Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
63. Genderuwo Pemakan Jiwa


__ADS_3

"Istriku..." panggil Jaka lembut. Pendekar Halilintar sadar kesedihannya juga telah mengingatkan istrinya pada apa yang mereka sama-sama alami.


"Ada apa kakang" jawab Cempaka, perlahan ia melepaskan pelukannya lalu berjalan keluar pondok, diikuti Pendekar Halilintar.


"Kewajiban kita belum selesai. Akan ada badai besar menimpa dunia persilatan. Mungkin tenaga kita masih di butuhkan."


ENAM BULAN KEMUDIAN


Sudah berlalu enam bulan lamanya Bayu berada di desa Bojana. Kehadirannya di sana dirasakan sangat membantu ki Jatar. Terlebih Bayu memang merupakan anak muda yang cerdas. Hingga banyak pemikiran-pemikirannya membantu menyelesaikan permasalahan permasalahan di desa itu.


"Nak Bayu... Hari ini bisakah kau temani ki Farja ke Desa Karang Wangi untuk menyelesaikan beberapa urusan." Pinta ki Jatar kepada Bayu.


"Bisa ki, kapan?" sahut Bayu yang sedang asik memotong kayu bakar untuk keperluan di dapur.


"Sebentar lagi nak Bayu."


"Baik ki, aku bersih bersih dulu." sahut Bayu lagi.


Setelah membersihkan diri, mandi, dan berganti pakaian, Bayu keluar menemui ki Farja dan ki Jatar yang sedang menunggunya.


"Sudah siap nak Bayu?" tanya ki Farja


"Sudah ki" jawab Bayu seraya tersenyum.


"Ehhh.. mau kemana kalian? kok nggak ngajak ngajak."


Tiba-tiba Nalini muncul dengan wajah cemberut. Ia sedikit marah karena gurunya dan Bayu akan pergi tapi tak mengajak dirinya serta.


"Nalini, ini urusan laki-laki. Mereka akan pergi ke Desa Karang Wangi. Kamu perempuan, jadi tetap di sini saja" ucap ki Jatar menegur anaknya.


"Ayah, Nalini sudah besar. Apalagi Nalini sudah mengusasai semua jurus pedang yang guru ajarkan. Nalini bisa menjaga diri." ujar putri kepala desa itu." Izinkan aku ikut ya ayah" bujuk Nalini lagi.


"Biarlah ki, kan ada Aku dan Bayu yang menjaga" ucap ki Farja ikut membujuk.

__ADS_1


"Kak Bayu menjaga..? Huuuu.. paling-paling aku nanti yang menjaga kak Bayu dengan pedang ini." Cibir Nalini.


Bayu dan yang lain hanya tersenyum. Memang selama enam bulan ini Bayu atau si Rajawali Merah tidak pernah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia memiliki ilmu kesaktian. Hal ini di karenakan memang karena ingatannya yang hilang, sehingga ia tak menyadari memiliki Ilmu yang tiada bandingannya di kolong langit. Selain itu desa Bojana memang terkenal aman, sehingga tidak ada pemicu yang membuat tenaga sakti di tubuh Bayu bereaksi.


"Baiklah, tapi ingat jangan bikin repot gurumu di perjalanan." Akhirnya ki Jatar mengalah dengan anaknya.


Ketiganya pun berangkat dengan menggunakan kuda. Jarak antara Desa Bojana dan Desa Karang Wangi memang cukup jauh. Kalau menggunakan kuda dengan perjalanan sehari semalam penuh tanpa istirahat baru bisa sampai kesana. Sedang saat malam mulai gelap mereka pun memutuskan untuk beristirahat.


Saat itu ketiganya sedang berada di tengah hutan. Memang jalan menuju ke desa Karang Wangi harus melalui hutan kayu arum untuk bisa cepat sampai kesana. Kalau menempuh jalan melalui pesisir, membutuhkan waktu sampai tiga hari baru sampai.


"Ki Biar aku yang berjaga, nanti kalau ada apa-apa aku bangunkan kalian." ucap Bayu menawarkan diri.


Setelah menyalakan api unggun yang cukup besar ki Farja dan Nalini pun beristirahat. Beberapa kali mereka menguap menahan kantuk. Padahal sebelumnya mata mereka masih cukup segar di rasa. Entah apa sebabnya tiba-tiba ki Farja dan Nalini langsung jatuh tertidur saat masih dalam keadaan duduk.


Melihat itu Bayu hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia mengira keduanya sangat kelelahan hingga tertidur seperti itu. Padahal sebenarnya sesuatu yang jahat sedang mengincar mereka.


"Hahaha..."


Suara tawa yang sangat keras mengejutkan Bayu.


Anehnya keduanya tidak bereaksi saat dipanggil. Bahkan saat Bayu menghampiri dan menggoyang-goyangkan tubuh mereka, kedua orang itupun tak bangun-bangun.


"Hahaha..."


Suara tawa makin keras. Orang yang akan datang sepertinya makin dekat. Bahkan Tawa itu membuat pohong-pohon di tempat itu bergoyangan.


Brakkkk...


Tiba-tiba saja sebuah pohon di dekat Bayu roboh. Sebuah pukulan jarak jauh menghantamnya. Untung saja reaksi Bayu cepat menghindar, sehingga pohon itulah yang menjadi korban.


"Berisi juga kau rupanya anak muda. Tidak seperti kedua temanmu yang dengan mudah terbius oleh bau harum yang ku tebar di tempat ini."


Tiba-tiba di hadapan Bayu berdiri sesosok yang tidak bisa disebut manusia, namun mirip manusia. Badannya tinggi gempal. Seluruh tubuhnya ditumbuhi bulu. Bahkan wajahnya pun ditumbuhi dengan bulu. Ia hanya menggunakan sebuah celana panjang hitam tanpa baju.

__ADS_1


"Siapa kau?" Bentak Bayu tanpa sedikitpun menunjukkan rasa takut. Saat mendengar ucapan mahluk aneh tadi ia sadar apa yang menimpa Nalini dan Ki Farja ternyata ulah mahluk ini. Hanya saja yang ia tak mengerti kenapa dirinya tidak mengalami apa yang dialami kedua orang itu.


"Hahaha... bernyali juga kau anak muda. Tentu dagingmu dan darahmu akan menjadi ramuan istimewa untuk aku santap" sahut Mahluk aneh itu. "Orang-orang persilatan menyebutku Genderuwo Pemakan Jiwa."


"Hmmm.."


Bayu yang mendengar ucapan Genderuwo Pemakan Jiwa hanya mendengus. Ia sedikit kesal dengan gangguan mahluk yang satu ini. Tak sedikitpun nyalinya tergetar. Yang ada kemarahannya mulai muncul.


"Enyahlah dari sini, jangan mengganggu kami, atau kau akan menyesal." ancam Bayu. Sebenarnya ia sendiri tak sadar mengapa bisa mengeluarkan perkataan nada mengancam seperti itu. Hanya saja perkataan yang sudah keluar tidak bisa di tarik lagi. Lagi pula tak sedikitpun ada perasaan menyesal sari Bayu mengeluarkan kata-kata itu.


"Grrrrr..."


Genderuwo Pemakan Jiwa menggeram mendengar ancaman Bayu. Ia tak habis pikir ada seorang pemuda tanggung yang tak takut sedikitpun padanya. Apalagi berani mengancam. Orang-orang persilatan saja berpikir seribu kali untuk berurusan dengan mahluk yang satu ini. Bukan hanya pendekar aliran putih, bahkan orang-orang dari aliran hitam lebih memilih menghindari bertemu dengannya.


"Berani kau mengancamku anak muda. Sudah bosan hidup rupanya kau. Grrrr..." Teriak Genderuwo Pemakan Jiwa.


"Hmmm... tak ada yang perlu ditakutkan dari mahluk bau sepertimu." tantang Bayu dengan berkacak pinggang.


"Grrrrrrr...."


"hhrhhhh..."


Braaarkk...


Genderuwo Pemakan Jiwa yang marah dirinya dihina dan dianggap remeh, memukulkan tangannya ke sebatang pohoh di sampingnya. Seketika pohon itu tumbang.


"Kau akan bernasip sama dengan pohon itu bocah sialan." Ancam Genderuwo Pemakan Jiwa. "Ayo maju sini anak muda kalau kau memang punya kemampuan." bentaknya lagi.


Bayu Aruna hanya berdiam diri. Sesungguhnya ia sendiri tidam tau harus melakukan apa. Hanya nalurinya saja yang membuat dia berani menghadapi Genderuwo Pemakan Jiwa. Sedangkan ia sendiri tak punya pegangan untuk menghadapi mahluk tersebut.


Sesaat ia melirik ke arah Nalini dan ki Farja. Keduanya belum juga bangun dari tidurnya. Mungkin aroma pembius yang mereka hirup benar-benar sudah membuat mereka tidur tak sadar lagi dengan sekeliling. Pikirnya kali ini dia akan mati di tangan mahluk menyeramkan ini.


"Kau saja yang maju mahluk bau." Ejek Bayu lagi

__ADS_1


"Grrrr.... kurang ajar. Akan kucabik-cabik tubuhmu itu anak muda" geram Genderuwo Pemakan Jiwa. Ia pun melompat menerjang ke arah Bayu dengan kuku-kuku yang panjang di jari-jari nya.


__ADS_2