Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.182. Serangan Prajurit Istana


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 182...


 “Tak salah pepatah yang mengatakan di bawah Panglima yang kuat tak ada prajurit yang lemah. Ternyata nama Istana Lembah Neraka benar-benar nama kosong.” Puji Jari Malaikat dengan suara sedikit di keraskan.


“Ahh.. tuan Pendekar terlalu memuji kami, sedikit ilmu cakar ayam ini mana bisa di bandingkan dengan pendekar-pendekar hebat yang ada di sini.” Sahut Pranggla merendah sambil menjura kepada semua orang.


“Ada apa gerangan Istana Lembah Neraka datang ke sini?” tanya Pertapa Sakti tanpa nama dingin. Ia masih sedikit penasaran dengan kejadian tadi. Hanya saja dia sadar betur tenaga orang berada diatas tenaga sendiri. Ia tak ingin memperlihatkan lagi kekalahannya di depan para pendekar yang berada di situ.


Mendengar ucapan pertapa tanpa nama yang kurang bersahabat itu, sebagian besar pendekar menampakkan wajah kurang sukanya. Apalagi melihat gelagat  orang-orang Istana Lembah Neraka yang tak menunjukkan kesan bermusuhan.


“Kedatangan kami hanya ingin menyampaikan pesan ketua kami bahwa ketua dan kami Istana Lembah Neraka tidak tertarik urusan pemilihan ketua dunia persilatan. Jadi harap para  pendekar tidak memasukkan kami dalam daftar orang yang dianggap musuh, terutama dalam perhelatan pencarian ketua dunia persilatan nanti.”


“Hmmmm.. dapatkah kami percaya omongan kalian. Sedangkan tempo dulu  kalian menunjukkan kerakusan ingin menguasai dunia persilatan. Bahkan Empu Adhiyaksona dan Malaikat Petir sampai menjadi korban.”


Kata-kata Pertapa Sakti Tanpa nama terdengar masih tak bersahabat. Terlihat wajah Pranggala sedikit gusar, hanya saja ia masih berusaha menahan. Sedangkan dua orang bawahannya yang lain nampak sudah mengepalkan tangannya.


“Baiklah kalau begitu, kami hanya menyampaikan pesan. Sekali lagi kami mohon maaf kiranya kehadiran kami mengganggu pertemuan kalin. Mari..”


Setelah mengakhiri ucapannya Pranggala bersama kedua orang anak buahnya melesat meninggalkan tempat itu. Kepergian mereka cepat sekali. Bahkan dibilang sangat cepat untuk ukuran kesaktian seorang bawahan.


“Pantas saja kesaktian Bayu diibaratkan kesaktian dewa, anak buah ditingkat menengahnya saja memiliki kesaktian rata-rata pendekar utama sebuah perguruan besar. Aku percaya pemuda itu tidak memiliki keingianan untuk menjadi ketua dunia persilatan.” Gumam Jaka.


“Akupun pernah ditolong orang berpakaian jingga tadi saat  penyerangan yang dilakukan Dewa Iblis Kegelapan.” Ucap Arya menimpali gumaman Jaka.


“Engkau terlalu gegabah tetua untuk menanam bibit-bibit permusuhan pada orang-orang Istana Lembah Neraka. Sebenarnya kita bisa meminta tenaga mereka untuk memenangkan pertarungan nanti.”


“Engkau terlalu mengagung-agungkan Istana Lembah Neraka, seakan-akan merekalah yang terbaik di dunia persilatan. Padahal engkau tahu sendiri bahwa mereka pernah membuat kekacauan dalam dunia persilatan.” Ketus Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Maafkan kelancanganku tetua, aku hanya mengingatkan pesan yang empu Adhiyaksona pernag katakan bahwa bencana sesungguhnya bukan Istana Lembah Neraka. Tapi ada sesuatu yang lebih besar menunggu. Beliaupun menitipkan dunia persilatan pada Rajawali merah sebelum wafatnya.”


Braakkkk..

__ADS_1


“Ini adalah pertemuanku. Kalau kau keberatan dengan keputusanku pergi saja dari sini. Datangi sana lembah neraka. Cium kaki bocah iblis itu”


Pertapa Sakti Tanpa Nama terlihat gusar dengan ucapan Jari Malaikat. Sampai-sampai ia membentak setengah mengusir kepada ketua perguruan Jari Sakti tersebut.


“Hmm.. Terima kasih atas jamuannya, kami pamit dahulu.”


Mendengar ucapan Pertapa Sakti Tanpa Nama, Jari Malaikat menjadi tersinggung. Setelah berteriak memohon diri, rombongan perguruan Jari Sakti pun meninggalkan tempat pertemuan. Jari Malaikat bersama empat orang muridnya meninggalkan tempat.


“Eyang menga..”


“Kau diamlah!”


Baru saja Pendekar Halilintar hendak membuka mulut, langsung mendapat bentakan dari Pertapa Sakti Tanpa Nama.


“Semua sudah diputuskan, kalau ada yang tidak setuju silakan ajukan alasan, kalau tidak..”


“Mohon maaf tetua, aku datang lagi ke tempat ini, hanya ingin memberitahukan ribuan prajurit sedang menuju tempat ini. Dan jarak mereka sudah sangat dekat.”


Tiba-tiba saja Jari Malaikat kembali ke tempat pertemuan dan memotong pembicaraan Pertapa Sakti Tanpa Nama. Wajahnya nampak kelihatan panik. Ia mengabarkan bahwa ribuan prajurit kerajaan sudah sangat dekat.


“Gawat! Jaka.. Arya.. Cepat hidupkan kembali jebakan dan alarintang tempat ini! Yang lain tenang di sini jangan ada yang keluar.” Ucap Pertapa Sakti tanpa Nama.


Jaka dan Arya melesat melaksanakan perintah pertapa sakti tanpa nama. Sementara yang lain sudah bersiap menghunuskan senjatanya menjaga segala kemungkinan. Tak berapa lama kemudian  Arya dan Jaka Kembali.


“Eyang, semua sudah diaktifkan kembali. Kecuali jebakan dan alarintang belakang yang menuju sungai. Kelihatannya alarintang di sana sudah di rusak” ucap Jaka.


“Untuk jalan menuju sungai belakang memaang aku yang merusaknya. Karena biasa kujadikan tempat keluar masuk. Aku rasa tempat itu aman, tak satupun pihak kerajaan yang mengetahui.”


“Benarkah seperti itu tetua?” tanya salah seorang utusan perguruan Bangau Putih.


“Benar, aku jamin itu.” Sahut Pertapa Sakti Tanpa Nama


Sementara Itu di Istana Lembah Neraka Nalini sudah sadarkan diri. Ia sangat menyesal dengan apa yang terjadi. Gadis itu menjadi sedikit pemurung mengetahui akibat dari perbuatannya kemarin.

__ADS_1


Sebenarnya Bayu sudah memerintahkan kepada semua penghuni Lembah Neraka untuk merahasiakan kejadian itu kepada Nalini. Namun secara tidak sengaja gadis itu mendengar pembicaraan antara Pranggala dan Dewi Pedang Khayangan yang sudah membaik keadaannya setelah di selamatkan Bayu dari cengkraman orang-orang Dewa Iblis Kegelapan.


“Kak Nalini, jangan terus-terusan menyalahkan diri atas kejadian kemarin. Semua orang tau kejadian itu diluar kendalimu dan bukan atas kehendakmu.” Bujuk Intan kepada Nalini.


Saat itu mereka berdua sedang duduk-duduk di taman. Wajah Nalini terlihat sangat pucat. Sudah seharian dari kemarin ia belum makan. Ia menyalahkan dirinya sendiri atas kematian yang menimpa Pendekar Tongkat Emas. Bayu sendiri sedang pergi menuju pemakaman tempat di simpannya kitab Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.


“Tapi kakek Pendekar Tongkat Emas telah tewas ditanganku Intan. Aku merasa tidak sanggup bertemu dengan kak Bayu.” Rintih Nalini dalam kesedihannya.


“Tenanglah kak, semua orang yang ada di sini yakin bahwa kau tidak bersalah. Semua orang tahu saat itu kau sedang dalam keadaan tak sadarkan diri.  Tubuhmu telah dikendalikan Roh Keramat Burung Api.”


Nalini tersenyum mendengar ucapan Intan. Ia pun memeluk hangat gadis titisan Bidadari Giok Es itu. Keduanyapun saling berpelukan. Intan berusaha meringankan beban batin yang di derita Nalini.


“Sebaiknya kita istirahat kak.  Malam sudah semakin larut. Mungkin besok kak Bayu sudah berada di sini. Jarak antara pemakaman yang ditujunya tidak begitu jauh dari sini.” Ajak Intan.


Nalini mengangguk seetuju dengan ajakan Intan. Keduanya pun beranjak memasuki Istana Lembah Neraka. Mereka memasuki kamar masing-masing untuk beristirahat.


Keesokan harinya Intan yang bangun sangat pagi sekali berlatih ilmu kesaktian di lapangan samping kanan Istana Lembah Neraka. Tak sedikit para anggota Istana Lembah Neraka berdecak kagum atas peragaan ilmu tenaga sakti giok es yang di tunjukkan gadis itu. Selain ilmu kesaktian yang bagaikan dewi langit, kecantikan gadis itu pun terlihat sangat mempesona. Di tambah dengan sifatnya yang ramah dan periang, membuat orang-orang yang berada di Lembah Neraka sangat menyukainya.


Matahari sudah mulai menunjukan dirinya. Cahaya keemasan pun mulai mengintip di ujung langit sebelah timur. Cahaya sejuk yang hadir oleh embun membuat suasana sejuk di lembah yang dikelilingi api alam  itu. Di tambah lagi kekuatan Intan yang menghadirkan butiran-butiran salju, menambah kesejukan Lembah Neraka.


“Sudah sepagi ini kenapa kak Nalini belum bangun?” gumam Intan sesaat setelah menghentikan latihannya. “Sebaiknya aku susul ke kamarnya saja.”


Intan pun masuk ke Istana Lembah Neraka dan langsung menuju kamar Nalini. Beberapa kali ia mengetuk pintu kamar dan memanggil-manggil nama Nalini tak kunjung ada Jawaban. Gadis itu memberanikan diri membuka pintu kamar Nalini dan mendapati kamarnya kosong.


“Kemana Kak Nalini? Padahal dari tadi aku tak melihatnya keluar kamar.” Gumam Intan.


Intan pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Gadis  itu melihat secarik kertas berada di atas tempat tidur Nalini. Iapun bergegas mengambil secarik kertas itu dengan perasaan  curiga.


Bersambung..


sebagai bentuk apresiasi kepada author dan membantu menaikan level karya serta menambah pupularitas novel ini mohon kesediannya :


1. memencet tombol like

__ADS_1


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini.


__ADS_2