengan lembah Neraka. Baru saja mereka memasuki desa, puluhan orang telah berlutut menanti kedatangan mereka.
“Hormat pada ketua.. semoga ketua panjang umur.” Seru orang-orang yang ternyata anggota Istana Lembah Neraka.
Keduanya di sambut lalu di kawal menuju lembah. Bukan hanya para anggota, bahkan orang-orang desa pun memberikan penghormatan kepada Bayu. Walaupun mereka tidak pernah melihat Bayu, saat tau ketua Istana lembah Neraka akan datang orang-orang desa dengan gembira menyambutnya. Memang pihak Istana Lembah Neraka sangat berperan terhadap berdirinya desa itu.
Tak sampai sepeminuman teh keduanya telah tiba di istana lembah neraka. Bayu dan Nalini memandang kagum ke sekeliling lembah dan Istana. Walaupun dari kecil berada di Lembah Neraka, namun sedikitpun Bayu tak dapat mengingat hal tersebut.
“Kak Bayu, tempat ini sangat indah. Bertolak belakang dengan namanya yang menyeramkan.” Puji Nalini.
Bayu hanya tersenyum mengangguk. Dia masih berusaha untuk mengingat-ngingat masa lalunya. Tapi sekeras apapun ia berusaha tak juga dia mampu mengingat apa yang terjadi di masalalunya.
“Ketua apakah kau ingin membaca surat wasiat orang tuamu?” Tanya Pranggala lagi mengingatkan.
“Aku belum bisa mengingat apapun paman, rasanya belum pantas membuka isi surat itu. Biarlah nanti bila ingatanku pulih aku membukanya.” Sahut Bayu.
***
“Ketua, sepertinya pemuda itu memang ketua Istana Lembah Neraka yang selama ini menghilang.” Ucap Jari Pedang
__ADS_1
“Apakah yang melukai kalian bertiga pemuda itu?”
“Benar ketua, memang kekuatan pemuda itu masih bisa kami mengimbangi. Tidak seperti kabar yang beredar tentang kehebatan Rajawali Merah ketua Istana Lembah Neraka.”
“Aku masih sangsi apakah benar yang kalian hadapi merupakan pemuda yang di sebut Rajawali Merah itu. Menurut cerita Yang Mulia, Pemuda itu sudah menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ditingkat ke lima. Apabila benar dia yang kalian hadapi, jangan harap kalian bisa kembali ke sini dalam keadaan hidup.” Ungkap Dewa Iblis Kegelapan.
Dewa Obat, Singa Lembah Hitam dan Jari Pedang yang saat itu bersama Dewa Iblis Kegelapan terdiam. Memang mereka mendapat kabar tentang kehebatan Ketua Istana Lembah Neraka dan kekejamannya. Bahkan anak buahnya sendiri tewas di tangan pemuda yang bergelar Rajawali Merah itu.
“Aku tunggu di belakang bukit. Datang bersama Dewa Obat dan Singa Lembah Hitam”
Tiba-tiba Dewa Iblis Kegelapan mendengar suara seseorang yang disampaikan melalui Ilmu Mengirimkan Suara. Suara itu hanya di dengar oleh Raja Iblis Kegelapan. Seketika wajahnya pucat.
“Ada apa ketua?” tanya Jari Pedang melihat wajah Dewa Iblis Kegelapan yang memucat.
“Keluarlah kalian semua, kecuali Dewa Obat dan Singa Lembah Hitam.” Perintah Dewa Iblis Kegelapan.
“Ada apa Pasupata?” tanya Singa Lembah Hitam kepada Braja Pasupata atau Dewa Iblis Kegelapan.
Mendengar ucapan Dewa Iblis Kegelapan, Dewa Obat dan Singa Lembah hitam menjadi pucat. Seketika keduanya terdiam menunggu arahan Braja Pasupata.
“Kita kebelakang Bukit Sekarang.” Ajak Dewa Iblis Kegelapan.
Ketiganya bergegas ke belakang bukit Benteng Dewa. Nampak sekali ketiga tokoh sakti itu benar-benar gugup. Entah siapa yang menunggu mereka di Belakang bukit.
Sampai di belakang bukit, seorang lelaki sedang menghadap kedepan memandang bukit kosong. Sehingga dari arah Dewa Iblis Kegelapan, posisi orang itu membelakangi mereka. Orang itu menggunakan jubah yang sangat bagus dan mewah berwarna biru. Di sana sini terdapat manik-manik yang terbuat dari mutiara.
“Hormat kepada Yang Mulia, semoga yang mulia panjang umur. Hidup yang mulia penguasa jagat” seru Dewa Iblis Kegelapan dan kedua orang lainnya serempak sambil bersujud berjarak lima tombak dari orang itu.
“Bangunlah..” perintah orang yang di panggil penguasa jagat itu. Ternyata pemandangan di Benteng Dewa ini sangat indah. Sayang sekali banyak yang sudah kau rubah Pasupata.” Ucapnya lagi.
“Maafkan Yang Mulia, bila anda tak berkenan, akan saya kembalikan keadaan benteng dewa seperti semula.” Jawab Dewa Iblis Kegelapan gugup.
__ADS_1
“Kedatanganku ke sini bukan untuk membicarakan kesenganganmu ini. Aku hanya ingin menanyakan kepada kalian mengapa berani membantah perintahku.”
“Maafkan kami Yang Mulia, kami tidak berani.”
Ketiganya serempak bersujud ke tanah karena gugup. Ucapan orang yang di sebut penguasa jagat itu membuat mereka benar-benar merasa cemas.
“Bukankah sudah kuperingatkan kepada kalian jangan sampai apa yang kalian lakukan bersinggungan apalagi sampai melibatkan Istana Lembah Neraka apalagi ketua mereka. Namun kulihat semakin ke sini semakin kalian bersinggungan dengan Istana Lembah Neraka.” Ketus orang itu dingin.
“Maafkan kami Yang Mulia, keadaan kami yang memaksa sampai bersinggungan dengan mereka...”
“Cukup! Aku tidak perlu alasan mu Pasupata.”
Dewa Iblsi Kegelapan langsung terdiamtak berkutik. Tidak pernah sebelumnya ia terlihat begitu tunduk dan takut kepada seseorang. Namun kali ini nampak Dewa Iblis Kegelapan benar-benar berada di bawah kekuasaan orang.
“Rencanamu yang mengumpulkan orang-orang persilatan di selatan ini untuk mengadakan pertandingan memilih ketua dunia persilatan sudah sangat gegabah. Di tambah kaupun mengundang dan menantang Istana Lembah Neraka. Perbuatanmu itu sangat beresiko. Bisa-bisa apa yang aku rencanakan selama ini terancam gagal.” Ucap Penguasa Jagad dengan nada sedikit tinggi. Nampak ia begitu marah.
“Maafkan kami yang mulia.” mohon Braja Pasupata lagi.
“Sudahlah, urusan Istana Lembah Neraka biar aku yang mengurusnya. Selanjutnya aku tidak ingin apa yang kau rencanakan ini gagal dan merusak semua rencanaku.”
“Baik Yang Mulia. Sebenarnya apa yang saya rencanakan saat ini merupakan salah satu upaya untuk mendukung dan melancarkan rencana anda.” Ucap Dewa Iblis Kegelapan masih berusaha membela diri.
“Jangan membantah dan beralasan Pasupata. Bukan kah kau tahu, kehidupan dan keadaan mu sekarang ini adalah hadiah dariku.”
Dewa Iblis Kegelapan dan dua rekannya kembali bersujud. Sekilas ia membaca ada nada kemarahan dari orang yang mereka panggil Yang Mulia. Sehingga mereka khawatir orang itu akan memberi hukuman pada mereka.
“Kalian selesaikan rencana yang sudah disiapkan dengan baik. Setelah ini aku akan ke Lembah Neraka mengurus mereka yang ada di sana.” Ucap Penguasa Jagad dengan nada sedikit tinggi.
Tiba-tiba tubuh orang itu memancarkan sinar berwarna hitam. Lama-kelamaan sinar hitam itu semakin melebar. Perlahan sinar itu merayap menutupi tubuh orang itu. Lalu secara tiba-tiba terjadi ledakan cahaya kilat berwarna hitam. Sesaat di sekitar tempat itu menjadi gelap, kemudian kembali normal seperti biasa. Namun bersamaan hilangnya sinar hitam, orang tadi pun ikut menghilang.
Bersambung...
__ADS_1
Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan abaikan saja.