
Seperti biasanya, pada saat-saat tertentu para ketua perguruan berkumpul di aula utama untuk membicarakan perkembangan persiapan mereka dalam menghadapi perkumpulan Istana Lembah Neraka nanti. Tinggal lima hari sebelum waktu penyerangan, hampir semua perguruan yang ikut andil. Terutama perguruan yang telah mengakui dan menyatakan Malaikat Bertangan Sakti sebagai Ketua Dunia Persilatan.
"Para Tetua Sekalian, terima kasih atas kesetiaan kalian mendampingi kami Perguruan Tangan Dewa dalam menghadapi ancaman musuh" Ucap Malaikat Bertangan Sakti Membuka Pembicaraan.
"Seperti yang kalian ketahui, waktu pertempuran dengan pihak Istana Lembah Neraka tinggal lima hari lagi. Sebenarnya ini urusan pribadi Perguruan Tangan Dewa, tapi kesetiakawanan kawanan kalian membuat kalian berada di sini dan berniat berjuang bersama kami, untuk itu aku mengucapkan terimakasih dan penghormatan di hati pada kalian."
Malaikat Bertangan Sakti pun berdiri, seraya membungkuk memberi penghormatan kepada semua yang hadir. Semua hadirin pun serentak berdiri membalas penghormatan dengan cara yang sama.
"Sampai saat ini kita masih belum punya pegangan untuk bisa memenangkan pertempuran ini. Yang aku khawatirkan adalah penduduk di sekitar kita akan menjadi korban."
Malaikat Bertangan Sakti menerangkan segala kerisauannya kepada hadirin yang ada di situ. Semua yang mendengar hanya bisa mengangguk-angguk, sedangkan sebagian yang lain menghela nafas panjang tanda setuju dengan keresahan ketua Perguruan Tangan Dewa itu.
Sesaat suasana menjadi hening, terkesan kebuntuan menjalari pikiran mereka. Kemudian Malaikat petir pun berdiri dan angkat bicara.
"Bagaimana kalau kita hadang musuh di luar Benteng, di tempat yang jauh dari pemukiman penduduk." Usulnya.
Sebagian hadirin mengangguk-anggukan kepala tanda setuju. Sebagian yang lain menanti jawaban Malaikat Bertangan Sakti, hampir semua pandangan tertuju padanya.
"Cara seperti itu sebenarnya sudah kupikirkan. Tapi kabar tentang Rajawali Merah ketua Istana Lembah Neraka itu berjalan terpisah dengan rombongannya menjadikan ku ragu memilih cara itu. Ditakutkan apabila salah satu datang ke tempat ini, sama saja jadinya, pasti akan mengamuk dan menghancurkan pemukiman penduduk." jawab Ketua Perguruan Tangan Dewa
"Bagaimana kalau kita kirim utusan membawa surat tantangan di tempat yang kita tentukan kepada keduanya sekaligus." usul Ketua Perguruan Bangau Putih.
"Sepertinya itu satu-satunya cara."
__ADS_1
Setelah mengakui cara yang diusulkan ketua Perguruan Bangau Putih adalah yang terbaik, Malaikat Bertangan Sakti pun kemudian meminta pendapat hadirin meminta persetujuan atas usulan tersebut. Semua hadirin menyatakan setuju, maka diputuskanlah Jaka dan Cempaka yang menemui Rajawali Merah, Arya dan murid utama Perguruan Bangau Putih yang menemui rombongan lain.
Di saat semua orang terkonsentrasi dalam pembagian tugas dan pengaturan strategi, entah kapan dan dari mana datangnya tiba-tiba saja di tengah-tengah pertemuan berdiri Iblis Muka Hitam dan berkata
"Ikutkan aku dalam menghadapi Istana Lembah Neraka!"
Sesaat semua orang terhenti dalam aktivitasnya. Bahkan beberapa orang tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya melihat kehadiran Iblis Muka Hitam di situ.
"Keparat, mau apa kau ke sini?" seru Rupaksa murid utama perguruan macan putih. "Hutang nyawa adik seperguruan ku harus kau bayar Iblis muka hitam" tambahnya lagi
Semua orang di sana tidak ada yang tak mengenal Iblis Muka Hitam. Tokoh Silat yang berada di aliran hitam. Walau begitu, dia tak pernah sekalipun mencampuri urusan orang. Apapun yang diperbuatnya atas kemauannya sendiri, sehingga tak pernah terdengar Iblis itu bekerjasama dengan orang. Kesaktian yang dimilikinya bisa dikatakan jarang mendapatkan tandingan. Bahkan berada diatas kemampuan Malaikat Petir maupun kedua Iblis Pelebur Sukma.
Rupaksa melompat menerjang Iblis Muka Hitam. Satu sabetan cakar macan putih di arahkan nya ke lambung lawan. Iblis Muka Hitam menarik sedikit perutnya serangan itu pun lewat. Penasaran serangannya mentah, Rupaksa kembali menyerang kearah wajah, namun kembali serangan itu mentah, dengan sedikit memiringkan badannya Iblis Muka hitam menggagalkan serangan lawan.
Brakk..
Rupaksa terjengkang sejauh tiga tombak menimpa meja kosong di tempat itu. Hanya dengan mengibas kan lengan bajunya ke arah Rupaksa, pemuda itupun terlempar jatuh. Semua hadirin berdiri, namun belum ada yang melakukan tindakan.
"Aku hanya menawarkan bantuan untuk menghadapi Istana lembah Neraka. Karena kemenangan kalian berarti ketenangan bagiku. Tapi kehancuran kalian, selanjutnya akan menjadi kesusahan bagiku. Tentu Istana Lembah Neraka tidak akan puas dengan hanya menguasai kalian, selanjutnya dia akan menguasai seluruh orang-orang dunia persilatan tanpa terkecuali, termasuk aku"
Tanpa diminta Iblis Muka Hitam menjelaskan maksud dan alasannya hendak bergabung. Semua orang memandang tajam kearah gembong aliran hitam itu. Kemudian semua pandangan tertuju ke Malaikat Bertangan Sakti seolah meminta tanggapan ketua Perguruan Tangan Dewa tersebut.
"Baiklah, aku terima maksud baikmu. Kalau begitu silakan duduk, kita melakukan pengaturan sama-sama." Ucap Malaikat Bertangan Sakti
__ADS_1
Bukannya membalas ucapan ketua Perguruan Tangan Dewa tersebut, Iblis Muka Hitam malah melesat meninggalkan tempat itu. Namun walaupun orangnya telah menghilang, dia masih meninggalkan suara yang menggema di ruangan itu.
Silakan kalian mengatur rencana, tiba saatnya aku akan turut andil di pihak kalian.
Iblis Muka Hitam mendemonstrasikan kemampuannya dengan menggunakan Ilmu meninggalkan suara yang sudah sempurna.
"Betapa sulitnya perlawanan kita seandainya gembong-gembong aliran hitam ini bergabung. Pada sisi mereka orang-orang berilmu tinggi masih banyak, sedangkan kita yang beraliran putih sangat sulit mencari orang-orang yang berkemampuan tinggi. Harapan kita tinggal orang-orang muda ini yang bisa memperkuat aliran putih."
Malaikat Bertangan Sakti mengungkapkan kegelisahannya kepada hadirin. Sejenak yang lain pun terdiam.
***
Empat orang berlarian menggunakan ilmu meringankan tubuh meninggalkan Bukit Benteng Dewa. Setelah berada di ujung batas Bukit benteng Dewa, keempat orang itu berpisah ke dua arah yang berbeda. Mereka Jaka, Cempaka, Arya, dan Rupaksa. Jaka dan Istrinya ke arah kiri menemui Rajawali Merah, Arya dan Rupaksa ke arah kanan menemui rombongan Istana Lembah Neraka yang lain.
Di belakang Arya dan Rupaksa, terlihat orang Berbaju serba hitam mengikuti. Keduanya tidak menyadari sedang dibuntuti orang. Terlihat orang berbaju hitam selalu menjaga jarak agar tidak di ketahui Arya dan Rupaksa.
Sedangkan Jaka dan Cempaka, dengan kemampuan mereka yang sudah meningkat, sebentar saja sudah jauh meninggalkan Benteng Dewa. Mereka pun dengan cepat menuju arah yang diberitahukan mata-mata perguruan di mana Rajawali Merah berada. Tak begitu lama, merekapun sampai ke tempat Bayu Aruna berada.
Di sebuah pohon yang rindang, terlihat seorang berpakaian serba merah, dengan menggunakan topeng bercorak Rajawali. Tak jauh dari tempatnya, terdapat seorang lelaki berpakaian serba hitam, dengan gambar istana yang dikelilingi api di dadanya. Mereka tak lain Rajawali Merah dan pengawal pribadinya.
Berjarak sekitar tiga puluh tombak dari tempat Rajawali Merah berada, Jaka dan Cempaka menghentikan lari mereka. Dari Kejauhan mereka mengamati gerak gerik Bayu Aruna.
"Apakah sebaiknya kita langsung menemuinya saja kakang? tanya Cempaka.
__ADS_1
"Nanti dulu, kita lihat dulu apa yang sedang mereka lakukan, apabila memungkinkan kita dahului menghabisi mereka." bisik Jaka kepada istrinya.