
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 253...
“Sudah tiga malam kejadian ini terulang lagi ki. Tadi malamlah kejadian yang sangat parah melanda di empat rumah sekaligus. Bahkan salah satu rumah korban tewas satu keluarga.”
Sedang asik-asiknya Bayu dan dan dua murid perguruan tangan dewa menikmati hidangan yang ada di depan mereka, masuk dua orang lelaki kedalam rumah makan sambil berbicara. Satu orang berusia sekitar lima puluh tahunan, sedangkan satunya pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahunan. Keduanya langsung mengambil tempat yang berjarak tiga buah meja dari tempat Bayu. Pembicaraan keduanya menarik perhatian Bayu dan kedua murid perguruan tangan dewa.
“Kejadian tiga malam berturut-turut ini membuat aku merasa tidak becus sebagai kepala desa,” keluh lelaki separauh baya itu.
“Tidak perlu merasa seperti itu ki, kau sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencegah kejadian ini terjadi lagi,” sahut pemuda yang jadi lawan bicaranya.
“Apakah mereka yang berjaga ada yang melihat siapa pelaku pembunuhan beberapa hari ini Darta?” tanya Lelaki separuh baya yang merupakan kepala desa Mala Jangkit kepada pemuda di depannya setelah mereka duduk di kursi yang dipilih.
Seorang pelayan menghampiri mereka. Melihat yang datang adalah kepala desanya pelayan itu bergegas melayani dengan baik kedua orang yang baru datang. Pelayan itu kembali ke dalam menyiapkan semua pesanan yang diminta kepala desa.
“Ada ki. Beberapa orang yang menyaksikan langsung kejadian itu ki, menurut mereka pelaku adalah seorang perempuan berpenampilan sangat menyeramkan dengan pakaian yang lusuh rambut panjang tidak terurus dan memiliki taring serta kuku yang panjang. Mereka bilang perempuan itu adalah dedemit.”
__ADS_1
Darta menjelaskan panjang lebar tentang ciri-ciri pelaku pembunuhan yang terjadi di desa mereka dari informasi yang didapatkannya melalui para peronda tadi malam. Pemuda itu merupakan pimpinan dari petugas keamanan desa Mala Jangkit. Setelah memeriksa keadaan membawa korban di rumah kejadian, kepala desa mengajaknya ke rumah makan ini untuk makan siang.
“Aku sudah mengundang seorang pendekar untuk membantu kita mengusir pembunuh yang mengacau di desa kita ini. Mudah-mudahan keberadaannya dapat membantu kita terbebas dari permasalahan ini,” ucap Kepala desa yang bernama ki Sarmaji itu.
“Kapan dia datang ki, dan siapa nama pendekar itu?” tanya Darta.
“Dia pendekar muda yang bergelar pendekar kipas maut. Menurut kabar yang kudengar pendekar muda ini sudah berpengalaman di dunia persilatan. Mudah-mudahan dia benar-benar bisa menghancurkan dedemit itu.” Sahut depala desa.
Bayu yang dari tadi mendengarkan pembicaraan mereka berdua berniat untuk melihat kejadian apa yang menimpa Desa ini. Ia pun memerintahkan kepada salah satu murid peluang tangan dewa memesan tiga buah kamar untuk mereka. Bayu menduga hal ini ada kaitanya dengan kebangkitan para tokoh aliran hitam yang memiliki ilmu sesat siluman dalam tubuhnya.
Malamnya kembali terdengar lolongan panjang serigala yang membuat malam itu menjadi menyeramkan. Para warga yang ditugaskan untuk meronda berada di depan rumah warga yang menjadi tempat berkumpulnya para ibu pemilik bayi di desa itu. Mereka telah bersiap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Menurut pengalaman tiga malam terakhir, setiap terdengar lolongan panjang serigala saat itulah demit itu muncul. Sementara Bayu berjaga di penginapannya memantau menggunakan ilmu Jagad Rungu.
Empat buah bayangan berkelebat dari arah hutan yang letaknya berada di sebelah kanan desa Mala Jangkit. Bayangan itu bergerak cepat menuju rumah-rumah warga. Arah mereka yang tadinya mau berpencar tiba-tiba saja kembali menuju ke satu arah yang sama yaitu rumah yang menjadi tempat berkumpulnya para ibu-ibu pemilik bayi ditu.
Para peronda yang tadinya duduk langsung berdiri mendengar peringatan pendekar kipas maut sambil menghunuskan pedang mereka. Benar saja tak lama kemudian datang empat sosok mengerikan di tempat itu. Hampir semua dari mereka memiliki kesamaan penampilan, perempuan yang memiliki rambut panjang terurai acak-acakan dengan baju lusuh dan kuku kuku yang panjang serta taring di sela bibir mereka.
Melihat kedatangan empat makhluk menyeramkan itu, beberapa peronda yang tadinya berani menjadi ciut nyalinya. Perlahan mereka mundur dan bersembunyi di belakang pendekar kipas maut. Memang siapa saja yang tidak memiliki keberanian apalagi hanya mengandalkan kemampuan bela diri cakar ayam tentu akan sangat ketakutan nyalinya berhadapan dengan makhluk seperti di depan mereka ini.
“Mau apa kalian kemari? Siapa yang menyuruh kalian?” tanya pendekar kipas suatu barang terhadap empat makhluk yang berada di depannya.
__ADS_1
Empat perempuan mengerikan itu tidak menanggapi ucapan dari pendekar Kipas maut. Mereka malah memperdengarkan geraman seperti seekor Serigala. Seperti sudah dikomando dua orang dari mereka langsung maju menyerang Pendekar kipas maut. Pemuda yang memiliki senjata khas kipas itu pun sudah bersiap untuk menyambut serangan lawan.
Kedua perempuan menyeramkan itu langsung menyarangkan sepasang cakar mereka ke arah leher pendekar kipas maut. Pemuda itu pun menangkisnya dengan senjata kipas yang ada di tangannya. Betapa terkejutnya pemuda itu ketika mengetahui bahwa dua orang makhluk yang menjadi lawannya itu memiliki tenaga dalam yang tidak rendah. Hal ini dapat terlihat dari terdorong mundurnya pendekar kipas maut sebanyak dua langkah saat terjadi bentrokan cakar lawan dengan kipas di tangannya.
Sementara kedua perempuan yang menjadi lawan hanya terdorong satu langkah ke belakang. Ini menandakan bahwa tenaga dalam pendekar muda itu berada di tenaga lawan. Benar saja pada saat pertarungan berikutnya siapa yang lebih unggul mulai terlihat. Pendekar kipas maut kini hanya bisa menghindari serangan serangan lawan yang mematikan. Warga yang melihat itu tentu saja menjadi panik karena harapan satu-satunya mereka pun kini sedang diambang maut.
Craaakkk..
Setelah berusaha mati-matian untuk menghindari serangan serangan maut lawan akhirnya pendekar kipas maut pun terkena cakar salah satu perempuan yang menjadi lawannya. Tubuh pendekar muda itu terhuyung ke belakang. Para warga yang berada di belakangnya langsung menyambut pemuda itu sehingga tidak sampai terjatuh ke tanah.
Keadaan ini tentu saja membuat semua yang ada di sana terancam keselamatannya. Kini mereka hanya pasrah menerima nasib. Sementara dua orang yang menjadi lawan pendekar kipas maut tadi sudah melompat kembali untuk menyerang pemuda itu. Bersamaan dengan iti dua perempuan mengerikan yang lain melesat keatas atap rumah.
Blammmm..
Blaammmm..
Dua ledakan keras terdengar membuat tempat itu bergetar hebat. Dua orang perempuan menyeramkan yang akan menyerang pendekar kipas maut terlempar beberapa tombak ke belakang. Kini di depan pendekar kipas laut dan para warga berdiri dua orang lelaki berusia sekitar tiga puluh lima tahunan berpakaian serba putih khas pakaian perguruan tangan dewa.
Terlihat dua orang perempuan menyeramkan itu masih berusaha bangkit setelah terjatuh ke tanah meski kondisi mereka sudah sangat memprihatinkan. Sebelah tangan mereka terlepas dari tubuhnya sedangkan beberapa bagian tubuh yang lain terkeluupas namun tidak mengeluarkan darah. Aroma busuk bangkai seketika tercium di tempat itu. Tak lama kemudian kedua perempuan menyeramkan itu akhirnya jatuh kembali rebah menggelepar lalu diam tak bergerak lagi.
__ADS_1
Bersamaan kejadian tadi, dari atas atap rumah meluncur dua orang perempuan menyeramkan lainnya. Mereka berdua jatuh ke tanah tepat berada di samping dua orang temannya yang sudah tewas tadi. Tubuh dua orang perempuan yang meluncur dari atas atap rumah penduduk langsung terbakar oleh api yang berwarna putih. sehingga sesaat kemudian tubuh kedua orang perempuan itu berubah menjadi abu. Sementara di atas atap terlihat sesosok orang berpakaian serba merah dengan kain jubah menggantung di punggungnya mengambang di udara.
Bersambung...