Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
47. Berebut Lonceng Pengikat Jiwa


__ADS_3

“Sepasang Iblis Api.. Hmm.. Rupanya merekapun telah keluar dari persembunyiannya.” desis ketua Perguruan Jari Sakti melihat kearah orang yang baru datang.


“Siapa mereka ki? Apa kau kau kenal dengan mereka.” Tanya Jaka.


“Sepasang Iblis Api. Mereka merupakan suami istri yang berasal dari golongan hitam yang menamai diri mereka Raja dan Ratu Iblis Api. Sekitar seratusah tahun silam mereka merupakan momok menakutkan bagi dunia persilatan. Banyak jago-jago dari aliran putih yang mereka habisi. Mereka muncul untuk menguasai dunia persilatan.”


“Lalu bagaimana ki?”


“Waktu itu muncul seorang pendekar yang menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Walau hanya menguasai tingkat pertama ilmu itu, Sepasang Iblis Api itu babak belur dan lari menyembunyikan diri. Baru sekarang mereka muncul lagi di sini.”


“Hmm.. berarti mereka tokoh tua yang berumur serratus tahunan lebih. Apa tujuan mereka muncul kembali”


“Entahlah, itu yang aku pikirkan tadi. Aku takut kehadiran mereka mengganggu rencana kita.


Kriiingg… kriiingg


Semakin cepat Iblis Pelebur Sukma membunyikan loncengnya, semakin dahsyat pula serangan yang dilancarkan tiga Dewa Dunia Persilatan. Ketiga jagoan dari Benteng Dewa pun semakin terdesak hebat. Kelihatannya tinggal beberapa jurus saja lagi mereka akan kalah.


“Ki, itu Lonceng Pengikat Jiwanya” bisik Buto Ireng kepada Raja Iblis Api.


“Hmmm.. baiklah, aku akan mengambilnya.”


Seketika Raja Iblis Api melesat kearah Iblis Pelebur Sukma yang sedang memegang lonceng. Tanpa menyadari akan serangan orang, Murid satu-satunya yang tersisa dari Raja Iblis Bukit tengkorak itu langsung terlempar sejauh lima tombak. Lonceng yang dipegangnya pun telah berpindah tangan.


Seketika pertarungan antara Tiga Dewa Dunia Persilatan melawan perwakilan pihak Benteng Dewa Terhenti. Hal ini dikarenakan ketiga tokoh sakti wakil dari Istana Lembah Neraka itu tiba-tiba berhenti bergerak. Pandangan orang sontak tertuju pada Iblis Pelebur Sukma yang terkapar dengan tubuh gosong menghitam. Terlihat matanya mendelik penasaran. Murid Raja Iblis Bukit tengkorak itupun tewas seketika.


“Ketua.. Loncengnya” teriak Raja Iblis Tengkorak yang sempat terpaku.


Memang saat itu Bayu bingung dengan apa yang terjadi. Saking cepat kejadiannya dan tak diduga sebelumnya, ia pun tidak bertindak apa-apa. Apalagi saat kejadian perhatiannya tertuju pada pertarungan di arena. Sadar akan kelengahannya, pemuda itupun langsung mengerahkan tenaga saktinya.


Brakk…


Raja Iblis Api yang akan kembali ketempatnya tak menyangka akan mendapat serangan mendadak dari Bayu. Tubuhnya Terlempar hebat menimpa sebuah batu besar. Mulutnya pun langsung menyemburkan darah segar, Dan lonceng pengikat jiwa pun terlempar ke atas.


“Nyi.. rebut loncengnya” teriak Raja Iblis Api seraya melompat keatas.

__ADS_1


Semula Ratu Iblis Api tercekat melihat suaminya yang terlempar karena pukulan orang. Sesaat lamanya dia terdiam. Mendengar teriakan suaminya ia pun tersadar lalu melompat keatas.


Bayu yang juga mendengar teriakan Raja Iblis Api sadar bahwa tujuannya adalah lonceng, ia pun melomat keatas untuk mengambilnya. Walaupun melompat belakangan, namun dengan kemampuan yang ia miliki membuat dia sampai duluan diatas dan mendapatkan loncungnya. Namun hanya berselang sesaat saja kedua suami istri Iblis api juga sampai dan turut merebut lonceng.


Trakkk.. trangggg..


Akibat perebutan tiga orang yang memiliki tenaga sakti itu, lonceng pun retak kemudian pecah. Kontan hal ini mengejutkan semua orang yang ada di sana. Apalagi seketika dua orang dari tiga Dewa Dunia Persilatan roboh terkapar dan menyemburkan darah dari mulutnya.


“Buto Ireng… Ambil mutiaranya” teriak Ratu Iblis Api,


Mendengar teriakan Ratu Iblis Api, Buto Ireng langsung melesat mengambil sebuah benda kecil yang meluncur kebawah. Sementara Sepasang Iblis Api di atas udara telah menyiapkan pukulan andalannya untuk menyerang Bayu. Pukulan hawa api beracun.


Hiyaaat..


Kepulan Asap hitam keluar dari telapak tangan Sepasang Iblis Api. Dengan Gerakan cepat keduanya menyarangkan sepasang telapak tangan mereka ke arah tubuh bayu. Tanpa sedikitpun rasa takut, pemuda itu menyambutr serangan keduanya dengan satu tangan.


Blammmm…


Ledakan Dahsyat terjadi. Beberapa orang yang ada disana terlempar akibat tenaga dorongan dari pertemuan tiga tenaga sakti. Bahkan barisan penonton menjadi kocar-kacir menghindari.


“Tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta” desah Raja Iblis Api lirih, seraya bangkit dipapah buto Ireng dan Buto Abang. Sedangkan Ratu Iblis Api masih dalam keadaan pingsan di gendong Buto Ijo.


Sementara itu Bayu turun kembali menjejakan kakinya perlahan ke tanah dengan Gerakan yang menakjubkan. Dari sepasang matanya terlihat kilatan-kilatan halus memancar. Pandangannya tajam kearah Raja Iblis Api.


“Tak ada seorangpun boleh bertindak kejam terhadap orang-orang Istana Lembah Neraka kecuali aku sendiri.” dengus Bayu dingin. Telapak tangan kanannya yang berada di bawah memutar perlahan. Dari telapak tanan itu muncul aliran listrik yang menimbulkan suara gemurh dan angin kencang di sekitarnya.


“Mati kita kali ini” keluh Raja Iblis Api kepada kawanannya.


“Akhh..”


Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba Bayu memekik kesakitan dan memegang kepalanya. Badannya pun terhuyung kebelakang. Seketika tenaga sakti yang tadi disiapkannya menyerang lawan surut.


“Kaburr..” seru Raja Iblis Api. Seketika mereka melesat meninggalkan tempat itu.


“Kejar.. “ teriak Raja Pulau Es kepada dua pembantunya. Lalu ketiganya pun melesat pergi menyusul kearah perginya mereka tadi.

__ADS_1


Pendekar Tongkat Emas dan Datuk Sesat Seribu Wisa bergegas menyambut sang ketua yang berjalan sempoyongan menuju rombongannya.


“Ketua tidak apa-apa?” tanya Pendekar Tongkat Emas seraya memegang lengan Bayu.


“Aku tidak apa-apa” cegah Bayu menepis tangan pembantunya itu.


“Naga Penjaga.. Kejar Musuh” Bentak Raja Iblis Bukit tengkorak memerintahkan kepada tiga Naga Penjaga. Namun Bayu mencegahnya.


“Cukup, tidak usah dikejar. Lanjutkan pertandingan” Cegah bayu mengangkat tangan kanannya. “lanjutkan Pertandingan, di pertandingan tadi kita kalah.”


Sementara itu Malaikat bertangan sakti dan Ketua Perguruan Bangau Putih bersama beberapa orang murid mereka membawa tubuh dua tetua mereka yang tidak sadarkan diri. Hanya Dewa Pedang Se Jagat saja satu dari tiga Dunia Persilatan yang tidak roboh. Namun orang tua itu lenyap entah kemana saat terjadi kegaduhan tadi.


“Hmm.. Walaupun tidak berjalan sesuai rencana kita, namun pada dasarnya kedatangan Iblis Api cukup membantu kita.” gumam Ketua Perguruan Jari Sakti.


“Benar ki!” sahut Jaka seraya mengangguk setuju.


Apa yang barusan terjadi tadi kejadiannya sangat cepat. Sehingga kebanyakan dari orang yang ada di sana terpana dan bingung untuk melakukan sesuatu. Bahkan Sekelas Pendekar Sakti Jaka Andara atau Pendekar Halilintar hanya diam terpaku.


“Pendekar Tongkat Emas, kau pimpin pertandingan selanjutnya.” perintah Bayu.


Pendekar Tongkat Emas membungkuk tanda menerima perintah. Kemudian Ia pun maju beberapa Langkah ke depan arena.


“Hadirin Sekalian, bila kalian tidak keberatan aku akan memimpin pertandingan selanjutnya. Pertandingan ketiga kami mengaku kalah.”


“Baiklah, Kami tidak keberatan” Sahut Malaikat Bertangan Sakti.


“Kalau Begitu kita lanjutkan Pertandingan ke empat. Apabila di pertandingan ini Istana Lembah Neraka yang menang, maka kemengan milik kami. Di Pertandingan ini kami akan diwakili Raja Iblis Bukit Tengkorak.”


Mendengar ucapan Pendekar Tongkat Sakti, Pelindung Istana Lembah Neraka itupun maju ke arena pertandingan.


“Dari Benteng Dewa silakan memilih perwakilannya.” Ucap Pendekar Tongkat Emas lagi.


Raja Iblis


“Aku yang mewakilli.” Seru Jaka seraya melesat ke arena pertandingan langsung di depan Raja Iblis Bukit tengkorak dengan jarak beberpa tombak saja.

__ADS_1


__ADS_2