Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
101. Ilmu Pedang Pembelah Jagat


__ADS_3

--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 101


Ilmu Pedang Pembelah Jagat


“Coba kau lakukan” pinta Bayu pada Nalini. 


Gadis itupun mencoba Gerakan yang ajarkan oleh Bayu. Memang Gerakannya mirip, namun tenaga yang dihasilkan sangat jauh berbeda. Pohon yang menjadi sasaran gadis itu tak terbelah. Hanya mengalami goyang sedikit saja.


“Bukan seperti itu pengaturan tenaganya Nalini.”  Seru Bayu.


Kemudian pemuda itu sekali lagi memberikan contoh. Tak berbeda dengan sebelumnya, hal sama yang terjadi. Pertunjukkan yang luar biasa mampu pemuda itu lakukan untuk kedua kalinya.


“Ingat Nalini, menggunakan maksud  bukan konsentrasi pada keindahan. Membelah bukan memukul. Jadikan tenaga saktimu lebih tajam dari pada pedang.” Terang Bayu lagi.


Nalini berdiam sejenak. Ia berpikir dengan keras apa yang diterangkan Bayu. Sekitar sepeminuman teh iapun mencobanya lagi.


Ia mulai memperagakan gerakan yang diajarkan Bayu. Kali ini terlihat perbedaan yang mencolok dengan gerakan yang sebelumnya ia peragakan. Dan hasil akhirnya pun luar biasa. Walaupun tak sehebat apa yang Bayu tunjukkan, namun tidak berbeda jauh.


“Bagus!” seru ki Farja yang tak sadar lagi melontarkan pujian kepada Nalini.


Sedangkan Bayu hanya tersenyum. “Aku telah menciptakan tiga macam jurus pedang untukmu. Jurus itu merupakan jurus gabungan Ilmu Pedang Pembelah Mega dan Ilmu Pedang Kilat.” Ucapnya. “Jurus pertama yang berhasil kau pelajari tadi merupakan jurus menyerang, yang kedua jurus bertahan, yang ke tiga jurus menyerang sambil bertahan.” Terang Bayu lagi.


Kemudian Bayu kembali ke tengah halaman. “Ki Farja, Nalini, coba serang aku dari segala penjuru. Kita akan uji jurus kedua yang aku ciptakan. Nalini serang dengan jurus yang baru saja kau pelajari tadi.”


Ki Farja melompat kelapangan. Kemudian Nalini dan Ki Farja menempati posisi di depan dan di belakang Bayu. Keduanya lalu menyerang si pemuda dari dua arah yang berbeda.


Trangg…


Suara pedang ki Farja terdengar sangat keras saat berbenturan dengan ranting di tangan Bayu. Sedangkan sabetan pedang Nalini menghasilkan selarik sinar keperakan yang menghumkan ke bagian kanan tubuh Bayu. Sinar itu hanya lewatdari tubuh Bayu. Malah ia sempat mengenai Sebagian rambut ki Farja yang langsung putus.


Beberapa kali gerakan selalu saja terpatahkan. Bahkan kali ini setiap serangan ki Farja dan Nalini kepada Bayu selalu membentur cahaya keperakan yang dihasilkan oleh ranting di tangannya. Padahal pemuda itu hanya menggunakan tenaga dalam biasa, bukan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta.


“Cukup” seru Bayu.


Keduanya pun menyudahi serangannya. Nampak pakaian ki Farja compang camping. Dan ada beberapa goresan di lengannya. Rupanya ada beberapa serangan Nalini yang mengenai ki Farja.

__ADS_1


“Maafkan aku guru” ucap Nalini dengan kepala tertunduk.


“Hahaha aku tidak apa-apa. Jangan khawatir, aku malah sangat puas dengan kemajuan yang kau raih” sahut Ki Farja


“Inti dari jurus ini adalah merasakan serangan lawan. Bukan melihatnya. Pendekar pedang kilat melakukan dengan pendengarannya. Namun di jurus ini indra peraba dan perasa yang harus kau gunakan.” Terang Bayu. “Sekarang coba kau peragakan”


Kali ini Nalini tidak mengalami banyak kesulitan untuk mempelajarinya. Kilatan-kilatan sinar keperakan membungkus rapat tubuhnya. Lalu bayu menyersng gadis itu dengan melempar puluhan kerikil ke arahnya. Tak satupun dari kerikil itu yang mampu mengenai tubuhnya.


Setelah menganggap jurus kedua yang diajarkannya dikuasai dengan baik oleh Nalini, Bayu pun kembali memperlihatkan jurus ketiga. Kali ini kilatan sinar keperakan yang bukan hanya keluar dari ranting yang ada di rangan Bayu. Namun dari tubuh nya pun memancarkan hal yang sama. Kilatan sinar keperakan itu mirip ratusan pedang yang bergerak cepat mengitari tubuh pemuda itu.


"Aku akan menyerang pohon itu, dari belakang kalian lemparkan benda apa saja ke arahku" seru Bayu.


Nalini dan gurunya melemparkan batu besar dan benda lainnya ke arah Bayu. Sementara Bayu bergerak menyerang sebuah pohon yang tak jauh di hadapannya. Puluhaan benda yang melayang kearah pemuda itu langsung teriris iris menjadi kecil bagai diiris ribuan pedang. Padahal Bayu sedikitpun tidak mempedulikan penyerangnya.


"Luar biasa nak Bayu jurus yang ke tiga tadi." puji ki Jatar.


"Tapi jurus yang satu itu punya kelemahan ki."


"Kelemahan? kelemahan apa maksudnya nak Bayu?"


"Jurus ini sangat menguras tenaga dalam. Jadi jurus ini tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang lama. Memang pertahanan dan serangannya jauh berkali-kali lipat di banding jurus pertama dan kedua, namun kalau orang yang belum memiliki tenaga sakti yang sudah sempurna, tidak akan bertahan lebih dari sepeminuman teh."


"Kau namakan apa ilmu pedang itu nak Bayu" tanya ki Farja.


"Kau saja yang menamainya ki, kelak bila kau ada waktu luang dan tak keberatan, kiranya sudi mempelajari ilmu pedang ini juga" sahut Bayu.


"Hahaha, hanya orang bodoh yang menolak mempelajari ilmu pedang ciptaanmu itu anak muda. Bagaimana kalau kita namakan Ilmu Pedang Pembelah Jagat."


"Bagus sekali nama itu Farja. Dan cocok sekali" Timpal ki Jatar.


Bayu hanya tersenyum menanggapi usul ki Farja. Itu menandakan ia pun tak menolak. Lalu Pemuda itu menghampiri Nalini untuk menjelaskan rahasia dari teknik jurus terakhir ilmu pedang yang ia ciptakan


Kemudian gadis itu mendengar kan segala petunjuk Bayu tentang jurus yang ke tiga. Untuk jurus ini Nalini agak kesulitan mempelajarinya. Hingga menjelang sore baru gadis itu berhasil melakukannya. Itupun masih belum sempurna.


"Sebaiknya sudahi dulu latihannya anakku. Masih ada waktu dua hari sebelum hari yang di tentukan pemuda itu. Besok masih ada kesempatan" Bujuk ko Jatar.


Nalini berhenti sejenak. Kemudian gadis itu melirik ke arah Bayu. Pemuda itu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia pun menyudahi latihannya.

__ADS_1


"Hahaha sudah siapkah kau untuk mati Jatar, Hahaha..."


Sesaat ke empat orang itu hendak masuk ke dalam rumah, terdengar suara tawa dari belakang. Saat mereka berbalik, di depan pagar rumah telah berdiri Randu dengan berkacak pinggang. Mata anak muda itu begitu tajam menatap ki Jatar. Mata yang mengandung dendam.


Tiba-tiba saja Randu melesat sambil menghunuskan pedangnya ke arah ki Jatar. Bayu yang kebetulan berada paling depan hanya tersenyum melihat apa yang hendak dilakukan oleh Randu. Sedangkan Nalini begitu cemas hingga hendak bergerak menerjang balik Randu, namun hal itu dicegah oleh ki Farja.


Dengan kecepatan yang sulit diikuti mata biasa Randu menyerang ki Jatar. Namun belum sampai menyentuh tubuh ki Jatar, pedangnya terhenti sejengkal sebelum melewati Bayu. Nampak biasan embun membentuk sebuah tembok. Seketika haea dingin langsung menyelimuti tempat itu.


Randu mulai merasakan hawa dingin yang sangat hebat menjalar dari pedang ke tangannya yang menggenggam pedang. Pemuda itu berusaha melepas genggaman tangannya pada pedang, namun usahanya sia-sia. Pedang seperti menempel ketat di tangannya. Sedangkan hawa dingin itu semakin hebat menyiksanya.


"Masih ada waktu dua hari kisanak. Dua hari lagi datanglah kembali kesini menyelesaikan hutang piutangmu kepasa ki Jatar. Kau akan bertarung dengan putrinya ki Jatar. Ia yang akan mewakili ayahnya bertarung denganmu" Ucap Bayu.


Kemudian dengan satu hentakkan, Bayu melemparkan cucu Pendekar Pedang Kilat itu keluar halaman. Randu sendiri tak menyangka sama sekali di tempat itu ada orang yang sangat sakti. Seketika ada perasaan cemas dalam pikirannya. Tanpa di sadarinya di sampingnya sudah berdiri seorang kakek buta.


"Tuan Pendekar, aku harap kau tidak ikut campur saat pertarungan dua hari yang akan datang." ucap si kakek buta yang tak lain Pendekar Pedang Kilat itu.


"Selama kau orang tua tidak ikut campur, tak akan aku mencampuri pertarungan mereka." sahut Bayu.


"Aku pegang kata-katamu" tegas Pendekar Pedang Kilat. "Ayo kita kembali!" ajak pendekar buta itu kepada cucunya. Kemudian keduanya pun melesat meninggalkan tempat itu.


Bersambung...


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Salam Dunia Persilatan...


Mudah-mudahan keberkahan dan perlindungan Yang Maha Kuasa selalu bersama kita. Karya Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta (ITGAS) mudah-mudahan bisa mendapat tempat di hati kalian. Mungkin bukan bacaan terbaik, tapi paling tidak bisa menemani lelah kalian.


Jangan lupa kunjungi karya saya yang lain



Dark Hunter


Pendekar halilintar (Kisah Pertama trilogi Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta)


__ADS_1


Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan, sudilah kiranya memberikan like, dan komentar pada cerita ini.


Salam Dunia Persilatan


__ADS_2