
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...
...Episode 287 ...
“Maafkan aku dik Bayu yang tak sempat membantu kalian. Aku kira ribut-ribut di ruangan ini, merupakan kejadian yang biasanya terdengar saat para anggota sedang latihan. Baru setelah mendapat kabar dari salah satu anggota, kami mengetahui telah terjadi kekacauan oleh burung api keramat,” ucap Jaka yang merasa tidak enak.
“Tidak mengapa kakang, semuanya sudah teratasi. Merekapun telah meninggalkan tempat ini. Bagaimana dengan keadaan Kak danastri?” Tanya Bayu, walaupun sebenarnya ia bisa menebak hasil dari usahanya dari kemunculan Danastri di tempat itu.
“Keadaanya jauh lebih baikan. Bahkan lebih baik dari sebelum ia meninggal dulu,” jawab Jaka disertai senyuman sambil melirik ke arah Danastri.
“Terima kasih pendekar Rajawali Merah atas pertolonganmu. Kini aku telah terbebas dari pengaruh Ratu Siluman Serigala. Namun istimewanya, kekuatan yang dimiliki oleh ratu serigala itu masih berada ditubuhku. Tenaga sakti yang kumiliki saat ini sama kuatnya dengan tenaga sakti ratu serigala, namun tidak memiliki hawa siluman sedikitpun,” ucap Danastri yang sangat berterima kasih atau bantuan Bayu itu.
Rajawali Merah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya menanggapi ucapan Danastri. Sebenarnya ia tak begitu memperhatikan ucapan kakaknya cempaka itu. Perhatiannya masih tercurah pada kejadian yang baru saja ia alami. Secara singkat Bayu menceritakan apa yang baru saja terjadi.
Sementara itu di Istana Kerajaan Selatan setelah sepeninggal Jaka, satupun tak ada yang berani beranjak meninggalkan tempat itu tanpa seizin orang tua berpakaian serba putih yang di sebut leluhur raja tadi. Dia adalah Raja Pertama kerajaan Selatan yang naik tahta setelah berhasil menggulingkan raja sebelumnya. Dia juga yang berhasil menaklukkan pedang penguasa naga pertama kali sebagai orang yang bukan merupakan keturunan raja pertama.
__ADS_1
“Aku sudah berusaha untuk tidak ikut campur lagi dalam urusan kerajaan apalagi urusan dunia persilatan. Tapi untuk urusan tidak perlu ini kalian telah mengganggu istirahatku. Aku yang lebih dahulu mengundurkan diri dari keramaian dunia sedangkan Nirwasita sahabatku yang baru saja melakukannya sudah berhasil Moksa. Kini kalian malah melibatkan aku dengan urusan kalian.”
Raja selatan dan semua yang ada di sana tertunduk, mereka tidak berani menanggapi ucapan orang tua itu. Memang yang meminta orang itu adalah Raja Selatan. Bagi raja dan keturunannya semua mengetahui bahwa raja pertama yang bernama Saka Prawara ini masih hidup. Selain seorang raja ia juga merupakan ahli beladiri satu jaman dengan Begawan Nirwasita. Bahkan mereka bersahabat.
“Eyang, bila kau tidak turun tangan maka kerajaan ini akan runtuh. Selanjutnya keturunan-keturuanmu bukan lagi menjadi seorang keturunan bangsawan kerajaan,” keluh Raja Selatan.
“Hmmm.. hidup dan mati, siang dan malam, panas dan dingin, timbul dan tenggelam semuanya sudah ada garisnya. Sang pencipta telah mengatur semuanya menjadi sebuah cerita kehidupan. Sekenario penggenggam jagad ini juga berlaku pada kerajaan selatan ini, lalu apa yang kau khawatirkan?” tanya Eyang Saka Prawara.
“Tapi eyang, yang ingin merebut kekuasaan kali ini adalah bekas pembantu setia anakmu. Ia berasal dari suku api,” Sanggah Raja Selatan.
“Rupanya kau belum mengerti maksud kalimatku tadi. Tapi baiklah aku akan membantu kalian untuk mengatasi Raja kerajaan Barat itu. Selebihnya aku tak akan ikut campur,” tergas eyang Saka Prawara.
Setelah memberi sedikit wejangan kepada raja selatan dan orang-orang yang ada di sana, Eyang Saka Prawara pun meninggalkan tempat itu. Kemudian raja Selatan memerintahkan kepada orang-orangnya untuk membereskan kekacauan-kekacauan yang terjadi. Hanya bebera hari saja setelah kejadian itu, istana kembali seperti semula.
Ancaman penyerangan yang disuarakan Raja Barat tinggal dua hari lagi. Kerajaan selatan pun telah bersiap menghadang serangan lawan. Seluruh jago-jago silat yang berada di pihak raja selatan di kumpulkan di Istana. Para prajurit pasukan perang pun telah di siagakan. Peperangan besar tak lagi bisa di elakkan.
Setiap peperangan pasti akan membawa kehancuran dan menimbulkan korban yang tak sedikit. Hal ini sangat disadari para penduduk yang berada di sekitaran kota raja. Setelah diumumkannya akan terjadi perang besar, para penduduk di kota raja dan sekitarannya memilih untuk mengungsi. Hingga dua hari sebelum perang besar terjadi lebih dari tiga perempat penduduj sudah meninggalkan kota raja dan daerah sekitarnya.
__ADS_1
Di pihak kerajaan Barat sendiri pasukan perang dan pasukan ahli silat telah berkumpul. Walau telah banyak kehilangan jago-jago utamanya, namun Raja Barat telah menciptakan pasukan khusus sangat dahsyat. Jumlahnya hanya sekitar dua puluh orang. Mereka dibekali ilmu Racun Kelabang Hitam dan Ilmu Pancasona. Sehingga bukan hanya menjadi pasukan yang beracun, tapi juga menjadi pasukan yang sulit untuk dimusnahkan.
Raja Barat sendiri kini di dampingi oleh tiga orang pembantu utamannya yang menggantikan pembantu-pembantu terdahulu. Ke tiga orang itu bisa di katakan murid-murid yang Raja Barat didik langsung. Hampir dua puluh tahun mereka disiapkan. Tepat pada hari ini ketiganya telah selesai melakukan latihan.
Ketiga orang yang berumur rata-rata tiga puluh tahun itu di ajarkan tenaga inti api yang menjadi khas kekuatan suku api leluhur Raja Barat. Satu di antara ketiga orang itu adalah anak Raja Barat dari istri muda yang dinikahinya sebelum menjadi Raja di kerajaan barat. Putra Mahkota itu bernama Eka Wirendra.
“Ayah mengapa kau tidak mengizinkan aku ikut berperang?” tanya Eka Wirendra kepada Raja Barat. “Hampir dua puluh tahun lamanya aku berlatih, hingga ilmu Pancasona dan juga tenaga inti api ku kuasai sepenuhnya. Kalau harus menunggu aku menguasai ilmu Semesta Hitam, aku tidak yakin sepuluh tahun lagi pun menunggu, sudah dapat menguasai ilmu itu sepenuhnya,” ucap Eka Wirendra.
“Anakku aku bukan tidak senang kau ikut membantu penyerangan ini. Namun kerajaan Barat kita harus tetap memiliki pimpinan sementara aku tidak ada. Apalagi ini kesempatanmu untuk memperlihatkan kemampuanmu memimpin pada rakyat kita. Kelak bila kerajaan selatan kita kuasai, kerajaan barat tetap kau yang akan menjadi rajanya.”
Raja Barat berusaha memberikan pengertian kepada putranya. Walau ia yakin bisa memperoleh kemenangan mutlak dengan kemampuannya sekarang dalam menghadapi kerajaan selatan, tetap saja ia berjaga-jaga atas segala kemungkinan yang akan terjadi. Apalagi tidak mungkin ia membiarkan kerajaan barat dalam kekosongan kepemimpinan.
“Anakku, besok kau sudah harus kembali ke kerajaan Barat. Sambil memimpin di sana, kau pelajari lah ilmu semesta hitam sampai sempurna. Kelak kau akan menggantikan aku menjadi pemimpin dunia ini.”
Dengan berat hati Eka Wirendra menganggukkan kepala menjawab perintah sang ayah. Walaupun berat ia tetap mengukuti perintah Raja barat. Sedikitnya ia bisa berlega hati dua orang saudara seperguruannya dalam berlatih turut mendampingi sang ayah dalam penyerangan.
Siangnya setelah pembicaraan dengan sang anak, Raja Barat bersama pasukannya langsung bertolak dari kota Sedaha. Pasukan yang jumlahnya hampir sepuluh ribuan itu bergerak cepat menuju kota Raja. Bendera-bendera dan panji-panji dari kerajaan barat terlihat dari kejauhan mengesankan gagahnya pasukan-pasukan itu. Hal ini juga menggambarkan betapa hebat dan mengerikannya peperangan yang akan terjadi nanti.
__ADS_1
Bersambung...