Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
96. Pertemuan Rajawali Merah dengan Pendekar Halilintar.


__ADS_3

Salam Dunia Persilatan...


Bagaimana kabar pembaca sekalian? mudah-mudahan selalu dalam keadaan bahagia dan dalam perlindungan terbaik dari yang kuasa.


Sebelum membaca lanjutan Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ini, mohon kiranya sejenak dapat meluangkan waktunya untuk berdoa demi keselamatan kita bersama dan negara Indonesia yang kita cintai ini, khususnya untuk sauda-saudara kita yang menjadi korban bencana.


Selanjutnya mudah-mudahan teman-teman berkenan memberikan like, dan komentar pada cerita ini. Selamat membaca.


Salam Dunia Persilatan


--------- ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA -------


Episode 96


Pertemuan Rajawali Merah dengan Pendekar Halilintar.


"Tuh orangnya!" seru Nalini sambil menunjuk kearah Bayu.


"Bayu..." Gumam ki Farja bertanya dengan hatinya sendiri.


Seperti sudah diberi aba-aba, Serempak Ki Farja dan Ki Jatar saling pandang. Lalu ki Jatarpun kembali menatap tajam kepada putrinya. "Jangan bercanda Nalini" Ucap ki Jatar setengah membentak.


"Aku tidak bercanda" sahut Nalini sambil mencibir kepada ayahnya. "Kak Bayu, mari kita tunjukan" Entah apa yang dipikiran Nalini, tiba-tiba saja gadis itu menyerang Bayu dengan dahsyatnya dan menggunakan jurus-jurus yang mematikan.


Bagaikan harimau betina yang mengamuk, Nalini menyerang bayu dengan gencar. Namun anehnya tak sedikitpun pedang gadis itu mampu menyentuh Bayu. Padahal setiap tebasan yang dilancarkan gadis itu sangat berbahaya. Apapun yang mengenai pedangnya pasti terbelah. Itu saja beberapa batang pohon dan bongkahan batu banyak yang menjadi korban salah sasarannya Nalini.


Ki Farja dan Ki Jatar melongo melihat kecepatan gerak Bayu dalam menghindari serangan Nalini. Tanpa menggeser badannya sedikitpun, pemuda itu dengan mudah menghindari setiap serangan. Padahal seandainya mereka yang berada di posisi Bayu, Paling banyak lima jurus bertahan, sudah dipastikan tubuh mereka akan terbelah oleh pedang gadis itu.


"Kak Bayu, jangan menghindar terus, nanti mereka tidak mempercayai kita." seru Nalini memperingatkan Bayu.


Bayu hanya tersenyum menanggapi seruan Gadis itu. "Kerahkan seluruh kekuatan yang kau miliki" ujarnya.


Nalini melompat ke belakang beberapa tindak. Kemudian gadis itu mengerahkan seluruh tenaganya ketingkat paling tinggi. Nampak tanah di sekitarnya bergetar dan mengepulkan debu. Bahkan getaran itu terasa sampai ke tempat Ki Farja dan Ki Jatar yang berada di pelataran rumah.

__ADS_1


"Ilmu Penggetar Langit tingkat tertinggi" seru ki Farja.


"Benar sekali, apakah kita tidak salah lihat? Kau sendiri sebagai gurunya hanya mampu menguasai ilmu itu sampai tingkat ke lima. Tapi anak ini tenaganya sudah mencapai tarap sempurna. tingkat ke sepuluh ilmu penggetar Langit." ucap ki Jatar.


"Benar katamu ki, bahkan guru sendiri belum mencapai tarap itu. Hanya kakek guru kita yang menguasai Ilmu itu sampai ketingkat ke sepuluh.


"Hiyaaa..." pekik Nalini seraya menerjang Bayu dengan pedangnya. Gadis itu melakukannya dengan sekuat tenaga. Walau begitu, di benak Nalini sangat yakin Bayu dapat menahan gempurannya.


"Awas nak Bayu! Nalini sedang menggunakan Ilmu Pedang Penggetar Langit.


Nalini melesat dengan cepatnya. Pedangnya di tusukkan ke arah dada pemuda itu dengan sepenuh tenaga. Gelombang angin yang ditimbulkan sampai-sampai mengibarkan rambut dan pakaian ki Farja dan Ki Jatar. Kedua orang itu memejamkan matanya saat pedang Nalini Mendekati tubuh Bayu.


Lama tidak ada suara, ayah dan guru Nalini itupun membuka matanya. Keduanya langsung melongo saat menyaksikan pemandangan di depan mata mereka. Pedang Nalini terhenti tepat berjarak sejengkal dari tubuh Bayu. Ada semacam dinding pembatas yang menghalagi pedang gadis itu menemui sasarannya.


Biasan embun yang bergantian berubah dengan seberkas cahaya merah menjadi dinding pelindung Bayu. Lama kelamaan dinding pembatas itu semakin melebar. Bersamaan dengan itu pedang ditangan Nalini sedikit demi sedikit remuk hingga terberai menjadi debu. Lalu dengan sekali hentakan, Bayu mengeluarkan gelombang tenaga sakti yang memebentuk lingakaran menyebar ditempat itu.


Sontak Nalini terlempar jauh kebelakang. Lalu dengan sekali lesatan Bayu mendahului menyambut gadis itu. Dengan sekali tangkapan pemuda itu berhasil menggendong Nalini. Gadis itu pun melingkarkan kedua tangannya ke leher Bayu. Ditatapnya pujaan hatinya itu dengan penuh kasih dan kekaguman.


"Sepertinya putri kesayanganmu ini sudah menemukan tambatan hatinya" bisik Ki Farja kepada Ki Jatar.


Ayah Nalini itupun terlihat tersenyum bangga dengan ucapan Ki Farja. Di sela kekagumannya itu timbul kembali harapan besar terbebas dari masalah yang dihadapinya. Bahkan dalam hatinya pun terbesit akan memiliki menantu yang sakti mandraguna.


"Bagaimana ayah... guru? apakah kalian percaya dengan kami.


Ki Farja dan Ki Jatar mengangguk bersamaan. Dari pandanhan mata mereka masih nampak tatapan kekaguman kepada Bayu. Kemudian Ki Farja pun mendahului bertanya tentang semuanya. Terutama tentang Bayu dan kekuatannya.


Sebelum Bayu membuka suara, Nalini mendahului bercerita. Bayupun tersenyum dan mengurungkan niatnya untuk berbicara. Secara detail Gadis itu bercerita sesuai dengan apa yang diketahuinya dari Bayu.


"Berarti Ingatanmu itu belum pulih nak Bayu?" tanya ki Jatar.


Bayu menggelengkan kepalanya. Iapun berkata bahwa kekuatannya itupun diketahuinya secara tidak sengaja. Lalu dengan petunjuk Dewa Tuak Gila pemuda itu melatih kekuatannya.


Ki Farja dan Ki Jatar manggut-manggut. Entah apa yang ada di benak mereka berdua. Yang pasti jalan untuk bisa melewati masalah dihadapannya terbentang lebar.

__ADS_1


Keesokan harinya Nalini berlatih di dampingi guru dan Ayahnya. Sedangkan Bayu meminta izin untuk jalan-jalan memantau keadaan. Di perjalanan menuju hutan yang menjadi tempat persembunyian pendekar pedang kilat, telinganya mendengar suara orang bertarung hebat. Ledakan-ledakan akibat bentrokan dua tenaga sakti.


"Siapa yang sedang bertarung" gumam pemuda itu.


Lalu sekelebatan Bayu melesat menuju tempat pertarungan. Sesampainya di sana dilihatnya Raja Iblis Kelabang sedang bertarung hebat melawan seorang lelaki berpakaian biru. Nampak setiap pukulan yang dilancarkanya mengeluarkan cahaya putih kebiruan berbentuk halilintar.


"Cepat berikan penawar itu, kau harus bertanggung jawab atas perlakuan muridmu itu." bentak lelaki berpakaian biru yang tak lain adalah Jaka si Pendekar Halilintar.


Serangan demi serangan hebat dilancarkan Pendekar Halilintar. Nampak dia lebih unggul dibanding Raja Iblis Kelabang. Walaupun mengetahui lawannya lebih unggul, nampak dia tetap melawan.


"Sudah kukatakan aku tidak punya murid. Seandainya kau meminta baik-baik pasti kuberikan dengan sukarela. Tapi kau malah main kekerasan dan mengancam, sampai mati tak akan kuserahkan." Sahut Raja Iblis Kelabang tak kalah garang.


Blammm...


"Huekkk..."


Raja Iblis kelabang terkena pukulan halilintarnya Jaka. Sontak ia pun terlempar beberpa tombak. Mulutnya pun memuntahkan darah segar tanda dia terluka dalam. Raja Iblis Kelabang mencoba bangkit berdiri, namun badannya sudah banyak lemah, sehingga iapun jatuh terduduk.


"Apakah harus kubunuh dulu baru kau menyerahkan obat penawar racunmu itu Iblis Kelabang" Bentak Pendekar Halilintar.


"Bunuhlah kalau kau sanggup, tak akan aku menyerahkan penawarnya." tantang Raja Iblis Kelabang.


Bayu yang melihat pertarungan itu tidak langsung bertindak. Ia menunggu keadaan sambil mencari tau apa sebenarnya yang terjadi. Pemuda itu tak ingin salah dalam bertindak.


"Baiklah kalau begitu, akan ku kirim kau ke neraka seperti yang kau inginkan" seru Jaka.


Pendekar Halilintar mengerahkan kekuatannya. Nampak di sekitar tubuhnya mulai. Memancarkan cahaya berbentuk halilintar. Pada kedua telapak tangannya terlihat halilintar lebih hebat lagi memancar.


"Terimalah pukulan halilintar ku ini! Hiyatt...."


Blammmm...


Ledakan yang sangat hebat terjadi. Namun yang terjadi diluar dugaan. Pendekar Halilintar terdorong mundur beberapa langkah. Dilihatnya di depan telah berdiri seorang pemuda berusia kurang lebih tujuh belas tahun mengenakan pakaian berwarna merah. Sekilas tadi sempat dilihatnya pemuda itu menangkap halilintar yang ia lontarkan. Nampak tubuh pemuda itu dilapisi cahaya berwarna kemerahan.

__ADS_1


__ADS_2