
...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...
...Episode 204...
Bayu memusatkan pikirannya, ia berusaha menaklukan pedang penguasa naga yang berada dalam tubuhnya. Perlahan sinar keemasan yang memancar dari tubuh Bayu berubah menjadi putih terang. Dari atas perlahan-lahan menyusur kebawah hingga akhirnya seluruhnya berubah menjadi warna putih terang. Dengan kecerdasannya pemuda itu berhasil membangkitkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta tingkat ke enam memanfaatkan tenaga sakti pedang penguasa naga.
“Kembalilah kau ke Kerajaan Selatan. Katakan pada rajamu Pedang Penguasa Naga sekarang sudah ku kuasai. Sumpah penguasa pada pedang ini telah gugur, dia tak akan bisa lagi menggunakan pedang ini.” Ucap Bayu tegas.
Naga Hitam cemas, mukanya berubah pucat pasi. Satu hal yang di ketahuinya, dengan berpindah tangannya pedang penguasa naga, maka Batu Naga yang ada pada tubuhnya cepat ata lambat akan berpindah. Itu artinya ia bukan lagi menjadi pelindung raja. Salah-salah ia akan mendapatkan hukuman gantung karena lalai menjaga pedang pusaka tersebut.
Bayu memusatkan pikirannya, tiba-tiba di depannya muncul sebuah pedang berupa cahaya. Bentuknya mirip dengan pedang penguasa naga, hanya bedanya ia berwarna terang dan memancarkan cahaya yang menyilaukan. Kemudian pedang itu melayang ke atas dan berputar-putar di atas lima tombak dari kepala pemuda itu.
Daassshh..
Sesaat terjadi ledakan cahaya yang sangat menyilaukan. Seluruh tempat itu menjadi sangat terang dibuatnya. Tak ada seorangpun yang mampu membuka mata kecuali Bayu. Seaat kemudian keadaan kembali normal.
Terlihat sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Bayu kini berada di atas kepala seekor naga berbentuk cahaya yang warnyana putih menyilaukan. Cahaya terang terus memancar dari tubuh Bayu dan naga tersebut.
“Tak kan ada di dunia ini yang mampu menandinginya lagi.” Gumam pertapa sakti tanpa nama.
Sebuah batu mutiara berwarna hitam melesat dari tubuh naga hitam. Dari arah yang lain sebuah benda kecil berwarna keunguan melesat cepat ketempat itu. Kini dua mutiara naga penjaga juga telah berada di hadapan Bayu. Ia pun mengambil kedua mutiara dan memasukkannya ke saku di dalam bajunya.
“Pergilah!” ucap Bayu kepada anak buah raja selatan itu.
Lelaki itu bergegas meninggalkan tempat. Dengan sisa-sisa tenaganya ia beranjak dan berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya. Sebentar saja ia sudah menghilang dari pandangan mata.
Semua orang masih membisu. Tak ada yang berani berkomentar maupun membuka mulutnya. Mereka masih menunggu apa hasil dari pertandingan untuk menentukan posisi posisi ketua dunia persilatan. Melihat dari pertandingan tadi, Bayulah yang seharusnya memenangkan sayembara itu.
__ADS_1
“Aku tidak mengikuti sayembara pemilihan ketua dunia persilatan. Apa yang kulakukan tadi merupakan urusan pribadi. Silakan kalian lanjutkan!”
Setelah menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Bayu menghilang. Semua orang kembali tercengang dengan apa yang dilihatnya. Mungkin hanya Intan yang tidak terlalu terpengaruh. Karena pada dasarnya pengetahuan gadis itu tentang kekuatan Bayu lebih daripada orang-orang yang ada di sana.
Di bukit kosong Raja Barat masih menunggu Bayu. Lelaki tua itu memandang lurus kedepan di mana di sanalah letak Benteng Dewa. Sempat ia melihat sebuah cahaya terang yang bersinar di tempat itu. Kemudian dari kejauhan ia melihat naga berbentuk Cahaya.
“Benar-benar berbahaya bila keberadaannya menjadi penghalang tujuanku.”
Tiba-tiba sebuah cahaya putih terang muncul di hadapan Raja Barat. Setelah cahanya menghilang muncul Bayu di hadapan orang tua itu. Ditangan Bayu kini terdapat sebilah pedang berwarna putih bersinar. Kemudian berubah kembali mnjadi warna keemasan.
“Ini pedang yang kau mau sebagai pertukaran kitab yang kau berikan tadi.” ucap Bayu dingin sambil melemparkan pedang di genggamannya ke arah Raja Barat.
Blaaammm..
Raja Barat terlempar beberapa tombak saat menyambut pedang yang dilemparkan Bayu. Bayu sendiri terkejut dengan apa yang terjadi. Ia tak mengerti apa yang menyebabkan Raja Barat terlempar. Sementara pedang penguasa naga sendiri melayang-layang di udara tak jauh dari tempat Bayu.
Raja Barat bangkit, sekali lagi ia mencoba mengambil pedang Pusaka Naga yang sedang melayang di udara tak jauh dari Bayu berada. Raja Barat mengerahkan tenaga saktinya, sinar hitam memancar dari tubuhnya. Dengan tangan kanan ia tangkap pedang pusaka yang sedang melayang itu.
Sekali lagi ledakan keras terjadi. Raja Barat kembali terlempar puluhan tombak. Sesaat tadi terlihat pedang pusaka naga memancarkan cahaya keemasan yang melemparkan Raja Barat. Kali ini orang tua itu bukan hanya terlempar namun menyemburkan darah segar karena mendapatkan luka dalam.
“Sepertinya aku tidak bisa menyentuh pedang itu. Ia hanya dapat dipegang oleh orang yang segaris keturunan raja selatan dan orang yang berhasil menaklukannya.” Ucap Raja Barat.
“Lalu apa yang kau inginkan? Apakah kau menginginkan aku mengembalikan pedang ini.” Dengus Bayu terdengar kesal.
“Aku ingin kau menyimpannya, karena ia memang telah takluk padamu.”
“Apa kau tidak khawatir aku akan menggunakannya untuk menantangmu?
__ADS_1
“Tidak. Aku tahu kau tak akan menghalangi apalagi menentang kakekmu ini membalaskan dendam suku kita. Apalagi menentangku untuk membebaskan rakyat di negeri Selatan ini bukan?” tanya Raja Barat berusaha mempengaruhi pikiran dan perasaan Bayu.
“Untuk urusanmu aku berjanji tidak akan mencampurinya selama tidak merugikan banyak orang. Baik lah aku pergi dulu. Tapi ingat, bukan berarti aku percaya dengan kata-katamu bahwa kau adalah kakekku.”
Bayu mengambil pedang pusaka naga penguasa. Kembali pedang itu berubah menjadi berwarna putih berkilau memancarkan cahaya terang. Tubuhnya pun kini memancarkan cahaya yang sama. Tak lama kemudian iapun lenyap dari tempat itu.
“Paling tidak aku sedikit lega, karena pedang naga penguasa tidak lagi berada di tangan raja selatan. Itu artinya penyerangan ke negeri selatan bisa kupercepat. Hasil pemilihan ketua dunia persilatan pun tak kan banyak pengaruhnya dalam peperangan nanti.”
Raja Barat tersenyum puas. Walau ia masih merasakan ke khawatiran akan sikap yang Bayu ambil dalam peperangan nanti, tapi ia yakin bahwa pemuda itu akan mempertimbangkan posisinya sebagai sang kakek. Raja Barat pun meninggalkan Bukit Kosong dengan ilmu meringankan tubuh yang ia miliki.
“Bagaimana keadaan Malaikat Putih dan Raden Raga Lawing tadi?”
Tiba-tiba saja Bayu muncul di tenda rombongannya. Semua yang ada di situ dibuat kaget karena tak melihat bagaimana dan dari mana Bayu datang. Apalagi sebelum muncul suara pertanyaan pemuda itu yang duluan terdengar.
“Mereka sudah pergi dari sini dibawa anak buahnya. Apa sebenarnya yang terjadi kak Bayu.” Tanya Intan.
“Nanti aku ceritakan. Sebaiknya kita lihat pertarungan di depan saja dulu.”
Di lapangan pertarungan sedang bertarung Pertapa Sakti Tanpa Nama melawan Jari Pedang. Walau kini satu jarinya telah cacat saat bertarung melawan Bayu dulu, namun kemampuannya tak sedikitpun berkurang. Serangan Jari pedang yang biasanya di lakukan dengan jari telunjuk, kini semua jarinya dapat melakukannya.
Bersambung...
Dukung Novel ini dan penulisnya dengan cara :
1. Rate bintang 5
2. Beri like setiap babnya
__ADS_1
3. Tinggalkan komentar di setiap babnya.
Dengan kebijakan baru yang diterapkan noveltoon tiga hal diatas sangat berharga bagi kami para penulis.