Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta

Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta
Titisan Raja Siluman Ular


__ADS_3

...Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta...


...Episode 240...


Raja Peramal dari timur mengeluarkan sebuah botol berukuran sedang. Kemudian ia membuka tutup botol itu, tiba-tiba melesat sinar berwarna kehijauan dari dalam botol ke arah jasad Raja Iblis Bukit Tengkorak. Sesaat kemudian jasad Raja Iblis Bukit tengkorak yang hanya tinggal tulang belulangnya saja kelelahan mulai ditumbuhi daging. Tak sampai  sepeminuman teh, jasad dedengkot aliran hitam yang menjadi salah satu tokoh empat Sakti dunia persilatan itu pun kembali sempurna.


Raja Peramal dari timur merapalkan mantra, tak lama kemudian melihat pergerakan dari jasad Bukit tengkorak yang sudah mulai pulih. Perubahan jasad yang tadinya berbaring mulai bangkit dan kini berdiri di hadapan raja peramal dari timur dan pangeran mandaka. Mata raja iblis Bukit tengkorak memancarkan cahaya berwarna merah.


“Raja Siluman Ular akhirnya kau bangkit lagi!” ucap Raja Peramal dari Negeri Timur.


“Hahaha.. ini semua berkat usahamu membangkitkanku lagi. Aku suka dengan jasad ini dia memiliki kesaktian yang tinggi. Dengan penggabungan ilmu Siluman ular yang kumiliki tentu akan menjadi lebih Sakti lagi. Aku akan memiliki kesempatan untuk membalas dendam pada bocah pemilik ilmu tujuh gerbang alam semesta itu” ucap Raja Iblis Bukit Tengkorak yang ternyata jelmaan Raja Siluman Ular itu.


Kami sudah berkeliling mencari jasad tokoh-tokoh aliran hitam yang berilmu tinggi. Dialah  satu-satunya yang cocok untuk menjadi raga kau tempati.  Selain itu dalam kepalanya dia memiliki bermacam-macam pengetahuan tentang ilmu terkuat yang ada dalam dunia persilatan. Siapa tahu kau bisa mempelajari ilmu-ilmu tersebut atau bahkan kau bisa mengajarkannya kepada muridku ini Pangeran Mandaka,” terang peramal sakti.


Sejenak Raja siluman ular yang bersemayam di tubuh raja iblis Bukit tengkorak diam berkonsentrasi. Ia menjelajahi keadaan tubuh yang ia tempati, termasuk mencari tahu tntang pengetahuan apa saja yang sudah dimilikinya. Nampak dari raut wajahnya menunjukkan kesan kepuasan terhadap apa yang ia miliki.


“Luar biasa, benar-benar raga yang memiliki kekayaan pengetahuan ilmu kesaktian. Dan memang benar orang ini memiliki ilmu pengetahuan tentang Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta namun hanya sampai tingkat ke empat saja. Tingkat ke lima ia hanya menebak dan meraba-raba sendiri bagaimana cara membangkitkannya.”


 


“Sampai tingkat empat saja sudah lebih dari cukup. Orang yang memiliki ilmu tujuh gerbang alam semesta akan sangat sulit mencari tandingannya di dunia persilatan ini,” ucap Pangeran Mandaka menimpali ucapan Raja Siluman Ular.


“Memang benar apa yang kau ucapkan itu, hanya saja Apakah kau memang mampu mempelajariny,  itu yang kita tidak tahu.”

__ADS_1


 “Bisakah secepatnya kalau bisa mengajarkan ilmu itu kepadaku?”


“Aku butuh setidaknya tujuh hari untuk bisa menguasai raga ini. Kalau aku paksakan salah-salah ia akan hancur menjadi debu. Raga ini telah lama hancur dimakan cacing-cacing tanah, jadi akan sangat rapuh apabila langsung digunakan untuk berpikir keras ataupun menggunakan tenaga sakti,” jawab Raja Siluman Ular.


“Apa pendapatmu guru?”


“Apa yang dikatakannya itu memang tidak salah Mandaka. Tidak mudah menguasai raga yang telah lama mati dan tidak ada hawa siluman ataupun hawa sihir di dalam tubuhnya sekalipun dia orang jahat,” jawab Raja Peramal dari Timur menjateertanyaan pangeran Mandaka.


“Kalau begitu apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang guru? Pasukan Raja Kerajaan Barat sudah menguasai dua kota penting di Negeri selatan ini. Kalau terus dibiarkan, takutnya kerajaan selatan betul-betul akan jatuh ke tangan si Raja Barat itu,” ucap Mandaka dengan perasaan cemas.


“Sambil berjalan kita akan menyusun sebuah pasukan yang terdiri dari bangsa bangsa siluman untuk menyaingi pasukan khususnya kerajaan Barat,” jawab Raja peramal dari timur.


Setelah beristirahat sejenak Mereka bertiga meninggalkan Bukit tengkorak malam itu juga. Ketiganya beranjak menuju istana kerajaan Selatan. Hanya butuh waktu satu hari satu malam perjalanan Mereka pun tiba di kerajaan.


“Tuan panglima sepertinya kota yang akan kita Serang di depan lebih tangguh pertahanannya dibandingkan dua  kota sebelumnya. Apa tidak sebaiknya kita kirimkan dulu telik sandi untuk mengawasi keadaan mereka di dalam dan juga mencari titik lemah pertahanan mereka,” tanya seorang perwira bawahan panglima maludra.


“Untuk membuang-buang waktu mengirimkan telik sandi memata-matai mereka. Tinggal kita serang saja seperti dua kota sebelumnya tidak akan butuh waktu lama kita pasti akan dapat menguasainya,” sahut panglima maludra.


Dengan sikap yang sangat gagah panglima Maludra memandang benteng yang mengelilingi kota Sedaha. Sekilas nampak benteng itu biasa-biasa saja bahkan tidak seperti dua kata sebelumnya iya hanya terbuat dari kayu. Namun mereka tidak mengetahui bahwa di balik tembok itu  terdapat seorang lelaki cerdas yang memiliki bermacam-macam strategi perang dan belum pernah dikalahkan.


“Besok pagi kita akan memulai penaklukan kota sedaha itu,” ucap panglima Maludra kepada bawahan yang berada di sampingnya.


“Apakah perlu kita meminta bantuan pasukan khusus yang dibuat oleh Tuan Braja pashupata.”

__ADS_1


“Tidak perlu, coba kau lihat kota di depan! Begitu rapuhnya pertahanan mereka.  Paling tidak sampai memakan waktu setengah hari kita sudah dapat menaklukkan nya dengan pasukan tempur biasa saja,” jawab panglima Maludra.


“Baiklah Tuan panglima, semoga besok kita dapat menaklukkan kota itu dengan mudah.”


Keesokan harinya panglima Maludra bersama dengan pasukannya yang berjumlah dua ribu orang itu bersiap untuk menaklukkan kota sedaha. Dua ribu pasukan itu terbagi menjadi tiga posisi dan tiga jenis pasukan. Pasukan pertama berjumlah sekitar lima ratus orang berada di sayap kiri pasukan kedua dengan jumlah yang sama berada di sayap kanan. Sedangkan pasukan utama berjumlah Seribu orang yang terbagi dalam tiga  pasukan pedang dan pasukan pemanah, pasukan pedang berkuda.


Sementara di pihak Lawan, tidak terlihat pasukan-pasukan mereka bersiap siaga menanti serangan. Hanya ada beberapa orang penjaga berada di atas gerbang mengawasi pasukan lawan. Namun anehnya walaupun mereka berjumlah tidak sampai 10 orang, tidak terlihat sedikitpun kegentaran dari wajah mereka.


“Pasukan panah, serang!” teriak pangeran maludra.


Seketika pasukan panah yang berada di barisan kedua menyiapkan senjata mereka. Kemudian sesudah diberi aba-aba oleh masing-masing kepala pasukannya Mereka pun melepaskan anak panah ke arah kota sedaha. Ribuan anak panah melesat dari arah pasukan panglima Maludra meunju pintu gerbang  sedaha.


Tidak  terdengar suara teriakan dari arah kota saat anak panah menghujani benteng tempat mereka berkumpul. Nampak tadi para penjaga yang berada di atas benteng hanya menunduk sebentar bersembunyi kemudian kembali muncul.  Sedikit pun mereka tidak terlihat melarikan diri.


“Apa-apaan itu?” seru pangeran Maludra yang terkejut. “ Serang lagi dengan panah!”


Kembali para pasukan  pemanah melepaskan anak panah ke arah benteng kota Sedaha. Tidak berbeda dengan keadaan sebelumnya, lagi lagi para penjaga itu bersembunyi kemudian muncul lagi. Kejadian ini sampai terulang tiga kali.


“Bedebah, mereka mempermainkan kita. Siapkan pasukan pedang, kita serang dan ratakan benteng itu dengan tanah,” perintah Panglima Maludra kepada anak buahnya.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


 


__ADS_2