Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Menyelamatkan Danastri


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta ...


...episode 277...


Cempaka nampak senang mendengar bahwa ia memang telah hamil. Walaupun istri pendekar halilintar itu memang sering merasakan mual, namun ia tak berani mengambil kesimpulan sebelum mendapat keterangan langsung dari ahlinya. Selain itu Cempaka merasa sedikit cemas mendengar cerita tentang ada kekuatan dahsyat yang mengeram di perutnya.


Cukup lama Pendekar Halilintar dan istrinya berada di kediaman ki Dierja. Setelah langit agak gelap pertanda malam mulai larut, Jaka dan Cempaka memohon diri kepada ki Dierja untuk kembali ke penginapan. Ki Dierja sendiri menawarkan untuk sepasang suami istri itu menginap di rumahnya saja, namun secara halus Jaka menolaknya. Sebenarnya keduanya tidak kembali ke penginapan, melainkan pergi menuju istana untuk membebaskan Danastri.


Tak perlu waktu lama bagi Pendekar Halilintar dan Dewi Selendang ungu untuk sampai ke istana Raja. Keduanya berada di belakang tembok samping kanan kerajaan. Pertama-tama Jaka yang duluan melompat, kemudian disusul oleh Cempaka setelah mendapat isyarat dari Jaka bahwa keadaan di bawah aman.


Setelah dirasa keadaan aman, keduanya turun dari atas tembok. Jaka langsung melesat ke dalam istana kemudian menuju salah satu kamar yang tidak jauh dari pintu masuk istana. Sebelum memasuki kamar itu, Jaka dan Cempaka mengintip keadaan di dalam kamar. Nampak seorang gadis sedang duduk melamun di tepian tempat tidurnya.


“Kamar ini memang kamarnya kak Danastri,” bisik Cempaka kepada Jaka.


“Kau masuklah ke dalam istriku, aku yang akan berjaga di luar,” ucap Jaka.


Cempaka menganggukkan kepalanya. Kemudian istri pendekar halilintar itu membuka jendela kamar lalu melompat kedalam. Danastri yang memang memiliki kesaktian yang tinggi tentu saja mengetahui perbuatan Cempaka. Ia langsung memasang kuda-kuda dan bersikap waspada.


“Siapa kau? Kenapa masuk ke kamarku dengan cara seperti itu,” ucap Danastri setengah membentak.

__ADS_1


Sebenarnya Danastri sempat ingin menyerang Cempaka karena melihat istri pendekar halilintar itu masuk ke kamarnya dengan cara menerobos jendela. Ia mengira Cempaka adalah penyusup yang ingin mengganggu ketenteraman istana raja. Tapi ketika ia mengetahui bahwa yang masuk adalah Cempaka, Danastri pun mengurungkan niatnya untuk menyerang.


Sebenarnya Danastri masih belum bisa memastikan bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah adik tirinya, namun firasat hatinya mengatakan ia memang Cempaka adik tirinya itu. Ia sadar bahwa sudah sepuluh tahun lamanya meninggal dunia. Hanya saja karena Raja Peramal dari timur membangkitnya,  ia hidup seperti keadaan terakhir sebelum ia mati.


“Kakak, apakah kau tidak bisa mengenali aku? Aku adalah Cempaka adikmu,” ucap Cempaka lirih.


Danastri diam tak menjawab ucapan Cempaka. Matanya menatap tajam kearah Cempaka seakan-akan ingin menyelidiki kebenaran dari ucapan istri pendekar halilintar itu. Semakin Danastri menatap raut wajah perempuan di hadapannya semakin ia dapati kemiripan dengan adik tirinya.


“Benarkah kau Cempaka?” tanya Danastri dengan suaranya yang mulai serak.


Cempaka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Danastri. Saat itu Danastri sudah sangat yakin bahwa perempuan yang ada di hadapannya adalah adiknya yang bernama Cempaka. Ia pun langsung memeluk Cempaka dengan erat sambil  menangis sesegukkan.


“Ada apa kau ke sini Cempaka?” tanya Danastri setelah melepaskan pelukan adiknya.


“Aku dengan kakang Jaka ingin membawamu pergi dari sini,” jawab Cempaka. “Di istana ini terlalu berbahaya untuk kakak tempati. Orang-orang kerajaan Selatan sudah tentu ingin memanfaatkan kekuatan kaka untuk memukul mundur Raja Barat.”


Seketika hati Danastri berdesir ketika nama Jaka di sebut. Kembali ia teringat kenangannya di kehidupan yang lalu di mana ia memiliki perasaan terhadap Jaka si Pendekar Halilintar. Lamunan itu seketika ia buyarkan ketika teringat akan Cempaka. Sempat ia mendengar cerita dari orang-orangnya pangeran Mandaka bahwa Pendekar Halilintar memiliki seorang istri yang bernama Cempaka. Iya pun yakin bahwa perempuan itu adalah adiknya sendiri.


“Sepertinya aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu itu adikku. Saat ini jiwaku terikat dengan jiwa Ratu siluman serigala yang mana batu mustika pengendali jiwa siluman itu berada di tangan pangeran Mandaka. Itu artinya aku tidak bisa pergi jauh dari tempat ini karena kapan saja dia bisa menemukanku dengan batu itu. Bahkan ia mampu membuat aku kehilangan kesadaran dengan Mestika Sakti itu,” ucap Danastri.

__ADS_1


“Tenanglah kak, kita akan mencari cara agar kaka bisa terbebas dari pengaruh mustika itu. Aku memiliki adik angkat yang menguasai ilmu tujuh gerbang alam semesta dan memiliki pedang penguasa naga. Siapa tahu dia bisa membantu kita,”


Mendengar ucapan Cempaka itu, muncul secercah harapan dalam diri Danastri. Ia memamg pernah mendengar kehebatan ilmu tujuh gerbang alam semesta dari mendiang gurunya maupun mendiang kakeknya. Konon katanya Ilmu tujuh gerbang alam semesta mampu memisahkan dua kekuatan yang menyatu. Ditambah lagi dengan kekuatan pedang penguasa naga yang memang ditakuti oleh para siluman, bisa jadi orang yang dimaksud Cempaka mampu membantu nya.


Sesaat Danastri melamun mempertimbangkan ajakan Cempaka. Ia masih bimbang dan takut apabila berada jauh dari Istana Pangeran Mandaka akan mencarinya. Apabila putra raja itu tak menemukannya tentu ia akan menggunakan batu mustika untuk memanggil atau mencari keberadaan Danastri. Yang ia takutkan adalah apabila Pangeran Mandaka membuatnya kehilangan kesadaran. Tentu ia akan mengamuk dan akan membahayakan orang yang ada di sekitarnya.


“Ayo kak cepat, sebelum orang-orang istana datang. Percayalah kami akan berusaha untuk menghilangkan pengaruh batik mustika itu. Bahkan kami akan mencoba menghilangkan kekuatan ratu siluman serigala itu,” ucap Cempaka meyakinkan Danastri.


Setelah berulang kali Cempaka mencoba meyakinkan Danastri untuk meninggalkan tempat itu, akhirnya ia pun menyetujuinya. Keduanya kemudian keluar kamar melalui jendela yang tadinya diterobos oleh Cempaka. Di luar telah menunggu Jaka, mengamati situasi.


Kemudian ketiganya beranjak meninggalkan tempat itu. Jaka berencana mengajak Cempaka dan Danastri melewati tembok istana Raja untuk keluar. Setelah berada di depan tembok, mereka bersiap-siap mengerahkan ilmu meringankan tubuh untuk melewati tembok di depan.


Wusss.. wusss..


Baru saja mereka akan melesat ke atas tembok, tiba-tiba seliweran anak panah mencoba menghalangi kepergian ketiganya. Tak lama kemudian berlompatan prajurit-prajurit istana dengan busur panahnya terarah kepada mereka bertiga.


“Mau kemana kalian? Dan kau dua orang asing, mengapa berada di istana ini. Apakah kau adalah mata-mata raja Barat?” bentak pimpinan prajurit.


Tak lama kemudian berlompatan orang-orang dunia persilatan  pendukung raja yang bertahta saat ini. Mereka berbaris tepat di depan Jaka dan yang lainnya. Yang menarik perhatian Jaka adalah seseorang berpakaian kulit harimau yang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2