
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 249...
Bayu melongo melihat kehebatan ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke tujuh yang diperagakan oleh sosok misterius berbentuk cahaya itu. Memusnahkan lawan menggunakan tenaga ilmu tujuh gerbang semesta tingkat ke enam memang pernah dilakukannya pada saat di alam lelembut melawan raja siluman ular. Walau apa yang dilakukan yang hampir mirip dengan yang dilakukan oleh sosok misterius itu, namun semuanya terjadi tidak secepat yang dilakukannya tadi.
“Jangan kau bandingkan apa yang kulakukan tadi dengan yang kau lakukan di alam lelembut waktu melawan Raja siluman ular. Yang kau lakukan terlalu lambat dan hasilnya pun jauh dari yang terjadi pada pohon itu. Proses pelenyapan sasaran terlalu lambat sehingga memberikan waktu untuk siluman ular membelah diri menjadi kecil dan sekarang bisa bangkit dalam wujud raja iblis Bukit tengkorak.”
Kembali Bayu dikejutkan oleh kehebatan sosok misterius berubah cahaya itu. Dia mampu membaca apa yang ada dalam pikiran Bayu. Entah itu suatu kebetulan atau memang orang itu memiliki kemampuan membaca pikiran orang lain.
“Pukulanmu itu pun hanya mampu menghancurkan raganya saja tapi tidak jiwanya. Sehingga sekalipun kau dapat melakukannya dengan cepat, apabila kau menghadapi bangsa siluman dia kan bisa menjelma kembali Dalam wujud yang lain. Karena yang kau hancurkan hanyalah raganya saja bukan jiwanya,” ucap sosok misterius itu menjelaskan kepada Bayu.
“Lalu apa kehebatan tingkat ke tujuh?” tanya Bayu singkat.
“Saat ini kau tidak perlu tahu dan tidak perlu mempelajarinya. Cukup kau belajar ilmu itu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke enam secara sempurna. Di depan matamu menunggu bencana besar yang akan segera terjadi. Muridku Adhiyaksona telah memilihmu menggantikannya untuk mengemban tanggung jawab itu. Jangan kau sia-siakan pengorbanannya,”
“Mengapa harus aku yang melakukannya. Aku tidak pernah meminta orang tua itu berkorban untukku. Mengapa tidak kau saja yang melakukannya? bukankah kau memiliki kemampuan yang jauh lebih hebat dari ku. Tentu bencana itu dapat kau cegah dengan mudah,” protes Bayu sedikit kesal.
“Karena ini bukan zaman ku lagi, Akupun seharusnya sudah meninggalkan dunia ini kalau saja tidak terikat dengan sebuah janji yang kubuat sendiri kepada sahabatku. Seharusnya aku telah Moksa dan melepas keduniawian ini. Bila aku ikut campur maka aku tidak akan bisa menjalani Moksa. Dan keseimbangan alam semesta akan terganggu. Lagi pula bencana yang akan terjadi nantinya erat hubungannya denganmu.”
__ADS_1
Bayu terdiam sejenak. Ia belum dapat menangkap maksud pembicaraan orang misterius itu. Yang ia tahu selalu saja orang-orang mengatakan bahwa dunia sedang akan menghadapi bencana besar yang diakibatkan oleh kekuatan jahat. Namun apa bentuk bencana nya kapan terjadi, dan di mana tempatnya ia sedikit pun tidak mengetahuinya.
“Ingat! Secepatnya kau kuasai ilmu di gerbang alam semesta tingkatkan ke enam secara murni dan sempurna. Kalau tidak kau sendiri yang akan menyesal. Aku sudah memperingatkanmu tinggal kau sendiri berusaha untuk melakukannya.”
Sesaat kemudian sosok misterius itu pun tiba-tiba lenyap dari tempat itu. Tentu saja Bayu menjadi kelabakan sendiri karena banyak hal yang ingin Ia tanyakan kepada orang misterius berbentuk cahaya itu. “Siapa kau sebenarnya? Dan di mana aku bisa menemuimu?” teriak Bayu masih berharap orang itu masih ada di sana.
“Akulah penulis Kitab yang ada ada di tanganmu itu, dan aku juga yang menciptakan ilmu Tujuh gerbang alam semesta. Kau tidak perlu mencari dimana keberadaan ku, kalau kita memang berjodoh kelak kita akan bertemu lagi.”
Benar saja apa yang dipikirkan Bayu sesaat setelah Bayu menyelesaikan ucapannya, terdengar sahutan dari sosok misterius itu. Kemudian suara itu pun hilang. Berkali-kali Bayu mencoba memanggilnya namun tidak ada sahutan lagi. Sosok misterius itu benar-benar telah pergi meninggalkan Bukit kosong.
...***...
Rombongan itu tidak lain adalah rombongan Dewi api bersama orang-orang suku api yang dipimpin oleh Eka Wira. Bersama mereka juga ikut empu Yudiba sebagai penunjuk jalan dan juga sebagai penasehat. Sesuai petunjuk awal yang mereka dapatkan, mereka akan menuju ke istana Lembah neraka.
“Dewi apakah tidak berbahaya apabila kita langsung menyerang ke istana Lembah neraka. Bukankah disana kediamannya Rajawali merah pemilik ilmu tujuh gerbang alam semesta dan juga pedang penguasa naga itu.” Tanya Eka Wira.
Saat ini rombongan Dewi api dan yang lainnya sedang beristirahat di salah satu rumah makan kota yang berdekatan dengan perbatasan negara barat dan negara Selatan. Mereka memutuskan untuk menginap di sana karena keadaannya sudah larut malam. Ini juga atas keinginan Dewi api. Entah kenapa Gadis itu berselera untuk makan makanan yang enak.
“Kita akan mencari tahu keadaan di sana dulu dan tidak langsung menyerang. Untuk saat ini kekuatanku masih berada di bawah pemuda itu. Jadi sebisa mungkin kita hindari bentrok dengannya. Apabila diketahui bahwa dia telah meninggalkan tempat itu maka sesegeranya kita menyerang,” ucap Dewi api sambil menikmati hidangannya.
__ADS_1
“Baiklah Dewi”, sahut Eka Wira.
Saat mereka sedang asyik menikmati hidangan sambil berbincang-bincang, tiba-tiba saja masuk ke tempat itu tiga orang lelaki. Mereka tidak lain adalah raja peramal dari timur, Raja siluman ular yang bersemayam di tubuh Raja Iblis Bukit tengkorak, dan juga Pangeran Mandaka. Ketiganya pun langsung mengambil tempat dan memesan makanan.
“Tidak disangka pemuda itu benar-benar memiliki kesaktian yang tidak ada tandingannya. Aku bahkan telah memberikan pukulan berat ke tubuhnya namun sedikitpun ia tidak mengalami cidera. Bahkan Ki Madar iblis mayat hidup harus tewas seketika hanya dengan satu pukulan.” Ucap Raja Siluman ular dengan geram merasa penasaran.
“Bukankah aku sudah memperingatkanmu bahwa kesaktian pemuda itu tidaklah bisa dianggap main-main. Padahal kau sendiri pernah berhadapan dengannya langsung dan mengetahui bagaimana kehebatan pemuda itu,” sahut Raja Peramal Negeri Timur.
“Waktu itu ia didampingi oleh dua makhluk keramat sehingga bisa membangkitkan ilmu tujuh gerbang alam semesta tingkat ke enam. Di bukit benteng Dewa Aku sudah menyelidiki bahwa pemuda itu tidak lagi didampingi oleh dua makhluk keramat, karena salah satunya telah meninggalkannya. Dan waktu itu pangeran Mandaka sendiri yang membenarkan informasi itu,” sahut Raja Siluman Ular.
“Tetap saja kau terlalu gegabah untuk menyantroni seorang pendekar Sakti di sarangnya. Kita harus mencari cara lain untuk membawa pemuda itu bergabung dengan kita dan membantu mengusir musuh. Atau kita harus mencari cara untuk mendapatkan kekuatan makhluk keramat berung api yang menghilang itu.” Potong Pangeran Mandaka.
“Sama saja keduanya terlalu sulit untuk kita pilih. Padahal apabila kau mampu membujuk orang tua Sakti di lembah alam roh itu tentu semua jadi lebih mudah. Memang orang tua itu bukanlah orang yang bisa diajak kerjasama dalam urusan dunia. Setahuku dia orang yang sudah meninggalkan keduniawian untuk mencapai keabadian,” ucap Raja Peramal dari Negeri Timur.
Sementara itu Dewi api dan orang-orang yang mendengarkan percakapan antara Pangeran Mandaka dan dua orang pembantunya hanya diam tidak melakukan tindakan. Hal ini dikarenakan Dewi api memberikan isyarat mereka untuk tidak bertindak. Semua orang yang seperjalanan dengan Dewi api pun mengangguk.
**Bersambung...
Jangan lupa like dan komentarnya biar seru**
__ADS_1