Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
75. Jati Diri Yang Mulai Terkuak


__ADS_3

"Aaaaa..."


"Aaaaa..."


Teriakan demi teriakan susul menyusul. Sebagian besar anak buah Datuk Sesat Seribu Wisa bergulingan karena tersengat ribuan bianatang berbisa yang membalik ke arah mereka. Hanya beberapa orang saja yang berhasil selamat.


"Anak-anak, serang!" teriak Datuk Sesat Seribu Wisa. Serentak semua anak buah termasuk murid dedengkot racun itu menyerang bayu dengan senjatanya masing masing.


Wusshh...


Bukkk... bukkk... bukkk...


"Aaaaaa..."


Sekali lagi hanya dengan kibasan lengan baju Bayu membuat semua penyerangnya terlempar berterbangan di udara dan jatuh berdebuk di tanah. Sebagian pingsan sebagian lahi tewas karena jatuhnya tepat berada di kumpulan hewan-hewan berbisa. Hanya murid satu-satunya dari Datuk Sesat Seribu Wisa saja yang mampu bertahan. Itupun karena diselamatkan Datuk Sesat Seribu Wisa.


"Mari kita habisi bocah sialan itu" ucap Datuk Sesat Seribu Wisa kepada muridnya.


Keduanya pun menyiapkan diri dengan ilmu andalannya. Asap kehijauan mengepul keluar dari trlapak tangan kedua orang guru dan murid itu. Itulah pukulan beracun yang sangat di takuti orang-orang dunia persilatan. Pukulan Seribu Wisa.


"Hiyaaaaa..."


"Haaaaa.."


Kedua guru dan murid itupun memekik hebat sambil menerjang ke arah Bayu. Kedua pasang telapak tangan yang beracun itu siap membinasakan Bayu. Namun pemuda itu sedikitpun tak gentar. Dengan gagah ia menunggu serangan lawan.

__ADS_1


Dasshhh...


Dassss...


Kedua pasang telapak tangan menghantam tubuh Bayu dari arah yang berlawanan. Satu mengincar bahu kanan, yang satunya lagi mengincar bahu sebelah kiri pemuda tersebut. Namun hal yang mengejutkan kedua orang guru dan murid itupun terjadi lagi.


Pada jarak sehasta dari tubuh Bayu pukulan mereka terhenti. Bahkan seolah menempel pada dinding yang tak nampak, sepasang telapak tangan mereka tak dapat di lepaskan. Perlahan sedikit demi sedikit terasa tenaga sakti mereka mengalir deras melalui telapak tangan. Sedikit demi sedikit mereka mulai merasa lemas kelelahan.


Dari tubuh Bayu sendiri terlihat butiran-butiran embun mulai menyebar. Hawa dingin mulai menyebar di tempat itu. Semakin lama hawa dingin itu semakin di kuat dan sampai menusuk menusuk ketulang. Hal ini sangat di rasakan oleh Datuk Sesat Seribu Wisa dan muridnya. Dia pun akhirnya mengetahui siapa yang saat ini di hadapinya.


"Ra.. Rajawali Merah... Aaaaaaa...."


Pekik Datuk Sesat Seribu Wisa saat seca berangsur terjadi pembekuan di darah dan seluruh organ dalam tubuhnya. Terlambat ia menyadari siapa musuh yang di hadapinya. Ia pun tewas dengan keadaan seluruh orang tubuh dalam membeku, sedangkan diluarannya hanya terlihat membiru.


Sedangkan Siluman Racun telah lebih dulu mengalami apa yang dialami gurunya. Ia telah tewas dengan keadaan sama persis dengan gurunya. Beberapa saat kemudian jasad kedua orang guru dan murid itupun jatuh ketanah. Datuk Sesat Seribu Wisa pun tewas di tangan bekas pimpinannya sendiri.


"Kek, bisakah kau periksa keduanya? apakah mereka masih bisa di selamatkan?"


Tanpa menjawab pertanyaan Bayu, Dewa Tuak Gila meletakkan tubuh Nalini di samping gurunya. Kemudian ia memeriksanya secara bergantian. Beberapa kali kening kakek peminum tuak itu mengerut. Kemudian dia teringat sesuatu dan akhirnya tersenyum.


"Bagaimana kek? tanya Bayu lagi. Nampak ia sangat khawatir dengan keadaan mereka berdua.


"Mereka keracunan. Racun yang sangat ganas. Bila sampai besok pagi tak diobati, maka mereka akan tewas" jawab Dewa Tuak Gila.


"Lalu apakah bisa di sembuhkan kek?" tanya Bayu semakin khawatir.

__ADS_1


"Seharusnya bisa, bahkan sangat mudak, bila benar kata Datuk Sesat Seribu Wisa tadi, kau adalah Rajawali Merah.


"Maksudnya Kek?" Tanya Bayu yang kini tidak mengerti arah pembicaraan Dewa Tuak Gila.


"Sebelumnya aku sedikit bertanya-tanya saat pertama kali melihat kau datang di tempat ini terlihat sekali Datuk Sesat Seribu Wisa agak terkejut melihatmu. Nampak sekali kebimbangan tergambar di raut wajahnya." jawab Dewa Tuak Gila.


"Lalu apa hubungannya dengan ku kek?"


"Datuk Sesat Seribu Wisa dulunya adalah anggota perkumpulan Istana Lembah Neraka yang di ketuai oleh seorang pemuda bergelar Rajawali Merah. Dalam upayanya menaklukan seluruh perkumpulan di dunia persilatan, Istana Lembah Neraka mengajukan tantangan ke setiap perkumpulan-perkumpulan di Dunia Persilaran. Sampai pada akhirnya pertempuran antara Istana Lembah Neraka dan Penghuni Benteng Dewa yang di dukung pendekar-pendekar beraliran putihpun terjadi" tutur Dewa Tuak Gila.


"Pertarungan saat itu hampir dimenangkan oleh pihak Istana Lembah Neraka. Sampai akhirnya muncul Empu Adhiyak Sona, seorang tokoh tua sakti yang memiliki Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta. Pada Bentrokan itu sang Empu tewas, sedangkan Rajawali Merah menghilang." sambung Kakek punyuka tuak itu.


"Lalu kemana menghilangnya Rajawali Merah itu kek? dan apakah dia merupakan orang jahat?" tanya Bayu lagi.


"Entahlah, tidak ada keterangan yang jelas akan keberadaan pemimpin Istana Lembah Neraka itu. Yang pasti dia menghilang tanpa jejak. Sedangkan Datuk Sesat Seribu Wisa memutuskan keluar dari Istana Lembah Neraka, walaupun dia tau hukuman bagi mereka yang keluar adalah kematian. Mungkin dia salah seorang yang berpikir bahwa si Rajawali Merah tewas, sehingga waktu melihatmu awal datang tadi, bagaikan melihat malaikat maut saja."


"Kau belum menjawab pertanyaan ku kek, dan juga apa hubungan seandainya memang aku Rajawali merah dengan racun yang ada ditubuh mereka berdua" tanya Bayu dengan penasaran.


"Orang-orang mengatakan Rajawali Merah dan Istana Lembah Neraka beraliran hitam." jawab Datuk Tuak Gila penuh kehati-hatian. Dilirknya wajah Bayu yang menyiratkan kekecewaan atas jawabannya tadi. "Bila memang kau Rajawali Merah akan mudah bagimu mengobati kedua orang itu. Karena Rajawali Merah adalah satu dari beberapa orang yang menguasai Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta."


"Maksudnya kek?" tanya Bayu yang belum juga mengerti.


"Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta merupakan Ilmu terkuat dan tertinggi di Dalam Dunia Persialatan. Orang yang menguasai Ilmu ini tak mempan terhadap racun, dan sangat mudah baginya mengusir racun dengan tersebut dari tubuh orang lain." Jawab Dewa Tuak Gila


"Hmmm... kita coba saja kek, Rajawali Merah atau bukan aku akan tetap mencoba menyelamatkan mereka" Ucap Bayu dengan nada kurang bersemangat. "Kau tunjukkan caranya padaku kek, biar aku yang melakukannya." tambahnya lagi.

__ADS_1


Entah kenapa Bayu merasa bahwa dirinya memang Rajawali Merah. Namun kesan jahat yang disematkan pada sosok itu membuatnya sangat berharap Rajawali Merah itu bukan dia. Terlebih lagi selama tujuh bulanan ini dia berada di desa Bojana, ajaran-ajaran kebaikan dan keksatiraan yang diajarkan eh ki Jatar dan Ki Farja membuatnya lekat dengan itu semua. Walau terkadang ia pun merasa ada sifat kejam pada dirinya tersembunyi. Itu ia rasakan semenjak pertarungan dengan Gederuwo Pemakan Jiwa.


"Kek bolehkah aku mengajukan satu permintaan padamu?" tanya Bayu serius.


__ADS_2