Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Eps.158. Serangan Pendekar Macan Putih


__ADS_3

...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...


...Episode 158...


Sementara itu, bayangan yang merupakan seorang lelaki berpakaian serba putih dengan kain bercorak harimau melingkar di pergelangan tangannya terus melesat ke arah perguruan Jari Sakti. Beberapa kali ia celingukan memperhatikan sekitar. Sepertinya orang itu tak ingin keberadaanya di ketahui.


Tak berapa lama, si bayangan putih sudah berada tak jauh dari perguruan Jari Sakti. Kembali orang itu melihat kesana kemari melihat keadaan. Beberapa lama ia berdiri sekitar tiga puluhan tombak dari pintu masuk perguruan Jari Sakti, tak juga ia bergerak masuk ke dalam.


“hmm.. Entah kenapa aku merasa kali ini pekerjaanku tak mudah. Kalau saja bukan yang mulia langsung meminta, tak akan aku turun ke dunia persilatan lagi” gumam si Bayangan Putih.


Si Bayangan Putih mulai bergerak mendekati pintu gerbang. Bukannya langsung masuk, ia malah melesat ke sisi kanan tembok yang mengelilingi perguruan itu. Si Bayangan Putih melompat ke atas tembok. Dari atas di lihatnya keadaan sangat sepi. Hanya satu dua orang penjaga saja yang mondar mandir.


“Tidak ada yang mencurigakan. Semua seperti sebelum-sebelumnya sewaktu aku  datang kesini. Penjagaan masih dengan cara yang sama. Tapi entah kenapa aku masih merada ada sesuatu yang janggal.” Ucap si Bayangan Putih  kepada sendiri.


Hap..


Si Bayangan Putih melompat turun mendarat dengan manis ke bawah tepat di tengah-tengah lapangan. Pandangannya mengedar ke sekitar tempat itu. Merasa aman ia pun mengendap-endap menuju pintu bangunan utama. Baru saja ia akan melangkah, tiba-tiba saja beberapa buah anak panah melesat menyerangnya.


Seettt.. setttt.


Dengan mudah si Bayangan Putih menghindari serangan anak panah. Bahkan beberapa batang anak panah mampu ia tangkap dengan mudah. Tidak sampai di situ anak panah di tangannya di lontarkan kembali ke arah datangnya serangan.


“Aaaa..”


Dua teriakan sekaligus terdengar. Bersamaan dengan itu tampak dua orang murid Perguruan Jari Sakti roboh, muncul dari balik pohon.


“Seraaang..!”


Tiba-tiba terdengar teriakan keras dari arah yang lain. Tak lama kemudian keluar delapan orang murid Perguruan Jari Sakti menyerang. Dalam waktu singkat si Bayangan Putih sudah berada dalam kurungan delapan murid utama Jari Malaikat.


“Beginikah caramu menyambut seorang sahabat, Jari Malaikat? Teriak si Bayangan Putih.


“Hahaha rupanya Pendekar Macan Putih yang datang. Bagaimana aku bisa menyambut, datangmu saja tidak memberitahukan sebelumnya. Apalagi kau datang melompati tembok itu, bukan melalui pintu gerbang masuk.”

__ADS_1


Terdengar jawaban dari dalam Gedung Utama perguruan Jari Sakti. Lalu seorang lelaki separuh baya keluar dari pintu. Lelaki separu baya yang tak lain ketua Perguruan Jari Sakti itu menegenakan pakaian serba putih, dengan rambut Panjang terurai mulai memutih. “Apa kabarmu Pendekar Macan Putih?” tanyanya.


Lalu Ketua Perguruan Jari Sakti yang bergelar Jari Malaikat melompat ketengah lapangan. Lalu dengan isyarat tangan ia memerintahkan anak buahnya yang mengepung untuk mundur. Melihat itu serentak kedelapan orang pengepung mundur dari tempatnya.


“Hmmm.. sepertinya penyamaranku telah dicurigai” bisik orang yang dipanggil dengan sebutan pendekar macan putih tadi. “Hahaha baik, sangat baik kabarku kawan. Sebenarnya sengaja aku hendak memberikan kejutan untukmu di hari ulang tahunmu ini.” Sahutnya kepada Jari Malaikat.


“Pendekar Macan Putih, sebenarnya di sini sudah ada anakmu menunggu. Sebentar kubpanggilkan.” Jari malaikat mengibaskan tangannya.


Dua orang murid masuk ke dalam bangunan. Tak lama kemudian keduanya keluar bersama Ramaji dan Dewi Sesat Lembah Beracun. Ramaji pun mendekat kepada Pendekar Macan Putih kemudian membungkuk memberi hormat.


“Ayah.. maafkan aku tidak mengabari dulu. Keadaan mendesak jadi aku menyusulmu kesini sekalian membawa kan calon menantumu.” Ucap Ramaji kepada Pendekar macan putih.


Dewi Sesat Lembah Beracun mendekati Ramaji kemudian menggandeng tangan kirinya. Pendekar Macan Putih pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kepada Ramaji dan perempuan di sampingnya.


“Kenapa mereka tidak mengatakan lebih terperinci tentang Pendekar Macan Putih ini. Hampir saja aku tak mengetahui bahwa di depanku ini anakku dan kekasihnya. Berbahaya Sekali.” Bisik Pendekar Macan Putih berbicara dalam hati.


“Hmmm.. sebenarnya aku tak mempermasalahkan. Hanya saja kau membuat repot tuan rumah saja nak.” Ucap Pendekar Macan Putih pada Ramaji. “Maafkan kedatangan anakku yang mungkin mengusik ketenanganmu Jari Malaikat.” Katanya pada Jari Malaikat.


“Mereka berdua tak menganggu. Sebenarnya kedatanganmi lah yang mengusik ketenangan kami Iblis. Siapa kau sebenarnya, apa kau tak mengetahui bahwa Pendekar Macan Putih tak pernah menikah.” Bentak Jari Malaikat.


“Hahaha.. sudah kuduga kalian mengetahui penyamaranku.” Ucap Pendekar macan putih palsu.


 Lalu mulut Pendekar Macan Putih Palsu komat-kamit merapalkan mantra. Tiba-tiba saja keluar asap putih dari bawah menutupi tubuh lelaki itu. Tak lama kemudian asap perlahan-lahan memudar. Kini di balik asap itu terlihat seorang lelaki yang sangat mirip dengan Jari Malaikat.


Sontak semua orang yang ada di sana terkejut. Namun  keterkejutan itu berubah menjadi kepanikan. Bagaimana tidak si Jari Malaikat palsu tiba-tiba menerjang Jari Malaikat asli hingga terjadi pertarungan jarak dekat. Lalu dengan liciknya ia menyalakan bom asap sehingga sesudah asap buyar, orang-orang menjadi bingung membedakan mana Jari Malaikat yang asli dan mana yang palsu.


Pertarungan kedua orang yang sama bentuk rupa dan tubuhnya itupun sangat sengit. Yang anehnya keduanya sama-sama menggunakan jurus jari sakti andalan Jari Malaikat. Rupanya kemampuan orang itu bukan sekedar menyerupai wajah orang, namun iya juga mampu meniru jurus orang.


“Bedebah.. mengapa kau meniru rupa dan gerakanku” ucap satu dari Jari Malaikat.


“kau yang menyerupai aku. Sungguh pengecut sekali. Siapa kau sebenarnya.” Jawab Jari Malaikat yang satunya.


“Kau yang siapa?”

__ADS_1


“Kau yang siapa?”


“Anak-anak  serang dia!”


“Anak-anak serang dia!”


Terjadi perdebatan antara keduanya. Tentu saja hal ini mbingungkan murid-murid perguruan Jari Sakti. Apalagi keduanya menyruh menyerang.


“Bedebah ku bunuh kau.”


“Kau yang akan ku bunuh.”


Keduanya kembali terlibat pertarungan. Serangan-serangan mematikan di lancarkan. Nampak cahaya perak  yang keluar dari jari keduanya saat saling menyerang. Kesamaan jurus, wajah, dan penampilan membuat orang-orang yang ada di sana kebingungan.


Keduanya melompat kebelakang. Kemudian mereka sama-sama mengerahkan tenaga saktinya sampai sepuluh bagian. Lalu mereka saring serang dengan totokan saru jarinya.


Blammmm..


Sebuah ledakan terjadi saat kedua telunjuk  mereka yang berseteru bertemu. Satu orang dari Jari Malaikat terlempar belasan tombak. Kemudian mulutnya menyemburkan darah segar. Nampak ia memegangi dadanya yang sangat sakit.


Sementara Jari Malaikat yang satunya hanya terdorong dua langkah. Ia pun tersenyum melihat lawan yang sudah tak berdaya. Kemudian ia melangkah menuju Jari Malaikat yang sedang  terkapar di tanah hanya mampu berbaring sambil mengangkat kepalanya.


“Akan kubunuh kau iblis. Berani sekali kau mengacau tempat ini.” Ucap jari Malaikat.


Kemudian Jari Malaikat yang unggul saat bentrok tadi mengerahkan tenaga saktinya. Lalu lelaki itu menunjuk Jari Malaikat yang kalah. Dari ujung jarinya ttampak membias cahaya berwarna keperakan. Lalu dengan sekali hentakan, sinar putih memanjang meluncur menyerang ke arah Jari Malaikat yang terbaring di tanah.


Bersambung...


Sebagai dukungan dan bantuan kepada Novel ini dan Author, Mohon kesediaan pembaca sekalian meluangkan waktu untuk :


1. memencet tombol like


2. Memberi komentar walau sekedar say hallo bahkan sekedar satu hurup.

__ADS_1


Like dan komentar kalian sangat berarti untuk karya ini bisa meningkat levelnya.


Namun kalau memang tidak menyukai novel ini silakan abaikan saja.


__ADS_2