Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.160. Tuduhan yang berat


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 160...


Bayu tersenyum menanggapi ucapan Jari Malaikat. “Sebaiknya kau pikirkan rencana selanjutnya ki."


Bayu kemudian menyandarkan badannya ke pohon. Kemudian pemuda itu memejamkan matanya. Ia sendiri tidak ambil pusing dengan masalah Jari Malaikat. Pemuda ini merasa tak perlu ikut campur, apalagi yang bersangkutan tidak memintanya.


Sementara itu Nalini masih terjaga. Ia menyerahkan sepotong daging rusa panggang kepada Jari Malaikat. Lalu gadis itupun meminta izin untuk beristirahat.


Jari Malaikat tenggelam dalam pikirannya. Ia sendiri masih bingung hendak berbuat apa. Kondisinya saat ini tidak menguntungkan. Hendak meminta bantuan kawan dunia persilatan yang lain, ia sangsi apakah mereka mempercayainya. Sedangkan murid-muridnya sendiri saja bisa di kelabui lawan.


“Apakah aku minta bantuan pemuda ini saja? Tapi apakah ini tidak keterlaluan. Syukur-syukur ia masih mau menyelamatkanku tadi. Rasa-rasanya bagaikan diberi hati minta jantung kalau aku meminta pertolongan pemuda ini.” Bisik Jari Malaikat dalam hatinys.


Sudah sepeminuman teh waktu terlewat. Bayu dan Nalini sudah terlelap dalam tidur mereka. Sementara Jari Malaikat masih berkutat dengan pikirannya untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.


“Jari Malaikat!”


Sedang asik melamun, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan memanggil nama Jari Malaikat. Ia pun memalingkan wajahnya ke arah suara yang memanggil. Nampak seorang perempuan separu baya bersama empat orang pemuda berjalan ke arahnya.


“Nyi Garwita.” Seru Jari Malaikat yang nampak senang dengan kedatangan perempuan separuh baya ketua Perguruan Bunga Bidadari dengan empat orang muridnya itu.


“Apa yang kau lakukan di sini ki? Bukankah dua hari lagi peringatan ulang tahunmu sekaligus berdirinya perguruan Jari Sakti?” tanya Nyi Garwita atau yang lebih di kenal dalam dunia persilatan sebagai Nyai Penjaga Bunga. Matanya melihat ke arah Bayu kemudian Nalini. Keningnya agak berkerut melihat ada sepasang muda-mudi bersama sahabatnya ini.


“Duduk lah dulu nyi, akan kuceritan kejadian yang menimpaku dan perguruanku sehingga aku berada di sini.” Ucap Jari Malaikat.


Nyai Penjaga Bunga dan ke empat orang muridnya duduk di dekat Jari Malaikat. Kemudian ketua perguruan Jari Sakti itupun menceritakan semua kejadian yang menimpanya, hingga akhirnya ia berhasil di selamatkan Bayu.


“Apakah kau tau siapa pemuda dan gadis yang bersamanya itu ki?” tanya Nyai Penjaga Bunga. Dari nada bicara perempuan itu tersirat kecemasan.

__ADS_1


“Aku tidak mengetahuinya Nyai. Memangnya kau mengetahui siapa dia?”


Nyai Penjaga Bunga menganggukkan kepalanya. Lalu perempuan itu memberi isyarat untuk  Jari Malaikat agar tidak ribut. “Sebaiknya kita tinggalkan tempat ini. Nanti aku jelaskan ditempat lain.” Bisik Nyai Penjaga Bunga.


Dengan perasaan berat namun diliputi penasaran Jari Malaikat beranjak dari tempat itu mengikuti Nyai Penjaga Bungan dan muridnya.


Sepeninggalnya orang-orang itu Bayu dan Nalini bangun secara bersamaan. Rupanya mereka tak benar-benar tidur. Bayu memang mendengar langkah kaki yang akan menuju ke tempat itu sehingga dengan menggunakannilmu mengirimkan suara ia membisiki Nalini untuk berpura-pura tidur.


“Mari kita ikuti mereka.” Ajak Bayu.


Kemudian Bayu memegang tangan Nalini. Lalu dengan Bianglala Melukis Langitnya pemuda itu bergerak sangat cepat tanpa meninggalkan suara. Dalam jarak sekitar tiga puluh tombak dari tempat Jari Malaikat dan Nyai Penjaga Bunga berada, mereka bersembunyi di balik pohon.


“Nalini bersiaplah kerahkan tenaga saktimu! aku akan menggunakan ilmu Jagad Rungu untuk mendengarkan percakapan mereka.” Bisik Bayu.


Nalini mengangguk menanggapi arahan Bayu. Kemudian Bayu mengerahkan ilmu Jagad Rungunya untuk mendengarkan percakapan Jari Malaikat dan Nyai Penjaga Bunga. Lalu pemuda itu menyentuh pundak Nalini dengan tangan kanannya. Seketika pendengaran Nalini menjadi sangat tajam sehingga dapat mendengar percakapan mereka yang berjarak tiga puluh tombak lebih darinya.


“Nyai siapakah pemuda dan gadis yang bersamanya itu?” Tanya Jari Malaikat.


Nalini yang mendengar jelas jawaban Nyai Penjaga Bunga yang mengatakan ia adalah kekasihnya Rajawali Merah tersenyum jengah. Wajahnya memerah bagai kepiting rebus. Apalagi kulitnya yang putih itu nampak jelas terlihat dalam jarak dekat walau dimalam hari.


“Apa Rajawali Merah? Bagaimana mungkin. Aku memang mendapat kabar bahwa Rajawali merah masih hidup dan muncul lagi. Terakhir aku dengar khabar dia mengacaukan keadaan pulau es sehingga banyak penghuni pulau es yang menjadi korban. Bahkan Raja Pulau Es sendiri sampai terluka.”


Ucapan Jari Malaikat membuat Nalini kurang senang. Gadis itu tidak menyangka berita yang beredar di dunia persilatan sangat jauh melenceng dari keadaan sebenarnya. Gadis itu jadi tak sabaran hendak menghampiri orang-orang yang sedang membicarakan pujaan hatinya itu. Namun tangan Bayu menahan tubuh Nalini agar tidak beranjak dari situ. Nampak pemuda itu sedikitpun tak terpengaruh dengan ucapan orang.


“Tapi, kalau dia Rajawali Merah, mana mungkin pemuda itu mau susah-susah menyelamatkan aku yang sedikitpun tak ada hubungan dengan dia.” Ucap Jari Malaikat sedikit penasaran.


“Itu juga yang membuat aku tak mengerti ki, bagaimana bisa dia mau susah payah menyelamatkanmu. Tapi aku sangat yakin pemuda itu adalah Rajawali Merah. Apalagi sebelum bertemu denganmu aku bertemu dengan Dewi Sesat Lembah Beracun dan menceritakan pengalamannya saat bertarung melawan Setan Rawa Bangkai.”


Kemudian Nyai Penjaga Bunga menceritakan pertemuannya dengan Dewi Sesat Lembah Beracun yang bercerita tentang pertarungannya dengan Setan Rawa Bangkai. Secara singkat perempuan itu menceritakan bagaimana pertarungan mereka yang terhenti gara-gara perbuatan Bayu yang merasa terganggu. Memang secara tidak langsung perbuatan itu menyelamatkan Dewi Sesat Lembah Beracun dari kekalahan. Tapi hal itu juga menyiratkan kekejaman yang menggambarkan sifat Rajawali Merah.

__ADS_1


“Kalau begitu sudah dipastikan dia adalah Rajawali Merah. Pada awalnya aku ingin meminta bantuan pemuda itu nyai untuk menyelesaikan masalah yang kuhadapi. Tapi mengingat siapa dia sebenarnya, bisa selamat dan dibiarkan hidup olehnya saja sebuah keberuntungan besar buatku. Ah.. benar-benar sangat disayangkan orang sepertinya tidak segolongan dengan kita.”


“Hmmm.. apa boleh buat ki. Biar aku dengan tenagaku yang terbatas ini membantumu. Oh iya sebenarnya kedatanganku ke tempatmu ini bukan sekedar menghadiri perayaan yangbkau adakan, namun aku membawa berita yang tak mengenakkan terjadi di dunia persilatan belakangan ini.?”


“Berita apa Nyai?”


“Belakangan tersiar kabar pembunuhan yang dilakukan Pendekar Macan Putih terhadap beberapa tokoh besar aliran putih. Selain itu beberapa ketua perguruan aliran putih juga banyak yang di culik. Saat ini keadaan kita orang aliran putih sangat kacau. Terlebih setelah Malaikat Bertangan Sakti tewas oleh anak buah Dewa Iblis Kegelapan beberapa waktu yang lalu.”


“Ya akupun mendengarnya dari Dewi Sesat Lembah Beracun. Hanya berita tentang penculikan ketua perguruan silat itu yang aku baru tau darimu. Apa yang sebenarnya terjadi dengan dunia persilatan saat ini?” desah Jari Malaikat.


Merasa sudah cukup mendengar percakapan kedua orang itu, Bayu langsung melesat membawa Nalini ketempat semula. Kemudian pemuda itu menghentikan pengerahan Jagad Rungunya. Setelah itu iapun kembali menyandarkan diri di sebuah pohon. Matanya kemudian dipejamkan.


Sementara Nalini merasa kurang puas dengan sikap kedua orang tokoh persilatan tadi yang menghakimi Bayu dengan cap yang negatif. Ia beberapa kali menghela nafas panjang. Sampai akhirnya karena merasa penasaran, gadis itupun membuka mulutnya.


“Kak Bayu, Mengapa tidak kita tawarkan bantuan saja kepada Jari Malaikat, sekalian menjelaskan keadaan sebenarnya yang terjadi di pulau es. Siapa tau dengan begitu mereka akan mempercayaimu.” Ucap Nalini dengan penasaran.


“Tak perlu Nalini.” Jawab Bayu sambil membuka matanya. Pemuda itupun tersenyum. “Kita tak perlu menjelaskan bahwa kita adalah orang baik kepada orang yang membenci kita, karena sampai kapanpun dia tak akan mempercayainya. Tak perlu pula kita jelaskan kepada orang yang menyukai kita, karena ia tak butuh itu.” Ucap bayu lagi.


Bersambung..


Salam Dunia Persilatan


Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :


1. memencet tombol like


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.

__ADS_1


Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.


__ADS_2