
"Permintaan apa nak Bayu? katakanlah" Sahut Dewa Tuak Gila. Orang tua itu menatap Bayu lekat seakan ingin mencari tau apa yang diinginkan pemuda itu.
"Jangan katakan pada siapapun termasuk mereka berdua tentang siapa aku dan tentang siapa yang membasmi gerombolan Partai Seribu Racun ini. Sebelum jelas semuanya tentang siapa aku, biarlah mereka tak mengetahui dulu." pinta Bayu.
"Hmmm... Lalu bagaimana kalo mereka bertanya apa yang harus ku jawab?"
"Katakan saja bahwa kau yang membasminya atau apa saja yang menurutmu baik." jawab Bayu lagi.
"Baiklah, yang menting sekarang mengeluarkan racun yang ada di tubuh mereka berdua." tegas Dewa Tuak Gila.
Kemudian Bayu mengerahkan tenaga sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta miliknya. Lalu telapak tangannya di arahkan ke tubuh dua orang guru dan murid yang terbaring itu tanpa menyentuhnya. Perlahan Embun halus mulai muncul dan mengitari dua orang yang terbaring itu.
Sebuah kejadian menakjubkan kembali terlihat. Butiran embun Tenaga Sakti Ilmu Tujuh Gerbang Alam Semesta masuk ke tubuh Ki Farja dan Nalini. Tak lama kemudian kedua mulut guru dan murid itu terbuka. Dari sana menguap cairan berwarna hitam yang kemudian lenyap disapu embun. Tak berapa lama, cairan hitam itu berhenti keluar dari mulut keduanya.
Setelah merasa racun di dalam tubuh keduanya sudah terangkat habis, Bayu pun menghentikan pengerahan tenaga saktinya. Seketika butiran embun di tempat itu perlahan sirna. Bayupun menarik nafas dalam-dalam sambil menunggu perkembangan keduanya.
Beberapa saat kemudian keduanya belum juga sadarkan diri. Dewa Tuak Gila pun memberi totokan di beberapa tempat pada guru dan murid itu. Tak lama kemudian dari keduanya mulai menunjukkan diri. Lalu murid dan guru itupun membuka mata.
"Di mana ini? apakah aku sudah di alam baka?" tanya Ki Farja sesaat sesudah siuman.
"Kau masih di dunia fana ini ki, kau masih di kediamannya Siluman Racun" sela Bayu yang sedikit geli akan pertanyaan gurunya Nalini itu.
Sementara Nalini pun sudah siuman dan kini dia sedang duduk sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Matanya tertuju pada dua sosok yang sudah dikenalnya dan sangat ingin ia habisi. Datuk Sesat Seribu Wisa dan Siluman Racun.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini semua?" ucap Nalini lirih.
Mendengar pertanyaan muridnya, seketika ki Farja memandang kearah mata Nalini melihat. Dia pun tak bisa menyembunyikan kekagetannya melihat dua sosok yang sudah tak bernyawa lagi itu. Jangankan dirinya Gurunya sendiri pun tak akan mampu membinasakan dedengkot racun tersebut.
"Tak di sangka Datuk Sesat Seribu Wisa akan berakhir menggenaskan seperti itu. Siapa yang melakukannya? Tanya ki Farja.
"Kakek ini ki. Dewa Tuak Gila" Sahut Bayu mendahului sebelum Dewa Tuak Gila menjawab.
"Saya hanya membantu ki, ada seorang pendekar sakti yang datang membasmi mereka, tapi tak mau menampak kan dirinya ke kalian."
"Ahhh.. rupanya kami di tolong tokoh sakti Dewa Tuak..." kata ki Farja tidak meneruskan nama gelar orang tua itu karena takut menyinggung seraya menjura memberi hormat.
"Dewa Tuak Gila ki" sela Bayu seraya senyum-senyum.
"Tuan, tadi anda bilang anda hanya membantu seorang pendekar yang membasmi penjahat-penjahat ini. Siapakah pendekar itu, kenapa tidak mau menampakkan diri ke kami" tanya Ki Farja penasara. Sedangkan Nalini yang berada di samping gurunya turut menanti jawaban dari kakek peminum tuak itu.
"Entahlah, aku sendiri tidak jelas siapa dia. Hanya yang ku tahu kesaktiannya sukar untuk diukur. Masalah kenapa dia tak mau menampakkan diri, mungkin mukanya bisulan bwahahahaha..." Jawab Dewa Tuak Gila membalas ledekkan Bayu.
Semua orang tertawa mendengar celotehan Dewa Tuak Gila. Hanya Bayu yang senyum-senyum mengkel. Kalau saja tidak ada dua orang yang lain mau rasanya orang itu digantung Bayu kepuncak pohon.
"Ada-ada saja kau ini kek" ucap Nalini yang masih geli. "Sampaikan ucapan terimakasih kami apabila bertemu dengan dia nanti. Bukan hanya kami yang berhutang budi padanya, bahkan selueruh penduduk desa Karang Wangi ini." tambah gadis cantik itu lagi.
...***...
__ADS_1
Sebuah bukit batu yang berwarna kemerahan berdiri kokoh di sebelah timur darata. Apabila fajar menyingsing bersamaan dengan munculnya matahari dari peraduannya menambah merah pemandangan di bukit itu. Nama tempat itu adalah Bukit Batu Geni.
Tepat berada di puncak bukit, terdapat sebuah perguruan silat yang bernama Padepokan Naga Geni. Padepokan itu dipimpin oleh seoang kakek sakti bernama Eyang Ranubala. Seorang tokoh yang terkenal nomor satu kesaktiannya di daratan Timur.
Sepasang pendekar dengan menunggang kuda terlihat menaiki bukit Batu Geni. Mereka ialah Pendekar Halilintar dan Istrinya Dewi Selendang Ungu. Bukit Batu Geni memang tak seberapa terjal, sehingga mudah dicapai dengan menaiki kuda.
Sesampainya di pintu gerbang padepokan Naga Geni dua orang murid penjaga gerbang langsung menyambut mereka. Memang keduanya bukan baru kali ini saja pernah datang kesana, ini sudah yang ke sekian kalinya. Sehingga sebagian besar murid di sana sudah mengenali mereka.
Dua orang murid menghampiri langsung mengambil tali kekang kuda sepasang suami istri itu. Kemudian keduanya turun dari kuda, setelah merapikan pakaian sebentar merekapun masuk kedalam padepokan. Sedang kedua kuda mereka diurus oleh dua orang murid padepokan Naga Geni.
Perlahan mereka melangkah menuju bangunan utama yang sudah terlihat dari arah pintu gerbang itu. Sengaja mereka memperlambat langkah untuk bisa menikmati pemandangan di dalam padepokan. Memang sesuatu hal yang tak terduga berada di dalam sana. Bertolak belakang dengan keadaan di luar padepokan yang gersang, di dalam justru terlihat menghijau.
Bahkan Danau Kecil yang berada di tengah-tengah wilayah padepokan terlihat sangat indah. Danau yang lebarnya hanya sekitar empat tombak dengan panjang sepuluh tombak saja itu menjadi pusat keindahan tempat itu. Tepat di tengah-tengah danau terdapat patung naga yang meliuk memanjang keatas. Dari mulut naga itu sesekali menyemburkan api.
Hal yang menjadi cirikhas tempat itu ialah banyaknya patung naga. Di setiap taman buatan di sana selalu saja ada patung naga di letakkan. Bahkan di halaman bangunan utama yang biasa menjadi tempat itupun terdapat patung naga yang sangat besar. Sungguh terlihat sangat gagah naga itu.
Chiyaaatt...
Haaaaa...
Terdengar pekikan pekikan keras dari seorang perempuan. Mata kedua pendekar itu langsung tertuju kearah datangnya suara. Terlihat di depan Bangunan utama seorang gadis yang sangat cantik sedang berlatih pedang. Hebatnya pedang di tangan gadis itu memancarkan api yang berwarna kemerahan.
Sungguh lincah gadis cantik itu memainkan pedangnya. Bagaikan seekor naga betina ia meliuk liuk dan meluruk di lapangan latihan itu. Tak jauh dari tempat itu nampak seorang kakek tua berpakaian kuning sedang mengawasi. Dapat dilihat betapa kakek itu sangat puas dengan apa yang dipertunjukan si gadis.
__ADS_1