
...ILMU TUJUH GERBANG ALAM SEMESTA...
...Episode 127...
“Tuan, sebaiknya kita pergi ke lembah Neraka dulu. Sesampainya di sana tuan bisa memerintahkan orang-orang tuan untuk menyelidiki siapa dan dimana keberadaan Raja Ular Hitam yang di maksud cucu pendekar pedang kilat itu.” Usul Bargawa kepada Bayu.
Sudah setengah harian setelah jasad Randu di kubur dekat rumah ki Jatar Bayu, Nalini dan Bargawa berada di tempat itu. Randu di kubur tepat di samping makam Pendekar Pedang Kilat yang juga dimakamkan dekat rumah ayahnya Nalini itu. Mereka tak satupun mengenal orang yang disebut Randu sebelum kematiannya.
“Mungkin sebaiknya memang begitu. Tetap di sini belum tentu kita mendapatkan keterangan siapa orang yang telah menangkap ki Jatar.” Jawab Bayu. “Nalini, sebaiknya kita segera ke Lembah Neraka dan meminta bantuan untuk mencari tau siapa Raja Ular Hitam yang dimaksud mendiang kakakmu.
“Terserah kak Bayu saja.” Ucap Nalini sambil mengangguk lemas.
“Biar saya yang menunggu di sini tuanku. Sambil berjaga-jaga siapa tau mereka datang kembali ke sini.” Ucap Bargawa.
Tengah hari saat matahari sedang panas-panasnya, Bayu dan Nalini berangkat menuju Lembah Neraka menggunakan kuda masing-masing. Keduanya menggebah kuda dengan cepat. Menjelang sore, mereka sudah tiba di desa dekat perbatasan Negara Utara dan selatan.
“Sudah setengah harian kita melakukan perjalanan tanpa beristirahat. Sebaiknya malam ini kita menginap saja. Sepertinya itu sebuah penginapan.” Usul Bayu sembari menunjuk sebuah bangunan cukup besar.
Nalini mengangguk tanda menyetujui. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanannya menuju penginapan berjalan kaki sambil menuntun kuda masing-masing. Sesampainya di depan bangunan yang di tunjuk Bayu, merekapun berhenti. Ternyata benar bangunan itu merupakan sebuah penginapan sekaligus rumah makan.
“Permisi den, den ayu.. biar kudanya saya yang bawa.”
Baru saja mendekati bangunan itu, dengan sigap seorang pelayan menghampiri mereka menawarkan diri untuk membawa kuda mereka ketempatnya. Mereka pun menyerahkan kuda masing-masing kepada pelayan itu. Kemudian keduanya masuk kedalam.
“Mau menginap atau makan saja den?” tanya seorang pelayan yang lain yang datang menyambut.
“Kami menginap, tolong sediakan dua buah kamar. Sebelumnya siapkan makanan dua porsi untuk kami makan di sini” jawab Bayu seraya menunjuk meja di dekatnya.
“Baik den, silakan!” sahut si pelayan sambil menyapu meja dan kursi yang akan digunakan Bayu dan Nalini menggunakan kain di bahu kanannya.
__ADS_1
Tak lama menunggu, hidangan makan malam yang dipesan Bayu pun datang. Dengan sigap pelayan memindah hidangan di atas nampan yang di bawanya ke atas meja. Nampak pelayan itu sudah sangat mahir melakukannya.
“Silakan den, den ayu! Ucap si pelayan.
Keduanya pun mulai melahap makanan yang ada di hadapannya. Namun sangat terlihat Nalini sangat tidak menikmati makanan itu. Gadis itu terlihat sangat lamban memasukkan makanan ke mulutnya. Bukan karena makanan itu tidak enak, namun selera makannya hampir tidak ada karena khawatir akan keadaan ayah dan gurunya.
“Pelayan.. sediakan kami makanan paling enak dan jangan lama-lama.”
Tiba-tiba terdengar suara bentakan dari luar. Tak lama kemudian datang empat orang laki-laki berpakaian serba hitam. Ke empat orang itu dengan seenaknya langsung mengambil di meja tengah padahal di tempat itu sudah ada orang lain. Salah seorang dari mereka menendang orang yang telah duduk di situ hingga terjungkal.
Melihat kejadian itu Nalini terlihat sangat geram. Hampir saja dia berdiri dan melesat untuk memberi pelajaran kepada ke tiga orang itu kalau saja tangan Bayu tak menahannya.
“Sebaiknya tidak usah ikut campur selama tidak membahayakan nyawa orang.” Bisik Bayu.
Nalini pun mengangguk, walaupun di hatinya masih dongkol.
“Lama sekali!”
bentak salah seorang berpakaian hitam sambil menendang pelayan yang membawakan makanan setelah menyuguhkan di meja mereka. Kontan si pelayan jatuh terjungkal. Sampai-sampai nampan yang di bawanya melayang hampir mengenai Bayu.
“Hahaha.. dasar manusia tidak berguna.” Ejek salah seorang dari mereka.
“Barda, apa kepentingan tuan Raja Ular Hitam menahan orang kedua orang tua tak berguna itu. Mengapa tidak langsung di bunuh saja.” Tanya orang berpakaian hitam yang tadi menendang si Pelayan dengan berbisik.
“Entahlah Kardi, aku juga tidak mengerti. Tiba-tiba saja mereka membawa tawanan sepulangnya dari desa di pesisir negeri utara itu.” Jawab Barda dengan suara yang sangat pelan.
Braakkk...
Tiga orang berpakaian hitam terjengkang secara tiba-tiba. Entah kapan Bayu bergerak tiba-tiba saja pemuda itu sudah mencengkram leher orang yang bernama Kardi. Sedangkan ke tiga temannya yang terjengkang tak mampu lagi bangkit. Rupanya mereka sudah terkena totokan pemuda itu.
__ADS_1
“Katakan di mana Raja Ular Hitam Berada? Kalau tidak kau akan bernasib seperti ini!” ancam Bayu seraya memegang sebuah meja yang langsung menjadi debu. Sekilas tadi nampak tangan yang memegang meja itu memancar sinar kemerahan.
Tentu saja orang yang bernama Kardi itu menjadi pucat pasi. Nampak seluruh tubuhnya berkeringat. Bahkan celana bagian bawahnya basah dan menimbulkan aroma pesing.
“Sa.. saya tidak tau tuan.” Jawab Kardi terbata-bata.
Bayu yang jengkel dengan sekedipan mata telah membawa empat orang berpakaian hitam ke luar penginapan. Nalini yang masih duduk di kursinya nampak bengong dengan apa yang terjadi di depan matanya. Apalagi gerakan Bayu yang berpindah sangat cepat itu membuat matanya terbelalak, sehingga belum sadar apa yang dilakukan oleh Bayu.
Sebenarnya gadis itu tidak mendengar apa yang menjadi percakapan Kardi dan Barda. Karena mereka berdua memang berbicara dengan sangat pelan. Hanya karena Bayu yang memiliki pendengaran yang sangat tajam sehingga pembicaraan kedua orang itu dapat di dengarnya.
“Katakan di mana tawanan itu dan Raja Ular Hitam berada.” Bentak Bayu sambil mengangkat tubuh orang itu keatas dengan satu tangan.
“a.. ampunn tuan pendekar.. saya benar-benar tidak tau.” Jawab Kardi sangat ketakutan.
Bayu tau bahwa Kardi sedang berbohong. Ia menduga Kardi takut dengan Raja Ular Hitam sehingga tak berani mengatakan di mana orang itu berada. Tiba-tiba saja sifat kejam Bayu muncul.
Blarr...
Tubuh Kardi tiba-tiba terbakar. Tanpa sempat berteriak dalam sekejap Kardi telah menjadi abu. Api merah yang keluar dari Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta itu memang sangat mengerikan. Melihat kejadian itu teman-teman Kardi pingsan karena ketakutan.
“Ikhh...” jerit Nalini tertahan melihat perbuatan Bayu. Ia tak menyangka pemuda itu bisa berbuat sangat ganas.
Plakk..
Kembali Bayu mengangkat satu dari tiga orang berpakaian hitam yang tersisa dengan tangan ki. Ia tidak lain adalah Barda. Orang itu mendapat tamparan keras di pipinya hingga menyebabkan beberapa buah giginya tanggal dan berdarah.
“Cepat katakan di mana Raja Ular Hitam Berada. Kalau tidak kau akan bernasib lebih menggenaskan dari pada temanmu barusan.” Ancam Bayu.
Mata Bayu itu nampak berkilat. Sesekali aliran listrik di tangan kanannya memancar. Tentu saja itu membuat Barda sangat ketakutan.
__ADS_1
Bersambung...
Silakan like dan kasih komentar di bawah, serta vote bila menyukai novel ini. Namun bila tidak suka silakan silakan abaikan saja