
Sementara itu Arya dan Rupaksa sudah berada dekat dengan rombongan Istana Lembah Neraka yang dipimpin Raja Iblis Bukit Tengkorak yang sedang beristirahat. Meski sudah menemukan orang yang dicari, namun mereka belum berani menghampiri untuk menyampaikan pesan dari Malaikat Bertangan Sakti. Ada keraguan di hati keduanya.
"Bagaimana pendapatmu Rupaksa? apakah langsung kita hampiri saja mereka." tanya Arya
"Aku sendiri malah hendak menanyakan itu juga kepadamu."
"Akan sangat beresiko bila kita ke sana. Kita tidak tau bagaimana sikap mereka terhadap utusan."
"Tapi pesan ini harus tersampaikan pada pihak Istana Lembah Neraka."
Setelah terlibat percakapan dengan pendapatnya masing-masing, merekapun sepakat untuk menemui pihak Istana Lembah Neraka dengan mengambil segala resikonya. Tiba di tempat keduanya langsung di hadang beberapa orang anggota Istana Lembah Neraka.
"Siapa kalian? mau apa ke sini?" Bentak salah seorang dari Istana Lembah Neraka.
"Maaf sebelumnya mengganggu istirahat kalian, kami utusan dari Benteng Dewa ingin menghadap pimpinan di sini ada sebuah urusan yang ingin di sampaikan." jawab Arya.
"Urusan apa?"
"Maaf sebelumnya, urusan ini hanya boleh kami sampaikan kepada pimpinan Istana Lembah Neraka saja."
"Katakan saja padaku, aku yang akan menyampaikannya kepada pimpinan."
"Mohon maaf, kami hanya akan memberitahukan kepada pimpinan kalian."
"Bedebah... bosan hidup kau rupanya, ayoo bunuh pengacau..." Teriak anggota Istana Lembah Neraka.
Serentak beberapa orang menyerang Arya dan Rupaksa. Keduanya langsung di keroyok lima orang anggota Istana Lembah Neraka tingkat ke empat yang menggunakan pedang. Untung saja kedua orang utusan pihak Benteng Dewa itu bukan orang-orang sembarangan. Mereka merupakan murid-murid utama perguruan Tangan Dewa dan Perguruan Macan Putih.
Berlalu sepuluh jurus kedua belah pihak belum ada yang terlihat terdesak. Sebenarnya mudah saja bagi Arya dan Rupaksa merobohkan musuh. Karena mereka merupakan utusan dan tidak ingin menambah keruh suasana, maka keduanya berusaha untuk bersabar.
__ADS_1
Namun berbeda dengan tanggapan pihak Istana Lembah Neraka, Hantu Muka Codet yang menjadi pimpinan kelompok 15 orang anggota tingkat ke empat di situ merasa Arya dan Rupaksa sengaja mempermainkan anak buahnya. Wajahnya yang sudah jelek karena delapan bekas luka di wajahnya itu menjadi bertambah menyeramkan dengan amarahnya. Lelaki yang sudah sangat berang itupun dan memerintahkan seluruh anak buahnya mengeroyok Arya dan Rupaksa.
"Anak-anak habisi mereka!"
Serentak tujuh orang anggota tingkat ke empat yang tadinya hanya menonton, meluruk ikut mengeroyok Arya dan Rupaksa. Akibatnya kedua pemuda itupun mulai kewalahan kalo hanya bertahan tanpa menyerang. Terpaksa merekapun mulai melancarkan serangan kepada lawan.
bukkk...
bukkk...
Dua orang pengeroyok terlempar sejauh lima tombak dari arena pertarungan. Anggota tingkat empat Istana Lembah Neraka itupun langsung pingsan. Beberapa jurus kemudian dua orang kembali terjengkang roboh, dari mulut mereka keluar darah. Kali ini keduanya tewas setelah beberapa saat.
"Mundur kalian" Bentak Hantu Muka Codet.
Merasa anak buahnya bukanlah tandingan lawan, Hantu Muka Codet itupun menyuruh anak buahnya mundur. Setelah itu langsung saja ia menyerang Arya dan Rupaksa. Kali ini yang di hadapi murid dari Perguruan Tangan Dewa dan Perguruan Macan Putih itu bukanlah tokoh sembarangan. Hantu Muka Codet merupakan Anggota Tingkat Ke tiga dari Istana Lembah Neraka.
Arya dan Rupaksa tidak mau lagi sembarangan dari mengahadapi musuh. Dari kesiuran angin yang dihasilkan serangan Hantu Muka Codet mereka maklum musuh memiliki tenaga dalam tidak sembarangan. Keduanya pun langsung mengerahkan tenaga saktinya untuk menghadapi musuh. Hantu Muka Codet pun tak mau tanggung-tanggung lelaki bercodet itu langsung menggunakan ilmu andalannya, Kepalan Tangan Setan.
Bukk
Srett
"Uhh..."
Hantu Muka Codet mengeluh ketika dada dan perutnya terkena pukulan tapak dewa milik Arya dan cakar macan putih milik Rupaksa. Lelaki itupun tersurut mundur lima langkah hampir roboh. Mulutnya keluar Darah segar. "Keparat kalian" maki nya.
"Siapa orangnya yang berani mengacau di tempat ini"
Entah dari mana asalnya, tiba-tiba terdengar suara bentakan yang cukup keras dan memekakkan telinga. Tak lama kemudian muncul seorang lelaki tua berbaju hijau dengan gambar istana di kelilingi api di dadanya. Di leher orang itu melingkar ular berwarna emas. Tangan kanannya memegang tongkat berkepala ular.
__ADS_1
"Datuk Sesat Seribu Wisa"
Hampir tidak terdengar suara Rupaksa menyebutkan nama Datuk Sesat Seribu Wisa. Memang di antara kedua utusan Benteng Dewa itu, Rupaksa lebih banyak pengalaman dan pengetahuan di banding Arya. Karena itu hanya dengan sekali melihat penampilan orang, dia tau dengan siapa berhadapan.
"Maaf sebelumnya kalau kedatangan kami mengganggu senior, saya Rupaksa murid perguruan Macan Putih dan teman saya ini Arya murid Perguruan Tangan Dewa menghadap senior Datuk Sesat Seribu Wisa untuk menyampaikan pesan Dari Benteng Dewa."
"Haha pandangan yang bagus untuk seorang anak muda. Bagus bagus" Puji Datuk Sesat Seribu Wisa kepada Rupaksa. Sebenarnya orang tua itu senang karena sikap hormat yang diperlihatkan Rupaksa yang dianggapnya anak muda itu takut dengannya. "Apa yang mau kalian sampaikan".
"Mohon Maaf tetua, pesan hanya bisa kami sampaikan kepada pimpinan Istana Lembah Neraka saja." jawab Rupaksa sopan
"Kurang ajar kau anak muda, kau kira aku si Datuk Sesat Seribu Wisa ini hanya keroco tidak penting di sini."
Datuk Sesat Seribu Wisa pun marah mendengar perkataan Rupaksa. Dengan mengibaskan lengan baju sebelah kanannya, lelaki itu memberikan pukulan jarak jauh kearah Rupaksa.
Blamm...
Sebuah ledakan terjadi saat pukulan Datuk Sesat Seribu Wisa menyentuh tanah. Untung saja Arya dan Rupaksa cepat menghindar.
Melihat serangannya dihindari dua orang pemuda itu, Orang tua ahli racun itupun menyerang kembali kedua pemuda tersebut. Dengan sangat cepat orang tua itu menyarangkan telapak tangannya ke dada dua pemuda tersebut. Walaupun keduanya berada di tempat yang berlawanan, hanya dengan sekali lesatan sudah mampu melukai kedua pemuda tersebut.
Arya dan Rupaksa roboh terkena pukulan tapak wisanya lawan. Keduanya terjengkang dan jatuh di tempat yang sama. Pada dada kedua pemuda tersebut terlihat gambar telapak berwarna kehitaman. Kedua pemuda tersebut berusaha bangkit, namun dada yang dirasa sangat sesak membuat mereka tak sanggup berdiri.
"Hahaha, hari ini karena kekurang ajaran kalian, akan bertemu dengan malaikat maut." Tawa Datuk Sesat Seribu Wisa melihat dua orang pemuda di depannya sudah tidak berdaya. Dia pun menghampiri kedua pemuda tersebut. Berniat untuk menghabisi keduanya, sekali lagi Datuk Sesat Seribu Wisa menggunakan tenaga saktinya untuk menghabisi lawan.
Blar...
Datuk Sesat Seribu Wisa tersurut mundur empat langkah. Pukulan yang akan disarangkannya ke dua pemuda itu mentah oleh tangkisan orang. Dirasakannya telapak tangannya beradu dengan telapak tangan orang lain. Iapun merasakan tenaga orang menghimpit tenaganya sendiri sehingga membuatnya tersurut mundur. Sedangkan kedua pemuda yang tadi tergeletak sudah lenyap dari tempatnya.
Pada waktu yang ditentukan, kami tunggu kalian di bukit kosong sebelah kanan Bukit Banteng Dewa. Kalau Istana Lembah Neraka takut, sebaiknya pulang ketempat asal kalian
__ADS_1
"Bedebah keparat, setan alas!"
Datuk Sesat Seribu Wisa membentak kesal saat mendengar suara orang yang menangkis serangannya tadi. Dengan menggunakan Ilmu meninggalkan suara, orang itu memberikan tantangan kepada pihak Istana Lembah Neraka. Dengan perasaan penuh kekesalan, Datuk Sesat itupun meninggalkan tempat untuk melaporkan kejadian tadi.