
...---- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA ----...
...Episode 106...
“Tidakkk….”
Tiba-tiba terdengar teriakan dari Randu. Pemuda itu sangat terkejut saat mengetahui bahwa ki Jatar adalah ayahnya, dan Nalini adalah adiknya. Setelah menguatkan hati untuk berdiri, ia pun berlari meninggalkan tempat itu.
“Anakku.. ternyata dia anakku.” Rintih ki Jatar. Ia pun pingsan.
“Kasian, mereka" gumam Dewa Tuak Gila. "Cepat kau hentikan jalan darah gadis itu dulu." perintahnya lagi.
"Jangan tuanku!"
Tiba-tiba terdengar suara yang menahan Bayu untuk melakukan apa diperintah Dewa Tuak Gila. Bayu pun menoleh kearah datangnya suara. Ternyata suara itu berasal dari Raja Iblis Kelabang, yang menyeret Randu ketempat mereka.
Bukkk...
Tubuh Randu di dorong hingga jatuh terjerembab ke tanah. Sepertinya pemuda itu terkena totokan Raja Iblis Kelabang.
"Orang yang terkena racun bulu landak salju tidak boleh pembuluh darahnya tertahan. Itu akan membuat pembuluh darah mereka pecah.” Ungkap Raja Iblis Kelabang.
“Bwahaha tak di sangka dedengkot ilmu hitam seperti kau ini sudah bisa mengubah jalan hidup” ucap Dewa Tuak Gila.
Raja Iblis Kelabang tidak menanggapi ucapan orang tua itu. Sebaliknya ia menghampiri ki Jatar lalu memeriksa nadi Nalini.
“Bulu landak salju telah bersarang di jantungnya. Dia hanya bisa bertahan selama empat puluh hari. Apabila tidak bisa mengeluarkan Bulu Landak Salju sebelum itu, maka gadis ini akan meninggal.”
Wajah Bayu terlihat pucat mendengar hal itu. Ia segera menghampiri Nalini. Kemudian pemuda itu mengerahkan tenaga saktinya untuk mengeluarkan racun di tubuh Nalini.
“Jangan tuanku, tenaga sakti hanya akan mempercepat kematiannya” Cegah Raja Iblis kelabang.
Seketika Bayu menarik kembali tenaga saktinya.
Tiba-tiba ki Jatar sadar dari pingsannya. Dilihatnya kini Nalini berada dalam pangkuan Bayu. Ia pun melirik ke sosok tubuh yang terbaring di sampingnya. Dilihatnya orang itu adalah Randu.
“Tolong lepaskan totokannya” pinta ki Jatar yang menduga Randu dalam keadaan tertotok karena matanya masih melotot namun mulut dan tubuhnya tidak bergerak sama sekali.
__ADS_1
Dess.. dess..
Tiga kali Raja Iblis kelabang memberi totokan pada Randu. Pemuda itupun bergerak. Saat dia ingin bangkit, kembali pemuda itu terduduk.
“Bunuh saja aku!” teriaknya.
Rupanya tadi Bargawa atau Raja Iblis Kelabang melepaskan totokannya namun memberi lagi satu totokan bagian bawah tubuh, supaya pemuda itu tidak lari.
“Aku tak akan membunuhmu, aku ayahmu nak” bujuk ki Jatar.
Randu diam dan memalingkan wajahnya dari orang-orang yang ada di situ. Dalam hatinya berkecamuk hebat, memikirkan apa yang sedang terjadi saat ini. Satu sisi ia merasakan kemarahan yang besar pada ki Jatar, satu isi ada kebahagiaan di relung hatinya mengetahui ia masih memiliki ayah yang masih hidup.
“Sudahlah anakku, kita lupakan segala yang terjadi, lalu memulainya lagi dari awal.” Bujuk ki Jatar sekali lagi.
“Ki, jasad. Pendekar Pedang Kilat ini mau kita apakan?” tanya ki Farja
Randu yang mendengar ucapan ki Farja itu langsung menoleh kearahnya. “Bisakah kau ambilkan surat di balik bajunya” pinta Randu. Kali ini nada suaranya sudah mulai berubah lembut.
Ki Farja menggeledah baju mendiang Pendekar Pedang Kilat. Di balik baju itu terdapat sepucuk surat yang masih terlipat rapi. Ki Farja pun berjalan menghampiri Randu untuk menyerahkan surat itu.
Awalnya Randu hendak mengambil surat itu, namun niat itu ia urungkan. Sadar akan lengannya yang hanya tersisa satu, pemuda itupun meminta tolong ki Farja untuk membacakannya. “Maukah kau membacakannya ki?” pinta Randu kepada ki Farja
Wusssh..
“Bahaya sekali” gumam Bargawa.
Serangkum angin berhembus kearah ki Jatar menyapu debu itu terbang kebelakangnya. Hembusan angin itu berasal dari kibasan lengan baju Raja Iblis Kelabang.
“Ada apa?” tanya ki Farja keheranan.
“Sudah tidak apa-apa, bacalah, nanti aku jelaskan.” Sahut Bargawa setelah beberapa saat tadi ia memeriksa nadi Randu.
Ki Farja pun mulai membaca surat itu.
Cucuku,
Apabila surat ini kau baca, berarti aku telah tewas di tangan pemuda sakti itu. Dan aku harap kau pun telah menyelesaikan tugasmu membalas dendam.
__ADS_1
Rasanya sangat puas hatiku memperkirakan semua itu terwujud. Si Biadab Jatar itu mati di tangan anaknya sendiri.. Hahaha..
Ya kau memang anak si Jatar itu. Karena sebelum menikah dengan suaminya, ibumu sudah mengandungmu Randu. Siapa lagi bapakmu selain Iblis keparat itu.
Seringkali ibumu berusaha memberitahukan perihalmu kepada lelaki berengsek itu, selalu aku halangi. Tak sudi aku anakku berhubungan dengan orang yang mencuri Ilmu Pedang Keluargaku.
Tenanglah cucuku, kau tidak akan lama hidup di dunia ini. Secepatnya kau akan menyusulku. Kau telah meminum racun pengantar jiwa, yang mana racun itu akan langsung bereaksi apa bila kau mencium atau harum bunga jiwa menari. Yang ku tabur di surat ini merupakan saripati bunga jiwa menari.
Hahaha... aku benar-benar puas, dan aku tak akan menyesali semua perbuatanku.
Ki Farja menghela nafas panjang setelah membaca surat itu. Ia tak habis pikir kenapa seorang pendekar kenamaan tega melakukan itu hanya karena dendam dan harga diri.
"Tak disangka orang yang menjalani hidup dalam lingkaran kebaikan, berjalan pada jalan yang lurus, di akhir hidupnya memilih jalan yang kelam." Desah Dewa Tuak Gila. sambil menggeleng- gelengkan kepalanya. "Iblis Kelabang! dari mana kau tau bahwa surat itu beracun.
"Bukan surat itu beracun, tapi tubuh anak ini yang keracunan. Dengan sekali lihat aku sudah dapat menebak pemuda ini keracunan." sahut Bargawa. " Hanya saja aku tak tau racun itu racun apa. ternyata racun itu racun pengantar jiwa yang tak berbahaya apabila dia tidak menghirup haruman dari bunga Jiwa menari.
Semua orang mengangguk dan tersirat kekaguman akan ketelitian Raja Iblis Kelabang. Seandainya tidak ada dia, tentu Randu akan tewas akibat racun di tubuhnya bereaksi.
"Apakah sudah tidak berbahaya racun itu?" tanya ki Jatar cemas.
"Besok racun itu akan hilang dengan sendirinya. Asalkan tidak mencium harum bunga nyanyian jiwa, tak akan dia kenapa-kenapa" sahut Bargawa.
"Maafkan aku ayah... maafkan juga kakek." Sesal Randu. Pemuda itu benar-benar menangis dan menyesali perbuatannya. Pipinya basah oleh airmata yang terus mengalir.
"Lupakan anakku, kita mulai semuanya dari awal lagi." sahut ki Jatar.
"Tapi adik... adik tidak akan tertolong.." rintih Randu yang semakin deras airmata dipipinya mengalir.
Tiba-tiba semuanya mengalihkan pandangannya kepada Nalini yang berada di pangkuan Bayu. Tak sadar mereka sempat melupakan keadaan gadis itu. Kejadian tadi betul-betul membuat mereka lupa akan keadaan.
"Kakek Bargawa, apakah tidak ada cara lain menyelamatkan Nalini" tanya Bayu dengan suara bergetar. Nampak pemuda itu berusaha menahan tangisnya.
"Hanya ada satu orang yang tau penawar racun bulu landak salju. Karena dialah pemilik hewan beracun itu." jawab Bargawa sambil membungkuk. Dia benar- benar merasa tidak enak sekaligus senang Bayu memanggil nya kakek, tidak memperlakukannya sebagai pembantu.
"Siapakah dia?" tanya Bayu singkat.
"Raja Pulau Es." jawab Bargawa.
__ADS_1
Bersambung...
...---- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA ----...