
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 210...
“Berhenti Nona, kau telah memasuki daerah terlarang!” Bentak seseorang dari balik pohon ketika Nalini hendak memasuki jalan setapak menuju ke dalam hutan.
Dua orang lelaki muncul dari balik pohon. Keduanya menggunakan pakaian serba jingga yang dihiasi bulu-bulu burung besar berwarna kemerahan. Satu orang brewokan, satunya lagi telihat masih muda tanpa kumis tanpa jambang. Mata keduanya menatapnya dengan penuh selidik.
“Siapa kau nona? Mau apa datang ke sini?” tanya lelaki yang brewokan.
“Apa hakmu menanyakan itu kepadaku?” sahut Nalini balas bertanya dengan nada yang dingin.
“Kau telah memasuki daerah kekuasaan kami. Siapapun tidak diperbolehkan memasuki hutan ini kecuali orang-orang kami.” Sahut lelaki brewokan.
“Kau pikir tempat ini tempat nenek moyang kalian, sehingga hanya orang-orang kalian yang boleh memasukinya.” Ucap Nalini sambil membalikkan badan meninggalkan tempat itu.
“Tunggu Nona! Apa maksudmu berkata-kata kasar seperti itu pada kami? Kami hanya menjalankan tugas dan adat kebiasaan kami di sini.” Seru si brewok gusar.
“Apa kau bilang? Aku kasar terhadap kalian? Bukan kah kalian yang lebih dulu menggangguku.” Sahut Nalini tanpa membalikkan badannya. Sekilas nampak kobaran api memancar di bolamatanya. Tapi itu hanya sebentar kemudian kembali normal seperti biasa. “Lalu apa yang kau inginkan dariku?” tanya gadis itu lagi.
Nalini Diam di tempatnya tanpa membalikan badannya menunggu jawaban dari dua orang yang menghadangnya. sementara kedua orang yang menghadang terlihat sangat penasaran dengan sikap Nalini.
“kau pasti seorang mata-mata yang disuruh menyelidiki keadaan tempat ini. Karena itu kau harus ikut kami menghadap pimpinan.” Ucap si Brewok.
“Baiklah hendak ku tahu siapa yang menjadi pimpinan orang-orang sombong seperti kalian.”
Nalini membalikkan badannya, kemudian gadis itu menjalani jalan setapak yang menjadi pintu masuk ke dalam hutan.
“Hei nona, seharusnya kau ikut kami sebagai tawanan.” Teriak si brewok.
“Tangkap saja kalau kau bisa melakukannya.” Sahut Nalini dingin.
Kedua orang berpakaian jingga menyerang Nalini secara bersamaan. Tanpa basa-basi lagi mereka menjelang Gadis itu langsung menggunakan senjata andalan masing-masing. Yang menggunakan gada sedangkan yang lebih mudah menggunakan pedang. Sedikitpun serangan keduanya tidak berpengaruh sama sekali kepada Nalini.
__ADS_1
Kedua penyerang Nalini kebingungan tak satupun serangan mereka mencapai sasaran. Padahal mereka melihat gadis itu sedikitpun tidak melakukan gerakan. Namun nyatanya bukan gadis itu yang mengalami kerugian, malah mereka seringkali hampir terjerembab karena menyerang tempat kosong. Mereka tidak tahu sebenarnya hal ini sedang menggunakan ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi.
Nalini terus berjalan dengan santainya. Tak terasa perjalanannya sudah sampai pada posko penjagaan pertama di dalam hutan. Melihat teman mereka menyerang seorang gadis yang tak di kenal, penjaga pos itu membentak menanyakan kejadian yang janggal itu.
“Darta, kenapa kau menyerang gadis itu? Siapa dia? Kenapa kau mengizinkannya masuk ketempat ini.” Tanya penjaga kepada si brewok.
“Ramdan.. bantu kami menangkap gadis ini. Ia adalah mata-mata yang hendak mengacau di tempat ini.” Jawab si Brewok yang bernama Darta itu.
Mendengar jawaban dari Darta, Ramdan dan rekannya yang lain ikut menerjang ke arah Nalini. Betapa terkejutnya Ramdan dan kawan-kawannya yang lain mengetahui bahwa gadis itu bagaikan siluman saja sulit untuk disentuh. Nalini sendiri masih mempermainkan para lelaki yang memakai pakaian jingga itu dengan ilmu meringankan tubuhnya. Itu sebabnya tak satupun dari mereka yang roboh atas serangan baliknya Nalini.
Lama kelamaan orang-orang berpakaian jingga semakin banyak berdatangan. Mereka langsung menyerang Nalini mengeroyoknya tanpa apa peduli bahwa dia hanyalah seorang gadis. Nalini sendiri kali ini tidak tinggal diam. Sesekali Gadis itu membalas serangan lawan sehingga tidak sedikit dari mereka yang terlempar jatuh ke tanah.
Para penyerang sangat terkejut dengan kemampuan yang dimiliki Nalini. Tak terlihat sedikitpun gadis itu mengeluarkan tenaga untuk menyerang lawan. Namun dalam waktu singkat lebih daripada separuh pengeroyok yang berjumlah dua puluhan orang lebih itu tumbang.
“Mundur kalian!”
Seorang lelaki tua berpakaian serba putih muncul memerintahkan para pengeroyok untuk mundur. Serentak semua orang berpakaian jingga mundur lalu berlutut di belakang lelaki tua itu. Lelaki tua yang rambut dan alisnya telah memutih semua melesat ke tengah lapangan berhadapan langsung dengan Nalini. Orang tua itu berdiri sekitar enam tombak dihadapan Nalini.
Lelaki tua yang baru saja datang tak sedikitpun menunjukkan sikap bermusuhan. Sangat bertolak belakang dengan sikap orang-orang yang berubah jingga. Tatapan dari kakek tua itupun menunjukkan dari sifatnya yang welas asih.
“Aku tidak bermaksud mengacaukan tempat ini. Tapi merekalah yang bersikap kurang ajar tidak bersahabat menyerangku duluan.
“Darta berdirilah dan cepat kemari!” ucap kakek tua itu.
Darta yang sedang berlutut pun berdiri kemudian ia menghampiri kata ketua berbaju putih. Sesampainya di tempat orang tua itu Darta membisikkan sesuatu. Si Kakek berbaju putih hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar bisikan Darta. Kemudian Darta pun kembali ke tempatnya.
“Cah ayu, anak buah ku mengatakan bahwa kaulah yang ingin menerobos ke dalam hutan ini. Mereka sudah coba mengingatkanmu untuk tidak masuk, namun kau berkata kasar kepada mereka.” Ucap lelaki tua itu.
“Tanyakanlah kepada mereka aku yang duluan berkata kasar atau siapa.”
Karena kesal Nalini menendang batu berukuran segenggaman tangan orang dewasa. Batu itu pun langsung melesat ke arah daratan yang sedang berlutut. Tanpa bisa dicegah batu itu langsung menghantam batok kepala Darta. Lelaki itu pun tewas dengan dengan kondisi mengenaskan.
“Kejam sekali kau cah ayu. Seandainya anak buahku pun yang salah masih ada aku yang bisa menghukumnya.” Ucap kakek tua berbaju putih.
__ADS_1
“Kalau kau tidak terima, aku siap melayanimu.” Ucap Nalini lantang.
Kakek tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban Nalini. Sebenarnya Ia tidak berniat sama sekali menciptakan permusuhan dengan Nalini. Namun melihat kekejaman Nalino orang tua itu tidak bisa mendiamkan begitu saja.
“Sombong sekali kau cah Ayu. Akan sangat berdosa aku yang tua ini tidak mengingatkanmu.”
Blaamm..
Tiba-tiba ledakan terjadi. Hal ini dikarenakan benturan tenaga yang terjadi akibat serangan kakek berbaju putih kepada Nalini. Walau serangan itu begitu cepat dan mendadak, secara otomatis tenaga sakti di tubuh gadis itu melindunginya dari serangan. Keduanya terdorong lebih satu tombak ke belakang.
“Apa itu tadi, sesaat tadi aku melihat tenaga api melindungi tubuh gadis itu?” tanya kakek berpakaian dalam hatinya keheranan.
Nalini sendiri terkejut dengan apa yang terjadi. Iya sama sekali tidak melihat Serangan yang dilancarkan oleh kakek itu. Seandainya dia tidak memiliki tenaga sakti dari roh keramat burung api, tentu saat ini gadis itu sudah celaka.
“ Siapakah kau sebenarnya cah ayu? Tidak sembarang orang bisa menahan seranganku di dunia ini.” Tanya kakek tua berbaju putih.
Nalini menatap tajam ke arah orang tua itu. Sedikitpun ia tidak memperdulikan pertanyaan si orang tua. Ia diliputi keheranan tentang kehebatan si Kakek. Gadis itu tak menyangka di negeri Barat terdapat orang sesakti lelaki tua berbaju putih itu.
Bersambung...
ditunggu like dan komentarnya.
Jangan lupa kunjungi karya saya yang lain "REINKARNASI DEWA TERKUAT"
__ADS_1